"Tunggu!" Baik Abizar maupun Gema sama-sama menahan napas mendengar suara itu. Abizar tentu punya alasan kuat untuk merasa takut karena wanita yang saat ini hanya terpaut kurang dari tiga meter dari posisinya adalah ibu kandung Gema. Tak masalah jika di sini Abizar seorang diri, tetapi kehadiran Gema membuat darahnya berdesir cepat. Was-was jika putranya menyadari sesuatu. Gema pun memiliki ketakukan yang sejujurnya sulit diterjemahkan. Sejak melihat perubahan mimik wajah sang ayah, dan menyadari kemiripan perempuan itu dengan sosok yang sangat dirindukannya, Gema berubah cemas. Bisa dibilang aneh karena seharusnya ia bahagia bukan? "Tante itu panggil kita, Daddy," katanya dengan nada lirih. "Bukan." "Lalu kenapa Daddy berhenti?" "Itu gerak refleks saat mendengar seseorang berteriak

