Empat belas

1838 Kata
“Enghh” Arsha membuka matanya secara perlahan, setelah matanya terbuka dengan sempurna keningnya mengernyit heran Ruangan ini sangat asing, ia mencoba duduk dan memperhatikan sekitar kamar. kamar dengan warna putih itu memenuhi penglihatan Arsha Ini bukan kamar miliknya, ia membuka selimut tebal dan segera turun dari ranjang. berjalan kearah jendela, sudah malam. dan sekarang ia dimana? Ingatannya berputar dengan kejadian tadi sore, menjadi umpanan geng Loridz. Decitan pintu mengalihkan atensinya ia segera berbalik menatap pintu itu Menelan ludah susah payah, ingatannya seketika ngawur kemana-mana apakah ia di culik? Atau ia di jual oleh orang lain kepada om-om devil? Kedua tanganya meremas kuat rok abu abunya. dan matanya tertutup rapat, mengigit bibir bagian bawahnya dengan kuat. lehernya terasa nyeri, mungkin karna kejadian tadi “Udah bangun?” Suara berat milik lelaki itu membuat Arsha semakin meremas kuat roknya Kepalanya sedari tadi tertunduk “Gua gak ngapa-ngapain lo. lo ada di apartemen gua, gak usah takut” jelas lelaki itu lagi Perlahan Arsha membuka matanya, dan sedikit mendongak menatap wajah lelaki itu. seketika ia terkejut dengan lelaki itu Sedetik kemudian Alex berbalik dan berjalan kearah sofa, dan duduk di sana. sudah ada kotak p3k di meja Ya, orang yang membawa Arsha ke apart adalah Alex. si ketua geng Levator “Duduk” Arsha menatap Alex tak paham, “Uh?” Menepuk sofa di sebelahnya, “Duduk, leher lo biar gua obatin” Akhirnya Arsha berjalan menuju sofa yang di duduki oleh Alex. Walaupun di dalam hatinya terasa sangat gugup bila berdekatan dengan Lawan jenis Alex membuka kotak p3k dan mengambil obat merah, ia menatap kembali Arsha. “Dongak” Mendongak perlahan Alex mengoleskan obat merah pada leher Arsha. Arsha meringis pelan ketika obat merah itu mengenai kulitnya yang terluka. Mendengar ringisan yang keluar dari mulut gadis itu, ia meniup dengan perlahan pada leher Arsha. Alex mengobati Arsha dengan sangat teliti dan pelan Setelah selesai mengobati luka Arsha. Arsha segera menegakan kepalanya. Kedua matanya tak sengaja menatap manik mata tajam Alex, Hingga, suara bel dari luar membuyarkan kegiatan mereka. Arsha langsung mengalihkan pandangan dan menunduk, Alex langsung berdiri dan keluar dari kamar Arsha menghembuskan napas pelan, untung orang yang menolong nya ia kenal sendiri. walaupun hanya beberapa lintas saja Otaknya kemudian berhenti ketika mengingat nama Adit. Astaga Adit pasti mencarinya kemana-mana. ia segera berdiri dan mengambil tas ranselnya Setelah itu ia berjalan menuju pintu namun, saat ingin membuka pintu itu Alex terlebih dahulu membukanya “K-kak Aku mau pamit pulang sekarang. makasih udah ngobatin luka aku” ucap Arsha Alex mengernyit, ia menatap gadis yang ada di hadapannya dengan intens. Berjalan melewati Arsha dan duduk kembali ke sofa, menaruh kantong di atas meja. dan menatap kembali Arsha yang masih berdiri di pintu “Makan dulu” Arsha menggeleng, “Enggak usah kak, aku mau langsung pulang aja” “Gua anter,” Arsha membulatkan matanya terkejut, apa katanya? Alex akan mengantarnya? “Gak usah, nanti ngerepotin kak Alex” Tiba-tiba saja perut Arsha berbunyi, Arsha menunduk dan merutuki perutnya yang tak bisa diajak kompromi Alex terkekeh pelan, “Masih mau ngelak?” Dengan terpaksa dan malu Arsha berjalan kembali kearah sofa dan segera makan bersama dengan Alex. *** “Enghh” Arsha membuka matanya secara perlahan, setelah matanya terbuka dengan sempurna keningnya mengernyit heran Ruangan ini sangat asing, ia mencoba duduk dan memperhatikan sekitar kamar. kamar dengan warna putih itu memenuhi penglihatan Arsha Ini bukan kamar miliknya, ia membuka selimut tebal dan segera turun dari ranjang. berjalan kearah jendela, sudah malam. dan sekarang ia dimana? Ingatannya berputar dengan kejadian tadi sore, menjadi umpanan geng Loridz. Decitan pintu mengalihkan atensinya ia segera berbalik menatap pintu itu Menelan ludah susah payah, ingatannya seketika ngawur kemana-mana apakah ia di culik? Atau ia di jual oleh orang lain kepada om-om devil? Kedua tanganya meremas kuat rok abu abunya. dan matanya tertutup rapat, mengigit bibir bagian bawahnya dengan kuat. lehernya terasa nyeri, mungkin karna kejadian tadi “Udah bangun?” Suara berat milik lelaki itu membuat Arsha semakin meremas kuat roknya Kepalanya sedari tadi tertunduk “Gua gak ngapa-ngapain lo. lo ada di apartemen gua, gak usah takut” jelas lelaki itu lagi Perlahan Arsha membuka matanya, dan sedikit mendongak menatap wajah lelaki itu. seketika ia terkejut dengan lelaki itu Sedetik kemudian Alex berbalik dan berjalan kearah sofa, dan duduk di sana. sudah ada kotak p3k di meja Ya, orang yang membawa Arsha ke apart adalah Alex. si ketua geng Levator “Duduk” Arsha menatap Alex tak paham, “Uh?” Menepuk sofa di sebelahnya, “Duduk, leher lo biar gua obatin” Akhirnya Arsha berjalan menuju sofa yang di duduki oleh Alex. Walaupun di dalam hatinya terasa sangat gugup bila berdekatan dengan Lawan jenis Alex membuka kotak p3k dan mengambil obat merah, ia menatap kembali Arsha. “Dongak” Mendongak perlahan Alex mengoleskan obat merah pada leher Arsha. Arsha meringis pelan ketika obat merah itu mengenai kulitnya yang terluka. Mendengar ringisan yang keluar dari mulut gadis itu, ia meniup dengan perlahan pada leher Arsha. Alex mengobati Arsha dengan sangat teliti dan pelan Setelah selesai mengobati luka Arsha. Arsha segera menegakan kepalanya. Kedua matanya tak sengaja menatap manik mata tajam Alex, Hingga, suara bel dari luar membuyarkan kegiatan mereka. Arsha langsung mengalihkan pandangan dan menunduk, Alex langsung berdiri dan keluar dari kamar Arsha menghembuskan napas pelan, untung orang yang menolong nya ia kenal sendiri. walaupun hanya beberapa lintas saja Otaknya kemudian berhenti ketika mengingat nama Adit. Astaga Adit pasti mencarinya kemana-mana. ia segera berdiri dan mengambil tas ranselnya Setelah itu ia berjalan menuju pintu namun, saat ingin membuka pintu itu Alex terlebih dahulu membukanya “K-kak Aku mau pamit pulang sekarang. makasih udah ngobatin luka aku” ucap Arsha Alex mengernyit, ia menatap gadis yang ada di hadapannya dengan intens. Berjalan melewati Arsha dan duduk kembali ke sofa, menaruh kantong di atas meja. dan menatap kembali Arsha yang masih berdiri di pintu “Makan dulu” Arsha menggeleng, “Enggak usah kak, aku mau langsung pulang aja” “Gua anter,” Arsha membulatkan matanya terkejut, apa katanya? Alex akan mengantarnya? “Gak usah, nanti ngerepotin kak Alex” Tiba-tiba saja perut Arsha berbunyi, Arsha menunduk dan merutuki perutnya yang tak bisa diajak kompromi Alex terkekeh pelan, “Masih mau ngelak?” Dengan terpaksa dan malu Arsha berjalan kembali kearah sofa dan segera makan bersama dengan Alex. *** *flashback on Ariana menarik tangan Arsha secara kasar menuju area belakang sekolah, Arsha celingak-celinguk perasaan ini bukan arah jalan menuju kamar mandi Ia berusaha menarik tangan nya yang di tarik Ariana secara kasar namun, ia tidak bisa Ariana malah semakin menarik tangannya dan menyeretnya ke arah belakang sekolah “A-anna, ini bukan jalan ke kamar mandi” Arsha sudah menelan ludahnya susah payah. Perasaan nya mendadak tidak enak Kalo ia tahu jika akhirnya begini lebih baik tadi ia mendengar kan ucapan Kayla Ariana memutar bola matanya, “Ya emang bukan bodoh!” “Kita mau ngapain? bahaya di sini, ayok kita balik kekelas” “Ck, lo mau balik kekelas?” Ariana membalikan badannya melihat Arsha yang ada di belakang nya yang sudah panik Arsha mengangguk cepat, tangannya memegang tangan milik Ariana berusaha untuk melepaskan genggaman gadis itu Ariana tersenyum miring, lalu mengangguk dan melepaskan genggamannya “Sana balik kekelas” ucap Ariana dengan bersedekap dada Terdiam sejenak, merasa ada yang janggal dengan gadis yang ada di hadapannya. se