"Ke atas aja, Rafael ada di atas kok," ucap Diandra pada Syaren dan teman-temannya.
Syaren tersenyum dan mengangguk. "Ayo," ucap Syaren pada Lisa, Dinda dan Rendi.
Mereka lalu berjalan menaiki anak tangga dan berjalan ke arah kamar Rafael.
Tap tap tap
Tok tok tok
"Raf?" panggil Syaren namun tak ada jawaban. Syaren lalu berinisiatif membuka pintu kamar Rafael seperti biasa saat ia sering sekali datang, ia lalu berniat menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.
Klak
"Ini gak pa-pa kita main masuk aja?" tanya Lisa saat pintu kamar terbuka sedikit.
"Gak pa-pa, aku sering nerobos masuk, dia gak pernah protes," ucap Syaren.
"Kamu kan beda, Sya." ucap Dinda dengan nada pelan.
"Udah, ayo. Dia gak akan marah kok," jawab Syaren berjalan masuk ke dalam kamar, terlihat Rafael yang tengah tertidur di atas ranjang dengan tubuh yang masih tertutup selimut seperti tadi pagi.
"Yaah ... dia tidur, Sya. Jadi makin gak enak aku sama dia kalau liat dia begini," ucap Rendi dengan nada yang pelan juga takut membangunkan Rafael.
"Syukur kalau kamu ngerasa bersalah," ucap Syaren naik ke atas ranjang dan terduduk di samping Rafael. Ia lalu memegang kening Rafael mengecek suhu tubuh Rafael, sudah tak terlalu hangat seperti tadi pagi. "Panasnya udah turun," ucap Syaren menatap teman-temannya yang berdiri di samping ranjang di mana Rafael terbaring.
Rafael melepas tangan Syaren di keningnya dan berbalik memutar tubuh menghadap ke arah Syaren, ia menggeser tubuhnya dan menaruh kepalanya di atas paha Syaren, melingkarkan tangannya di pinggang Syaren.
"Kamu udah pulang? Aku nunggu kamu tau dari tadi. Aku kangen sama kamu," ucap Rafael dengan mata yang masih terpejam. "Kok lama? Dari mana dulu? Gak di gangguin Si Rizky lagi kan?"
Syaren sontak langsung melihat ke arah teman-temannya yang terlihat melongo melihat ke arahnya setelah mendengar Rafael berbicara.
"Sayang? Kok kamu diem?" tanya Rafael.
Lisa dan Dinda nampak saling beradu pandang setelah mendengar Rafael berucap. Sedang Rendi hanya mengatupkan bibir menahan tawa saat mendengar Rafael berucap.
Puk puk puk
Syaren menepuk pelan pipi Rafael berusaha membangunkan.
"Aku udah enakan, jangan pegang pipi aku kayak begitu," ucap Rafael lalu menggenggam tangan Syaren yang tadi menepuk pelan pipinya, namun dengan mata yang masih tetap terpejam.
Syaren memejamkan mata, sepertinya rahasianya memang benar-benar akan terbongkar hari ini juga, padahal tadi ia sudah menemukan alasan yang pas untuk berbohong pada Lisa dan Dinda, tapi sepertinya alasan itu sudah tidak akan berguna lagi.
"Kok kamu diem sih?" Rafael membuka mata dan menanggahkan kepala menatap Syaren. "Jangan bilang kalau Si Rizky hari ini beneran ganggu kamu lagi," ucap Rafael menatap Syaren. "Dia ngapain lagi hari ini?" tanya Rafael.
Syaren menggelengkan kepala menatap Rafael, ia mengerucutkan bibirnya ke arah teman-temannya yang Rafael punggungi.
"Apa sih?" tanya Rafael, "Kenapa bibirnya begitu? Jangan aneh-aneh ya! Kita belum halal loh, Sya."
Syaren nampak merengut saat Rafael berucap, sudah bisa di pastikan kedua temannya itu, Lisa dan Dinda, pasti akan tau kalau ia dan Rafael memang mempunyai hubungan.
"Apa? Kamu kenapa?" tanya Rafael lagi.
"Bangun dan liat ada siapa di belakang kamu," ucap Syaren.
"Hmm? Di belakang aku?" Rafael terduduk tegak dan perlahan menoleh melihat siapa yang Syaren maksud.
"Hai," ucap Dinda melambaikan tangan saat Rafael menoleh melihat ke arahnya.
"Allahuakbar," ucap Rafael mundur kaget. "Ka-kalian? Ngapain kesini?" tanya Rafael.
"Jengukin kamu lah," jawab Rendi, "ngapain lagi?" Rendi lalu menarik kursi di depan meja belajar hingga berada di samping ranjang di mana Rafael dan Syaren terduduk, ia lalu duduk di atas kursi itu.
Rafael lalu menutup wajahnya. "Kenapa kamu gak bilang kalau mereka mau kesini?" tanya Rafael berbisik.
"Ya kamu tadi aku telfon gak di angkat," jawab Syaren berbisik juga.
Lisa dan Dinda lalu terduduk di tepi ranjang.
"Bisa tolong jelaskan dengan apa yang tadi kita lihat?" tanya Lisa. "Kalian kok?"
Syaren dan Rafael sontak langsung saling beradu pandang. "Gimana?" tanya Rafael.
Syaren menaikkan kedua bahunya tak tahu. "Aku tadi udah berhasil nemuin alesan yang pas buat mereka, tapi kamu malah kayak begitu," ucap Syaren, "ya kamu aja yang ngomong," ucap Syaren.
"Kenapa sih? Ada apa?" tanya Lisa.
Rendi menoleh ke arah pintu saat melihat pintu kamar Rafael sedikit terbuka, ia lalu bangun dari duduknya dan berjalan ke arah pintu, menutup pintu itu rapat-rapat.
"Ada apa? Jujur gak?" tanya Dinda. "Setelah aku liat yang barusan, kok aku curiga kalau kalian itu ...."
"Iya ... emang!" ucap Rendi.
Syaren dan Rafael sontak langsung melihat ke arah Rendi.
"Emang apa?" tanya Dinda menatap Rendi.
"Ya intinya sama lah dengan apa yang kalian berdua pikirin," ucap Rendi.
Dinda dan Lisa sontak langsung menatap Syaren dan Rafael lagi. "Kalian beneran ...."
"Iya, mereka pacaran!" jawab Rendi.
"Serius?" tanya Dinda dan Lisa bersamaan.
Ssstttt
Rafael meminta Dinda dan Lisa untuk jangan berbicara terlalu keras. "Jangan kenceng-kenceng! Nanti Mama aku denger," ucap Rafael.
"Kalian? Beneran pacaran?" tanya Lisa lagi.
Rafael sontak langsung menatap Rendi dengan mata yang memicing.
"Mereka aman, Raf, aku jamin mulut mereka gak ember," ucap Rendi.
"Udah, Lis. Valid ini mah no debat, mereka emang pacaran," ucap Dinda.
Hehe
Syaren tertawa menyeringai menatap Lisa dan Dinda. "Mianheee ...." ucap Syaren menatap Lisa dan Dinda. (Maaf)
"Udah berapa lama?" tanya Dinda.
Rafael menoleh menatap Syaren. "Berapa lama?" tanya Rafael.
"Berapa ya? Aku rada lupa sih. Sebulan lebih deh Kayaknya," jawab Syaren.
"Kok kamu gitu sih? Kenapa gak cerita?" tanya Lisa.
"Kita punya alasan kenapa gak cerita sama kalian," ucap Syaren.
"Apa alesannya?" tanya Dinda.
Syaren lalu menceritakan dan menjelaskan alasan kenapa ia dan Rafael tak mempublikasikan hubungan mereka pada Lisa dan Dinda. Ia juga bahkan menceritakan apa yang terjadi kemarin siang di cafe bersama dengan Maura. Memberikan alasan kenapa ia sangat tak menyukai Maura.
"Ahh ... gitu? Masuk akal sih," ucap Lisa, "Orangtua aku juga begitu, kalau nilai aku jelek suka sensitif, menjadikan pacaran sebagai dampak nilai aku jelek, padahal mah gak pacaran juga nilai aku tetep jelek."
"Ya kalau kamu belajar mah gak akan lah," ucap Rafael. "Lah kamu? Gimana mau dapet nilai bagus orang tiap ulangan gak pernah belajar dan selalu minta contekan."
"Minta contekan itu manusiawi ya! Semua orang juga begitu," ucap Lisa.
"Aku enggak," jawab Rafael.
"Rafael? Kamu lagi sakit kan?" tanya Lisa, "orang sakit biasanya tiduran loh, Raf, menikmati rasa sakit gitu, bukan ngejekin orang!" ucap Lisa.
"Aku gak ngejek deh perasaan," ucap Rafael.
"Udah, kamu tiduran lagi," ucap Syaren, "Panas kamu baru aja turun loh."
Rafael lalu duduk bersandar di atas ranjang.
"Buat yang hubungan aku sama Rafael, please ya ... jangan sampe ada yang tau. Yang tau cuma kalian bertiga doang, paling sama Si Maura sih, tapi aku yakin dia gak akan berani berkoar," ucap Syaren.
"Kenapa gak berani? Bisa aja kan dia ember?" tanya Dinda.
"Aku rasa enggak," ucap Rendi. "Si Maura kan suka sama Si Rafael, dia juga punya harga diri yang tinggi, ya kali dia bilang ke semua orang kalau Si Syaren sama Si Rafael pacaran, untung buat dia apa? Yang ada sebaliknya. Kalau dia ngasih tau yang lain, itu sama aja dengan dia menjatuhkan harga diri dia sendiri, kan nanti orang lain pasti mikir tuh, kalau Si Maura kalah saing sama Si Syaren, karena ternyata yang berhasil dapetin Si Rafael itu Si Syaren, dia kalah telak! Si Syaren jauh lebih unggul dari dia," ucap Rendi lagi.
"Bener juga apa kata kamu," ucap Lisa pada Rendi.
"Pantesan aja tadi Si Maura keliatan kesel banget pas liat kamu, Sya." ucap Dinda.
"Tadi ketemu dia?" tanya Rafael pada Syaren.
"Iya, dia liatin aku mulu abisan, ya aku tanya lah, apa liat-liat gitu kan, ehh ... dianya diem aja, gak ada jawab ucapan aku sama sekali." ucap Syaren.
"Dia gak berani karena udah merasa beneran kalah sama kamu, Sya. Coba kalau kalian tuker posisi, jelas dia pasti bakalan berani sama kamu," ucap Dinda.
"Iya kali ya? Kesel aku liat muka dia, kek yang ngajak duel tau gak? Nantangin gitu loh," ucap Syaren.
"Udah ... gak usah di tanggepin, biarin aja. Nanti juga di bosen sendiri," ucap Rafael. "Terus tadi gimana? Gak di tampar lagi kaya kemarin kan?" tanya Rafael.
"Enggak lah, kalau berani ya aku bales aja," jawab Syaren.
"Perempuan kalau berantem serem ya? Mainnya cakar-cakaran, jambak-jambakan," ucap Rendi.
"Ya kalau mau main banting-bantingan aku mah ayok aja sih, gak masalah," ucap Syaren.
"Serem amat," ucap Rendi.
"BTW ... thanks ya udah mau jenguk," ucap Rafael. "Padahal mah kayaknya besok juga aku udah masuk lagi."
"Kalau masih belum kuat mendingan jangan dulu, Raf. Tunggu sampe sehat aja," ucap Rendi.
"Iya, kalau masih rada gak enak jangan maksain dulu masuk," ucap Syaren seraya mengelus pipi Rafael.
"Hiihh ... geli!" ucap Dinda saat melihat Syaren mengelus pipi Rafael.
"BTW, drama pas kita baru aja masuk sini juga itu jauh lebih geli loh," ucap Lisa tertawa pelan saat mengingat Rafael yang menaruh kepalanya di atas paha Syaren. "Masa dia bilang sayang, kangen, dan itu lah pokoknya kalimat-kalimat yang bikin gelay!" ucap Lisa masih tertawa. "Gelay sumpah dramanya! Aku sama pacar aku juga gak begitu-begitu amat."
"Romantis tau! Sweet! You know sweet?" tanya Rafael.
"Lebay lu, Raf! Gak baik tau terlalu bucin sama cewek!" ucap Rendi.
"Sirik!" ucap Syaren seraya melempar bantal ke wajah Rendi.
"Yang bucin keknya bukan cuma Si Rafael, nih anak juga sama-sama bucin!" ucap Lisa seraya melirik Syaren.
"Kok aku?" Syaren menunjuk dirinya sendiri.
"Kemarin di toko buku pas aku kasih tau Si Rafael lagi di cafe sama cewek, kamu langsung lari nyamperin kan? Sekarang aku paham sama cerita yang tadi kamu ceritain, itu nyambung sama yang kemarin kita ketemu di toko buku kan?"
"Heehe ...," Syaren tertawa pelan. "Iya, setelah kamu bilang begitu, aku langsung ke cafe dan nyamperin nih anak dua," ucap Syaren seraya melirik ke arah Rafael dan Rendi.
"Jadi kamu yang ngasih tau Syaren aku sama Rendi ada di cafe?" tanya Rafael.
"Iya," jawab Lisa.
"Nah, sekarang ketauan kan siapa dalang dari masalah kita kemarin! Ya ini! Si Lisa!" jawab Rendi.
"Lah ... kok malah nyalahin aku?" tanya Lisa.
"Ya kalau kamu gak ngasih tau, kejadian kayak kemarin itu gak akan kejadian! Jadi yang salah besar itu kamu, Lisa!" jawab Rendi.
"Laahh? Kan aku kemarin cuma nanya, kok tumben Si Syaren gak ikut kalian, ya aku mana tau kan?" Lisa membela diri.
"Lisa tuh gak salah!" sahut Syaren. "Kalau dia gak bilang sama aku, aku gak akan pernah tau apa yang terjadi! Aku justru berterima kasih kok sama kamu, Lis karena udah kasih tau aku. Kalau enggak, Rafael bakalan terus bohong sama aku, lagian setelah kejadian ini malah memperkuat hubungan aku sama Rafael."
"Hmmm ...," Rafael melingkarkan tangannya di tubuh Syaren memeluk Syaren dari arah samping. "Makin sayang aku sama kamu," ucap Rafael.
"Heh! Belum Sah! Gak boleh begitu!" ucap Dinda.
"Jomblo sirik bae ya," ucap Rafael.
"Udah, malah ngatain," udah Syaren, "kamu tau gak?"
"Apa?" tanya Rafael.
"Si Rendi tuh ternyata ngajakin kamu ke cafe karena di kasih duit sama Si Maura, seratus ribu," adu Syaren pada Rafael.
"Hah? Serius, Ren?" tanya Rafael menatap Rendi.
"Hehe ...," Rendi tertawa pelan. "Ya manusiawi kan? Namanya juga manusia, di kasih duit masa gak mau."
"Kurang ajar lu ya sama gue," ucap Rafael.
"Tau Si Rendi sama temen sendiri tega amat lu," ucap Lisa.
"Ya kan kemarin gue gak tau kalau mereka pacaran," ucap Rendi.
"Udah ... gak usah debat," ucap Syaren. "Sekarang pokoknya gak mau tau, itu duit pake buat traktir kita! Beliin chicken nugget, cola sama kentang goreng."
"Setuju!" ucap Lisa dan Dinda bersamaan.
"Ya ampun, Sya. Habis dong," ucap Rendi.
"Beliin atau kita musuhin?" tanya Syaren.
"Ya ampun, pilihannya," ucap Rendi. "Ya udah deh, pesen dah pesen!"
"Nah gitu dong, ganteng deh Rendi." ucap Dinda seraya mencolek dagu Rendi.
"Iya gua gantengnya cuma pas lagi traktir kalian doang!" ucap Rendi.
"Kalau gak ikhlas ya gak pa-pa, Ren. Kita gak maksa kok," ucap Syaren.
"Ikhlas, Sya. Ikhlas, sumpah ikhlas! Pesen dah pesen!" ucap Rendi pasrah.
Syaren tersenyum puas. "Nah gitu dong, oke ... sekarang kita pesen," ucap Syaren merogoh saku kemejanya mengambil handphone untuk memesan makanan.
Bersambung