Dua

1552 Kata
Arsha membukakan matanya perlahan, dia menoleh ke arah samping ada Angga. Namun ini bukan di kamar melainkan di mobil milik Angga. Seingat dia tadi dirinya tidur di kamar bukan di mobil, apakah dia sedang halusinasi? "Dah bangun?" "Tadi kan gua tidur di kamar kak, kenapa sekarang ada di mobil?" "Tadinya gua mau bawa lo ke rumah gua, biar lo tidur di sana dulu. tapi, tadi Arka nelfon katanya suruh bawa balik ke rumah lo aja." Arsha hanya mengangguk paham lalu menoleh ke arah jam tangannya sudah menujukan pukul 23.00. Mati dia! Dia yakin jika sudah sampai di rumah dia akan habis oleh Wisnu karna pulang larut malam. "Eum, kak, turunin gue. gue naek taksi aja." "Dah malam Sya." "Itu di depan ada halte gua nunggu aja di situ." "Gak!" "Pliss.. boleh ya?" "Nggak Arsha, bahaya perempuan pulang sendiri" "Gak akan ada apa-apa, gua turun di depan aja." "Nggak!" Setelah itu tidak sampai beberapa menit mobil Angga berenti di depan gerbang rumah milik Arsha. "Mau gua anterin ampe dalem buat mastiin mereka dah pulang?" "Gak usah, kek nya udah pada pulang. kak Angga pulang langsung aja sana" "Yaudah, tapi, kalo lo ada apa-apa hubungin gua ya. gua ada 24 jam buat tuan putri kesayangan gua." "Ishh paan sih, dah sono pulang cepet!" Angga mengangguk lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Arsha membuang napas pendeknya dia berdoa dalam hatinya bahwa semua orang di rumah sudah tidur. Dia melangkah sangat pelan saat memasuki rumah agar tidak ada suara langkah kaki. Namun, ternyata Wisnu sedang duduk manis sambil menonton televisi di ruang keluarga. Dia menelan ludahnya dengan susah payah, bagaimana dia akan menjelaskan semuanya? Wisnu sendiri pasti tidak akan pernah mau mendengarkan omongan dirinya. "Dari mana kamu?!" "Eum, a-aku, A-asya. abi-" "HABIS TIDUR DENGAN KAKI-LAKI ITU, IYA.?" "GAK TAU DIRI KAMU! SAYA KURANG BAIK APA SAMA KAMU?! KAMU MASIH NGELUNJAK PULANG LARUT SEPERTI INI?!" "GADIS YANG PULANG LARUT TIDAK PANTAS DI SEBUT SEORANG GADIS MELAINKAN SEORANG JALANG!" "pah, Sya tadi ketiduran di markas." "KETIDURAN APA ABIS TIDUR BARENG LAKI-LAKI ITU?!KAMU HARUSNYA BELAJAR! INGAT MINGGU DEPAN RAPOT KAMU AKAN DI BERIKAN! KALO SAMPAI SAYA LIAT ADA NILAI MERAH, SAYA TIDAK AKAN PERNAH BIARIN KAMU KELAYAPAN TIDAK JELAS!" "PAPAH GAK BOLEH MISAHIN AKU SAMA KAK ANGGA!" Plak!. Satu tamparan dari Wisnu mendarat dengan mulus di pipi bagian kiri Arsha sehingga membuat dirinya menoleh ke samping. "MAU JADI PEMBANGKANG KAMU?!" "TIDAK SEHARUSNYA SEORANG GADIS PULANG LARUT SEPERTI INI!" "PAPAH JUGA SEHARUSNYA ADA WAKTU BUAT ARSHA! BUKAN CUMA KANTOR AJA PAPAH URUSIN! ARSHA JUGA PENGEN KAYAK ANAK GADIS LAIN YANG DEKET SAMA PAPAHNYA! SEDANGKAN PAPAH APA?! PAPAH SELALU TUNTUT ARSHA JADI YANG SEMPURNA TANPA MIKIRIN KEADAAN ARSHA GIMANA!" teriak nya lantang sudah habis kesabaran dia sekarang. Setelah mengatakan itu Arsha langsung lari ke kamarnya dengan kondisi menangis. Kenapa dia tidak seperti gadis yang lain yang bisa dekat dengan seorang ayah? sedangkan dirinya tidak pernah dekat dengan seorang ayah. Katanya cinta pertama seorang anak perempuan itu adalah seorang ayah? Tapi nyatanya tidak, Arsha yang merasakan semuanya bukan kasih sayang melainkan makian dan kekerasan. Dia gadis yang di besarkan dengan kurang kasih sayang dari keluarga dan selalu di tuntut untuk jadi yang sempurna oleh keluarganya tanpa memikirkan keadaan dirinya sendiri. Arsha punya harta melimpah, keluarga komplit, tapi yang Arsha tidak punya adalah sebuah kasih sayang dari keluarga nya sendiri. dia rela jika harus hidup sederhana tapi selalu mendapatkan kasih sayang dari keluarga nya dari pada punya harta, tahta tinggi, tapi tidak punya sebuah kasih sayang dari keluarga. Sedangkan Wisnu hanya diam tidak bisa berkata-kata lagi *** Sudah 1 minggu berlalu hari ini tepatnya Arsha mengambil hasil rapot semester awal. Dia berdoa agar nilai nya tidak ada yang merah, tapi dia yakin bahwa nilainya pasti saja merah. Sudah 1 minggu juga dirinya tidak keluar rumah, dan memainkan handphone karna Wisnu menyitanya. Arsha yakin bahwa Angga pasti mencari kabarnya karna dirinya 1 minggu penuh ini tidak ada kabar sama sekali. Arsha berjalan di Koridor sekolah bersama Arka, dan Wisnu. Wajahnya mulai panik saat ada di depan ruangan Kepala sekolah, Arka yang mengerti langsung menggenggam erat tangan Arsha yang terasa sangat dingin. "Gak usah panik kak, ada gua." Arsha tidak menjawab dia masih dengan pikirannya. Saat dia melihat Wisnu sudah keluar dia makin panik, dia takut nilai nya pasti merah. Wisnu hanya menatap datar Arsha dan Arka lalu berjalan menuju parkiran. "Ar.. g-gue takut" "Sstt... ada gua kak, tenang aja. lo dah belajar 1 minggu penuh kan? gua yakin nilai lo pasti ada perubahan" "g-gue gak mau pulang Ar, takut papah marah" "Ga-" "Arsha! Arka! naik cepat!" "Udah tenang" Di dalam mobil Wisnu hanya ada keheningan, tidak ada pembicaraan. Arsha hanya diam sambil menggigit bibir bagian bawah karna takut, dia takut jika Wisnu akan marah. *** Plak!. Satu tamparan mendarat dengan mulus di pipi Arsha. "Nilai apa ini?! Kenapa kamu jadi bodoh seperti ini hah?!" Amuk Wisnu karna melihat nilai yang sangat buruk baginya padahal Arsha sudah berusaha untuk masuk sepuluh besar "Aku masuk sepuluh besar pah, aku pinter kan?" Ujarnya sambil memegang sebelah bagian pipinya yang terasa sangat sakit "Ck, sepuluh besar gak ada artinya Arsha!!, kamu lihat Adik kamu! Arka juara pertama." "Maaf pah" Cicitnya pelan sambil menunduk. "BUKAN MAAF KAMU YANG SAYA HARAPKAN!! MULAI SEKARANG KAMU TIDAK BOLEH KELUAR DAN BELAJAR DENGAN GIAT! SAYA TIDAK INGIN MEMILIKI ANAK YANG BODOH!" "Pah, udah jangan di marahin kak Asya. Kalo papah marahin kakak papah juga harus marahin aku! " Ucap Arka tidak Terima. Dia juga kasihan selalu melihat kembarannya tarus di siksa oleh papahnya Hati Arka sakit melihat kakak nya selalu di tampar oleh ayah. hanya karna nilai dia yang tidak pernah memuaskan. "Diam kamu! Masuk dan belajar lah. Papah akan menghukum anak bodoh ini!" "Masuk kamar, dan belajar. Saya tidak akan membiarkan kamu berkeliaran keluar sebelum kamu belajar!" Ujarnya sambil menyeret Arsha dan menghempaskan tubuhnya masuk ke dalam kamar dia merasakan punggung nya yang terasa sakit karna terbentur ke tembok, dia kaget kenapa dirinya harus di kurung di dalam kamar?. "Pah! buka pintunya!! Kenapa di kunci?!" "Jangan harap kamu bisa keluar kamar sebelum belajar!" Arsha berdiri dan berjalan ke arah meja belajarnya, perutnya berbunyi karna sedari tadi pagi dia belum memakan apa pun. dia berusaha menahan untuk terus fokus belajar. Tok... Tok... Ketukan yang berasal dari jendela kamarnya, dia berjalan melihat siapa yang mengetuk. dia mengusap air matanya dan berusaha tetap tersenyum ke arah kembarannya. "Kakak belum makan kan? ini gua bawain buat lo" katanya sambil menyodorkan kotak makanan "Makasih Ar" "Sama-sama, lo lagi belajar kak?" Tanyanya. Arsha hanya mengangguk "Iya" "Gua temenin ya, sekalian ngajarin materinya" "Gak usah, nanti kalo ketauan, lo di marahin." "Kalo lo di marahin gua juga harus!" Dia melototkan matanya terkejut karna mendengar jawaban dari adiknya, dia tidak mau jika adiknya di marahi oleh Wisnu. "Nggak! Udah sana kekamar lo aja"tolaknya dengan tegas "Gak akan, gua di sini aja." "Tapi nan-" "Gak papa gak akan di marahin kok" ucapnya sambil berjalan ke arah meja belajar milik Arsha. Arsha hanya pasrah dengan permintaan sang adik, tapi memang ada bagusnya mungkin Arka bisa menjelaskan materi tugasnya. Di saat mereka sedang asik belajar tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampakan sosok Wisnu Arsha menelan ludah susah payah setelah melihat mimik muka Wisnu yang tak bersahabat. "Bagus, kamu suruh adek kamu belajar bareng iya?! Biar kamu gak susah payah belajar gituh?!" "Bukan Asya yang suruh, tapi kemau-" "Iya pah Asya yang suruh"potong Arsha dengan cepat Arka melototkan matanya ke Arsha kenapa jadi begini? "Arka keluar! biarkan papah menambah hukuman kepada anak bodoh ini!" "Aku tetep di sini sama Asya!" "Sudah berani melawan kamu hah?! kamu kan pasti yang ngajarin Arka supaya melawan saya?!" "Buk- " "Iya! Asya yang ngajarin pah!"ujarnya lagi dengan tegas dari pada Arka ikut di hukum lebih baik dia berbicara seperti itu. dia tidak mau Arka merasakan apa yang dia rasakan. cukup dia melihat Arka yang selalu di sayang oleh keluarga nya saja sudah cukup. "Anak kurang ajar kamu!!" "Arka keluar sekarang!" "Tap-" "Gua gak papa, jangan mikirin gua"ujar Arsha pelan. Dengan terpaksa Arka keluar dari kamar Arsha walaupun rasanya berat. tanpa berkata Wisnu menarik pergelangan tangan Arsha dan menyeretnya ke dalam kamar mandi. makian, tamparan. sudah menjadi makanan sehari-hari bagi dirinya. *** Tepat pukul 24.00 tanggal 10 maret Arsha berulang tahun sama dengan Arka. dia menyalakan lilin di dalam kamar dan berdoa dia selalu berharap ketika di hari ulang tahunnya dia mendapatkan hadiah sebuah pelukan dari sosok papah Dia tidak perlu kado yang malah dia hanya ingin merasakan sebuah pelukan hangat dari keluarga. jujur dia selalu iri jika melihat Arka selalu di peluk dan di sayang oleh keluarga nya tidak seperti dirinya yang selalu menyusahkan keluarga. Tok.. Tok.. Mata Arsha berbinar setelah mendengar sebuah ketukan pintu, itu pasti papahnya mana mungkin dia melupakan hari ulang tahunnya. Namun, dugaan nya salah,bukan Wisnu yang datang. malah sang pelayanan yang tersenyum hangat dan memberikan sebuah kotak kado. "Selamat ulang tahun non Asya." ucap bi inah dan memeluk hangat Asya Asya membalas pelukannya dan tersenyum "Makasih ya bi" "Sama-sama non, maaf ya bibi cuman bisa ngasih kado kecil." "Gakpapa bi, Sya seneng malah dapet kado sederhana." "Semoga Asya suka ya" "Pasti! Asya pasti suka bi" "Yaudah non istirahat ya, besok sekolah kan? semoga non dapet ucapan selamat ulang tahun dan kado dari temen-temen non ya. biar non seneng" "Tapi, yang bikin aku seneng adalah pelukan hangat dari papah" Ujarnya lalu menutup pintu kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN