“Kamu siapa?”
***
“Tuh kan gara-gara Mama sama Papa mas Arsya sampai lupa kalau calon istrinya belum di bawa masuk rumah. Sudah main tutup saja” Riska mengerucutkan bibirnya karena sebal ditinggal Arsya masuk rumah tanpa mengajaknya.
“Terus manusia lumpur tadi ke mana, kok tidak ada juga? Jangan-jangan lagi godai mas Arsya terus mereka tidur bersama. Oh TIDAK.. tidak bisa dibiarkan aku harus mengamankan mas Arsyaku dari istrinya” dengan jalan tergopoh-gopoh Riska meninggalkan kedua orang tuanya menuju teras rumah Elin dan menotok pintu sangat keras sambil teriak-teriak.
“Elin, buka pintunya kembalikan mas Arsya jangan coba-coba menggodanya, dia milikku. Buka Elin! ini sekarang rumahku, aku mau masuk, keluar kamu!” Tak henti-hentinya kaki tangan Riska menggedor-gedor pintu berharap pintu itu cepat terbuka.
Meski orang tua Riska berusaha menahan si anak dengan memegang kedua tangannya untuk tidak berbuat keributan, tapi Riska terus saja memberontak minta dilepaskan.
“Kamu sudah gila ya, membuat keributan di rumah orang, ayo pulang jangan buat malu” pak Boby kesusahan menggeret tangan Riska karena tangan Riska satunya kini memegang ganggang pintu, meski sudah di cubiti punggung tangan Riska oleh bu Ani tapi Riska tetap saja enggan melepas tangannya.
“Lepas! Aku mau ketemu mas Arsya. Mending Mama Papa pulang sana! Aku mau tinggal di sini sama mas Arsya” Pinta Riska.
Tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan Elin dengan penampilan sexy, setelan crop top tanpa lengan dengan hot pants jeans mencium mesra bibir Arsya sedangkan Arsya sendiri bingung menutupi tubuh istrinya yang hampir semua tubuh indahnya kelihatan karena ia menyadari bukan hanya Riska yang ada di depan pintu.
Dengan gerakan cepat bu Ani menutup mata pak Boby “Yah Ma kenapa mata Papa ditutup Papa kan sudah delapan tahun ke atas” protes pak Boby.
“Iya ya Ma, Papa tidak mengintip” kata pak Boby setelah telinganya ditarik bu Ani sedangkan telapak tangan bu Ani satunya masih setia menengger di mata pak boby.
“Berisik banget sih ganggu orang lagi ehem-ehem. Pulang sana! kami sibuk, tidak menerima tamu” Ucap Elin, kemudian ia hendak menutup pintunya kembali setelah meminta permisi kepada orang tua Riska namun ditahan oleh Riska. Riska yang dari tadi terbengong baru kali ini ia membuka mulutnya setelah kejadian itu.
“Kamu siapa?”
“Menurutmu?” Tanya balik Elin dengan muka darat. Kini kecantikan Elin terpancar meski kedua matanya sembab. Bagaikan terlepas dari kepompong.
“Istri kedua mas Asya?” Tanya Riska kembali.
“Tidak mungkin, satu belum tersingkir, tambah satu lagi. Nasib orang ganteng” keluh Riska tak percaya pujaan hatinya sudah punya dua istri, haruskah Riska jadi yang ke tiga?.
“Mau ngapain?” Tanya Elin ketika Riska hendak menerobos, dengan tangan Merentang menghadang si pelakor agar tidak masuk ke dalam rumahnya.
“Tidak lihat, kepalaku pusing pikir in ini semua. Aku mau masuk, Awas!” bentak Riska namun perintahnya tak di indahkan sama sekali membuatnya sangat geram.
“kenapa sih masih di depan pintu, Awas aku mau masuk,” kata Riska yang mulai sebal karena Elin tak juga menyingkir dari mulut pintu.
“Sudah dek, ayo masuk! Ris lebih baik kamu pulang ikut orang tua kamu! Ni sudah sore, kita capek mau istirahat. Maaf ya tante kita masuk dulu, permisi” Arsya menarik tangan Elin supaya masuk rumah lalu mengunci pintu.
“Mas kok ditutup sih, kan aku belum masuk. Pasti ini gara-gara perempuan tadi, ia sudah berhasil menghasut mas Arsya. Mas buka pintunya!” panggil Riska tak hentinya membuat keributan.
“Pah Mama lapar, ayo kita cari makan dulu. Tadi siang kan Mama makannya sedikit,” rengek bu Ani yang kini perutnya mulai bunyi.
“Ris ayo pulang! Kenapa kamu masih di situ?” bentak papanya Riska.
“Tidak mau Pa, Riska mau tinggal di rumah ini,” sahut Riska tak melepaskan pegangan ganggang pintu rumah Elin.
“Udalah Pa tarik saja, percuma ngomong sama anak itu. Mama sudah tidak tahan, lapar banget,” sela ibu Riska yang dari tadi memegangi perutnya.
Setelah Riska berhasil dilumpuhkan dan dimasukkan ke dalam mobil, mobil itu berjalan menjauh meninggalkan rumah Arsya. Begitu pun para warga, sejak dari tadi membubarkan diri karena tontonan mereka sudah tidak seru lagi menurut mereka.
Arsya yang sejak dari tadi menelan ludah melihat kelakuan nekat istrinya ketika di depan orang banyak dengan cepat ia memeluk dari belakang dan menciumi leher Elin yang hendak masuk ke dalam kamar.
“Apa sih bang kamu ini, lepas!” protes Elin akan perlakuan suaminya yang secara mendadak dan berusaha melepaskan diri dari terkaman suaminya.
“Abang sudah tidak tahan, adik harus bertanggung jawab setelah adik perlakukan abang di depan orang tadi!” permintaan Arsya dengan suara yang sudah tidak beraturan. Mata memelas minta belas kasih istrinya.
“Adik tidak mau bang, adik masih sakit hati oleh abang,” bukannya mendengarkan Elin, Arsya semakin brutal membelai sang istri. Elin yang awalnya menolak kini sudah terbujuk belaian Arsya.
“Tok tok tok,” suara ketukan pintu khas orang bertamu.
“Hah siapa lagi sih yang ganggu?” keluh Arsya ketika konsentrasinya terganggu.
“Mama mama mama,” panggil pemilik suara yang bertamu.
“Itu Daffa bang,” jawab Elin panik.
“Sudah biarkan saja! nanggung dek, biar mereka menunggu” Arsya tidak membiarkan Elin meninggalkannya begitu saja apa pun itu alasannya.
“Kalian lama sekali sih buka pintunya?” Keluh ibunya Arsya yang sedang menggendong cucu kesayangan.
“Ibu datang di waktu yang tidak tepat,” jawab Arsya dengan betenya.
“Oalah hehee.. iya deh maafkan ibu. Ibu tidak tahu kalau lagi...,” ucap bu Sofi sambil menyatukan dua jari telunjuknya.
“Elin mana Sya?” Tanya mertua Elin.
“Itu masih di kamar, sini Daffa ikut Papa. Papa kangen banget,” kata Arsya sambil mengambil anaknya dari pangkuan ibunya.
“Lebay,” Ejek mertua Elin melihat kelakuan Arsya yang berlebihan karena baru satu hari saja jauh dari anaknya.
“Mantu...,”Panggil bu Sofi ke menantunya yang sangat ia sayangi, tidak ada batas kasih sayang antara mantu dan anak.
“Iya bu,” jawab lirih Elin dengan suara seraknya karena kebanyakan menangis. Elin berusaha menutupi kesedihannya namun tak mampu, kesedihan terlalu mencolok di mata mertua.
“Lo matamu kenapa? Di apain sama Arsya?” tanya panik bu Sofi sambil memegang wajah menantu dari anak keduanya.
“Kamu tidak ada yang luka kan? Mana yang sakit Nak? Bilang Ibu! Biar Ibu obati” rentetan pertanyaan dari bu Sofi, Elin hanya menggelengkan kepalanya. Tidak puas akan jawaban mantu di bolak balik badan Elin untuk mencari bagian mana yang luka.
“Arsya, kamu apa in mantu ibu sampai matanya sembab? Kamu main kasar?” tuduh bu Sofi ke anaknya, tak terima mata Elin sembab.
“Tidaklah bu, Arsya tidak seperti itu, ini hanya salah paham,” kata Arsya membela diri.
“Awas kamu sampai menyakiti Elin, bapakmu tidak pernah mengajarkan berbuat kasar pada perempuan apalagi menyakiti istri, kamu harus banyak belajar sama bapakmu” tutur bu Sofi terhadap anaknya agar tidak melakukan kesalahan yang merugikan menantunya.
“Injeh Bu,” Arsya hanya bisa menundukkan wajahnya karena terlalu takut melihat ibunya yang sedang diselimuti amarah.
“Kamu sudah makan nak?” Elin menunduk, menggelengkan kepalanya.
“Di rumah ada masakan tidak Lin, biar Ibu siapkan,” tanya bu Sofi menuju meja makan.
“Tidak usah bu! Elin bisa mengambil sendiri, mas Arsya juga belum makan biar Elin saja yang menyiapkan,” tolak Elin dengan lembut, ia tidak ingin merepotkan mertuanya. Memang sepatutnya Elinlah yang melayani mertua serta suaminya.
“Sudah kamu duduk saja! biar Ibu saja” bu Sofi mendudukkan menantunya di kursi makan karena tidak tega melihat kondisi Elin saat ini.
Meski mertuanya melarang tapi Elin tetap tidak tega melihat mertuanya menyiapkan makanan sendiri apalagi makanan itu untuk Elin juga. Di rumah sudah ada makanan, sisa makanan buat orang yang bekerja di sawah.