perdetik kemudian ia membalikkan badan dan melangkah menjauhi Ariana Sedangkan Ariana gadis itu sudah tersenyum miring sambil menatap punggung Arsha yang mulai menjauh Namun, seseorang dari balik punggung Ariana dengan pakaian seragam sekolah dan membawa tongkat di tangannya dan mengejar langkah Arsha Bugh! Tepat sekali tongkat itu mengenai tengkuk milik Arsha. Arsha langsung jatuh ke lantai karna serangan tiba-tiba dari arah belakang, matanya menatap seseorang yang mengangkat tubuhnya lalu matanya tertutup rapat dan pandang nya hitam *flashback off *** “Angkat kek Sha! Lo dimana sih!?” Adit membanting handphone nya ke ranjang, sudah berkali-kali ia menelfon Arsha tapi handphone gadis itu tidak aktif Ia mengacak rambutnya prustasi, ia kira Arsha sudah pulang terlebih dahulu ternyata di rumah saja tidak ada. Di sekolah pun sudah sangat sepi keadaannya jika ada apa-apa gadis itu akan selalu menghubunginya namun kali ini tidak sama sekali Sudah berkeliling rumah dan mencarinya keluar tapi tetap saja tidak menemui keberadaan Arsha Duduk di tepi ranjang dengan menghela napas lesu, sebenarnya dimana Arsha sekarang? tidak mungkin jika gadis itu di culik Drrtt... Drrtt... Getaran dari handphone nya mengalihkan antesinya, ia langsung menoleh dan mengecek siapa yang menelfonnya Mimik mukanya berubah menjadi lesu ternyata itu bukan dari Arsha Ia menekan tombol hijau dan menempelkan nya di telingga “Aditttt!!” teriakan dari sebrang terdengar sangat jelas Itu suara Alya – pacar dari Adit Adit menghembuskan napasnya “Ada apa–” “Kenapa kamu gak bales chat aku hah!? kenapa gak di buka sama sekali!?? Terus tadi juga kenapa ninggalin aku duluan?!?” tanya Alya beruntunan memotong ucapan Adit Adit menghembuskan napasnya, “Sorry Al, gue lagi ada urusan penting” Alya itu menurutnya terlalu posesif dan tipe perempuan yang cemburuan dengan pasangannya. walaupun terkadang Adit kesal dengan sikap Alya tapi Adit tidak pernah ada niatan untuk menyakiti gadis itu. Ia menyayangi Alya, ya, walaupun gadis itu terkadang terlalu cerewet “Lebih pentingan mana dari pada aku Dit?” Adit memutar bola matanya, “Kalo lo nelfon buat ngajak ribut gue matiin” Lagi dan lagi Alya seperti itu, Adit harus ada dua puluh empat jam untuk memberi kabar dengan Alya. Itu yang membuat nya sedikit kesal dengan sikap gadis itu “Kamu itu kenapa sih akhir-akhir ini tuh berubah? kamu cuek banget sama aku! Kamu udah bosen sama aku? Udah ada yang baru?” “Lo ngomong apaan sih, Al” Adit menjawab sambil mengernyit kan keningnya. “Jawab dulu Adit!” ucap Alya yang mulai bergetar Ting.... Tong.... Suara bel rumah terdengar masuk kedalam telinga Adit, ia langsung menatap kearah pintu dan berpikir pasti itu Arsha “Nanti lanjut lagi, Al” Adit mematikan sambungan telfon secara sepihak Sedangkan Alya sendiri di sana sudah misuh-misuh tak jelas Adit segera turun dari ranjang dan membuka pintu kamar, lali ia turun menuruni tangga dan membukakan pintu utama Saat melihat sesosok yang ada di depan pintu ia langsung mendekap erat gadis itu “Lo kemana aja, Sha? kenapa gue telfonin gak nyambung?gue khawatir banget sama lo, kenapa ilang-ilangan hm?” Adit menggeratkan dekapannya sehingga Arsha sendiri merasa sesak “Sesek napas gue kak!” Arsha memukul-mukul punggung kekar Adit agar melepaskan dekapannya “Oh, iya sorry. Gue lupa” Adit cengegesan tanpa dosa Arsha mendengus lalu mengelus bagian lehernya yang terasa kembali sakit Adit menatap kearah leher Arsha, “Leher lo kenapa!?” “Gue jelasin di dalem” Sedangkan di sebrang jalan di dalam mobil berwarna hitam lelaki itu memperhatikan gadis yang baru saja ia antar pulang Ia melihat Arsha yang di peluk oleh seseorang, seperti nya lelaki. Tapi ntah itu siapa, ia tak kenal dan tak peduli juga Seperdetik kemudian ia mengedikkan bahunya acuh lalu menyalakan mobilnya dan pergi dari area rumah milik Arsha
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN