"Akhirnya dateng juga yang di tunggu-tunggu," ucap Dinda saat makanan yang tadi Syaren pesan akhirnya sampai juga di rumah Syaren.
Mereka menyantap kentang, chicken nugget dan cola di atas lantai dekat balkon.
"Makasih ya, Ren. Kamu baik banget sumpah," ucap Syaren tersenyum manis pada Rendi yang duduk bersebrangan dengannya.
"Ya enggak makasih gimana, orang gratis," jawab Rendi.
"Yang penting kan gak pake duit kamu," ucap Lisa.
"Lima puluh ribu kemarin udah di pake, Lis. Ini sisanya pake uang jajan aku," ucap Rendi.
"Uang yang lima puluh itu, yang pake siapa?" tanya Dinda.
"Aku," jawab Rendi.
"Ya udah ... ibarat kata kamu minjem duit sama kita, nah bayarnya ya begini," ucap Dinda lagi.
Pfftt
Rafael tertawa pelan, ia menepuk pelan bahu Rendi. "Udah ... gak akan pernah menang kalau debat sama cewek," ucap Rafael yang duduk di antara Rendi dan Syaren di kanan kirinya.
Mereka duduk melingkar dengan makanan di tengah-tengah mereka.
"Nikmatin aja, Ren, salah sendiri kenapa mata duitan," ucap Syaren seraya menarik selimut yang melorot di punggung Rafael lalu menariknya ke atas hingga menutup leher.
Rafael menoleh menatap Syaren saat Syaren menutup tubuhnya dengan selimut, ia mengatupkan bibir menahan senyum saat merasa kalau Syaren teramat sangat peduli dan perhatian padanya saat tengah sakit seperti ini.
Huuhhh
Rendi terlihat menghembuskan nafasnya kasar hingga yang lain malah semakin ingin menertawainya.
"Sabar ya? Orang sabar di sayang pacar," ucap Dinda.
"Masalahnya dia gak punya pacar," ucap Rafael.
"Din? Kamu kan jomblo, sama Rendi aja udah," ucap Syaren.
"Ogah!" jawab Rendi dan Dinda bersamaan.
Hahhaah
Rafael, Syaren dan Lisa tertawa bersama. Rafael lalu mengambil kentang goreng dan mencocolnya dengan saus, ia lalu mengarahkan ke mulutnya hendak melahap.
Syaren yang melihat langsung memegang pergelangan tangan Rafael dan melahap kentang di tangan Rafael.
"Hihh ... itu kan masih banyak, kenapa makan punya aku?" tanya Rafael.
"Kamu kan belum sehat bener, masa makan saus. Makan ya makan aja, jangan pake saus," ucap Syaren.
"Ya ampun, Sya. Perkara saus doang, aku cuma demam karena kehujanan! Ya kali gak boleh makan saus," ucap Syaren.
"Ihh ... susah kalo di kasih tau," ucap Syaren, "ya udah makan aja! Kalau ada apa-apa jangan laporan sama aku!" jawab Syaren.
"Syaren udah kek emak-emak yang larang anaknya ini itu ya," ucap Rendi.
"Enak aja!" jawab Syaren mendelik sinis pada Rendi.
"Kayaknya emang jangan dulu makan pedes deh, Raf," ucap Lisa, "Soalnya waktu itu pas aku lagi demam, ibu aku juga larang aku makan-makanan yang pedes-pedes."
"Tuh kan, apa kata aku juga," ucap Syaren.
"Ya udah enggak!" jawab Rafael kembali mengambil kentang lagi dan langsung melahapnya. Ia mendelik sinis menatap Syaren.
Dinda lalu mengambil juga kentang dan mencocolnya dengan saus.
"Dinda? Bukannya kamu punya maag?" tanya Rafael.
"Hmm? Iya, kenapa?" tanya Dinda seraya mengunyah kentang di dalam mulutnya.
"Setau aku kalau punya maag, jangan banyak-banyak makan pedes, nanti perutnya sakit loh. Dari tadi aku liat kamu banyak banget makan sausnya," ucap Rafael lagi.
"Aku kan emang suka pedes," jawab Dinda.
"Kurangin lah, dari pada nanti sakit," ucap Rafael. "Lagian kamu pasti belum makan siang kan? Pasti belum makan nasi juga, makin gak baik tau buat perut kamu," ucap Rafael lagi.
Syaren melihat ke arah Rafael dan Dinda bergantian seraya memakan kentang goreng. Sedang Rendi dan Lisa, mereka menyantap makanan itu seraya menatap layar handphone di tangan mereka.
"Kamu mau makan nasi dulu? Biar aku mintain sama Mama aku, atau chicken nugget nya mau pake nasi?" tawar Rafael.
"Enggak ah, aku jarang makan nasi jam segini, nanti aja." jawab Dinda.
"Ehh ... dari pada nanti kamu sakit," ucap Rafael. "Makan nasi aja dulu."
Syaren yang terus menyaksikan dan mendengarkan percakapan mereka sedikit agak risih dan tak suka saat Rafael memperdulikan orang lain.
"Hmm? Ya udah deh, boleh. Kalau gak ngerepotin," jawab Dinda tersenyum.
