Satu Paket

1246 Kata
Nadisya keluar dari taksi online dan berjalan ke arah pintu pagar, lalu tak berselang lama kemudian, saat kakinya baru saja beberapa langkah masuk ke dalam sekolah, sebuah mobil juga menepi di depan pintu pagar sekolah, ia menoleh dan melihat siapa yang keluar dari mobil itu. "Dii?" "Loh? Syaren kena SP juga?" tanya Diandra berjalan mendekati Nadisya. "Mereka kan tiap hari sama-sama, bikin masalah sama-sama, kalau Rafa kena ya si Syaren juga pasti kena, lagian ini dalangnya kan anak aku, Dii ... Rafael gak mungkin kena SP kalau anak aku gak berulah, maaf ya?" ucap Nadisya. "Lahh ... kenapa minta maaf?" "Rafael kena SP karena dia setiap pagi nungguin anak aku, kalau dia berangkat ke sekolah duluan, dia gak akan kena SP juga." Pffttt "Gak pa-pa, itu artinya anak aku bertanggung jawab, dia tetep nungguin Syaren walau udah tau pasti bakalan telat, lagian gak pa-palah, biar jadi pengalaman. Kayak kita waktu jaman SMA dulu, yang kita lakuin jauh lebih parah loh dari mereka, dulu kita pernah bilangnya ke air padahal kabur pas jam pelajaran, bahkan nyaris di keluarin juga kan? Sampai orang tua kita stress ngadepin kita. Kamu percaya kan sama hukum karma? Atau kata peribahasa … apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai. Aku udah feeling kok dari sebelum mereka lahir kalau hal kayak beginian pasti bakalan kejadian, yang mereka lakuin gak seberapa ini dari yang kita lakuin, iya kan?" Pffttt Nadisya tertawa pelan saat mengingat saat-saat dulu ia masih SMA bersama dengan sahabatnya Diandra. "Iya juga sih," jawab Nadisya. "Ya udah, ayo. Kita mainkan peran kita sebagai orangtua sekarang. Kursi yang dulu di dudukin sama orangtua kita, sekarang kita yang dudukin." ucap Diandra tersenyum dan melingkarkan tangannya di siku lengan Nadisya dan berjalan masuk. Tap tap tap "Ehh ... itu bukannya Rafael sama Syaren?" tanya Diandra menghentikan langkah saat baru saja berbelok di koridor. "Hm?" Nadisya ikut menghentikan langkah dan menatap lurus, melihat ke arah dua orang siswa yang tengah mengobrol di luar kelas. "Iya, itu anak aku sama anak kamu," ucap Nadisya. "Tapi kok mereka diluar ya? Ini masih jam pelajaran loh, murid-murid lain juga udah pada belajar, kok mereka masih diluar?" Diandra merapatkan kedua tangannya didada. "Mereka bukan masih ada di luar," ucap Diandra. "Maksudnya?" tanya Nadisya. "Inget gak dulu waktu kita SMA, hal apa yang membuat kita keluar dari kelas padahal siswa lain sedang belajar." ucap Nadisya. Nadisya menatap Diandra dan berpikir sejenak. "Hmm ... kalau kita dulu karena berisik, terus ketauan nyontek, gak ngerjain PR dan masih banyak lagi." "Nah, mereka pasti ngelakuin satu hal dari yang kamu sebutin itu," ucap Diandra. "Hm? Masa sih?" "Biar lebih jelas, kita tanyain sama anaknya," ucap Diandra melangkahkan kaki. Nadisya ikut melangkahkan kaki dan berjalan mendekati Syaren dan Rafael yang masih berdiri di samping pintu ruang kelas mereka. Tap tap tap "Kalian kok di luar?" tanya Diandra. "Mama?" panggil Rafael terlihat kaget dan langsung berdiri tegak menatap ibunya. Ia baru teringat kalau hari ini guru BP meminta orang tua atau walinya untuk datang ke sekolah. "Yang lain pada belajar loh di kelasnya, terus kenapa kalian ada disini?" tanya Diandra lagi. "Kita di hukum," jawab Syaren tersenyum canggung. "Lagi?" tanya Nadisya menatap putri sulungnya. "Heehee ...." Syaren tertawa menyeringai menatap ibunya. "I'm so sorry, Mom." "Kenapa lagi?" tanya Nadisya. "Lupa gak ngerjain PR," jawab Syaren. "Kok bisa?" tanya Nadisya lagi. "Lupa, Maa ... kemarin pagi kan kita telat tuh dateng ke sekolah dan disuruh hormat bendera sampe jam pelajaran pertama selesai, pas masuk kan capek abis panas-panasan dan gak nanya apa yang dikerjain di kelas sama temen, tapi biasanya kalau gitu pas pulang dan sampe rumah Syaren langsung chat temen kok, tanya ke mereka ada PR atau enggak … terus minta fotoin catetan yang dicatet juga. Cuma kemarin pas selesai bujuk Mama sama Uncle Syaren langsung main game dan lupa nanya ke temen ada PR atau enggak," jelas Syaren. "Ya ampun …." ucap Nadisya "Kan, apa aku bilang? Bener kan?" Diandra menatap Nadisya, yang di tatap hanya mengembuskan nafas dan menunduk. Diandra lalu menatap putra bungsunya. "Terus kamu? Kenapa?" tanya Diandra menatap Rafael. "Mereka kan sepaket, Dii." ucap Nadisya. "Hehee ... bener apa kata Ateu Disya, Maa … Rafa sama Syaren kan sepaket." ucap Rafael seraya merangkul pundak Syaren. "Ihh! Diem!" Syaren melepas tangan Rafael di pundaknya. "Rafa? Mama serius ya!" "Hmm … Rafa lupa, Maa ... sumpah!" ucap Rafael seraya memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya hingga berbentuk huruf V pada sang ibu. "Biasanya Rafa juga langsung nanya ke temen atau biasanya Syaren juga suka nanya, PR-nya udah beres belum, lah kemarin dia enggak WA Rafa ya jadi kan Rafa lupa juga," jelas Rafael melirik ke arah Syaren. "Kok kamu lirik aku? Kamu nyalahin aku?" tanya Syaren menatap Rafael. "Ya kamu harus punya tanggung jawab untuk diri sendiri dong, masa harus diingetin terus sama aku," ucap Syaren. "Aku gak nyalahin kamu." Diandra dan Nadisya saling beradu pandang. "Kayaknya kita emang kena karma deh, Dii." ucap Nadisya. "Bener apa yang kamu bilang tadi, apa yang kita lakuin di masa lalu ternyata di lakuin juga sama anak-anak kita." "Buah kan jatuh gak akan jauh dari pohonnya, Maa." sahut Syaren. "Diem kamu!" ucap Nadisya dengan nada suara sedikit kesal. Syaren sontak langsung mengatupkan bibir. Diandra mendekati telinga Nadisya dan berbisik, "Yang anak kamu omongin emang ada benernya juga, buah memang jatuh gak akan jauh dari pohonnya." Nadisya menatap Diandra dan merengut. "Kita temuin guru BP-nya dulu aja yok," ucap Diandra. Nadisya mengangguk pelan mengiyakan lalu menatap Syaren. "Masalah kita belum selesai ya, Sya!" ucap Nadisya menatap Syaren. Yang di tatap sontak langsung menelan ludah. "Ruangannya sebelah mana?" tanya Diandra. "Hmm ... ruangannya ada di lantai atas, dari sini Mama lurus aja, nanti itu ada tangga, Mama naik ke atas, belok ke kiri, ruangannya ada di paling ujung," ucap Rafael menjelaskan letak ruang guru BP. Nadisya lalu langsung melangkahkan kaki berjalan melewati Syaren dan Rafael, begitu juga dengan Diandra, ia juga ikut melangkahkan kaki melewati Syaren dan Rafael. "Perasaan dulu waktu kecil mereka gemesin, lucu, selalu bikin kita ketawa, kenapa gedenya bikin pusing ya?" tanya Nadisya pada Diandra. "Hukum alam," jawab Diandra. *** "Raf? Kayaknya kita gak akan aman deh," ucap Syaren setelah sang ibu dan ibu Rafael sudah berbelok menaiki anak tangga. "Mudah-mudahan kita gak dapet hukuman yang berat, aku bosen dihukum terus tiap hari, di sekolah kena hukuman masa di rumah juga kena hukuman." "Kamu nyalahin aku?" tanya Syaren. "Hm? Enggak, Sayang. Masa iya aku nyalahin kamu," ucap Rafael. "Sayang-sayang! Gak suka gelay!" "Ihh ... geli tau dengernya," ucap Rafael. "Apaan sih gelay-gelay?" "Sengaja, kalau aku alay kamu masih mau gak sama aku?" "Dih ... ya mau lah! Masa kayak begitu doang harus di pertanyakan. Aku menerima kamu apa adanya! Aku kan sama kamu udah eemmhh ... sehati! Denger gak apa kata ibu kamu tadi? Kita itu sepaket! Kamu itu terlahir karena aku!" "Gak kebalik? Kamu yang terlahir untuk aku!" ucap Syaren. "Aku lahir satu bulan lebih dulu ya sama kamu, panggil aku kakak!" ucap Syaren. "lagian aku terlahir karena Mama sama Papa akulah" Syaren bergumam. "Ya ampun, Yaang, sebulan doang." "Dihh ... yang yang kuyang!" "Ihh!" "Apa?" tanya Syaren. "Panggil aku Sayang kenapa," pinta Rafael. "Alay tau, Raf! Kenapa gak sekalian aja ayah bunda!" "Boleh tuh, ide bagus!" ucap Rafael. "Tapi, Mommy Daddy lebih keren deh kayaknya." "Dih ... dih? Bocil! Terus nanti kalau bubar aku jadi jendes gitu?" "Ya ampun, punya pacar begini amat ya?" "Ya Tuhan … boleh punya selingkuhan enggak?" Takk! Syaren langsung menginjak kaki Rafael dengan sangat keras. Aa-argghhh Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN