Syaren duduk di atas kursi meja makan, menuangkan air dingin ke dalam gelas hingga penuh dan meneguknya dalam sekali teguk.
Huuhhh
Syaren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar, ia menggigit bibir bawahnya masih menahan kesal. Ia masih sangat kesal saat mengingat Rafael yang perhatian pada wanita lain.
'Ya kali aku cemburu, enggak lah! Aku bukan tipe orang yang cemburuan!' gumam Syaren dengan mata menatap lurus dengan pandangan kosong memikirkan Rafael.
Diandra yang tengah mencuci piring menoleh dan melihat ke arah Syaren saat mendengar suara air yang di tuangkan ke dalam gelas, ia melihat Syaren yang tengah terduduk di meja makan seraya meneguk air itu.
"Kirain mau di bawa ke atas airnya," ucap Diandra.
"Enggak, lagi sebel!" ucap Syaren dengan pandangan lurus tak fokus.
"Hmm? Sebel kenapa?" tanya Diandra.
"Hmm? Ehh ...." Syaren langsung menutup mulutnya saat mulai sadar dan dengan tak sengaja ia berbicara seperti itu pada Ibu dari kekasihnya itu.
"Sebel kenapa?" tanya Diandra lagi.
Syaren memejamkan mata. 'Ya ampun Syaren! Ini mulut kenapa sih dari kemarin! Kemarin teriak, terus sekarang? Astagfirullah,' ucap Syaren di dalam hati. Ia lalu menepuk pelan mulutnya.
"Ehh ... kenapa?" tanya Diandra membasuh tangannya dengan air bersih lalu berjalan mendekati Syaren saat melihat Syaren yang menepuk-nepuk mulutnya.
Diandra lalu duduk di samping kursi di mana Syaren terduduk.
"Kenapa? Sebel kenapa?" tanya Diandra lagi.
Syaren tersenyum paksa dan menggelengkan kepalanya. "Enggak kok gak pa-pa," ucap Syaren.
"Jangan bohong. Coba bilang kenapa?" tanya Diandra lagi.
"Hmmm … Mmmhh ... Ateu pernah gak sebel sama seseorang?"
"Sebel? Sama seseorang? Sering lah, kalau nyebelin ya pasti langsung sebel dan malah jadi badmood."
"Sama Uncle Rafli? Sering gak?" tanya Syaren, "Misalnya nih, kalau Uncle Rafli lebih care sama temennya gitu atau nawarin sesuatu ke yang lain, tapi ke Ateu enggak. Ateu suka bete gak?" tanya Syaren.
Diandra yang mendengar sontak langsung mengerutkan alis. Ia berpikir dan menyambungkan dengan tadi saat Rafael datang untuk meminta nasi yang ia pikir untuk Syaren namun ternyata Rafael menjawab kalau itu untuk Dinda temannya yang lain dan bukan untuk Syaren.
"Ihh ... malah diem," ucap Syaren.
Diandra malah balas tersenyum. "Hmmm ... Papanya Rafa jarang sih begitu, dia tipe laki-laki yang mengutamakan orang yang di sayang, sebelum ke yang lain ya pasti ke Ateu dulu, ke anak-anaknya baru ke yang lain." jelas Diandra seraya tersenyum.
Syaren sontak langsung mengerucutkan bibirnya kesal. 'Berarti aku belum jadi yang utama buat dia. Ckk! Makin badmood anjir! Si Rafael kurang ajar.' ucap Syaren di dalam hati.
"Tapi kalau Ateu ada di posisi itu sih mungkin Ateu bakalan ngambek terus nanya, 'Aku di mata kamu tuh apa sih? Kamu Sayang gak sama aku? Kenapa malah lebih care sama yang lain?' terus Ateu bilang ke dia kalau Ateu gak suka dia care sama yang lain kayak begitu."
"Hmm?" Syaren menatap Ibu dari kekasihnya itu dengan tatapan yang tak biasa. "Harus banget se to the point itu? Nanti kalau dia mikirnya kita cemburu gimana?"
"Ya kalau dia berpikir seperti itu ya baguslah, itu artinya dia peka, kecuali kalau dia malah balik marah. Nah itu perlu di pertanyakan, tapi biasanya laki-laki paling seneng loh kalau di cemburuin sama perempuan yang dia suka juga, beda dengan yang cuma menjadikan permainan, pasti bakal marah. Dan ada kemungkinan dia juga suka sama seseorang yang tadi dia care-in."
"Yaahh ...."
"Kenapa? Kok malah begitu jawabnya?" tanya Diandra.
"Belum siap menerima kenyataan," ucap Syaren.
"Kenyataan apa?" tanya Diandra.
"Kalau cara itu di lakuin berarti itu sama dengan ngetes antara dia peka sama hati kita atau reaksinya malah balik marah kan? Kalau peka dan dia seneng, itu artinya dia emang bener-bener sayang, kalau balik marah itu artinya dia ...." Syaren menghentikan ucapannya dan berpikir. 'Artinya dia ada rasa juga sama Si Dinda! Karena kalau menjadikan aku permainan itu gak mungkin. Ckk! Ya kali hati dia berakar.' ucap Syaren di dalam hati.
"Dia apa?" tanya Diandra.
"Enggak deh, aku gak berani praktekin. Kalau ternyata gak sesuai ekspektasi? Malah hati aku yang makin nyesek," ucap Syaren.
"Hmm ... jadi ini cerita kamu? Laki-lakinya siapa?" tanya Diandra menggeser duduknya mendekati Syaren.
"Ehh ...." Syaren menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Siapa?" tanya Diandra lagi penasaran, ia yakin kalau laki-laki yang Syaren maksud itu pasti putranya.
'Ckk! Pake keceplosan segala lagi, ya ampun! Ada yang jual rem mulut gak sih? Blong terus perasaan ini mulut.' ucap Syaren di dalam hati.
"Sya? Siapa?" tanya Diandra lagi.
"Hmm? Enggak, bukan siapa-siapa," ucap Syaren tersenyum menyeringai. "Hmm ... mmhh ... Syaren ke atas dulu deh ya, kayaknya aku terlalu lama disini, yang lain pasti nungguin," ucap Syaren langsung bangun dari duduknya.
"Yeehh ... siapa dulu?" tanya Diandra.
Bukannya menjawab, Syaren malah tersenyum dan langsung menjauh lalu berlari ke arah tangga hendak ke kamar Rafael lagi.
Tap tap tap.
Huuhh
Syaren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar setelah sampai di lantai dua. "Ini mulut gak bisa apa pake rem sedikit? Kenapa kelepasan mulu? Aneh! Pake acara cerita segala lagi, untung aja gak sampe kelepasan terlalu jauh." gumam Syaren. Ia lalu memegang kenop pintu dan menariknya ke bawah.
Klak
Terlihat Rendi yang tengah memakai tas di punggung begitu juga Lisa dan Dinda.
"Habis dari mana? Lama bener, cuma minum doang," ucap Rendi.
"Terserah aku lah!" jawab Syaren. "Ini kok pada berdiri terus pake tas. Udah mau pulang?" tanya Syaren.
Lisa mengangguk pelan mengiyakan. "Aku ada les sore ini. Aku sama Dinda kan searah, jadi Dinda juga mau ikut pulang biar barengan," ucap Lisa.
"Kamu?" tanya Syaren pada Rendi.
"Mau servis motor dulu, udah dua bulan gak gua servis, udah gak enak di bawanya," ucap Rendi.
"Ahh ... ya udah, oke." ucap Syaren, ia lalu mengambil tasnya yang tadi ia taruh di atas ranjang dan memakainya juga. "Sebelum servis, kamu anterin aku pulang dulu ya? Aku kan beda jalan sama mereka," ucap Syaren seraya melirik ke arah Lisa dan Dinda. "Masa kamu tega biarin aku pulang sendirian," ucap Syaren lagi pada Rendi.
"Kan lu punya laki," ucap Rendi.
"Ya kali Ren aku minta anter orang sakit," ucap Syaren enggan menatap Rafael.
"Kamu mau pulang juga?" tanya Rafael.
"Iyalah," jawab Syaren dengan nada yang sedikit ketus.
"Enggak mau di sini dulu?" tanya Rafael.
"Enggak!" jawab Syaren dengan nada ketus masih sangat kesal.
"Tumben, biasanya kalau kesini kamu suka sampe sore," ucap Rafael.
"Males!" jawab Syaren.
"Yaahh ... drama rumah tangga lagi," ucap Rendi. "Udah, Lis, Din, ayo ...." ucap Rendi berjalan ke arah pintu.
"Raf? Duluan ya ... bye," ucap Lisa mengikuti langkah Rendi.
Rafael mengangguk pelan mengiyakan.
"Aku juga duluan ya? Cepet sembuh, banyakin istirahat dan makan-makanan sehat biar besok kita ketemu lagi di sekolah. Bye ...." ucap Dinda tersenyum.
Rafael balas tersenyum dan mengangguk. "Makasih udah mau kesini ya, Din." ucap Rafael.
Syaren kembali melihat lagi ke arah Dinda dan juga Rafael, mereka terlihat nampak sangat akrab, ia juga melihat Rafael dan Dinda yang saling balas membalas senyum, membuatnya yang melihat malah semakin kesal.
Dinda kembali tersenyum dan mengangguk lagi lalu setelahnya keluar dari kamar Rafael.
Syaren juga melangkahkan kakinya hendak keluar, ia melangkahkan kaki tanpa berpamitan pada Rafael.
Rafael yang melihat Syaren melangkah sontak langsung berjalan cepat ke arah Syaren dan,
Grep
Rafael langsung melingkarkan tangannya di pinggang Syaren memeluk Syaren dari arah belakang.
"Mau kemana hm?" tanya Rafael menaruh dagunya di atas bahu Syaren.
"Kamu apaan sih? Lepas! Nanti ada yang liat!" ucap Syaren seraya berusaha melepas tangan Rafael yang melingkar di perutnya.
"Gak akan, Mama pasti nganterin temen-temen kita sampe depan, Kakak aku juga masih di kampus, Papa aku belum pulang, jadi gak akan ada yang kesini," ucap Rafael.
"Ya tapi aku mau pulang juga! Lepas! Nanti keburu Si Rendi pergi," ucap Syaren masih berusaha melepas tangan Rafael di perutnya namun Rafael malah semakin memegangnya dengan erat.
"Nanti aja pulangnya, aku kan masih kangen."
"Ya tapi aku gak mau pulang sendirian!" ucap Syaren.
"Nanti aku pesenin ojol, Sayang."
Syaren berhasil melepas tangan Rafael yang melingkar di perutnya, ia melangkah satu langkah dan berdiri berhadapan dengan Rafael. Ia menatap Rafael dengan tatapan kesal dan bibir yang terlihat megerucut.
"Kamu kenapa?" tanya Rafael saat melihat wajah Syaren yang terlihat tak biasa.
"Pikir aja sendiri! Aku sebel sama kamu dan aku mau pulang! Aku gak mau liat muka kamu! Aku gak suka!" ucap Syaren dengan nada ketus tak bisa menahan rasa kesalnya terlalu lama, ia semakin kesal saat melihat Rafael dan Dinda saling beradu senyum tadi.
Syaren lalu berbalik hendak melangkah ke arah pintu lagi.
Grep!
Rafael langsung memegang pergelangan tangan Syaren.
"Apa lagi?" tanya Syaren menoleh menatap Rafael.
"Kamu marah ya sama aku?" tanya Rafael.
Syaren memejamkan mata. 'Pake nanya lagi, dasar gak peka!' ucap Syaren di dalam hati.
"Iya? Kamu marah?" tanya Rafael.
"Pikir aja sendiri," jawab Syaren.
"Perasaan tadi kita gak kenapa-kenapa deh, kamu marah kenapa sih?" tanya Rafael.
'Kan ... dia beneran gak peka,' ucap Syaren di dalam hati lagi.
"Sya? Kenapa?" tanya Rafael.
"Enggak!" jawab Syaren. Ia lalu teringat dengan apa yang tadi ia dan ibunya Rafael bicarakan di bawah. 'Haruskah aku coba? Tapi ... kalau dia ... ckk!'
"Kok diem?" tanya Rafael. "Kenapa? Kamu marah kenapa?" tanya Rafael lagi.
"Udah ah! Aku mau pulang! Keburu Rendi beneran ninggalin aku," ucap Syaren kembali berbalik hendak melangkahkan kaki.
"Sya? Jawab dulu," ucap Rafael.
Ceklek
"Rendi baru aja jalan sama temen-temen kalian yang lain. Dia bawa motor, kalau naik motor harusnya udah jauh sih," ucap Diandra tiba-tiba.
"Tuh kan ... aku di tinggalin! Kamu sih!" ucap Syaren menatap Rafael dengan wajah yang merengut. Ia memalingkan wajahnya dari Rafael semakin kesal.
"Kamu kok gak kaya biasanya sih? Lagi PMS ya? Hari kedua? Sensitif amat, marah kenapa sih? Perasaan tadi gak pa-pa, kok sekarang tiba-tiba aja marah. Kenapa?" tanya Rafael.
Diandra yang mendengar terlihat mengernyitkan dahi, sepertinya dugaannya yang tadi benar, kalau laki-laki yang Syaren maksud tadi ialah putranya.
Syaren semakin kesal, ia memicingkan mata dan mendelik sinis menatap Rafael.
"Uncle Dennis nanti kesini kok, beres dari sini mau ke rumah kamu, nanti kamu bisa ikut Uncle Dennis pulang, sekarang di sini aja dulu," ucap Diandra seraya mengelus rambut Syaren.
Bersambung