"Ya udah, sebentar ya," ucap Rafael lalu bangun dari duduknya dengan selimut yang masih berada di atas punggungnya, ia berjalan ke arah pintu hendak keluar untuk meminta nasi pada ibunya.
Syaren yang melihat Rafael bangun dari duduknya dan keluar dari kamar semakin merasa kesal, rasanya ia tak rela saat Rafael lebih care pada wanita lain. Apalagi Rafael sampai mau mengambilkan nasi untuk wanita lain.
Syaren memalingkan wajahnya ke arah lain dan memejamkan mata menahan kesal.
Beberapa menit kemudian.
Rafael kembali masuk ke dalam kamar seraya membawa satu piring berisi nasi dan ternyata lengkap dengan ayam crispy di atasnya.
"Nih, makan," ucap Rafael menaruh piring di depan Dinda.
"Ehh ... ada ayamnya?"
"Iya, gak tau Mama aku," ucap Rafael. "Udah ... makan aja, gratis kok gak akan di suruh bayar," ucap Rafael tersenyum.
"Waahh ... thanks ya, Raf." ucap Dinda seraya menepuk pelan lengan atas Rafael.
Syaren yang melihat Dinda menyentuh lengan Rafael sontak langsung mengerutkan alis. 'Maksudnya apa coba,' ucap Syaren di dalam hati. Ia merasa tak suka saat Dinda menyentuh Rafael.
"Iya sama-sama," jawab Rafael.
"Kalian bertiga pada mau gak?" tanya Dinda pada Lisa, Rendi dan Syaren.
"Enggak, kamu aja" ucap Lisa.
"Kalian?" tanya Dinda pada Rendi dan Syaren.
"Mau dikit, kentang pake nasi enak keknya," ucap Rendi.
"Ya udah kita makan berdua," ucap Dinda pada Rendi lalu menatap Syaren. "Sya? Mau?" tawar Dinda.
Syaren tersenyum paksa dan menggelengkan kepala. "Enggak, Din, makasih." jawab Syaren.
"Kamu mau yang lain?" tanya Rafael pada Syaren.
"Yang lain apa?" tanya Syaren dengan nada yang sedikit sinis. Ia menahan kesal pada Rafael.
"Ya mau apa gitu, biar aku panggil Mama," ucap Rafael.
"Enggak! Gak usah! Kalau mau sesuatu aku bisa turun dan ambil sendiri!" jawab Syaren.
"Widih ... calon mantu udah leluasa ya di rumah suaminya," ucap Rendi.
"Sekali lagi ngomong begitu, kamu aku tampol ya, Ren." ucap Syaren seraya mengarahkan tangan kanannya.
"Kenapa mesti marah sih? Kan nanti kalau kita jadi, kamu emang tinggal di sini kan?" tanya Rafael.
Syaren yang masih kesal karena tadi Rafael memperhatikan Dinda menjadi enggan sama sekali untuk menanggapi Rafael, ia memalingkan wajahnya ke arah lain dengan memutar kedua bola matanya kesal.
"Kok diem?" tanya Rafael.
"Ck!" Syaren berdecak kesal. Ia lalu bangun dari duduknya dan berdiri tegak.
"Mau kemana?" tanya Rafael.
"Haus! Panas! Mau ambil air putih dingin di kulkas!" ucap Syaren berjalan keluar dari kamar Rafael.
Tap tap tap
Klak!
Syaren menutup pintu kamar Rafael, rasanya ingin sekali ia menutup pintu kamar itu dengan sangat kasar. Jika saja tidak ada teman-temannya yang lain di dalam, mungkin hal itu sudah ia lakukan.
Huuhh
Syaren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar. Ia memegang antara d**a dan leher. "Kok aku berasa nyesek banget ya liat dia kek gitu sama Dinda?" gumam Rafael. "Huh! Dahlah! Mengcapek!"
Syaren lalu kembali berjalan lagi menuruni anak tangga dan berjalan ke arah dapur. Terlihat Ibu dari Rafael tengah berada di sana.
"Eh, Sya? Kenapa? Mau makan juga?" tanya Diandra yang tengah mencuci piring di wastafel.
"Hmm? Enggak, Syaren haus, mau air dingin," ucap Syaren tersenyum.
"Ambil aja di kulkas, Sayang."
"Iya," jawab Syaren mengambil air putih dingin dalam botol di kulkas lalu berjalan ke arah meja makan, ia duduk dan mengambil gelas di sana, menuangkan air dingin itu ke dalam gelas lalu meminumnya dalam satu kali teguk.
"Kirain mau di bawa ke atas airnya," ucap Diandra.
"Enggak, lagi sebel!" ucap Syaren dengan pandangan lurus tak fokus.
"Hmm? Sebel kenapa?"
"Hmm? Ehh ...." Syaren langsung menutup mulutnya saat dengan tak sengaja ia berbicara seperti itu pada Ibu dari kekasihnya itu.
"Sebel kenapa?"
'Ya ampun Syaren! Ini mulut kenapa sih dari kemarin! Kemarin teriak, terus sekarang? Astagfirullah,' ucap Syaren di dalam hati.
Bersambung