"Kok dih sih? Kan kita udah pacaran, ya masa aku deketin perempuan lain, aku menghargai perasaan kamu sebagai belahan jiwa aku."
"Gelay!"
"Kok gitu? Kamu gak sayang sama aku? Masa aku disuruh deketin cewek lain, masa kamu gak cemburu gitu?" tanya Rafael.
Syaren merapatkan kedua tangannya di d**a dan menatap Rafael. "Harus banget aku cemburu?" tanya Syaren.
"Iyalah! Kita kan pacaran, untuk memperlihatkan kalau kamu beneran sayang dan cinta sama aku, kamu harusnya cemburu, seenggaknya melarang aku untuk deket dengan perempuan lain gitu," ucap Rafael.
"Aku bukan tipe perempuan yang cemburuan, kalau mau godain atau deketin yang lain mah ya sok aja, aku gak akan larang," ucap Syaren kembali bersandar lagi pada tembok di samping pintu ruang kelasnya dan kembali menatap lurus dengan kedua tangan yang merapat di d**a lagi, "Tapi ... harusnya kalau kamu beneran sayang sama aku mah sih harusnya kamu ya jaga perasaan aku."
"Dihh ...."
"Kok dih?" tanya Syaren menatap Rafael yang berdiri di sampingnya.
"Ya kamu."
"Kok aku?" Syaren balik bertanya.
"Ya kamu curang sendiri, masa mau dijaga perasaannya, aku harus mikirin perasaan kamu, tapi kamu gak mikirin dan jaga perasaan aku. Aturan kita saling jaga hati sama perasaan, jangan sampe ke yang lain-lain gitu," ucap Rafael.
Syaren berdiri tegak. "Raf? Semenjak kita pacaran, kok hubungan kita berasa terlalu serius ya? Apa,-"
"Jangan aneh-aneh ya! Aku gak mau!" sela Rafael.
"Gak mau apa?" tanya Syaren.
"Putus. Kamu mau minta putus kan? Enggak, aku gak mau! Jangan ngadi-ngadi kamu ya!"
"Ya ampun Raf, pikiran aku terlalu jauh tau gak? Siapa yang mau minta putus?"
"Lah itu tadi barusan kamu bilang hubungan kita terlalu serius," ucap Rafael.
"Itu aku belum selesai ngomongnya, main potong aja, aturan dengerin dulu!" ucap Syaren.
"Ya udah terusin," ucap Rafael lagi.
"Hubungan kita terlalu serius, omongan kamu terlalu jauh. Kita jangan terlalu serius, kayak biasa aja gitu sebelum kita pacaran, bedanya status kita sekarang udah bukan sahabat biasa tapi lebih dari itu."
"Hmm ... kirain mau ngomong apa," ucap Rafael.
"Aku serius ya, Raf! Jangan ada cemburu-cemburuan lah, aku gak terlalu suka tau! Lebay! Kayak biasa aja udah," ucap Syaren. "Kamu atau aku boleh berhubungan sama lawan jenis, tapi dalam batas yang normal gak berlebihan."
"Hmm ...."
"Cuma hmm doang?"
"Ya terus aku harus jawab apa?"
"Hmm ... enggak," ucap Syaren. "Bentar lagi kita udah mau ujian kan? Terus lulus. Kamu mau lanjut kemana? Di universitas mana?" tanya Syaren mengalihkan pembicaraan.
"Hmm ... itu? Aku belum tau sih, waktu itu Papa ada bilang, kenapa gak kuliah di Jerman aja, atasan papa aku kan punya perusahaan cabang di Jerman, papa aku bisa ajuin aku untuk kerja sambil kuliah disana," ucap Rafael.
"Jerman?"
"Iya, Jerman. Kenapa?" tanya Rafael.
"Terus kamu jawab apa? Mau?"
"Hmmm ...."
"Kok hmm? Jawab ih!"
"Aku bilang sama papa, nanti aku pikirin dulu," ucap Rafael.
"Loh kok gitu jawabnya? Harusnya kamu jawab gak mau dong! Kalau kamu lanjut disana, aku gimana hah? Kok kamu gak mikirin perasaan aku sih?"
"Bukan gak mikirin perasaan kamu, aku justru berat meninggalkan kamu disini, cuma di satu sisi aku kan kepengen gitu tau dunia luar itu seperti apa, mau tau kehidupan di luar negri seperti apa, mau tau suasana luar itu gimana, aku mau tau orang-orang luar itu seperti apa, dari cara hidupnya, pergaulannya, ya semuanya lah" jelas Rafael.
"Ih kamu mah gitu, masa ninggalin aku."
"Kan ada handphone, ada sosial media, kita bisa berhubungan lewat teknologi, bisa VC-an juga," ucap Rafael.
"Ihh! Tau ah!" Syaren merapatkan kedua tangannya di d**a terlipat dengan bibir yang mengerucut kesal.
"Ciee ... yang takut kehilangan aku," ucap Rafael seraya mencolek bibir Syaren yang mengerucut.
"Diem!"
"Dih ... marah, gak usah marah," ucap Rafael tersenyum, "aku langsung menolak kok pas papa bilang gitu," ucap Rafael lagi. "Serius amat, katanya jangan terlalu serius."
Syaren sontak langsung menoleh menatap Rafael. "Jadi tadi kamu bohong sama aku? Ngerjain aku?"
Pffttt
Rafael tertawa pelan. "Ya masa kamu tanggepin serius? Ninggalin kamu untuk pergi ke sekolah sendiri aja aku gak berani, masa aku ninggalin kamu jauh."
"Ihh gak lucu ya, Raf! Ada masanya dimana waktunya serius dan bercanda!"
"Oke-oke! Enggak!" jawab Rafael. "Lagian aku gak tertarik di bisnis, aku mau jadi atlet basket, doain ya?"
"Hmmm ... pasti," jawab Syaren.
"Terus kamu?" tanya Rafael.
"Modeling," ucap Syaren tersenyum dengan sangat manis pada Rafael. "Aku mau jadi pusat perhatian orang-orang."
"Ihh."
"Kenapa?"
"Enggak ya! Ganti! Jangan jadi model! Aku gak suka kamu jadi pusat perhatian orang!"
"Lahh ...."
"Pokoknya jangan jadi model! Aku gak suka! Masa kecantikan kamu dinikmati banyak laki-laki. Enggak ya! Cantiknya kamu milik aku dan hanya aku yang boleh merhatiin kamu!" tegas Rafael.
Syaren yang mendengar sontak langsung merapatkan bibir menahan senyum saat Rafael mengatakan kalau dirinya hanya milik pria itu.
"Terus? Aku harus jadi apa?"
"Ya apa gitu terserah kamu, asal jangan jadi model!" ucap Rafael.
"Hmm ... paling aku nerusin bisnis papa, jadi CEO oke tuh, jarang-jarang kan ada CEO perempuan, nanti para pengusaha terpesona liat perempuan secantik aku mimpin perusahaan, ahh ... gak kebayang gimana terpesonanya para pengusaha liat aku yang bukan hanya cantik tapi juga jenius."
"Big no ya! Kalau kamu pegang perusahaan, nanti kamu sibuk! Gak akan ada waktu buat aku!"
"Terus aku harus jadi apa hmm? Masa ini gak boleh itu gak boleh," ucap Syaren.
"Ya apa gitu, dokter, dosen, guru atau apa gitu," ucap Rafael.
"Dihh ... aku yang jalanin kenapa kamu yang ngatur?" tanya Syaren.
"Aku gak ngatur, yang jalanin emang kamu dan aku juga pasti bakalan dukung kamu, kecuali yang dua itu ya, CEO dan modeling!"
"Raf? Aku gak suka loh sama laki-laki yang cemburuan dan banyak ngatur."
"Emang aku ada bilang cemburu? Enggak kan? Aku juga gak maksud ngatur kok. Aku hanya mengatakan kalau aku gak terlalu suka kalau kamu jadi CEO atau modeling, selebihnya ya terserah kamu mau jadi apa," ucap Rafael.
Syaren langsung mengerucutkan bibir.
"Kenapa?"
"Enggak, gak pa-pa," jawab Syaren.
"Bilang aja marah," ucap Rafael bersandar pada tembok, merapatkan kedua tangannya di d**a dan menatap lurus ke arah lapangan.
Syaren menatap ke arah Rafael sebentar lalu menatap lurus juga. "Ckk!"
Tap tap tap
"Kalian kok di luar?" tanya seorang wanita di temani sahabatnya.
"Mama?" panggil Rafael berdiri tegak menatap ibunya.
"Yang lain pada belajar loh di kelasnya, terus kenapa kalian ada disini?" tanyanya lagi.
"Kita di hukum," jawab Syaren tersenyum canggung.
"Lagi?" tanya wanita yang berdiri di samping ibu Rafael.
Bersambung