sebelas

2753 Kata
“Cieee... yang pulangnya di anterin sama ketos” Adit menyenderkan tubuhnya di balik pintu utama ketika melihat Arsha di antar pulang oleh Arga Arsha tersentak kaget saat membukakan pintu dan baru selangkah masuk kedalam rumah Ia menoleh kesamping sudah ada Adit yang sedang menatapnya dengan tatapan meledek Memutar bola matanya, lalu melanjutkan kembali langkahnya. ia duduk di sofa lalu melepaskan kacamata yang sedari tadi ada di matanya. membanting ransel kebawah lalu merebahkan tubuhnya di sofa Adit geleng geleng kepala, lalu menyusul Arsha dan duduk di sebelah Arsha “Gatel kan mata lo” Arsha mengangguk pelan “Sial banget gua hari ini tadi di sekolah!” Adit mengernyit sambil menatap Arsha heran “Kenapa?” Arsha menarik napas, “Pertama gua telat, dan ketauan masuk lewat tembok belakang sekolah. dan berakhir di hukum di perpustakaan. dan kedua tadi pulang sekolah gua piket sendirian, mana udah sepi yang kelas lain. dan yang paling bikin gua gedegnya gua nunggu angkutan umum lewat kagak ada satu pun yang lewat!” Adit tertawa pelan mendengar penjelasan dari Arsha “Sorry ya tadi lo gua tinggal,” Arsha mengangguk paham “Gua paham, anak muda yang lagi kasmaran. tenang aja” “Ada hubungan lo sama Arga, Sha?”tanya Adit penasaran “Arga ketos itu? Kagaklah, ngaco!” Adit memutar bola matanya, “Iya deh, tapi itu bagus sih. Lo inget kata psikiater lo? lo di suruh berinteraksi sama lawan jenis secara perlahan, supaya lo gak terlalu takut” “Hmm, gua inget. gua juga lagi usaha” Arsha menggantungkan ucapannya “Kalo gak males, HAHHAHA” sambungnya sambil tertawa terbahak bahak “Sialan!” Adit beralih mengambil tas ransel milik Arsha yang terjatuh di bawah, lalu menaruhnya di atas meja “Sono ganti baju lo, kita makan bareng. gua udah masak” titah Adit “Siap bos!” Arsha menghormatkan tanganya lalu berdiri Ia berlari menuju anak tangga sambil membawa ranselnya, langkahnya terhenti ketika mendengar gumanan dari Adit “Berasa babysitter gua tuh Sha” Adit mengusap dadanya penuh sabar, melihat tingkah Arsha yang sangat berbeda “Gak papa, bagus. biar lo gak nganggur kak” Adit mendengus sambil meliriknya kesal, “Lo kalo di sekolah sama di rumah beda ya?” Arsha mengangguk, “Tentu dong, emang gua kalo di rumah gimana?” tanya balik Arsha “Lo di rumah nyebelin, pen gua buang aja rasanya. tapi kalo di sekolah lo pendiem banget. Muka lo polos kek orang b**o” jawab Adit dengan jujur, lebih tepatnya ngeledek. “Sialan lo! itu kan tujuan gua. gua cuman mau punya temen yang tulus, dan nutupin tentang masa lalu gua” Arsha menutup pintu kamarnya dengan keras menimbulkan bunyi nyaring Adit terperanjat kaget, lalu ia menghembuskan napasnya pelan. *** Tok tok tok Arsha bangkit dari tempat belajarnya, ia langsung berjalan ke arah pintu. lalu membukakan pintunya, dahinya mengernyit penuh tanya menatap sosok yang ada di hadapannya. “Tumben amat lo rapi kak, mau kemana?” tanya Arsha. “Tadi nyokap gua nelfon, gua di suruh kesana sebentar. lo mau ikut atau diem di rumah?” tanya balik Adit. Memang tadi, Risa menelfonnya, dan menyuruh untuk ke rumah. Ia masih sangat khawatir jika Arsha di tinggal sendirian apalagi malam malam seperti ini Arsha memainkan lidah di dalam rongga mulutnya, guna berpikir. lalu ia menggeleng sambil kembali menatap Adit, “Gak deh, nanti malah di suruh pindah kesono lagi.” jawabnya seraya terkekeh pelan. Adit memutar bola matanya malas, lalu menarik napas dalam-dalam. ia kembali menatap Arsha “Ck, serius lo mau di rumah aja gak ikut?” tanya sekali lagi Adit. ia masih sedikit bimbang jika meninggalkan Arsha Arsha mengangguk cepat, “Heem. udah sono nanti kemaleman” ia mendorong punggung kekar milik Adit untuk menuruni anak tangga Adit berdecak kesal, “Iya sabar non. hati hati di rumah. kunci aja pintunya, kalo ada apa apa langsung kabarin gua yah” Pesan Adit penuh perhatian. ia keluar dari rumah menuju teras di ikuti oleh Arsha. “Iya. Ehh, kak, lo nginep di sono apa langsung balik kesini?” tanya Arsha ketika melihat Adit yang sedang memakai helm full-face nya Jemari Adit mengetuk-ngetuk motornya, berpikir sebentar, “Gua usahain buat pulang tidur disini Sha, mau nitip apa kalo gua udah balik?” Arsha berjalan mendekati motor Adit, lalu menatap lelaki itu dengan serius “Lo harus pulang kesini dengan selamat.” jawab Arsha di iringi senyuman hangat yang mampu membius siapa pun. Adit langsung speechless mendengar jawaban dari Arsha. ia tak menyangka jika Arsha akan menjawab dengan seperti itu. “Ihhhhhhh perhatiannnnnyaaaa adek sepupu gua” kedua jemari Adit langsung menyambar pada pipi milik Arsha. Mencubit pipi gadis itu dengan gemas membuat sang empu berteriak kencang “Sakit anjirr!! lo kira pipi gua bakpao apa?!” pekik Arsha kaget karna Adit tiba-tiba Adit langsung menatap tajam Arsha ketika mulut gadis itu mengeluarkan kata kata toxic. “Mulutnya. minta gua sentil” Arsha cengengesan, nyalinya langsung mencuit ketika di tatap tajam oleh Adit. “Reflek elah. Lagian lo sih!” Adit hanya mengangguk-angguk. tak apa, ia rela jika terus di salahkan. yang penting Arsha seneng. ia langsung menyalakan mesin motornya lalu menatap Arsha, sebelum ia pergi tanganya terulur untuk mengusap sayang pucuk rambut milik gadis itu “Iya deh maaf maaf, gua berangkat ya. bye adek gua!!” Adit melambaikan tangan, lalu menyalakan bunyi klakson Arsha melambaikan tangannya balik, lalu tersenyum hangat sambil menatap punggung Adit yang sudah tidak terlihat Menghembuskan napas nya pelan, lalu berbalik badan dan masuk kedalam rumah. tak lupa ia mengunci pintunya seperti yang di bilang oleh Adit barusan Menghembuskan napas nya pelan, lalu berbalik badan dan masuk kedalam rumah. tak lupa ia mengunci pintunya seperti yang di bilang oleh Adit barusan Menghembuskan napas lesu. lagi lagi ia sendiri, matanya melihat sekiling ruangan utama. terdapat foto keluarga yang tampak bahagia terpapang jelas di dinding berwarna putih. Ia menatap lekat figura itu dengan tatapan tersirat luka. Arsha rindu senyuman hangat dari keluarga nya seperti di foto itu, Mamahnya, Papahnya, serta kembaran lelakinya tersenyum hangat serta ceria kearah kamera. Foto itu di ambil sebelum insiden di gudang menimpanya. ia masih bisa melihat Wisnu tersenyum hangat kepadanya walaupun jarang. tapi, ia bersyukur di saat itu ia masih bisa melihat senyuman hangat dari Papahnya. tapi sekarang, semuanya sudah berubah drastis. karna kejadian itu, Arsha yang menanggung semua nya Rasa kecewa, sedih, marah. Bercampur aduk di saat bersamaan. Keluarga menganggap remeh, teman yang dulu selalu ada di sampingnya telah meninggalkannya, di keluarkan dari sekolah, Mental dirinya di rusak oleh semua orang. Sakit, itu yang di rasakan oleh dirinya. bahkan ia sudah tak bisa membedakan mana perasaan senang, dan sedih. hati dan perasaan nya seakan sudah mati bersamaan dengan kejadian itu Menarik napas dalam-dalam, kedua tanganya terangkat menghapus air matanya yang jatuh. ia benci ketika dirinya menangis mengingat semua masa lalunya. itu hanya membuat dirinya terlihat lemah. Berdecak kesal, kedua kakinya kembali melangkah dengan langkah cepat. ia tak mau membuka luka yang lama. Langkahnya terhenti ketika sampai di lantai atas, sepasang matanya melihat kamar yang ada di sebelah kamarnya. itu kamar milik Arka Tersenyum tipis lalu langkahnya kembali berjalan menuju kamar itu. ntah kenapa ia ingin sekali ke kamar Arka Tangannya membuka pintu itu dengan pelan. setelah di buka dengan lebar, ia langsung masuk kedalam kamar. Bau mint menyeruak masuk kedalam hidungnya, aroma yang Arka sukai. menatap setiap inci ruangannya itu dengan lekat. masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Duduk di tepi ranjang, matanya kembali pada figura kecil yang di panjang rapi di meja kecil di sisi ranjang Foto dirinya dan Arka. Di sana terpapang jelas senyuman ceria milik nya dan kembarannya. Tanganya terulur mengambil figura kecil itu dan langsung mendekapnya Ia menaruh kembali figura itu, tanganya merogoh saku celana piyama yang ia pakai. mengambil benda pipih itu, membuka aplikasi w******p dan melihat room chat dan memencet kembali pesan yang ia sampaikan kepada Wisnu Arsha : [Pah, jangan lupa istirahat. jangan terlalu jahat sama tubuh papah sendiri] Arsha : [ Malem pah, jangan lupa makan malem ya. kalo bisa makan malemnya bareng sama mamah dan Arka.] Arsha : [ papah masih blok nomor Arsha ya....?] Arsha : [ kapan papah bakal bukanya...? Arsha kangen papah] Arsha : [ selamat hari Ayah. papah adalah papah terbaik yang Arsha punya. Arsha bersyukur bisa punya papah kayak papah Wisnu. Arsha pengen ngucapin sambil peluk papah. Arsha tau kalo papah itu cuman kecewa, bukan benci sama Arsha. gak papa kok papa marah, karna ini emang salah Arsha. arsha gak nurut sama papah. maaf ya pah, papah itu orang yang pertama yang Arsha cintai dan orang yang pertama yang membuat luka di hati Arsha semakin dalam. makasih ya pah] Tersenyum miris, melihat deretan pesan yang ia sampaikan kepada Wisnu masih saja belum kunjung di balas. gimana mau di balas kalo nomor dirinya di blok. Terkekeh miris, padahal ia sangat berharap bahwa Wisnu membuka bloknya. dan membalas deratan pesan miliknya Tapi itu hanya angan angan dirinya. Wisnu tak mungkin akan membuka bloknya, ia tahu sendiri Wisnu masih kecewa dan marah kepada nya Air matanya sudah luruh sedari tadi. tapi ia tak mengeluarkan isakan, bahkan mimik wajah dirinya saja masih dengan tatapan kosong. Arsha membaringkan tubuhnya di ranjang Arka, menaruh handphone di meja milik Arka. Ia tak mematikan handphone-nya. Berharap bahwa akan ada notifikasi dari Wisnu yang membalas pesannya. Tak lama matanya terpejam menuju alam mimpi. *** Seperti ucapannya tadi siang, Lauren memberhentikan mobil taxi yang ia tumpangi tepat di gerbang rumah Alex. Merogoh cermin kecil yang ada di dalam tas slempang nya. Ia merapihkan tatanan rambutnya, serta make up nya yang sedikit luntur. Ia tersenyum sumringah setelah penampilan nya terasa sudah perfect. ia segera turun dari taxi, tak lupa ia membayar taxi itu Sebelah tanganya menenteng totebag yang ia bawa dari rumah. isinya kue brownies coklat. ia masih ingat bahwa lelaki itu menyukai makanan manis, ya, walaupun tidak terlalu suka. Rumah dua lantai dengan konsep seperti rumah eropa itu terlihat sangat megah. ia masuk kedalam setelah gerbangnya di bukakan oleh satpam rumah milik lelaki itu Menarik napas, lalu membuangnya dengan pelan. ia berjalan dengan angkuh. Ketika sampai di depan pintu utama rumah Alex ia mengetuk pintu terlebih dahulu Ia harus menjaga imagine saat di hadapan calon mertua ah, ralat maksudnya Mamah Alex. yang mungkin nanti akan menjadi mertuanya Semoga. Tok tok tok “Permisi Tante,” Ia berdiri dengan tenang di depan pintu, bibirnya sudah membuat sebuah lengkungan indah. Tak lama pintu pun di buka oleh seseorang, ia memejam kan matanya sejenak sembari menghirup oksigen di sekitar. menetralkan suaranya. Saat membukakan kembali kedua matanya, alisnya bertautan, tidak ada siapa pun di hadapan nya lantas siapa yang membuka pintu barusan? Kedua matanya celingak-celinguk mencari sosok yang membukakan pintunya. “Kok gak ada orang, tapi, pintunya tadi di buka. Terus tadi yang buka pintu siapa....?” menolognya Karna terlalu pokus menatap ke dalam rumah, sampai sampai ia tak menyadari ada seseorang yang sedang menarik narik kaosnya. Ia segera menatap kebawah, ia cukup tersentak karna melihat anak kecil. Sedetik kemudian ia tersadar kembali. itu Bryan sepupu Alex yang sangat tak menyukainya. Sudah bisa di baca dari cara tatapan yang di berikan kepada Lauren “Hai, Iyan” Sapa Lauren dengan ramah Bryan menatap datar gadis itu, kedua tanganya ia lipatkan di depan d**a menampilkan dirinya yang sangat so cool. “Sorry kita gak kenal ya, kalo mau ngemis jangan kesini” balas Bryan dengan nada menyebalkan Mata Lauren melotot tak percaya, ingin sekali ia menendang anak ini. namun, ia berusaha sabar. ingat itu adalah sepupu kesayangan Alex Berusaha tersenyum ramah, Lauren menyamakan tingginya dengan tubuh Bryan. lalu mengusap rambut anak itu “Iyan, lupa sama kak Lauren ya? kakak jarang kesini maaf ya. nanti kakak, rajin kesini lagi deh. terus nanti kita main bareng” “Dih, ora sudi!” jawab Bryan menyebalkan “Iyan, ada siapa nak, di depan? Kok gak di ajak masuk?” Vina bertanya dari dalam sembari berteriak Bryan menoleh kebelakang, “Ada gembel Bun” Karna kesal, Lauren mendorong tubuh mungil Bryan. hingga anak itu mundur beberapa langkah, lalu Lauren masuk sambil tersenyum ramah dan menghampiri Vina “Halo tante, malem.” Lauren mengambil telapak tangan Vina dan menyaliminya. Sementara di belakang, masih di depan pintu, Bryan mencibir. melihat interaksi antara Lauren dan Vina “Oh, Lauren. malem juga, tumben kesini, ada apa?” tanya Vina to the point. sambil tersenyum kikuk Lauren menggeleng, “Ah, enggak kok. aku kesini mau ngasih brownies, kemarin mamah aku baru buka toko brownies. Tante cobain ya,” Lauren menyodorkan totebag yang ia bawa sedari tadi “Emang saya nanya ibu kamu buka toko?” batin Vina mencibir Vina mengangguk, “Oh begitu ya, makasih ya Lauren. jadi ngerepotin” “Gak kok, tenang aja” Ucap Lauren sembari tersenyum manis “Yaudah duduk aja Law, nanti tante bikinin minum” Vina mempersilakan Lauren untuk duduk di sofa. Sedangkan di sofa yang sama sudah ada Bryan yang menumpang kakinya, dan kedua tangannya mengotak ngatik handphone miliknya. Lauren duduk di sebelah Bryan “Gak usah repot repot tante” “Ya terus kenapa kamu kesini. gak di undang pulak” batin Vina masih menggerutu Vina hanya menggeleng lalu melengos pergi ke arah dapur, Bukan apa apa tapi, Vina tuh tidak suka dengan Lauren. karna gadis itu sangat tidak sopan dalam berpakaian, riasan di wajahnya yang selalu tebal. memberi kesan seperti tante tante girang. Lauren menoleh kearah samping mengintip yang sedang Bryan lihat. “Lagi liatin apa Iyan?” Tanya Lauren basa basi “Kepo!” ketus nya. Lauren menatap sinis anak itu sebentar, lalu ia tersenyum manis. lebih tepatnya terpaksa “Ngapain liatin di foto sih, kan kakak juga ada di sini. lebih cantik malah” ucap Lauren pede “Gak nanya” Bryan melirik sinis Lauren, lalu kembali memfokuskan pada handphone miliknya. Bisa bisanya gadis itu bilang bahwa dirinya lebih cantik dari pada biasnya, Rose blackpink itu lah biasnya beda jauh dengan gadis yang ada di samping nya itu. Sudah lama Bryan selalu mengikuti tentang Kpop. tentu saja di ajarkan dengan Bunda Vina. karna wanita itu pun emak emak gaul yang gak ketinggalan jaman Perlu di ketahui lagi, Bryan fanboy dari Rose blackpink. fanboy sejak dini Dalam hati Lauren sudah mencibir dengan berbagai nama hewan dari A-Z. Tak lama kemudian Vina menghampiri mereka dengan membawa nampan, lalu ia duduk di sofa single di dekat Bryan “Makasih tante, jadi ngerepotin gini” Vina hanya menggeleng pelan “Sebenarnya, Aku kesini mau ketemu sama Alex Tan, dia nya ada?” tanya Lauren “Oh, ada kok di atas. bentar lagi juga kesini” Vina menoleh kesamping, “Iyan, panggilin bang Al, gih. kasian kak Law nungguin” “Okey,” Bryan mengangguk cepat Bryan pun turun lalu mulai berjalan menaiki anak tangga, setelah sampai di atas ia langsung membuka pintu kamar lelaki itu dan masuk Mata boba nya celingak-celinguk mencari keberadaan sang Kakak. Lalu ia menatap keluar balkon kamar, dan benar saja lelaki itu ada di sana Kembali melangkah untuk menghampiri lelaki itu, namun saat di depan pintu keluar suara berat milik sang kakak keluar “Jangan kesini, gua lagi ngerokok. mau ngapain lo?” Bryan mengerucut kan bibirnya. padahal ia ingin ke balkon “Di bawah ada si tante girang” beritahu Bryan dengan nada malas Kening nya berkerut, “ngapain dia?” Bryan mengidikan bahunya, “Mana saya tau saya kan ikan” Alex mendengus mendengar jawaban konyol dari sepupunya itu “Nyariin abang, terus dia segala bawa brownies” Alex mengangguk-angguk “Oh” memutar bola matanya malas, pasti respon Alex singkat dan cuek. “Kata bunda kebawah bang,” Alex menginjak puntung rokok itu, lalu berjalan masuk kedalam kamarnya. mengambil jaket denim dengan lambang geng nya. lalu meraih kunci mobilnya “Gendong bang, pegel kaki Iyan, naik tangga kesini jauhhhhhh bangettttt” adu Bryan sembari memasang puppy eyes. “Manja” cibir Alex Namun tak mengabaikan permintaan dari sepupunya itu, ia langsung menggendong tubuh mungil Bryan Alex membukakan pintu kamar nya lalu berjalan menuruni anak tangga sembari mendengar ocehan konyol dari Bryan Hingga sampai anak tangga terakhir, ia memelankan langkahnya lalu melirik sekilas Lauren “Ada perlu apa?” tanyanya dingin Lauren menggeleng, “Enggak kok cuman main aja” Alex hanya mangut-mangut mendengar jawaban dari Lauren, lalu ia kembali melangkah menuju pintu utama. “Eh! Kamu mau kemana Al?” tanya Lauren dengan sedikit teriak Gadis itu berjalan menyusulnya lalu berdiri di samping “Markas” “Aku ikut ya, boleh kan? ya, ya, ya,” “Serah” “Pasti mau tebar pesona neh nenek girang” Bryan mulai menjulid Lauren dalam hati
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN