Seseorang Berusaha Mendekati

1321 Kata
"Pulang sekolah kalian jangan main," ucap Diandra. "Rafael? Kamu jangan pulang ke rumah, ke rumah Syaren dulu, kita bicarain masalah kalian ini di rumah Syaren." "Hm? Kenapa, Ma?" tanya Rafael. "Gak usah banyak tanya, kita bahas nanti pas sidang di rumah Syaren," ucap Diandra lagi. Syaren dan Rafael sontak langsung beradu pandang. "Sidang? Berasa melakukan kejahatan ya ...." gumam Syaren. "Gak usah bergumam, Mama denger!" ucap Nadisya pada Syaren. "Hee ...." Syaren menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. "Inget ya? Langsung pulang!" ucap Nadisya, ia menyelipkan tangannya di siku lengan sahabatnya dan langsung berjalan melewati Syaren dan Rafael. Huuhhh Syaren mengembuskan nafasnya kasar. "Di sekolah kena omel guru, di rumah kena omel orangtua, hidup tak seindah cerita novel yang sering aku baca! Ribet amat perasaan," ucap Syaren. "Kamu yang buat ribet, kalau di nikmati enggak tuh, aku malah sangat menikmatinya, aku jadi punya banyak cerita sama kamu," sahut Rafael. "Jangan mulai ya, Raf!" "Mulai apa?" tanya Rafael. "Kamu,-" Ceklek "Syaren? Rafael?" panggil seorang wanita tiba-tiba begitu membuka pintu. "Ehh ... Bu?" sapa Rafael. "Kalian udah boleh masuk," ucapnya menatap Rafael dan Syaren. "Jangan di ulangi lagi ya? Setelah ini tanya sama temen-temennya ada PR atau enggak untuk pelajaran saya selanjutnya. Dan ... walau kalian pinter, selalu ranking tiap semester, kalau kalian tetap tidak mengerjakan tugas, kalian akan tetap saya hukum! Jadi, mulai besok dan selanjutnya, jangan pernah tidak mengerjakan tugas yang saya kasih lagi." "Iya, Bu ... ini kali pertama dan terakhir kita kaya gini," ucap Rafael. "Bu? Udah boleh masuk kan ya? Kaki saya keram, pegel banget sumpah! Gak tahan pengen duduk," seru Syaren. Rafael yang berdiri di samping Syaren langsung menyenggol bahu Syaren. "Apa sih? Kaki aku emang pegel, ini kesemutan tau!" ucap Syaren. Guru wanita yang masih berdiri di depan Syaren dan Rafael hanya menggelengkan kepala. "Kalian boleh masuk dan duduk." "Makasih, Bu ... permisi." ucap Syaren berjalan dengan sangat pelan karena kaki kirinya mulai kesemutan, ia berjalan melewati guru itu. Rafael dan sang guru saling bertatap mata, Rafael tersenyum menyeringai. "Maaf ya, Bu. Dia kurang obat kayanya," ucap Rafael masih tersenyum menyeringai canggung, "Saya masuk, Bu ... terima kasih," ucap Rafael berjalan dengan badan yang sedikit membungkuk saat melewati gurunya. "Terima kasih untuk hukumannya," gumam Rafael saat setelah masuk ke dalam ruang kelasnya dan melihat guru itu yang sudah berjalan meninggalkan ruang kelas. Tap tap tap Rafael berjalan ke arah mejanya, terlihat Syaren yang tengah memukul pelan betisnya. "Are you okay?" "Apanya yang oke? Kaki aku pegel tau! Tiap hari dihukum terus perasaan, mereka gak bosen apa ngehukum kita? Aku aja bosen," ucap Syaren. Rafael memegang kaki Syaren dan menaruhnya di atas pahanya. "Mau apa?" tanya Syaren kaget saat Rafael memijat kakinya. "Katanya pegel, ya ini aku pijitin," ucap Rafael. "Pacar yang baik," bisik Syaren seraya mengelus pipi Rafael. Rafael yang mendengar hanya tersenyum simpul. "Perasaan dulu kita juga sering telat ya, tapi gak pernah di hukum. Kenapa sekarang hampir setiap hari kita kena hukum?" "Mungkin karena sekarang kita udah kelas tiga, udah waktunya serius belajar karena bentar lagi kita mau ujian, iya kan? Terus kita juga harus nyontohin yang baik untuk adik-adik kelas kita. Waktu kita masih kelas sepuluh sampe kelas sebelas kan Pak Satpam juga masih baik hati mau bukain pager, sekarang mungkin dia udah jengah liat kita telat terus, jadi kebaikannya memudar." ucap Rafael seraya memijat betis Syaren. "Iya kali ya? Ada bener juga apa kata kamu," ucap Syaren. "Iyalah, yang aku ucapin emang selalu bener, kapan salahnya coba." "Dihh ...." "Ehh ... nanti siang kita langsung balik? Jadi, gak bisa main dulu? Ehh tapi, tapi, bukannya hari ini kita ada les taekwondo ya?" tanya Rafael. "Iya emang ada, ini kan hari kamis. Tapi ya udahlah gak pa-pa, libur sekali doang mah gak masalah, nanti setelah sidang aneh dari ibu kita itu selesai, kita latihan aja di rumah aku," ucap Syaren. Rafael mengerucutkan bibir dan mengangguk mengiyakan. Tap tap tap 