Tiga belas

2482 Kata
Saat ini keadaan sekolah tidak bisa di katakan sedang baik baik saja atau berjalan dengan lancar Waktu yang seharusnya untuk mereka pulang tersita, karna di depan gerbang banyak sekali murid laki-laki asing dengan memakai motor. Dengan rela tak rela mereka harus bersembunyi di dalam kelas karna hal itu. Para murid sudah bisa menebak bahwa mereka akan tawuran di depan gerbang sekolah Loridz nama geng dari sekolahan sebelah dan geng yang ada di depan gerbang itu Arsha mengerutkan kening, ia berdiri sambil berusaha mengintip melihat keadaan luar dari jendela “Di depan ada apa sih? kok anak-anak pada rame banget?” Heran Arsha. Sebelumnya ia tak pernah melihat seperti ini, ya karna ia selama ini selalu sekolah di dalam rumah. Kayla berlari ke arah bangku lalu memegang tangan Arsha “Gawat Sha!! di depan gerbang ada anak-anak geng Loridz!!” beritahu Kayla dengan heboh Arsha menatap Kayla, “Terus mereka mau ngapain di sekolah kita?” Kayla menghembus napasnya pelan, ia kadang heran dengan teman barunya itu. kenapa masalah ini saja tidak tahu? “Mau tawuran lah! mereka mau balas dendam karna kemarin ada anak geng Loridz yang babak belur sama anak Levator” Beritahu nya lagi. Arsha masih diam, mencerna ucapan Kayla. ia masih tidak paham apa yang Kayla maksud. jaman sekarang masih ada orang yang tawuran? buang buang waktu demi hal itu? Sungguh ia merasa sangat heran Sedangkan Rayna yang baru saja membuka pesan teks dari sang pujaan hati, yang tak lain adalah Rio Ia langsung berjalan mendekati Kayla dan Arsha, lalu membisikan isi pesan dari Rio tadi “Kata kak Rio jangan keluar dari kelas, biar kita aman.” Rayna berbisik pelan Kayla langsung mengangguk cepat. itu lah yang harus mereka lakukan sekarang, bersembunyi di dalam kelas “Tapi aku kebelet Kay, Gimana dong?” tanya Arsha Sedari tadi ingin sekali Arsha pergi ke kamar mandi karna kebelet, namun ada saja halangannya. Dan sekarang sudah tak tahan lagi Kayla menatap Arsha panik. ia paham yang di rasakan Arsha dan rasanya tak enak. “Duh elah. Lo tahan bentar. banyak anak Loridz yang keliaran biasanya” Kayla berucap seperti itu memang kenyataan. Ia menenangkan Arsha yang sudah tak tahan katanya, sudah bisa di baca dari air mukanya yang menahan sesuatu “Ngapain pake acara geng-gengan segala sih! jadi ribet kan!” Batin Arsha mengerutu Di saat mereka bertiga sedang bergulat dengan pikiran masing-masing seseorang dari arah belakang memanggil Arsha “Heh cupu!” Panggilnya dengan nada hampir teriak Mereka semua menoleh terutama Arsha, karna ia sudah tau sebutan itu hanya untuknya dari semua orang Kayla memutar bola matanya malas, lagi lagi Ariana yang menghampiri mereka. kenapa si nenek lampir itu selalu menguat masalah dan tinggal di kelas yang ia tempati? “Dia punya nama, You buta!?” Kayla melotot garang karna tak terima jika Arsha di panggil seperti itu Mengapa seseorang selalu mengganti nama orang tersebut dengan sesuka hati? apa mereka tidak punya pikiran yang waras untuk mengambil tindakan seperti itu? itu sama saja dengan yang namanya pembullyan. “Serah gua kek, ribet banget lo” Ariana menjawab dengan tak kalah garang dan cuek Lagian niatnya kesini bukan untuk adu argumen dengan gadis itu. ia mendatangi mereka untuk menjalankan sesuatu Ia menoleh kearah Arsha, “Ayok anter gua ke Wc! lo kebelet juga kan?” Jika kalian menanyakan dari mana Ariana tahu jika Arsha sedang kebelet. maka jawabannya seperti ini, tadi ia sempat mendengar dari belakang tentang pernyataan jika Arsha kebelet. Tepat sasaran, itu memudahkan dirinya untuk menjalani tugas dari seseorang Kayla yang mendengar itu langsung menolak mentah-mentah, enak saja di luar keadaannya lagi genting begini, malah mengajak sahabatnya untuk keluar kelas Arsha menarik tangan Arsha yang sebelahnya, “Enak aja! gak ya, Arsha gak boleh keluar. nanti dia kenapa-napa” Rayna menatap malas Ariana, “Tau lo Ana, ajak temen lo yang lainnya aja noh” imbuhnya Ariana berdecak kesal, dua gadis ini sangat menghalangi rencananya saja. “Mereka gak mau! lagian dia juga kebelet kan? Ribet banget lo bedua,” “Gak—” ucapan Kayla terpotong karna Arsha lebih dulu menenangkan nya “Udah gak papa, aku juga kebelet kok” Ujar Arsha dengan tenang berusaha untuk menenangkan Kayla “Tapi Sha, di luar lagi bahaya” Kayla tetap ngotot untuk tidak mengijinkan Arsha keluar dari kelas “Cuman sebentar kok, nanti balik lagi” Ariana memutar bola matanya malas, terlalu jijik untuk melihat drama persahabatan mereka. “Alay banget lo bedua! ayok buru gua udah kebelet anjing. lelet banget lo!” “Sabar Ariana grandong!” Dengan terpaksa Kayla mengijinkan Arsha untuk keluar, walaupun perasaannya sangat tak enak dengan kelakuan Ariana Kayla menatap kembali Arsha, “Kalo Si nenek lampir ini macem macem ke lo, langsung hubungin gua ya. biar gua Tak hiiih neh nenek satu” Arsha mengangguk sembari tersenyum, lalu ia melangkah keluar bersama Ariana “Hati-hati ya!” ucap Kayla lagi *** Semua anggota Levator sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Ada lebih dari 50 anggota Levator yang ada di SMA Harapan Bangsa. mereka semua memakai jaket kebanggaan nya, Levator juga di kenal karna para anggota yang tak kalah tampan dan jago bela diri Inti geng itu berbaris paling depan, contohnya Gavin. ia berdecak kesal melihat anggota geng Loridz yang menghalangi pemandangan mereka “Mau ngapain lagi sih kalian? jam segini udah di depan gerbang aja. Pemandangan nya jadi suram!” “Tempe, kek gak ada kerjaan aja.” timpal Reza sambil menatap malas mereka Anggota Loridz mendengus, lalu ketuanya angkat bicara “Gua kesini mau bales karna kemaren anak buah gua babak belur sama anggota lo!” Teriak Edwin selalu ketua geng itu. Memang niat mereka untuk membalas dendam kepada anggota Levator, karna kemarin salah satu anggota Loridz babak belur oleh salah satu anggota inti Levator yang tak lain adalah Rio Vurgos berdecak malas, “Dianya aja yang lemah, sok sok an ngajakin duel udah tau skil dia cetek! Sok jagoan!” Amarah Edwin semakin memuncak, ia menggeram tak Terima “Bacot!” ucapnya dengan d**a yang naik-turun Ia menggode kepada anggota lainnya untuk segera menyerang mereka. “Serang!!” Suara pukulan terdengar nyaring dari arah Gerbang. kedua geng besar itu memulai tawuran dengan tangan kosong, Bugh! Bugh! Bugh! Satu persatu anggota dari kedua geng itu mulai kehilangan kesadarannya. Namun, yang paling banyak dari geng Loridz daripada geng Levator “Bos nyerah aja kita, anggota kita udah gak sanggup” ucap salah satu anggota Loridz kepada Edwin Edwin yang melihat hal itu tentu sedikit gelisah, ia mundur beberapa langkah. anggota nya sudah terkapar tak berdaya di jalan Ia menoleh lalu menggeleng kuat, “Kagak bakal! kita harus bikin mereka juga babak belur dan bertekuk lutut di hadapan kita semua” Lelaki itu mendengus, Edwin hanya diam saja tidak membantu mereka. “Lo mah diem aja,” cibirnya pelan tapi tetap terdengar oleh Edwin “Kata siapa? gua ada cara supaya Alex bakal bertekuk dan nyerah” Edwin tersenyum miring, ia mempunyai kejutan untuk anggota Levator. Lelaki itu mengernyit, ia tak tahu rencana apalagi yang di rencanakan oleh bosnya. Edwin menoleh ke samping di sana sudah ada orang suruhannya untuk membawa kejutan tersebut. ia meminta orang tersebut untuk membawanya di hadapan semua dan mengikatnya di kursi yang sudah di siapkan. Hal tersebut membuat Geng Levator terkejut bukan main, tak hanya geng Levator tapi anggota Loridz pun tak kalah kaget. Anggota inti menggeram, bisa bisa nya mereka kecolongan Alex menggepalkan kedua tangannya, rahangnya menggeras, urat leher nya pun terlihat sangat menonjol Ia tahu siapa gadis itu, ya. gadis yang hari-hari lalu pernah di hukum bersamanya “f**k!” umpatnya Anggota inti pun sama dengannya, mereka tahu siapa gadis yang dijadikan umpan oleh geng Loridz. Gadis itu teman Rayna dan Kayla. “Anjing lo maennya curang!” “Umpanan anjing keliatan banget cemen nya lo pada!” Edwin menyeringai, ia merogoh saku celananya. Mengambil benda lipat tajam dan mengarahkan ke leher gadis itu. Ia menggerakan sedikit benda tajam itu di leher Arsha membuat semua geng Levator menggeram “Dengerin gua, kalo kalian mau tekut lutut dan minta maaf sama gua. gua akan bebasin nih cewek...” ia menjeda kalimat nya “... Tapi, kalo lo gak mau minta maaf gua bakal lukain neh cewek!” menggerakkan sedikit lagi benda tajam itu di area leher Arsha menimbulkan sedikit darah mengalir dari sana. Arsha hanya mampu memejamkan kedua matanya, menahan rasa sakit. ia berdoa dalam hati semoga ia tidak berakhir konyol seperti ini. “Sialan lo! jangan bawa bawa orang lain! dia gak tau apa apa tentang masalah kita!” ujar Alex Dapat di lihat jika Alex terlihat sangat marah ketika melihat Arsha yang di perlakuan seperti itu, bukan tanpa alasan ia hanya tidak suka jika perempuan di perlakuan keji, hina, dll seperti itu Alex melangkah mendekat, namun, Edwin semakin melukai Arsha. semakin Alex mendekat maka semakin dekat juga Arsha kehilangan nyawanya “Sshh” Arsha mendesis pelan, air matanya sudah luruh namun tidak deras. demi apa-pun rasanya sakit sekali “Satu langkah lo maju...” Edwin memperingati “Gua bakal tusuk leher cewek ini pakai pisau” Damn it! “Stress” umpat beberapa anggota Levator Mereka tak habis pikir dengan Edwin yang bermain sangat curang dan membahayakan orang lain. Arsha membuka matanya sejenak, ujung matanya menatap Alex penuh harap agar lelaki itu tidak semakin dekat “Tolong... Jangan..” Arsha berucap sangat pelan nyaris tak terdengar Namun, Alex dapat menangkap ucapan itu dari gerakan mulut Arsha yang mengisyaratkan untuk tidak mendekat “Akhh!” Arsha mendesis cukup keras namun bisa di dengar oleh Alex Alex tak tega melihat hal itu. ia cukup bingung, dari beberapa anggota meminta agar Alex tidak mengatakan untuk menyerahkan diri. tapi, hatinya berkata lebih baik menyerah dari pada nyawa gadis yang tak tahu apa-apa menjadi korbannya. “Oke fine! gua ngaku kalah asal lo lepasin tuh cewek, dia gak tau apa-apa tentang masalah kita” final Alex membuat seluruh anggota terkejut “Al!!” “Lo gila!? Masa lo nyerah gitu aja?!” Anggota inti meminta penjelasan, apa apaan ini? masa nyerah begitu saja? “Good,” Edwin menerbitkan senyuman devilnya. Lalu ia melepaskan gadis itu dan mendorong nya kedepan dengan sangat keras. untung saja Alex sigap menangkap tubuh gadis itu, Arsha terkejut saat Alex menangkapnya, ia refleks memegang kedua tangan Alex, tangan Alex sebalah kanan memegang pundak Arsha, dan tangan sebelah kirinya menahan tangan Arsha. membuat mereka seperti sedang saling mendekap satu sama lain Mata keduanya saling bertemu satu sama lain, sebelum Arsha kehilangan kesadarannya Denis dengan usil menyalakan suara sirine polisi dari handphone nya. membuat semua anggota Loridz panik sendiri “Polisi! Polisi! Kabur bos!” heboh anggota Loridz “Sialan!” umpat Edwin. Edwin menatap tajam ke arah Alex dan anggota inti lainnya, kali ini mereka lolos tapi lain kali ia tidak akan membiarkan mereka begitu saja Mereka-pun segera menaiki motor masing masing dan meninggalkan area sekolah itu. Anggota inti Levator tak kalah cukup khawatir jika memang ada polisi, namun lain halnya dengan Denis yang sudah tertawa terbahak-bahak. Semuanya langsung menatapnya, lalu Denis memperlihatkan layar handphone nya yang sedang memutar nada sirine polisi Mereka mendengus, mereka kira beneran ada polisi yang datang. “Denis pinter juga ya!” Reza menepuk Pundak Denis sambil tertawa renyah “Lo nya aja yang baru nyadar, dari dulu gua emang pinter!” memutar bola mata malas, mereka tak percaya jika Denis pintar “Anjing tuh cewek pingsan!” pekik Revan panik, melihat keadaan gadis itu yang sudah di gendong ala brid style oleh Alex “Za, nanti bawa tas gua sama tas nih cewek!” titah Alex, sembari memasuki mobil miliknya dengan Arsha “Gua gak tau tuh cewek kelas mana” jawab Reza. “Cari tahu bodoh” *** Sydney, Australia Sedangkan di sisi lain tepatnya di sebuah restoran yang sangat mewah, keluarga yang terlihat sangat harmonis sedang makan malam di restoran itu Mereka bercanda gurau, membuat mereka sangat terlihat seperti keluarga bahagia. “Andai aja, Kak Arsha ikut..” celetuk Arka tiba-tiba Ia sangat merindukan kakak nya itu, ntah kenapa perasaan nya sangat tak enak. pikirannya terus tertuju pada Arsha Sedang apa kakaknya sekarang? apa dia baik-baik saja? apa dia sudah bahagia karna Wisnu tidak pernah menghukum nya? Ada rasa sesak yang sedari tadi menyerang di dadanya, sesak sekali. tapi Arka tidak mengadu kepada Yuna ataupun Wisnu. Wisnu yang mendengar nama Arsha langsung melirik kearah Arka. Yuna yang sedari memperhatikan tatapan datar dari suaminya langsung berdehem pelan untuk mencairkan suasana “Buat apa anak pembawa masalah itu ikut? tidak ada gunanya” Arka melirik datar,“Sampe kapan papa akan nilai Kak Arsha seperti itu? dia gak pembawa masalah Pah, semuanya udah takdir hidup keluarga kita” Mendengar penuturan Arka membuat Wisnu menghentikan makannya. “Berhenti menyebut nama anak itu di depan saya Arka” Peringat Wisnu sambil menggeram Merasa atmosfer sekitar menjadi berubah, Yuna memandang Wisnu dan Arka secara bergantian, ia tersenyum sambil menggelus punggung Arka “Arka udah ya, lanjut makan aja. nanti kita hubungi Arsha setelah pulang dari sini” Arka menunduk melihat noda merah yang menetes dari hidungnya, ia segera menutup lubang hidungnya dengan telapak tangan. Sial! kenapa dirinya bisa mimisan? “Mah, Arka pamit ke kamar mandi” Arka langsung berdiri dan berbalik badan Yuna memperhatikan gerak gerik Arka yang terlihat aneh, “Kamu baik-baik aja, Ka?” Arka mengangguk tanpa menoleh kebelakang “Jangan lama-lama ya” Arka mengangguk lagi Lalu ia segera berjalan dengan langkah cepat kearah kamar mandi, ia menyalakan air kran di wastafel dan segera mencuci darah yang keluar dari hidungnya Ia melihat wajahnya di depan cermin, sebenarnya ada apa dengan dirinya? baru pertama kali ia mimisan seperti ini Merogoh saku celananya mengambil benda pipih miliknya. Ia langsung memencet nomor telepon milik Adit, lalu menaruhnya di telingga Dalam hati ia terus memohon dan berdoa, agar panggilannya di angkat oleh Adit. otaknya tak berhenti memikirkan Arsha, ada perasaan janggal dalam hatinya “Halo Dit,” sapa nya setelah panggilannya di angkat oleh Adit “Ya, Ka. Kenapa?” di sebrang sana Adit bertanya penuh tanya dengan keringat yang membanjirinya di pelipis “Lo lagi dimana?” “Masih di sekolah, ada perlu apa njing?” “Arsha baik-baik aja kan?” tanya Arka langsung ke intinya “Tadi gua liat dia baik-baik aja sih,” “Oh, yaudah” Adit terkekeh pelan, “Lo nelfon gua cuman mau nanyain kek gitu? kan bisa lewat chat” Arka memejamkan matanya sejenak, “Perasaan gua tiba-tiba gak enak aja, terus gua kepikiran sama Arsha. gua cuman takut dia kenapa-kenapa, jagain dia ya, gua titip dia ke lo.” “Perasaan lo aja kali, Arsha baik-baik aja kok.” Arka menghembuskan napas lega, “Oke deh, gua lega dengernya kalo gitu. gua tutup dulu ya Dit” Tut... Tut... Tut... “Apa iya dia baik-baik aja?” menolognya sambil menatap cermin “Mungkin cuman perasaan gua aja, karna gua terlalu khawatirin dia” Arka melenggang pergi dari kamar mandi dan berjalan kembali ke bangku asal ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN