Syaren, Lisa, Rendi dan Dinda berjalan bersama, mereka berniat untuk menjenguk Rafael setelah pulang dari sekolah. Syaren nampak tertawa bersama Lisa saat bercerita sesuatu yang menurut mereka sangat lucu.
Tawa Syaren dengan seketika langsung terhenti saat melihat Maura yang baru saja keluar dari ruang kelasnya saat ia hendak menuruni anak tangga. Ruang kelas Maura berada tepat di depan tangga.
Terlihat juga Maura yang menatap Syaren dengan mata yang sangat tak bersahabat.
"Apa lo liat-liat?" tanya Syaren. "Terpesona dengan kecantikan gue? Mulai sadar kalau gue emang lebih cantik dari lu?" tanya Syaren lagi.
Maura diam tak berucap dan hanya mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Sya? Udah ... kamu apaan sih? Jangan mancing," ucap Rendi.
"Siapa yang mancing? Aku cuma sebel aja sama dia, jadi perempuan kok gak tau malu," ucap Syaren.
"Emang dia kenapa?" tanya Lisa.
"Hmm? Enggak, gak pa-pa, udah ... ayo, kita turun, kita jenguk Rafael," ucap Syaren lagi lalu berjalan lagi ke arah tangga di ikuti yang lainnya.
"Kenapa sih, Sya? Ada apa?" tanya Dinda.
"Enggak gak pa-pa, Din." ucap Syaren.
"Mereka aman kok, Sya. Gak akan ember mulutnya," ucap Rendi. "Cerita aja, gue yakin mereka bisa jaga rahasia elo."
"Rahasia apa emang? Kamu main rahasia-rahasiaan sama kita?" tanya Dinda.
"Rendi bener-bener ember ya itu mulut! Mau aku cocolin cabe?" tanya Syaren seraya berjalan ke arah parkiran.
"Tuh kan, ada apa sih?" tanya Lisa.
"Iya ... ada apa?" tanya Dinda juga.
"Nanti aku ceritain di rumah Rafael," ucap Syaren. "Kalian naik angkot kan? Nanti kita ketemu di depan rumah Rafael aja ya? Aku bawa sepeda punya Si Rafael soalnya. Gak mungkin kan aku tinggal itu sepeda di sini."
"Ya udah, kita ketemuan di depan rumah Si Rafael ya?" ucap Dinda.
"Oke," jawab Rendi seraya memperlihatkan jari telunjuk dan jari jempol yang ia satukan hingga berbentuk huruf O.
Syaren lalu berjalan ke arah sepeda Rafael yang ia parkir di area parkiran sepeda, Rendi berjalan ke arah parkiran area motor sedang Lisa dan Dinda berjalan keluar dari area sekolah hendak menaik angkot.
***
Maura mengepalkan kedua tangannya saat Syaren berbicara dengannya dengan nada yang sangat sinis.
'Kurang ajar! Liat aja, bakalan gue bales!' ucap Maura di dalam hati. Ia lalu melihat Rizky yang baru saja keluar dari ruang kelasnya di temani teman-temannya yang lain.
Terlihat mereka yang tertawa bersama juga, membuat Maura yang melihat semakin kesal, tadi ia melihat Syaren yang tertawa bersama teman-temannya yang lain lalu sekarang Rizky, sedangkan ia sendiri? Tak ada satu pun teman yang mau berteman dengannya dengan tulus. Mereka mau berteman jika ia mempunyai sesuatu.
"Rizky?" panggil Maura.
Rizky sontak langsung menghentikan langkah dan menoleh menatap Maura.
"Lu manggil gue?" tanya Rizky.
Maura mengangguk pelan mengiyakan. "Iya, aku manggil kamu," jawab Maura.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Rizky.
Maura menatap teman-teman Rizky. "Kalian tunggu di bawah aja, aku mau ngobrol empat mata sama dia," ucap Maura seraya melirik menatap Rizky.
Teman-teman Rizky sontak langsung menatap Rizky.
"Kalian tunggu di depan gerbang, entar gue nyusul," ucap Rizky.
"Oke, kita tunggu di bawah."
Rizky mengangguk pelan mengiyakan, ia lalu menatap Maura setelah teman-temannya berjalan menuruni anak tangga.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Rizky.
Maura melihat ke segala arah melihat situasi, ia lalu berjalan mendekati Rizky hingga jaraknya berada tepat satu langkah di depan Rizky.
"Kamu ngejar Si Syaren kan?" tanya Maura.
Rizky sontak langsung mengerutkan alis saat Maura bertanya seperti itu padanya. "Kenapa emang? Urusannya sama elu apa?" tanya Rizky.
"Udah tau kalau Si Syaren ternyata pacaran sama Si Rafael?" tanya Maura.
"What?" Rizky menatap Maura dengan sangat serius, "Gue gak salah denger?" tanya Rizky.
"Jadi belum tau?"
"Tau dari mana lu? Kata siapa?" tanya Rizky lagi. "Jangan hoax ya! Jangan main-main sama gue! Gue gak suka!" ucap Rizky.
Maura tersenyum smirk. "Aku gak bohong! Aku denger dari orangnya langsung!" ucap Maura.
"Siapa? Si Rafael?" tanya Rizky.
Pfftt
"Cih! Dia cuma ngaku-ngaku! Jangan di percaya!" ucap Rizky tertawa pelan lalu setelahnya ia mendecih sinis.
Maura tersenyum. "Syaren! Gua denger langsung dari Si Syaren! Denger baik-baik nama yang gue sebut, Sya-ren!" ucap Maura lagi.
Rizky menatap Maura dengan tatapan yang semakin serius. "Beneran? Lu gak bohong kan?" tanya Rizky.
"Ngapain gue bohong? Ya enggaklah!" ucap Maura.
"Kok bisa tau?" tanya Rizky lagi.
"Kemarin, pas pulang sekolah. Aku suruh Si Rendi bawa Si Rafael ke caffe, tadinya aku lagi mau usaha deketin Si Rafael, terus pas lagi asik ngobrol Si Syaren tiba-tiba aja dateng dan rusak semuanya! Aku sama dia sempet berantem, di pisahin sama Si Rendi, Si Rafael juga, terus Si Syaren bilang kalau dia sama Si Rafael itu pacaran. Setelah itu ya udah ... dia pergi, di kejar sama Si Rafael." jelas Maura.
"Sialan! Gue kalah cepet! Kurang ajar si Rafael!" ucap Rizky menatap lurus dengan kedua tangan yang mengepal.
"Kamu suka kan sama dia?" tanya Maura.
Rizky menoleh menatap Maura.
"Kalau iya kenapa?"
"Kita bikin mereka udahan," ucap Maura. "kita bisa bikin mereka salah paham atau apapun itu dengan cara yang intinya bisa buat mereka udahan."
"Cih!" Rizky memalingkan wajahnya ke arah lain dan tersenyum miris lalu menatap Maura lagi. "Gue pikirin dulu deh ya? Kesannya kok kek gak ada cewek lain aja gitu, cewek kan banyak! Ngapain gue ngejar-ngejar cewek yang udah jelas gak mau sama gue? Cewek kan banyak! Ya kali gue ngejar ya gak mau. Kemarin, gue ngejar dia karena gue taunya dia single! Kalau udah ada yang punya, ya buat apa?"
Maura kembali mengepalkan kedua tangannya erat-erat lagi setelah mendengar Rizky berucap. Sepertinya usahanya akan sia-sia.
"Udah kan ya? Gue mau turun, temen-temen gue nunggu di bawah," ucap Rizky berjalan melewati Maura dan melangkahkan kaki menuruni anak tangga.
"Aaahh! Sial sial sial! Gak guna!" ucap Maura mengacak-acak rambutnya frustasi. "Syaren ... kurang ajar! Liat aja, aku bakalan tetep berusaha buat dapetin Si Rafael!"
Maura lalu berjalan menuruni anak tangga lalu melangkahkan kaki berjalan ke arah pintu gerbang.
Tap tap tap
Terlihat Rizky dan teman-temannya masih berada di depan pintu gerbang.
Maura melihat ke arah Rizky sebentar lalu memalingkan wajahnya dengan sangat sinis lalu kembali berjalan lagi.
"Kenapa tuh cewek?" tanya satu dari teman Rizky. "Tadi ngobrolin apa emang?" tanyanya.
Sayup-sayup Maura mendengar pertanyaan itu, ia sama sekali tak peduli, ia terus berjalan ke arah jalan raya menunggu driver ojek online yang sudah ia pesan lewat aplikasi.
Bersambung