5 Orang pria dari kelas lain tiba-tiba saja masuk dan berjalan mendekati meja di mana Syaren dan terduduk. "Pagi, Sya ...." sapa seorang pria bernama Rizky, ia duduk di atas meja. Rafael yang melihat sontak langsung terduduk bersandar pada kursi yang ia duduki menjaga jarak dari pria itu. "Rizky? Ngapain kesini? Bukannya ini masih jam belajar ya? Kok bisa kesini?" tanya Syaren menurunkan kakinya dari paha Rafael. "Kebetulan guru yang ngajar kelas kita gak masuk dan cuma kasih soal buat di kerjain. Dan itu udah kita kerjain, jadi aku sama temen-temen aku bisa kesini," ucap Rizky. Syaren melihat ke arah 4 pria yang berdiri di belakang Rizky, mereka tersenyum simpul ke arahnya, Syaren lalu menatap Rizky lagi. "Terus? Ngapain kesini?" tanya Syaren. "Tadi pas jam pelajaran pertama, aku izin keluar kelas mau ke toilet dan pas lagi jalan, aku gak sengaja liat kamu dihukum berdiri di depan kelas. Terus karena masih jam pelajaran aku gak berani samperin kamu. Baru sekarang aku berani nemuin kamu kaya begini karena gurunya izin gak masuk" "Oke …," Syaren mengangguk mengerti, "ada apa?" tanya Syaren. "Gak ada apa-apa, aku cuma mau kasih minuman sama kamu," ucap Rizky, "Oowwhh ...." jawab Syaren. Rizky menoleh ke arah temannya di belakang yang memegang kantung kresek berwarna putih. Ia mengambil satu kaleng minuman dan memberikan minuman kaleng vitamin C itu pada Syaren. "Buat kamu," ucap Rizky seraya tersenyum manis menatap Syaren. Rafael yang melihat sontak langsung mengerutkan alis dan saling beradu pandang dengan Syaren. Syaren lalu menatap Rizky lagi. "Buat Rafael mana?" tanya Syaren pada Rizky. "Aku cuma beli buat kamu," ucap Rizky, "lagian Rafael kan laki-laki, dia pasti kuat kok gak minum juga." "Di kira gua onta kali ya yang bisa nahan gak minum," gerutu Rafael di dalam hati. "Hmm ... ya udah oke, makasih ya minumannya," ucap Syaren menggeser minuman itu sampai berada di depannya. "Your welcome," ucap Rizky, "Ah iya ... boleh minta nomer WA kamu gak? Biar kita bisa saling sapa chat-an gitu." Syaren dan Rafael kembali saling beradu pandang lagi. "Sya? Boleh?" tanya Rizky lagi. "Hmm ... boleh sih, tapi aku lagi gak bawa HP dan aku gak hapal nomernya, sorry ya?" "Hmm ... oke, no problem, tunggu sebentar," ucap Rizky, ia melihat ke arah meja Syaren yang kosong tak menemukan sesuatu yang ia butuhkan, ia menoleh ke arah samping, melihat ke arah meja yang berada di samping meja Syaren dan Rafael. "Dia mau apa?" bisik Rafael pada Syaren. Yang di tanya hanya menaikkan kedua bahunya tak tahu. Rizky beranjak turun dari meja yang ia duduki dan berjalan ke arah meja yang tadi ia lihat, ia mengambil buku di atas meja tanpa permisi, si pemilik buku hanya diam tak berani untuk protes saat bukunya di ambil. "Minta selembar," ucap Rizky menyobek bagian belakang buku itu, ia juga mengambil bolpoin di tangan si yang punya tanpa permisi juga dan menulis 12 angka di sana. "Thanks." ucap Rizky menaruh bolpoin di atas meja lalu berjalan dua langkah ke arah meja dimana tadi ia terduduk, " ini nomor aku, nanti chat aku ya?" "Hmm? Mmhh ... okay!" jawab Syaren. "Oke, aku balik ke kelas dulu. Byee ...." ucap Rizky, ia hendak menyentuh kepala Syaren namun dengan sigap Rafael langsung memegang pergelangan tangan Rizky. "Mau apa? Sopan ya!" ucap Rafael. Rizky melepas kasar tangan Rafael, ia memalingkan wajah ke arah lain dan tersenyum dengan sangat sinis. "Cihh ...." "Udah selesai kan? Keluar sana!" ucap Rafael. Syaren melihat wajah Rafael, terlihat kecemburuan disana, Syaren memalingkan wajah ke arah lain dan tersenyum manis. "Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Rizky pada Rafael. Rafael mengerutkan alis tak mengerti. Rizky tersenyum sinis. "Ayok!" ucap Rizky pada teman-temannya yang sejak tadi hanya menonton. "Kamu capek gak? Haus gak? Mau minum?" tanya Syaren pada Rafael, ia membuka minuman kaleng itu dan memberikannya pada Rafael. Rizky yang mendengar saat Syaren menawari minuman yang ia beri itu sontak langsung menoleh ke arah meja Syaren dan Rafael, terlihat Syaren yang tengah membantu Rafael meminum minuman itu. "Sial!" gumamnya seraya mengepalkan kedua tangannya kesal dan berjalan menghentakkan kaki keluar. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN