Alex menaruh tas nya di atas meja dan menelungkup kan kepalanya. ia memejamkan matanya sejenak, rasa lelah dan rasa kantuk menyerangnya
Rasa lelah karna ia baru selesai mengerjakan hukumannya. kelasnya terlihat sepi dan sedikit hening. mungkin murid yang lain pergi keluar kelas karna jam istirahat.
Sedangkan di bangku belakang Alex, anak anak yang lain sedang bercanda tawa. melontarkan lelucon tak masuk akal
“Sayanggg, nanti malem jadi kan?” Tanya salah satu gadis menghampiri Vurgos
Siapa lagi kalo bukan pacar Vurgos yang kesekian.
“Jadi dong yang,” balas Vurgos dengan lembut
Manda tersenyum, “Nanti jemput ya, awas telat” Vurgos mengangguk sambil membalas senyumannya
Sebelum manda pergi, ia menyempatkan untuk mengecup cepat pipi milik Vurgos. setelah itu ia langsung pergi tanpa permisi
Semua orang yang ada di situ tercengang melihat kejadian barusan. begitupun dengan Vurgos, sedetik kemudian ia langsung menggosok pipinya dengan kasar dan mendengus malas
Semua anak anak hanya geleng geleng kepala melihat hal itu.
“Sejak kapan lo sama Manda, Gos?” tanya Gavin penasaran, semuanya ikutan menatap Vurgos dengan tatapan penasaran
Vurgos menggedikan bahu nya acuh, “Gak tau lupa, kemarin mungkin”
Revan yang ada di samping Vurgos langsung menoyor kepalanya. bisa bisa nya tak tahu dengan tanggal jadian sendiri
“Anjing lo, tanggal jadian aja lo gak inget” ucap Revan
“Nanti malem juga gua putusin” semuanya hanya menggeleng, ini lah sifat Vurgos. Hobi mengoleksi mantan, ntah untuk apa manfaatnya.
“Kasian njir, mana tuh bocah imut imut gitu. Lagian lo ngapain sih ngoleksi mantan? kan lo udah jelas punya Amel” ujar Gavin
“Cuman pelarian, Amel tetap di hati.” Vurgos tersenyum di akhir kalimat. mengingat wajah gadisnya, ia jadi kepikiran sekarang.
Fyi, Amel itu tunangan Vurgos. mereka sudah tunangan sejak kelas 10. Tapi, Amel langsung pindah ke London setelah tunangan karna melanjutkan sekolah nya di sana.
dan Vurgos tidak pernah menganggap serius hubungannya dengan gadis lain selain Amel. Mereka hanya pelarian nya saja ketika gabut
“Ihhh fakboy, fakboy!!!” heboh Reza sok mendramatis
Vurgos beralih menatap Denis yang hanya diam, tidak seperti biasanya. Ia berdiri dan menghampiri Denis
“Ngapa lo Den? Diem diem bae. kesambet ntar” Vurgos menepuk bahu Denis
Denis bergeming, karna tidak ada jawaban akhirnya Vurgos satu langkah dan mengintip HP Denis, setelah mengetahui ia ber-oh ria memang kebiasan anak ini mandangin foto mantan padahal sudah jelas tuh orangnya ada di kelas
“Pantesan lo pokus ke HP mulu, orang lagi mandang foto Adel” celetuk Vurgos meledek Denis
Denis mendengus, lalu mematikan handphone miliknya dan memasukan kembali kedalam saku
“Gamon ckckck, kasian” ejek Reza
“Sialan lo!” Denis menatap kearah Reza
“Sadboy ahaha” imbuh Gavin
Reza menatap sekeliling kelas mencari seseorang, setelah melihat punggung orang itu ia tersenyum jahil lalu meneriaki nya. dan semua yang ada dikelas langsung menatapnya
“Woy Dellll! Kata Aa Denis balikan yuk!!” Reza berteriak kearah Adel
Denis langsung menatap tajam kearah Reza, lalu menendang tulang keringnya yang membuat lelaki itu meringis
Yang di teriaki langsung menoleh kearah Reza, menatap datar sekumpulan itu apalagi ia tak sengaja bertatapan dengan Denis. padahal di dalam hatinya ia sudah berteriak kencang saat bertatap dengan lelaki itu. sudah lama ia tak bertukar kabar
“Gak canda” Denis menggeleng sambil berbicara pelan. tatapan teduhnya mampu membuat para kaum wanita langsung jatuh hati
Adel langsung mengalihkan pandangan, mengulum senyumannya saat melihat senyuman manis dari lelaki itu
“Adel cantik ya, sabi kali jadi koleksi gua” celetuk Vurgos sambil menatap Adel yang sedang membelakangi mereka
Siapa yang tak suka dengan Adel, hampir semua lelaki suka padanya. dari mulai fisik maupun hati. namun yang menjadi mereka kecewa karna Adel salah memilih geng. Bahkan Vurgos saja tertarik padanya, namun, Vurgos masih sadar bahwa Adel pujaan hati sahabatnya
Denis menoleh, menatap tajam Vurgos, “Wihhh pawangnya ngamuk tiati!!” ujar Gavin
“Canda elah Den, galak amat lo” Vurgos cengengesan di tatap seperti itu oleh Denis
Disisi lain, seorang gadis berbaju Putih Abu-Abu ketat sehingga menampilkan lekukan tubuhnya. rambut pirang, make up yang cukup tebal. menjadi ciri khas bagi gadis itu
Ia berjalan menuju bangku Alex dan duduk di sebelah kursi yang kosong, ia tersenyum manis sambil menatap Alex yang baru saja bangun
Wajah lelaki itu sangat tampan walaupun dalam keadaan wajah bantal.
Ia menyodorkan sekotak bekal, “Haii, Al. aku bawa bekel buat kamu. tadi pagi aku masak” ucapnya dengan lembut
Alex hanya melirik sekilas tanpa minat
“Di makan ya, aku tau kamu belum kekantin” Lauren mengusap tangan Alex dengan lembut. Lelaki itu langsung menyentakan dengan kasar, ia paling tak suka di pegang sembarang. apalagi dengan perempuan
“Pergi lo,” usirnya dengan nada dingin
Lauren menarik napasnya pelan, lalu menatap kembali wajah lelaki itu dari samping, senyuman di wajahnya tidak pudar
“Okey aku pergi. Oh iya, nanti aku mau ke rumah kamu ya, mau liat Bryan udah lama kan gak ke rumah kamu” setelah itu, ia langsung melenggang pergi
Alex mendengus melihat punggung Lauren yang telah tidak terlihat, lalu kembali menatap kotak bekal yang ada di hadapannya.
Ia mengambilnya lalu menyodorkan kearah Reza, “Nih Za”
Reza menerimanya walaupun dengan malas, “Ogah banget gua makan masakan Lauren, kemarin aja gua langsung sakit perut” aku nya, ia mengatakan hal jujur. Rasa masakan Lauren terlalu asin mungkin gadis itu memasukan selusin garam
Semuanya cekikikan, “Terus mau lo kemanain itu?” tanya Revan
“Buat ayam mak gua, mayan kan” Reza memasukan kotak itu kedalam tasnya
“Thanks Al” Alex mengangguk sambil berdehem pelan. lalu ia beralih pokus kepada buku lagi
Denis berdiri dan berjalan menuju bangku salah satu murid gadis. ia menatap gadis itu yang baru saja selesai mengerjakan tugas kimia
“Del, liat tugas kimia” pinta Denis sambil menatap gadis itu
Adel terkejut, lalu mendongak menatap orang itu. Ia langsung menutupi halaman bukunya dengan kedua tangannya. lalu menggeleng cepat
“Gak! enak aja lo!” jawab Adel garang. enak saja orang itu ingin menyontek, ia saja mengerjakannya dengan susah payah
“Pelit amat, buru liat!” Denis menarik ujung buku yang di sembunyikan di bawah lipatan tangan gadis itu
“Apasih lo! maksa banget. Kerjain aja sendiri!” Adel menggeplak tangan lelaki dengan gemas.
“Liat!” pinta Denis kekeuh
“Nggak Denis!” Adel masih dengan pendirian. tidak akan ia biarkan lelaki itu menyontek
Denis menghembuskan napasnya, “Okey” Denis tersenyum miring, tangan kirinya sudah menarik ikatan rambut milik gadis itu. lalu meninggalkan bangku itu tanpa rasa bersalah sama sekali
Adel melotot lalu menatap tajam kearah lelaki itu, “HEH ANJING IKET RAMBUT GUA! BALIKIN SINI!”
Adel langsung berdiri sambil mencak mencak dan menghampiri bangku lelaki itu
“Kalo gua gak mau gimana?” Denis menaik-turunkan kedua alisnya
“Balikin his! Lo tuh kebiasan banget colong iket rambut gua” memang sedari dulu, Denis selalu saja jahil dengan menyolong ikat rambutnya. ntah untuk apa ia pun tak tahu, katanya buat kenang kenangan. kenang kenangan apa coba? gak romantis banget
“Tugas kimia dulu,”
“OGAH!”
“Yaudah, iket rambut lo buat gua”
“Enak aja lo!” sudah cukup ikat rambut dirinya yang sekantong penuh hilang karna di ambil Denis setiap hari.
“Makanya, tugas kimia lo dulu”
“Ck! yaudah neh!! Nehh lo makan sekalian!!” berdecak kesal lalu menyodorkan buku tugasnya dengan tidak baik baik
“Galak amat lo”
“Bacot banget lo!” balas Adel tak kalah garang dan cuek
“Balikin cepet! Gerah nih gua!” Adel menatap Denis. Sudah tak tahan dengan rambutnya yang terurai indah, karna rambutnya cukup lebat membuat dirinya tak tahan untuk berlama-lama menguraikan rambut. Itulah alasannya
“Sini lo nya” Denis menepuk sebelah kursinya yang kosong
“Dih!” Adel langsung melotot dan berdecih jijik. mau di kemana kan harga dirinya jika ia duduk dengan mantan sebangku, bersebelahan.
“Mau gak?” tawar Denis sekali lagi. lebih tepatnya memaksa sih
“Udah Del, duduk aja. clbk sekalian” sorak Vurgos heboh
“Nahh!! tuh iya tuh! clbk aja ayok, kita dukung!!” tambah Gavin dengan sorakan heboh, seperti akan ada yang clbk
“Diem lo!” Denis menatap tajam kearah meraka
Tak ada pilihan lain, perutnya juga sudah meminta untuk di isi. ia akhirnya duduk di sebelah Denis dengan terpaksa. ingat terpaksa
“Udah, sini balikin” tagih Adel dengan nada galak. namun, perlu di ketahui bahwa jantungnya sekarang sudah berdegup dengan cepat dan kencang.
“Balik badan” titah Denis sambil menatap Adel
“Mau ngapain lo! Mau modus kan lo?” tuduhnya asal. Sambil menatap Denis dengan tatapan mengintimidasi
“Banyak maunya neh bocah, emang gua babunya apa? gak tau aja jantung gua udah dugem dugem” batin Adel menggerutu
“Nyerocos mulu lo, gua sumpel pake bibir gua mau?” Denis mencodong kan wajahnya ke arah Adel, hanya beberapa senti lagi bibirnya akan menyentuh bibir gadis itu
Adel melotot, ingin sekali ia pukul wajah menyebalkan milik lelaki itu sekarang juga.
“Ya-yaudah! iya, gua balik badan. asal lo balikin iket rambut gua” Memalingkan wajah lalu berbalik membelakangi Denis
“Nurut banget sih mantan gua” Denis tersenyum, lalu jari jemarinya mulai mengumpulkan helaian rambut Adel dan mengikatnya dengan pelan dan penuh kelembutan
“Nah udah,” ucap Denis sambil merapihkan rambut Adel
Adel langsung berdiri, dan meninggalkan bangku itu tanpa sepatah kata pun. jangan tanyakan bagaimana wajahnya sekarang. ia malu sekaligus senang, senang karna sudah lama Denis tidak mengikatkan rambutnya, dan malunya adalah Denis yang melakukan hal itu di depan teman temannya.
Ingin sekali ia menghilang sekarang menanggung malu
“Sama-sama mantan” Denis tersenyum lebar kearah Adel
Adel langsung keluar kelas sambil memalingkan wajahnya, jantungnya tak aman jika di perlakuan lembut oleh lelaki itu. merindukan semua perlakuan lembut dan manis dari Denis walaupun lelaki itu agak sedikit menyebalkan, dan jahil.
“Kiw kiw!!” teriak semua orang yang ada di dalam kelas
Ah, mereka juga baper menyaksikan hal itu. mereka tuh tom and Jerry. Sok jual mahal satu sama lain padahal mereka masih ada rasa
“Jiakhh bisa aja lo modus nya Den!”
“Pepet terus sampe mampus”
***
Arsha menutup pintu kelas dengan pelan lalu menghembuskan napasnya. akhirnya, ia sudah selesai melaksanakan piket kelas. seorang diri. ya, seorang diri karna, siswa yang lain tidak melakukannya. ntah karna apa ia pun tak tahu. ia hanya di suruh untuk membersihkan kelas sampai bersih
Ingin protes pun percuma, mereka tidak peduli. jadi tidak ada pilihan lain ia harus mengerjakannya.
Kedua tangannya membenarkan tatanan rok serta bajunya yang sempat kusut dan sedikit kotor karna debu
Berbalik dan langsung berjalan menuruni tangga. Suasana sekarang sangat sepi karna seluruh kelas sudah kosong dan murid nya sudah pulang. hanya ada beberapa anggota OSIS yang belum pulang karna rapat
Merogoh saku roknya dan mengambil benda pipih itu. ia melihat jam, sudah pukul 15.30. waktu begitu cepat sehingga sekarang sudah memasuki waktu sore.
Ia membuka w******p dan melihat chat yang baru saja di kirim dari Adit untuknya. Bahunya merosot lesu, memcebik dalam hati kenapa hari ini ia sangat sial sekali?
Adit : [ Sha, gua pulang bareng crush gua. lo pulang sendiri gak papa kan?]
Arsha : [oke. janlup pj sama gua kalo udah jadi]
Memasukan kembali kedalam roknya, ia keluar dari area sekolah dan berjalan kearah halte di dekat sekolah. menunggu angkutan umum
***
Seorang lelaki dengan baju sekolah putih Abu-Abu serta lengkap dengan almeter osis kebanggaan nya menempel dengan rapih di tubuhnya. ia melangkah keluar dari ruangan osis karna baru saja menyelesaikan rapatnya dengan anggota yang lain
Membuka almeter osis dan menyampirkannya di pundak lebar lelaki itu. menuruni anak tangga satu persatu dengan langkah pelan dan santai.
Sepasang matanya tak sengaja menangkap sosok perempuan yang sedang berjalan menuju keluar gerbang.
Otak nya berputar kepada hari hari lalu, ia pernah bertemu dengan gadis itu. Kedua Sudut bibirnya terangkat membuat senyuman tipis. ia langsung melangkah dengan cepat
“Arga!!” panggil seseorang dari langkah belakang dengan cukup kencang
Gadis itu langsung tersenyum kala lelaki yang di panggilnya langsung memberhentikan langkahnya. ia langsung menyusulnya dan berdiri di samping lelaki itu
“Kenapa, Di?” tanya Arga sambil menatap sekilas gadis itu
Gadis bernama lengkap Diana itu langsung menyodorkan charger handphone miliknya
“Tadi ketinggalan, untung gua liat”
“Oh, iya. Thanks ya, Di. gua buru buru tadi” Arga mengambil alih charger nya dan langsung memasukan kedalam tasnya
“Sama sama, by the way. kenapa lo tadi buru buru banget?” Tanya Diana penasaran.
“Something” gadis itu mengangguk-angguk pelan.
Tiba-tiba ada duo orang dari arah belakang yang menghampiri mereka dengan berlarian dan napasnya tersengal sengal
“Woyy, Ga. Tungguin gua napa, gak setia kawan kawan” teriak Lelaki bernema tag Gerry. lelaki itu menepuk bahu Arga lalu ia membungkuk dan mengatur napasnya
“Tau nih lo, Ga. tumben banget” imbuh lelaki yang ada di samping Gerry. namanya Deon
Mereka berdua adalah sahabat Arga dan anggota osis. mereka bertiga satu ekstrakurikuler
Berjalan beriringan hingga sampai di depan gerbang Arga dan kedua temannya membelokan diri ke arah parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing
Diana masih mengikuti Arga dari arah belakang saat di depan motor lelaki itu ia ikut berhenti dan menatap lelaki itu
“Eum, Ga, gua boleh nebeng di lo gak?” tanya Gadis itu. kedua tangannya saling bertautan karna gugup
Dalam hati ia berdoa agar Arga mengijinkannya untuk menebeng padanya
“Sama Deon aja, gua gak bisa” jawab lelaki itu yang membuat Diana mencak mencak dalam batin
“Dih, kok gua?” tanya Deon tiba-tiba dan tak suka. ia tidak pernah memboncengi perempuan mana pun selain ibunya dan sang adik perempuan nya.
Deon hanya tak suka saja bila membocengi perempuan, katanya bukan muhrim. maka dari itu ia tidak pernah dekat dengan lawan jenis, dekat—pun hanya untuk keperluan tertentu
“Udahlah, Yon. sono lo anterin Diana. kasian perempuan juga kan dia.” Gerry menepuk bahu Deon. wajah lelaki itu sudah tanpa ekspresi sama sekali
Dengan terpaksa ia mengangguk, lalu beralih memakai helm dan menaiki motornya
“Ck, yodah. ayok Di” Deon mengedikan dagunya kebelakang jok motor agar gadis itu naik
Diana malah melamun, ia masih emosi dan beberapa pertanyaan muncul di benaknya.
“Diana, mau gua anterin gak?” Deon mengeraskan suaranya
“H-hah?” beo gadis itu seperti orang bodoh
“Jadi pulang gak?” Tanya Deon sekali lagi, berusaha untuk bersabar
Diana menggeleng pelan, “Oh, sorry kayaknya gak jadi deh gua lupa ada yang ketinggalan. lo duluan aja” semua yang ada di sana cengo mendengar hal itu
Setelah itu Diana melenggang pergi, Deon menghembuskan napasnya lega. untungnya tidak jadi
“Emang niatnya modus sama si Arga aja tuh cewek” celetuk Gerry sambil memakai helm
Ia sudah tahu sifat Diana bagaimana kepada Arga. pasti lemah lembut jika berhadapan dengan Arga karna gadis itu menyukai Arga. sudah semua murid ketahui bahwa Sakit ketos itu menyukai ketos
Mereka mulai melajukan motornya dan mengeluarkan dari area sekolah. namun, Arga tiba-tiba saja berhenti tepat di depan gerbang membuat kedua temannya mengernyit heran
Arga menatap gadis yang masih duduk di halte. gadis yang ia lihat tadi. yaitu Arsha
“Woyy napa lo berenti?” Gerry berteriak dari belakang
“Kalian duluan aja” titah Arga yang membuat kedua nya saling melempar pandangan heran
Arga masih pokus menatap Arsha yang masih menunggu angkutan umum. Deon mengikuti arah pandang Arga, akhirnya ia mengerti maksud Arga apa
“Ck, jangan bilang lo mau nawarin tebengan sama tuh cewek yang ada di halte?” Tanya Deon. Arga mengabaikan pertanyaan dari temannya itu ia masih setia memandang Arsha
Gerry melotot tak percaya, “Wattde— Serius lo? kenal lo ama dia emang?” Gerry beralih menatap gadis itu setelah di amati penampilan gadis itu tidak termasuk tipe Arga dari penampilan tapi tak tahu jika dari hati
“Dia cewek yang gua bilang kekalian kemarin” Jawab Arga yang membuat keduanya semakin terkejut
“Buset, serius aja lo? penampilan dia nerd banget njing”
“Justru itu, dia beda dari yang lain. makanya gua suka” keduanya hanya geleng-geleng kepala mendengar pernyataan dari lelaki itu
Memang Arga lebih suka gadis seperti Arsha. Berpenampilan biasa dan tidak banyak tingkah sama sekali. dan dia rasa Arsha masuk dalam list gadis idaman dirinya. ia lebih suka gadis yang penampilan biasa, dan lebih banyak diam.
“Iya dah, serah bapak ketos aja. ayok cabut, Yon. Jangan ganggu orang yang mau pdkt” Deon mengangguk dan segera menyusul Gerry yang sudah melajukan motornya duluan
Arga langsung melajukan motornya sampai di depan halte, lebih tepatnya di depan Arsha. Ia mematikan mesin motornya dan melepaskan helm full-face
Arsha mendongak ketika mendengar deru motor yang berhenti tepat di depannya. saat melihat siapa lelaki itu ia mengernyit. seperti tak asing, namun ia lupa siapa lelaki itu
“Arsha? ngapain masih disini?” tunggu, kenapa lelaki itu bisa tahu namanya? dari mana?
“K-kakak tahu nama aku dari mana?” Arga terkekeh kecil,
“Lo udah lupa sama gua?” Arsha masih diam mengingat siapa lelaki ini
“Gua Arga, cowok yang nganterin lo ke kepsek dua minggu yang lalu” Aku Arga.
“Oh... iya! aku inget, kak Arga yang ketua Osis itu kan?” Arsha menatap Arga.
Arga mengangguk cepat, “Itu lo inget”
“Sorry lupa kak, gak pernah ketemu lagi soalnya” cicit Arsha sambil menggaruk rambutnya
“Iya gak papa santai aja, lo belum jawab pertanyaan gua tadi” Arsha langsung menatap kembali Arga
“Aku lagi nunggu angkutan umum”
“Bareng sama gua aja, udah sore. daerah sini rawan preman yang suka gangguin cewek–cewek” beritahu Arga. Arsha menalan saliva nya, ia baru tahu ternyata disini rawan para preman
Arsha menggeleng pelan, “Gak usah deh kak. aku nunggu angkutan umum aja, nanti ngerepotin” Arsha tersenyum kikuk. ia masih merasa sangat asing dengan lelaki di hadapannya ini, maka dari itu agak sedikit gelisah
“Gak sama sekali, ayok bareng aja. gua juga baru pulang rapat.”
Arsha terdiam sejenak berpikir dengan ajakan Arga. ia beralih menatap kearah jam tangannya, sudah semakin sore. lalu menengok ke arah kiri - kanan tidak ada angkutan umum yang lewat.
Menghembuskan napasnya, dengan terpaksa ia mengangguk. membuat Arga tersenyum senang.
“Yaudah deh, makasih ya kak” Arsha menaiki jok motor milik Arga
“Belum nyampe udah bilang makasih aja lo” Arsha meringis pelan, sedetik kemudian Arga menarik kedua tangan nya untuk perpegangan pada jaket lelaki itu
Di balik gerbang seseorang sedari tadi terus mengamati interaksi antara keduanya. Kedua tangannya terkepal kuat, menggeram marah ketika tangan lelaki itu terulur untuk mengambil kedua tangan gadis itu dan melingkarkannya di pinggang lelaki itu
“Sialan! siapa sih Cewek ganjen itu.”