Syaren berjalan masuk menuju meja di mana biasa ia dan Rafael terduduk bersama.
"Rafael mana?" tanya Rendi setelah Syaren duduk di kursinya.
Syaren menoleh dan mendelik sinis. "Demam! Dia gak masuk dan itu karena kamu!" ucap Syaren.
"Lahh ... kok nyalahin gua?" tanya Rendi yang kini sudah duduk di samping Syaren.
"Kemarin yang ngajak ke cafe terus ketemuan sama dedemit siapa hah?" tanya Syaren dengan mata yang memicing menatap Rendi dengan tatapan kesal.
"Yaa ... mmhh ... ya aku kira kan Si Rafa masih single gitu, mana aku tau kalau kalian pacaran," ucap Rendi.
Syaren sontak langsung menutup mulut Rendi rapat-rapat. "Jangan keras-keras! Nanti kalau ada yang denger gimana hah?" Syaren melepas tangannya di mulut Rendi.
"Kenapa sih?"
"Jangan sampe ada yang tau kalau aku sama Rafael pacaran," ucap Syaren dengan nada pelan.
"Kenapa jangan sampe ada yang tau?" tanya Rendi.
"Takutnya nanti sampe ke telinga orang tua aku, kalau Mama aku sama Mama Rafael sih kayaknya gak masalah, aku pikir mereka bakalan seneng kalau tau anak-anaknya pacaran, tapi Papa aku, dia pasti riweuh ... terus untuk mengantisipasi juga," ucap Syaren.
"Si Maura kan sama Si Kila udah tau, kemarin kamu sendiri loh yang bilang, kalau mereka bocor ya tetep aja satu sekolah pasti bakalan tau," ucap Rendi.
Syaren menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, gak akan bocor. Si Maura gak mungkin sebarin hubungan aku sama Si Rafa, kalau semua orang tau, itu artinya dia mempermalukan diri dia sendiri lah … soalnya itu berarti dia mengaku kalah sama aku. Gak mungkin kan dia bikin malu diri sendiri? Kita tau sendiri kalau dia itu gak pernah mau di kalahin," ucap Syaren.
"Iya sih, bener juga. Si Kila juga pasti di suruh tutup mulut," ucap Rendi.
"Nah itu tau," jawab Syaren.
"Terus tadi mengantisipasi. Mengantisipasi apa?" tanya Rendi.
"Sebentar lagi kan ujian, ya mengantisipasi kalau nilai aku sama Si Rafa nurun lah. Biar orangtua aku sama orangtua Si Rafa enggak menyangkut pautkan sama hubungan aku sama Si Rafael." jelas Syaren.
"Kalian pacaran baru berapa hari?" tanya Rendi.
"Enak aja berapa hari, udah hampir satu bulan lebih ya!" jawab Syaren.
"Udah satu bulan lebih?"
"Iya," jawab Syaren.
"Minggu-minggu kemarin perasaan ada ulangan harian, yang Geografi malah dadakan, tapi nilai kalian tetep bagus padahal pas ulangan kalian duduknya di pisah jauh, Si Rafa juga masih tetep unggul, terus gimana turunnya?"
"Kan mengantisipasi Rendi! Meng-an-ti-si-pasi! Paham gak sih?" tanya Syaren mengeja kata mengantisipasi.
"Iya-iya!" jawab Rendi, "terus si Rafael kenapa? Demam kenapa? Perasaan kemarin dia sehat walafiat," ucap Rendi.
"Kemarin aku putusin, abis kesel!" jawab Syaren.
"Putus?" tanya Rendi.
"Iya, kenapa?" tanya Syaren.
Rendi keluar dari meja Syaren, ia berjalan cepat ke arah mejanya dan mengambil tas. "Gua duduk sama Si Syaren hari ini," ucap Rendi pada seorang pria teman satu bangkunya.
"Oke," jawabnya.
Rendi lalu berjalan lagi ke arah meja Syaren dan menaruh tasnya di atas meja.
"Ngapain?" tanya Syaren.
"Hari ini gua mau ghibah sama elu," ucap Rendi.
"Gak waras ini orang," ucap Syaren mengerutkan alis.
"Emang," jawab Rendi, "Terus gimana? Jelasin, tadi putus gimana?" tanya Rendi lagi.
"Ihh ... kek cewek! Kepo banget perasaan," ucap Syaren.
"Oh ... gak mau cerita? Ya udah gak masalah, siap-siap aja besok satu sekolah tau kalau kalian pacaran, bahkan bakalan sampe ke telinga Papa kamu," ancam Rendi.
"Dih ... ngancem, aku gak takut! Kamu kenal aja enggak sama Papa aku," ucap Syaren.
"CEO Trisoft Group kan?" tanya Rendi. "Papa aku kan kerja di sana, aku bisa aja alesan mau ketemu Papa aku karena urusan keluarga biar aku bisa masuk ke perusahaan, setelah itu diem-diem aku nyamperin Papa kamu dan ngadu deh, atau kalau enggak aku tunggu aja di depan gerbang perusahaan, Papa kamu pasti lewat kan?"
"Rendi mulai kurang ajar ya sekarang," ucap Syaren mendelik.
"Ya udah, tinggal cerita aja apa susahnya sih?"
Huuhh
Syaren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar dan menoleh menatap Rendi.
"Ayo ... cerita," ucap Rendi.
"Kemarin ...."
"Iya, kemarin setelah dari cafe, kenapa?" tanya Rendi.
"Aku berantem sama Rafael, gara-gara kamu!" ucap Syaren.
"Ck! Di perjelas mulu perasaan," gumam Rendi. "Terus?"
Syaren lalu menceritakan pada Rendi apa yang terjadi kemarin antara ia dan Rafael.
Beberapa menit kemudian setelah Syaren bercerita.
"Seriusan? Si Rafael sampe segitunya sama kamu?" tanya Rendi.
Syaren mengangguk pelan mengiyakan.
"Sebucin itu dia sama kamu?"
"Aku kan emang punya daya tarik yang kuat," ucap Syaren tersenyum dengan sangat bangga seraya menaik-turunkan alisnya.
"Hiihh ... lebay amat ya Si Rafael? Kayak gak ada cewek lain aja, padahal yang ngejar dia itu banyak loh! Mati satu kan tumbuh seribu, ngapain coba sampe segitunya." ucap Rendi.
Syaren langsung mengubah mimik wajahnya mendelik sinis pada Rendi. "Siapa nama Papa kamu?" tanya Syaren.
"Kenapa nanya nama Papa aku?" Rendi balik bertanya.
"Mau aku aduin ke Papa aku kalau anaknya kurang ajar! Biar Papa kamu di pecat!"
"Astagfirullahaladzim," ucap Rendi seraya memegang d*da, "Gak boleh gitu, Sya."
"Makanya jangan mulai!" ucap Syaren.
"Pulang sekolah aku mau nengokin dia deh, merasa berdosa sekali aku sama dia, demi duit seratus ribu dia malah jadi kena masalah terus sakit kayak begini, nanti aku ajak yang lain juga deh, siapa tau kalau dia liat temen-temennya dateng karena care, dia jadi semangat kan." ucap Rendi.
"What? Tunggu-tunggu, sebentar. Aku gak salah denger?" tanya Syaren, "Maksudnya demi seratus ribu itu apa?"
Hehe
Rendi tersenyum menyeringai.
"Jawab! Bukan nyengir!" ucap Syaren.
"Si Maura ngasih duit seratus ribu asal aku berhasil ajak Si Rafael ke caffe. Ya manusiawi lah, Sya. Aku kan manusia normal yang butuh duit, mana cuma-cuma kan? Cuma ngajakin doang Si Rafael ke Caffe terus dapet duit, ya kan lumayan, Sya. Buat bayar buku sama uang kas, aku udah nunggak uang kas delapan minggu loh, Sya."
Syaren kembali memicingkan mata dan mendelik sinis. "Uang kas cuma lima ribu seminggu RENDI!" ucap Syaren dan berteriak saat menyebut nama Rendi hingga siswa lain melihat ke arahnya.
"Iya-iya enggak, Sya. Gak akan dua kali sumpah!" ucap Rendi seraya mengarahkan jadi telunjuk dan jari tengahnya hingga terlihat seperti huruf V.
"Kalau ada yang kedua kalinya, kamu habis sama aku!" ucap Syaren mendelik. "Pacar aku sakit gara-gara kamu! Mukanya merah tau! Badannya anget! Tega ya kamu sama temen sendiri," ucap Syaren lagi namun dengan nada yang jauh lebih rendah dari sebelumnya.
"Ya allah, Sya. Gitu amat sama aku. Aku kan gak tau kalau kejadiannya bakalan kayak begini, ya itu salah kamu sama Si Rafael juga lah, bukan sepenuhnya salah aku," ucap Rendi.
"Lahh, kenapa malah balik nyalahin?"
"Kan kamu mutusin Si Rafael, kalau enggak di putusin ya dia gak bakalan lah kaya begitu. Si Rafa juga salah, bucin banget sama kamu sampe mau hujan-hujanan segala, cinta sih cinta tapi yaa ... yang waras aja kali. Ya kali cuma karena perempuan dia kaya begitu," ucap Rendi.
"Perempuannya itu aku loh Rendi, kok kamu berani banget ngomong kaya begitu di depan aku langsung," ucap Syaren seraya tersenyum.
"Hehe ... iya-iya maaf, enggak Sya. Bercanda, just kidding, gitu doang masa marah."
Syaren mendelik sinis. "Haisshh …."
Bersambung