Kamar rawat bernuansa putih dengan corak hijau muda itu sunyi. Mereka sibuk mengamati perawat yang tengah mengganti infus Gema. Sesekali sang perawat menanyakan kondisi Gema, keluhan, pun tentang skala nyeri yang Gema rasakan. Awalnya Gema tampak ragu untuk berkata jujur, terlebih ia yakin bahwa satu kalimat yang meluncur dari bibirnya bisa berpengaruh besar bagi ayah juga kakeknya. Namun, ia pun tidak mungkin bisa terus bersembunyi dari rasa sakitnya. Hingga tiba-tiba derit pintu mengalihkan fokus semua yang ada di sana. Seorang lelaki berdiri di ambang pintu sembari melempar senyum ramah. "Selamat malam, Pak. Nama pasien Gema Raihan Athaya, betul?" Abizar hanya mengangguk. Dokter Selly memang sudah mengatakan bahwa dokter anestesi akan datang. Mungkin orang di hadapannya sekarang,

