Arsha berjalan kearah pintu utama, setelah menyelesaikan sarapannya. dengan di ikuti oleh Adit
Semalam Adit kembali pulang ke rumah Arsha di saat waktu sudah menjelang pagi.
Sebenarnya dari semalam tubuhnya terasa sangat panas, dan agak pusing. tapi ia tetap memaksakan diri untuk berangkat ke sekolah. Dan sudah tak bisa di hitung Adit terus memaksa dirinya untuk tidak masuk sekolah karna suhu tubuhnya
Arsha tetap menolak, ia tidak ingin membolos satu hari pun dan keadaan nya sedang bagaimana pun. ia harus membuktikan kepada Wisnu yang selalu mencaci–maki ny dengan sebutan 'tidak berguna'. Ia harus membuktikan kepada semuanya kalo dirinya sangat berguna dan membanggakan
Sudah cukup baginya untuk terus diam selama terus di lontarkan makian yang mambuat hati nya tergores. ia harus bergerak untuk menbuktikannya tidak hanya diam saja menunggu wisnu yang berubah begitu saja
Punggung tangan Adit menempel di kening Arsha, “Sha, lo izin gak masuk aja mending. lo lagi demam Sha, badan lo panas”
Arsha mendengus, “Kalo badan gua dingin berarti gua mati kak”
Arsha berjalan agak cepat untuk segera keluar, kupingnya sudah terasa sangat sakit karna mendengar Adit yang terus mengoceh tanpa henti seperti burung beo
Adit menghembuskan napasnya, ia sangat gemas dengan Arsha yang sangat keras kepala.
“Bukan itu maksudnya Arsha adekkuuuuu”
ingin sekali Adit mencakar-cakar wajah Arsha. Tapi ia masih ingat bahwa Arsha kembaran Arka gadis yang amat sangat Arka sayangi dan sangat Arka jaga. jika terjadi sesuatu dengan Arsha oleh siapa-pun itu Arka tak segan segan untuk menghabisi orang tersebut
Memutar bola matanya malas, “Bawel banget sih, udahlah ayok berangkat. nanti telat”
“Lo demam Sha, jangan sekolah ya” pinta lelaki itu mencoba untuk sabar
“Nggak kak! gua gak akan bolos, gua pengen buktiin ke papa kalo gua juga bisa masuk Olimpiade” Arsha menaikan suaranya satu oktaf
Dada nya sudah naik - turun karna emosi. ia paling tidak suka di paksa, jika ia bilang tidak ya akan tetap tidak.
Adit menarik napasnya, jika sudah mendengar suara Arsha yang sudah naik beberapa oktaf artinya gadis itu sudah ada di mode emosinya
“Ya gua tau, tapi, jangan kayak gini. lo lagi demam nanti tambah demam gimana?” Adit berucap dengan nada yang lembut dan hati hati. ia sudah tau watak Arsha.
“Nanti juga ilang, udahlah” ucap Arsha dengan lesu
“Jangan terlalu ambisius sampe nyiksa tubuh sendiri Sha” ujar Adit dengan tenang dan lembut
Arsha menoleh, “Gua cuman mau buktiin sama semua orang kalo gua juga ada gunanya kak! udahlah gua males debat. berangkat aja ayok,”
Arsha tidak minat untuk berdebat di pagi hari, apalagi jika memperdebatkan masalah sepele. hanya demam saja sudah seperti burung beo
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Adit mengalah. membiarkan gadis itu untuk kesekolah. Adit berjalan kearah bagasi untuk mengambil kendaraannya
Setelah berhenti tepat di hadapan Arsha. ia membukakan kaca mobilnya lalu melirik Arsha yang masih diam berdiri
Mengernyit heran, “Tumben banget lo pake mobil kak? motor lo lagi di bengkel?” tanya Arsha heran
Tak seperti biasanya lelaki itu memakai mobil apalagi jika berangkat sekolah. lelaki itu akan memakai mobil jika ada keperluan mendesak dan mendadak saja
Adit menggeleng cepat, “Lah terus?” tanya Arsha lagi
“Biar lo gak kepanasan, lo lagi demam” jelas Adit jujur. memang itu lah tujuannya, agar gadis itu tidak kepanasan dan demamnya semakin tinggi
Arsha berdecak kesal, “Ck, gua gak selemah itu kali kak. fisik gua masih baik baik aja kok”
Adit mengangguk samar, ia sedang malas berdebat. akhirnya pun akan tetap sama.
“Buruan aja masuk, katanya males debat”
Arsha pun masuk kedalam, dan Adit segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. saat di tengah jalan Adit kepikiran dengan kejadian semalam, di saat Adit memidahkan tubuh Arsha ke kamar Arsha karna yang ia lihat Arsha ketiduran di kamar Arka.
Di saat ia mengangkat gadis itu, Arsha terus meracau memanggil nama Arka.
“Lo kangen sama Arka ya, Sha?” tanya Adit tiba-tiba tanpa melirik kearah gadis itu
Arsha sedikit kaget, lalu menoleh. “Ng-nggak! kata siapa?”
“Gak usah bohong, gua liat lo semalem ketiduran di kamar Arka terus lo ngigau panggil nama si Arka” Arsha hanya membisu, dalam hatinya ada rasa rindu terhadap sang kembarannya. tapi, ia masih sedikit kecewa dan marah kepada Arka. lelaki itu selalu bilang bahwa dia tidak akan meninggalkan nya tapi ternyata dia sama saja
Lelaki itu selalu menyakininya agar selalu percaya dengan janji dan ucapannya tapi dia juga yang membuat Arsha tidak percaya dengan janji-janji nya
Adit menoleh kesamping, “Kalo kangen itu lo coba telfon, atau kontek dia. dan bloknya buka Sha. Gua tau lo kecewa sama–”
Perlu di ketahui lagi, bahwa Arsha memang memblokir semua medsos milik Arka. ia sudah sangat kecewa dengan lelaki itu
“Stop disini kak,” potong Arsha cepat. Sudah tak mau mendengar ucapan Adit
Adit menghembuskan napasnya sabar, jika menasehati Arsha harus dengan extra sabar
“Sampe sekolah aja kenapa sih?” tanya Adit sambil memberhentikan mobilnya
Arsha segera membuka mobil milik Adit dan turun di dekat sekolah.
“Gak usah, nanti gua masuk lambe turah lagi” cibirnya malas
“Hmm, iya deh. Sha, nanti kalo lo ngerasa semakin pusing lo ijin ke uks. dan lo gak usah ikut pelajaran olahraga. nanti lo pingsan” pesan Adit sekali lagi
“Iya - iya bawel banget sih lo. udah sana jalan” usir Arsha kesal
“Cewek lain di perhatian itu seharusnya seneng, salting. lah elo malah marah marah Sha”
“Berani berbeda itu indah” ucapnya dengan bangga
“Sakarepmu wes, gua jalan dulu” Arsha mengangguk, lalu Adit menjalankan mobilnya duluan
Arsha menatap mobil Adit yang semakin menjauh, lalu ia mulai menarik napasnya dalam dalam. mari kita mulai saat Arsha si cupu di saat sekolah
***
Semua murid yang melaksanakan jam pelajaran olahraga keluar dari kelas mereka masing-masing. banyak murid yang sedari tadi terus mengeluh. Mereka malas untuk pelajaran olahraga, walaupun mereka tahu bahwa olahraga dapat membuat tubuh kita menjadi sehat tapi tetap saja
Di jemur di tengah lapang, matahari yang amat terik. dan harus menggerakkan badannya mengikuti pemanasan
Sama hal nya dengan kelas XI ipa 2. mereka semua keluar kelas dengan langkah lunglai, jika bisa mereka ingin sekali menghapus pelajaran olahraga agar mereka tak di jemur di bawah sinar matahari yang begitu terik
Arsha dan kedua sahabatnya keluar dari toilet setelah mengganti baju mereka, Arsha tak peduli dengan keadaannya. walaupun ia rasa kepalanya amat pusing tapi ia menahannya agar dapat mengikuti pelajaran olahraga
Sedangkan Kayla dan Rayna sedari tadi sudah mencak mencak memaksa Arsha untuk ke uks.
“Sha, ke uks aja yuk. nanti lo orang pingsan di tengah lapangan gimana?” Kayla memegang sebelah tangan Arsha sembari menatap Arsha khawatir
Arsha menggeleng, “Gak usah, nanti juga ilang.”
Kayla, dan Rayna memutar bola matanya malas, sedari tadi jawaban Arsha hanya itu. gadis yang sangat keras kepala
Rayna berdecak, “Udahlah Sha, kita anter ke uks aja yah. trs ijin”
“Gak usah Kay, Na. Cuman pusing doang kok” tolak Arsha sambil tersenyum tipis
“Kalo lo pingsan gimana? istirahat di uks aja mending”
Kayla menyeret Arsha ke koridor menuju uks, tapi lagi lagi Arsha berhasil menahannya
“Ini kan pelajaran olahraga pertama aku, jadi aku gak mau ngelewatin pelajarannya.” Arsha melepaskan tangan Kayla yang memegang tangan Arsha
Kayla akhirnya mengalah, ia sudah menyerah. Stok kesabaran nya tidak terlalu banyak,
“Serah lo deh, kalo lo makin pusing nanti kita uks” pinta Kayla sambil menatap Arsha kesal
Ia hanya khawatir jika Arsha akan pingsan, karna sedari tadi pagi. Arsha terlihat pucat, dan badannya pun terasa panas
Arsha mengangguk sambil terkekeh kecil, “Yaudah, ayok ke lapangan. yang lain udah pada nunggu tuh”
Arsha menarik sebelah tangan Kayla dan Rayna secara bersamaan. mereka langsung berjalan menuju lapangan, sudah banyak murid lain yang sudah berbaris rapi
Setelah sampai mereka langsung mencari barisan dan mengikuti gerakan pemanasan
***
Sementara di kelas lain, yaitu di kelas XII ipa 2 semua murid sudah tak duduk di bangku masing-masing. Karna sekarang waktu pergantian pelajaran kedua namun, guru yang akan mengisi kelas mereka belum kunjung datang
Mereka mengharapkan akan ada free clas untuk pelajaran sekarang. karna guru itu, guru yang paling menyebalkan di mata para murid
Bagaimana tidak menyebalkan sebab guru itu selalu memberi tugas tak tanggung-tanggung. guru itu selalu memberikan tugas yang sangat banyak dan membuat otak mereka menjadi pusing sendiri
Sebagian ada yang sedang merumpi di satu meja, ada yang sedang mojok, makan, maen HP, tidur, atau bahkan ada yang sedang merapikan make up mereka.
Contohnya Lauren cs, mereka menuju ke loker yang ada di kelas. dan bercermin untuk sekedar merapikan atau merias wajah mereka kembali
Sama hal nya dengan Adel, ia berjalan menuju lokernya dan mencari barang yang ia cari. Saat menemukan barang tersebut ternyata isinya sudah ludes.
Ia sudah tahu kelakuan siapa
Berjalan dengan muka garang menuju kursi barisan ketiga di bagian para kaum lelaki
“DENISS!! Kurang ajar lo ngabisin parfume punya gua!” amuk Adel dengan lantang. ia menaruh botol parfume nya yang sudah tidak ada isinya itu di depan hadapan Denis
Jika kalian tanya kenapa Adel bisa tau bahwa Denis lah yang menghabiskan parfume nya, maka jawabannya hanya ini. ia mencium aroma parfumnya dari seragam Denis.
Denis yang sedang bercanda gurau dengan sahabatnya langsung tersentak kaget. ia mendongak lalu menyengir tanpa dosa
“Minta dikit Del, pelit amat lo jadi mantan” Adel yang mendengar hal itu semakin naik pitam. Parfume Adel yang masih setengah tiba-tiba ludes oleh lelaki itu
Lalu dimana letak sedikit nya?
“Dikit, dikit, pala lo peang! ini bures sebotol”
“Yang ngabisin si Reza noh sama si Gavin” Denis menunjuk Reza dan Gavin secara bergantian
Reza mendelik, “Maksud lo? jangan bawa bawa nama saya kedalam hubungan ghaib kalian ini” ucapnya sinis
Enak saja Reza dan Gavin di tuduh seperti itu. Padahal mereka tidak tahu menahu tentang hal itu
Gavin menendang kaki kursi yang di duduki Denis, “Paan lo bangke, gua gak make ye”
“Pantesan dari tadi si Denis seragamannya bau mantan ya, orang dia pake punya Adel AHAHHA” ucap Vurgos meledek sambil tertawa terbahak-bahak
Di iringi dengan yang lain, memang kedia pasangan terhalang restu selalu kode kodean supaya balikan
Denis menatap Adel, “Berbagi itu indah Del, gua cuman bantuin ngabisin parfume lo biar lo beli yang baru” aku Denis jujur
Adel memukul pundak Denis dengan keras, “Lo-nya keenakan gua nya yang rugi!”
“Hajar Del! ayok, siksa Denis sampe mampus! tuh anak emang suka ngelunjak.” Reza mendukung apa yang di lakukan oleh Adel
Revan melirik kearah Rio setelah melihat keluar jendela.
“Kelas Rayna lagi olahraga, Yo?” Rio mengangguk sebagai jawaban.
Vurgos yang duduk di depan bangku milik Revan langsung menoleh ke arah jendela dan melihat kearah lapangan. dan benar saja apa yang di katakan oleh lelaki itu
“Nonton kuy! liat noh, cantik-cantik gitu. Jangan lewatkan momen seperti ini” ajak Vurgos dengan semangat 86. Jika melihat yang bening bening maka ia akan menjadi yang paling heboh
Revan mendengus, “Otak lo cewek mulu, mending isi pake materi dari pada otak lo penuh karna cewek”
“Percuma banget gua belajar kalo akhirnya gua bakal remid” sahut Vurgos
“Makanya kalo belajar tuh yang bener jangan cuman cewek doang otak lo.”
Vurgos menyatukan kedua tangannya lalu meletakannya di depan d**a sambil menghadap kearah Revan, “Ampun ndoro. nanti kalo gua udah niat pasti belajar kok”
Tiba-tiba saja pintu yang tadinya tertutup sekarang menjadi terbuka oleh seseorang. semua nya langsung mengalihkan atensi mereka dan menatap orang itu
Leo, orang tadi berlari lari lalu mendobrak pintu dengan tiba-tiba. Perlu di ketahui bahwa dia adalah ketua kelas di sini
“Woy! Woy! Pak Lukman gak bakal masuk!!” ucapnya. Tadi ia pergi ke ruangan pak Lukman untuk menanyakan bahwa guru itu akan masuk apa tidak
Semuanya terdiam, dan hening
1 detik
2 detik
3 detik....
Kemudian semunya bersorak bahagia mendengar hal tersebut.
“Horeeee!!!” sorak semua murid
“Kalo Revan udah ceramahin Vurgos pasti bakal ada kabar baik!” ucap Gavin sambil menatap kedua manusia itu
“Tapi jangan seneng dulu!” Leo kembali membuat hati para murid gelisah
“Perasaan gua kok gak enak” Vurgos membisik kearah Reza yang duduk di sampingnya.
Reza menoleh lalu mengernyit, “Emang lo punya perasaan Gos?”
“Gua juga punya, walaupun dikit...” Vurgos memelankan suaranya di akhir kalimat
“Kerjain dari halaman 120 sampai halaman 125” beritahu Leo membuat semua murid mendesah kecewa.
Baru saja mereka bahagia
“Si Lukman emang pengen ngebunuh murid!” cibir Reza sewot
“Santet guru sendiri dosa gak sih?” banyak cibiran dan sumpah serapah untuk guru itu dari semua murid
Di saat semua murid mengerutu tak jelas Rio malah berdiri dari kursinya. sontak hal itu membuat Revan yang duduk di samping nya langsung menoleh
“Mau kemana lo, Yo?”tanya Revan penasaran
“Lapangan” jawabnya dingin dan datar.
Vurgos langsung berdiri dan menoleh ke belakang, “Ngikut lah, dari pada liat buku yang isinya tulisan semua mending liat cewek cakep yang ada di lapangan”
Inti dari geng Levator berdiri dan berjalan keluar dari kelas. Terkecuali Alex dan Revan. mereka berdua murid teladan jadi tak mungkin bolos begitu saja
“Ngikut gak lo bos?” tanya Reza ketika sampai di bangku Alex
Alex hanya menggeleng lalu kembali memfokuskan diri ke buku paket dan catatannya
“Gak bakal mau dia, kan udah pacaran ama buku” ucap Gavin
Sontak Alex langsung menoleh kesamping menatap datar dan sinis Gavin. yang di tatap hanya menyengir kuda
“Okey okey sorry bos. kita pergi dulu” pamit Gavin lalu mengikuti yang lain
***