"Udah?" Gema berusaha mengatur napas, sementara sang ayah tak henti mengusap punggungnya. Bukannya menjawab, anak lelaki itu malah menunduk semakin dalam dengan mulut terbuka, memberi akses untuk cairan yang sedari tadi terus mendesak keluar. Ini kali kedua ia muntah karena pusing dan rasa tidak nyaman di area perut. Bersamaan dengan itu, pintu kamar rawat Gema terbuka. Dokter Selly dan Kiara masuk, disusul oleh Septian juga teman sekolah Gema yang lainnya. Abizar hanya melirik sekilas, bukan tak ingin menyambut kehadiran mereka, hanya saja kondisi Gema sekarang benar-benar merenggut seluruh fokusnya. "Gema gak bisa makan. Setiap makan pasti begini," lapor Abizar kemudian. "Kita ganti makanannya, ya. Enggak harus yang berat dan dalam porsi banyak. Sedikit-sedikit aja, tapi paling engga

