"Kirain kita bakalan di sidang apa, nyatanya cuma di kasih omongan gitu doang. Gak seru! Kurang menantang!" ucap Rafael seraya menyantap makan siangnya di atas meja makan di rumah Syaren.
"Dihh! Aku tetep deg-degan ya!"
"Udah … aku jamin aman," ucap Rafael.
"Aku rada parno Mama aku bakalan ngomel lagi setelah kamu sama Ateu Diandra pulang," ucap Syaren ikut menyantap makan siangnya juga dengan pandangan melihat ke arah ruang keluarga dimana sang ibu dan ibunya Rafael tengah mengobrol disana seraya menonton TV.
"Setelah aku sama Mama aku pulang, kamu langsung ke kamar aja. Kalau misalnya nanti Mama kamu nyamperin kamu dan mau ngomel, langsung aja sela ucapan dia, bilang sama Mama kamu gini 'tadi kan kamu di hukum jadi kamu harus nyatet pelajaran yang ketinggalan dan ngerjain PR juga,' setelah itu kamu senyum dan masuk deh ke kamar," ucap Rafael.
"Ututututu ... pinternya pacar aku ini," ucap Syaren seraya memainkan gemas dagu Rafael.
"Iyalah! Rafael!" ucap Rafael membanggakan diri.
Tring tring tring
Suara nada dering pesan masuk terdengar dari arah saku kemeja seragam yang Rafael kenakan.
"Ada chat masuk tuh," ucap Syaren.
"Iya tau, aku juga denger," ucap Rafael menaruh sendok di atas piring dan mengambil handphone.
"Siapa?" tanya Syaren.
"Belum juga aku buka HP-nya," ucap Rafael membuka kunci dengan menekan angka tanggal lahir Syaren, membuat Syaren yang melirik penasaran itu langsung mengatupkan bibir menahan senyum melihat kode kunci HP Rafael.
"Siapa? Aku liat," ucap Syaren menggeser duduknya hingga lengannya dengan lengan Rafael bersentuhan.
"Kepo banget sih? Tenang aja, aku gak pernah macem-macem!" protes Rafael saat Syaren yang semakin mendekat, ia bahkan bisa menghirup aroma harum rambut Syaren.
"Ya siapa tau aja kan kamu main-main? Siapa tau aja kamu sering bales-balesan chat sama yang lain," ucap Syaren.
"Suudzon itu gak baik loh, Sya." ucap Rafael.
"Ya udah, makanya buka," ucap Syaren.
"Ckk!" Rafael berdecak dan menekan aplikasi w******p dan melihat nama paling atas yang mengiriminya pesan.
"Uwaahh ... Si Maura ternyata," ucap Syaren menaruh dengan sangat kasar sendok yang sejak tadi ia pegang, ia menaruhnya di atas piring hingga terdengar suara bunyi 'TRING' membuat Rafael yang melihat dan mendengar menelan ludah.
"Bisa gak responnya biasa aja?" tanya Rafael.
"Enggak!" jawab Syaren dengan mata sayu terlihat kesal, ia mengambil handphone milik Rafael dan menyentuh nama paling atas.
Syaren menaikkan bibir atasnya hingga mengkeriting saat membaca isi pesan dari Maura.
[Kamu udah sampe rumah? Lagi apa Raf? Udah makan belum?]
[Hmm, nanti sore ada acara gak? Jalan yuk? Kita nonton, ada film romantis baru loh]
"Dihh ... gatel banget sama laki orang," ucap Syaren.
Uhuk uhuk uhuk
Rafael terbatuk saat mendengar Syaren mengatakan kalau ia adalah prianya, nasi yang sedang ia kunyah di dalam mulut hampir keluar semuanya.
Syaren menyentuh ke atas dan ke bawah melihat isi pesan paling atas sebelum pesan yang baru saja masuk, ternyata ada banyak pesan saling balas membalas di atas pesan itu.
"Apa? Tadi apa? Laki siapa?" tanya Rafael.
"Apaan sih? Biasa aja kali," ucap Syaren.
"Emang dia chat apa?" tanya Rafael setelah meminum beberapa teguk air putih.
"Nih, liat aja sendiri!" ucap Syaren menaruh handphone itu di atas meja.
Rafael menggeser handphone itu hingga berada di samping piringnya membaca isi pesan dari Maura.
"Ohh … dia ngajak jalan ternyata," ucap Rafael.
"Jadi kamu sering chatan sama dia?" tanya Syaren.
"Dulu sebelum jadi sama kamu ya sering, tapi gak lebih kok, cuma chat-chat biasa," jelas Rafael.
"Masa?" tanya Syaren.
"Iya seriusan, aku gak bohong," ucap Rafael.
"Bodo!"
"Dihh ... ya udah kalau bodo mah," ucap Rafael mematikan handphone dan kembali memasukkannya lagi ke dalam saku kemejanya dan kembali melahap lagi nasi di atas piring.
"Ckk!" Syaren berdecak kesal. Ia menggeser piring di atas meja dengan sangat kasar.
"Kenapa?" tanya Rafael.
"Enggak, gak pa-pa."
"Kenapa gak di habisin nasinya?" tanya Rafael.
"Udah kenyang!"
"Owhh ...," jawab Rafael hingga bibirnya mengerucut membentuk huruf O. "Kirain aku kamu badmood, kalau udah kenyang ya udah, biar aku yang habisin," ucap Rafael mengambil piring di depan Syaren dan memindahkan nasi di piring itu ke dalam piringnya.
"Aihh ...." Syaren mengerutkan alis.
"Nanti mau latihan taekwondo dimana? Di samping kolam renang?" tanya Rafael.
"Enggak! Males! Latihan aja sendiri!" ucap Syaren dengan nada ketus, ia masih kesal membaca chat dari Maura tadi.
"Alhamdulillah ... kamu emang perhatian," ucap Rafael membelai lembut rambut Syaren.
Syaren kembali mengerutkan alis. "Kok alhamdulillah? Pengertian apanya?" tanya Syaren.
"Ya alhamdulillah, kamu pengertian gitu. Aku kan habis makan dan pasti perut aku begah banget kan, kebayang gak kalau habis makan terus latihan? Duhh ... enggak deh, gak kebayang! Makasih ya, Sayang." ucap Rafael lagi seraya mengelus pipi Syaren.
"Pacar gak ada akhlak! Orang lagi bad mood malah gak peka-peka!" gumam Syaren mendelik sinis melihat ke arah Rafael yang kembali fokus menyantap nasi yang semakin bertambah di atas piring pria itu.
Beberapa menit kemudian.
"Alhamdulillahirabbil Alaamiin."ucap Rafael duduk bersandar seraya memegang perutnya.
Syaren yang sejak tadi duduk bersandar dengan kedua tangan yang terlipat didada langsung mengerutkan alis dan bibir yang sedikit mengerucut masih kesal, ia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain dan memutar kedua bola matanya.
"Sya?"
"Hm ...."
"Aku disini, bukan di sana, liat kesini kenapa," ucap Rafael.
Syaren langsung menoleh menatap Rafael. "Apa?"
"Besok jalan yuk? Besok weekend kan? Biasanya kalau weekend kita jalan-jalan ke mall, taman atau kemanapun. Gimana kalau besok kita jalan … kita kencan, kencan pertama kita setelah pacaran, gimana? Mau gak?" tanya Rafael.
Syaren kembali mengalihkan pandangan ke arah lain lagi dan tersenyum manis.
"Dihh ... malah mesem-mesem," ucap Rafael tersenyum. "Aku nanya ini, jawab! Bukan mesem-mesem."
"Apa sih? Siapa yang mesem-mesem? Enggak!"
"Ya udah, jadi gimana? Mau atau enggak?" tanya Rafael lagi.
"Mau kemana emang?" tanya Syaren.
"Dufan? Gimana? Kita sambil mengenang masa kecil kita di Dufan, keknya udah lama banget dari terakhir kita ke Dufan," ucap Rafael.
"Emang kamu punya duit?" tanya Syaren.
"Jan ngadi-ngadi ya kamu! Ya punya lah!" jawab Rafael.
"Mau naik apa kesananya? Naik motor aja gak bisa!" ucap Syaren. "Sepeda? Ogah! Berdiri di belakang bikin betis aku pegel ya! Duduk di depan bikin p****t aku sakit!"
Takk
"Auuww ...." ucap Syaren mengaduh kesakitan memegang kepalanya yang kena jitak. "Sakit tau!"
"Kali-kali otak kamu kudu di refresh! Masa iya ke Dufan pake sepeda, ya mikir Sasya! Mau sampe di sananya jam berapa hah? Kaki aku juga udah pengkor duluan!"
"Ya ... yaa ... kan, aku ...." Syaren tak meneruskan ucapannya bingung harus mengucapkan kata apa.
"Kita naik mobil," ucap Rafael.
Syaren menatap Rafael. "Kamu bisa bawa mobil?"
"Enggak," jawab Rafael.
"Lahh ... terus?" Syaren bertanya lagi.
"Jaman udah canggih ya! Gak usah di bikin ribet, tinggal sentuh-sentuh HP, mobil udah akan terparkir di depan rumah!" ucap Rafael.
"Owwhh ...." jawab Syaren lagi.
"Jadi?"
"Jadi apa?" tanya Syaren lagi.
"Ya ampun! Betapa pintar sekali kekasihku ini Tuhan ... boleh minta pacar yang lebih pintar lagi enggak sih Tuhan? Kadang aku gemas melihatnya, sampai dirasa ingin sekali aku berpaling, tapi bagaimana? Semakin hari aku malah semakin menginginkannya!" ucap Rafael seraya menatap langit-langit.
Syaren yang mendengar hanya mengatupkan bibir menahan senyum.
"Biasa aja kali doanya," ucap Syaren.
Rafael menoleh dan mendelik sinis.
Pffttt
Syaren tertawa pelan. "Iya, iya aku mau." ucap Syaren seraya mengelus pipi kekasihnya itu.
Bersambung