“Pak anakmu kabur lagi”
***
Bu Ani memutuskan untuk makan di rumah dan memesan makanan secara Online, ia tahan rasa laparnya supaya si anak tidak kabur lagi saat mereka menikmati makannya. Satu jam kemudian sampailah mobil mereka di rumah, di mana Riska tumbuh dari yang masih di dalam kandungan sampai kini telah mengenal cinta. Rumah bernuansa joglo, tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk mereka tinggali, rumah ini juga menjadi saksi bisu perjalanan hidup pak Boby.
Sampai rumah, mereka langsung membersihkan badannya sebelum mengisi perut. Semua pintu ditutup rapat agar putrinya tidak kabur, mereka tidak menutup jendelanya agar cahaya dan udara masuk, mereka tak khawatir akan terbukanya jendela karena semua jendela rumah ada terallis besinya untuk melindungi rumah dari tindak kejahatan.
Makanan yang mereka pesan pun telah sampai kini sudah ter siap rapi di depan televisi beralaskan tikar bambu, bukannya pak Boby tidak mempunyai meja makan, mereka punya meja makan bahkan mereka mempunyai meja makan antik yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran pahat asli hasil karya tangan manusia gambar naga yang mengelilinginya, peninggalan kedua orang tua pak Boby, bukan hanya meja saja yang antik tapi hampir semua perabotannya masih sama seperti dulu saat pak Boby pertama kali tinggal di sini. Semuanya terawat dengan baik di tangan bu Ani.
Pak Boby lebih suka makan di tikar karena sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Meja makan itu disediakan orang tua pak Boby untuk keluarga besarnya yang ingin makan di meja. Bu Ani setelah menyiapkan semua hidangkan ia segera memanggil pak Boby yang sedang membaca koran di ruang tamu, di mana ruang tamu tersebut menjadi satu dengan ruang keluarga. Kemudian ia menuju kamar anaknya untuk mengajaknya makan.
Sesampainya di kamar Riska, beliau kaget..
“Pak anakmu kabur lagi” ucap santai bu Ani. Pak Boby yang mendengar penuturan bu Ani langsung menyemburkan teh hangat yang masih di dalam mulutnya.
“Kok bisa? Haduh makananku, yah kena semburan semua deh,” keluh pak Boby kesal karena makanannya jadi tak layak makan karena kecerobohannya.
“Ya bisalah, kan dia punya kaki,” bu Ani langsung mengerucutkan bibir karena makanan sudah tidak higienis padahal perut keroncongan minta di isi.
“Kan Papa dari tadi di sini jaga pintu, itu anak masih saja bisa kabur” pak Boby geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya sendiri.
“Depan saja yang ditunggui, belakang juga dong!” protes ketus bu Ani kepada pak Bobby, mood bu Ani berubah drastis karena ulah anak dan suaminya.
“Iya ya belakangkan jendelanya tidak ada terallisnya” kata pak Boby sambil tepok jidat. Beliau lupa kalau jendela belakang belum sempat ia terallis.
“Terus ini bagaimana ini makannya, kok Papa mual ya mau makannya” pak Boby menatap sayang makanan yang ada di depannya. Mau di makan tak selera, tidak di makan perut lapar, sungguh simalakama.
“Makan ini saja pah!” Ujar bu Ani sembari menyodorkan nasi dan juga kerupuk ke arah suaminya.
“Tidak salah Ma, kita hanya makan nasi sama kerupuk saja?” pak Burhan menerima piring dari tangan bu Ani dengan berat hati.
“Ya kalau Papa tidak mau, tunggu Mama selesaikan makan dulu nanti Mama masakkan mi atau pakai ini saja Pa!” bu Ani memberikan botol kecap sebagai tambahan lauk.
“kaya anak kecil saja pakai kecap, tapi ya sudahlah” akhirnya pak Bobby mengisi perutnya dengan lauk seadanya, meski di awal penuh drama.
Pak Bobby memutuskan untuk mencari Riska esok hari, badannya yang sudah tidak muda lagi tak sanggup untuk membelah malam selama satu jam. Bu Ani terkejut isi tas yang ia taruh di dalam kamar sudah berhamburan di atas kasur, pertama yang menjadi perhatiannya adalah dompet karena dompet itu kini posisinya terbuka. Dan betapa terkejunya setelah ia teliti uang chasnya telah raib, sudah tidak ada pada tempatnya. Ia menduga ini pasti kelakuan anak semata wayangnya yang luar biasa kelakuannya.
“Pah uang chas Mama di bawa Riska semua” bu Ani melapor kepada suaminya atas kelakuan anak pak Bobby.
“Ampun itu anak, kok bisa sih Ma? Memang berapa uang Mama yang hilang?” pak Bobby terkejut dengan penuturan bu Ani.
“Dua juta seratus tuju puluh lima” terang bu Ani dengan teliti. Akhirnya mereka angkat tangan dan memutuskan untuk tidur, Mereka sudah terlalu lelah memikirkan itu semua.
Riska kini telah sampai di rumah teman kampusnya yang tinggal di sebelah desa Elin dan memutuskan menginap beberapa hari di sana setelah menempuh perjalanannya hampir satu jam dengan menaiki bus malam. Teman Riska menarik sewa kamar sebanyak lima ratus ribu sedangkan untuk kendaraan, dia harus mengeluarkan uang dua puluh ribu untuk sekali jalan belum termasuk bensin.
“Elin keluar kamu! semua istrinya Arsya keluar! Rumah ini sudah menjadi miliku, cepat keluar!” Riska kembali mencari keributan di rumahnya Elin, entah apa lagi yang akan Riska perbuat.
“mbak itu bukannya kuntilmanak, ngapain dia pagi-pagi sudah di sini? pakai teriak-teriak segala, tidak sopan!” bisik Siti kesal kepada Elin ketika mereka sampai di teras rumah Elin.
“Masak ia juga seperti saya minta daun suruh, tapi tidak apalah biar tidak kegatalan lagi sama suami orang” Siti ke rumah Elin untuk meminta daun suruh yang tumbuh lebat di belakang rumah.
“Oh rupanya kamu sudah di luar. Sudah diusir ya sama mas Arsya? Kasihan. Mana itu manusia lumpur, madumu? sudah di usir juga kan sama mas Arsya? Baguslah” ucap ketus Riska ketika melihat musuh saingannya kini sudah berdiri di belakangnya.
“Mbak Elin, aku langsung saja ambil daun suruhnya ya, lama-lama di sini bulu kudukku merinding. Ada kaya dengar suaranya kuntilmanak jadi merinding semua ini. hi seram” ucap siti pamit untuk mengambil suruh, ia tak tahan dekat-dekat dengan Riska.
“Jadi kamu Elin si manusia lumpur?” tanya Riska dengan mata melotot seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Perlu aku tunjukan KTP?” tantang Elin.
“Tidak perlu, tapi baguslah istrinya mas Arsya cuma satu jadi tidak terlalu ribet mengurusnya nanti,” sahut Riska dengan muka judes.
“Kalau pergi dari sini jangan lupa bawa anakmu karena kita nanti akan buat anak lagi yang banyak. Sana-sana sudah pergi sana! jangan kembali lagi!” Setelah mengusir Elin, Riska masuk rumah tapi sayang pintu tak mau di buka.
“Kamu cari ini?” Riska yang tahu kunci pintu dibawa Elin, Riska hendak merebut kunci itu di tangan Elin tapi keburu kunci dimasukkan ke kantong dan di dekap dengan rapat.
“Mau apa kamu ke sini lagi? Pulang tidak? Mau aku lempar pakai ini?” Suara maraton yang tiba-tiba muncul dari arah belakang berbarengan dengan deru motor. Arsya turun mengancam Riska dengan helm yang kini sudah berpindah ke tangan.
“Ih kamu kok begitu sih mas?” Riska panik, kenapa pula Arsya kembali lagi perasaan tadi ia sudah memastikan Arsya telah berangkat kerja dan motornya sudah melesat jauh tak terlihat dari pandangan.
“AKU BILANG PULANG!” perintah keras Arsya ke Riska karena kesal hidupnya di hantui melulu.
“Iya ya ya, galak banget” gerutu Riska berjalan menuju motor.
“Motornya tidak bisa nyala sayang, nyalai dong!” Riska coba merayu Arsya untuk mengambil hatinya.
“Masih juga belum pulang?” Arsya gedek karena Riska tak kunjung pergi, ia berjalan ke arah keran air diambillah selang lalu menyalakan keran air untuk menyirami tubuh Riska.
“Hih kok di siram, iya ya aku pulang” Akhirnya Riska mau pergi juga meski bibirnya di majukan.