"Aaahh ... akhirnya ...." ucap Syaren setelah turun dari sepeda. "Kita bisa sampe sebelum bel sekolah bunyi," ucap Syaren lagi pada Rafael.
Bukannya menjawab, Rafael hanya tersenyum seraya mengacak-acak pucuk rambut Syaren.
"Hm? Saya gak salah liat? Ini beneran kalian?" tanya Seorang Satpam yang biasa menunggu di depan pintu pagar sekolah. Satpam itu melihat jam di pergelangan tangannya yang masih kurang 15 menit menuju pukul 7. "Ini masih pagi loh."
Rafael yang mendengar hanya tersenyum lalu menatap Syaren. "Aku simpen sepeda dulu ya." ucap Rafael seraya mengelus pipi Syaren lalu menggoes sepedanya masuk ke dalam sekolah ke arah parkiran sepeda.
Syaren tersenyum ke arah Rafael lalu menatap Satpam di hadapannya. "Kan kemarin saya udah bilang kalau kemarin itu hari terakhir saya telat, saya udah damai sama Papa saya," ucap Syaren tersenyum dengan ramah. "Syaren masuk dulu ya, Pak Satpam, bye!" Syaren melangkahkan kakinya masuk menghampiri Rafael yang tengah menyentandarkan sepedanya.
Tap tap tap
"Udah?" tanya Syaren.
"Udah, ayo ... ke kelas," ucap Rafael menggenggam tangan Syaren dan berjalan perlahan.
Syaren melihat ke arah telapak tangannya yang Rafael genggam, ia tersenyum dengan sangat manis saat tangannya di genggam, ia juga melihat Rafael yang terlihat jauh lebih tampan dari biasanya, rambut yang sedikit basah membuat Rafael terlihat lebih fresh dan cool.
"I love you," bisik Syaren tepat di telinga Rafael hingga yang dibisiki itu menghentikan langkah.
"Apa?" tanya Rafael.
"Enggak ada pengulangan! Let's go!" ucap Syaren menarik tangannya yang di genggam hendak menuju kelas.
2 orang murid perempuan dari kelas lain yang melihat Syaren dan Rafael melewati mereka terlihat iri.
"Kayaknya mereka bukan hanya sekedar sahabatan deh, Ra! Gak ada yang murni dalam persahabatan antara pria dan wanita! Salah satu dari mereka pasti ada yang punya rasa! Kalau gak si Syaren ya si Rafael!" ucap seorang wanita dengan rambut keriting sebahu.
Wanita yang berdiri di sampingnya itu merapatkan kedua tangannya di d**a dengan mata yang mendelik sinis ke arah Syaren dan Rafael yang tengah berjalan bersamaan dengan bergandengan tangan.
"Maura? Lu gak cemburu?"
Bukannya menjawab, Maura malah berlalu pergi ke arah ruang kelasnya dengan wajah yang kesal.
"Ra? Maura?" panggilnya mengejar teman sekelasnya itu.
Dari arah lain, 5 orang murid laki-laki yang tadi ikut memperhatikan Syaren dan Rafael juga terlihat melihat ke arah Syaren dan Rafael, satu orang pria melihat dengan tatapan sinis setelah mendengar ucapan wanita si rambut keriting tadi berbicara.
"Riz, bukannya kemarin lu udah kirim surat? Kok gak ada tanggapan?" tanya teman yang berdiri di samping kanannya.
"Lagian jaman udah canggih ngapain kirim surat? WA lah! Minimal DM kek," jawab teman yang berdiri di samping kirinya.
"Masalahnya, DM si Rizky gak pernah di bales! Tuh cewek jual mahal! Gak pernah mau ngasih nomor HP-nya, iya kan Riz? Pfftt ...."
"Berisik lu pada! Liat aja, si Syaren itu, suatu saat bakalan jadi cewek gua!" jawab Rizky berjalan melewati teman-temannya dan berjalan ke arah kelasnya.
***
Pukul 07.30
Huuuhhhhh
Syaren menghembuskan nafasnya kasar.
"Sabar, Sayang." ucap Rafael seraya membelai rambut panjang Syaren yang sepunggung itu.
"Kirain kalau dateng lebih pagi, gak telat lagi dateng ke sekolah, kita bakal duduk dengan manis di kelas dan belajar dengan normal kek siswa lainnya, tapi nyatanya apa? Kita tetep disuruh keluar dari kelas."
"Maaf ya? Kemarin aku lupa nanya sama Evan ada PR atau enggak hari ini, kemarin aku bujukin Mama habis-habisan biar gak bilang ke Papa kalau kita kena SP, sampe lupa nanya Evan pelajaran Bu Mey kasih PR atau enggak."
Syaren dan Rafael kini tengah berdiri bersandar pada tembok di samping pintu ruang kelas mereka, mereka tidak bisa mengikuti pelajaran karena tak mengerjakan PR yang guru beri.
"Kok minta maaf? Ini kan bukan salah kamu, harusnya ini salah aku loh."
"Hm?"
"Kemarin aku juga debat sama Mama masalah surat itu, untungnya Mama juga mau ngerti dan gak bilang juga sama Papa, jadi kita aman," jawab Syaren. "Setelah itu aku juga langsung main game dan kebablasan, lupa nanya sama temen-temen hari ini ada PR apa enggak. Lagian bu Mey kenapa coba ngajarnya setiap pagi, udah tau kita selalu dateng telat dan gak ngikutin pelajarannya, ya mana tau kalau dia ngasih PR."
Pfftt
"Bener! Salah bu Mey! Harusnya dia ngajarnya siang setelah kita beres ngerjain hukuman," ucap Rafael tersenyum.
Syaren menoleh menatap Rafael, melihat Rafael yang tertawa pelan dan tak menyalahkannya malah membuatnya merasa bersalah.
"Sorry ya ... kalau aja kita gak selalu telat dateng ke sekolah, kita gak akan tuh ada disini kaya sekarang," ucap Syaren. "Maaf karena Papa aku kemarin-kemarin bikin kamu susah."
"Kenapa minta maaf? Aku happy kok, kita jadi punya banyak cerita untuk nanti,-"
"Untuk nanti kita ceritakan sama anak-anak kita," sela Syaren.
Pfftt
"Nah itu kamu tau," jawab Rafael setelah tertawa pelan lalu mengacak-acak pucuk kepala Syaren hingga berantakan.
Degh!
Syaren menelan ludah saat melihat tawa Rafael yang malah membuat Rafael semakin terlihat tampan. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain seraya merapikan rambutnya yang berantakan, "ini jantung kenapa coba detaknya cepet banget," gumam Syaren seraya memukul pelan d**a bagian kirinya berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Kenapa?" tanya Rafael.
"Hm? Enggak," jawab Syaren, "lagian pemikiran kamu terlalu jauh, Raf, kita masih SMA, udah mikirin anak, masih ada banyak waktu tau, belum kuliah terus kerja juga, menggapai cita-cita," ucap Syaren.
"Ya tau, tapi apa salahnya hm? Kamu dengerin ya, kamu itu satu-satunya perempuan yang mau aku jadikan teman hidup!"
"Dih? Gombal, aku bukan Maura, Siska, atau yang lainnya ya! Gak akan mempan di gombalin begitu!" ucap Syaren dengan pandangan lurus tak menatap pria yang berdiri di sampingnya.
"Dih? Siapa yang gombal? Aku serius ya! Aku bahkan belum pernah loh jatuh cinta sama yang lain, belum pernah pacaran juga sama yang lain, kamu itu pacar pertama dan cinta pertama aku!"
"Kenapa? Bukannya perempuan yang suka sama jamu banyak? Kenapa malah sama aku?" tanya Syaren.
"Ya aku deketnya dari kecil sama kamu, main sama kamu, kemana-mana sama kamu, selalu berduaan sama kamu, bahkan hampir sepuluh jam aku sama kamu, kadang lebih malah kalau kita main sampe malem, aku gak ada waktu buat deketin cewek lain, jadi gimana mau nyaman dan pacaran sama yang lain?"
Syaren sontak langsung menoleh dengan mata yang mendelik. "Jadi maksudnya hati kamu mati rasa untuk perempuan lain karena aku? Karena kamu sering jalannya sama aku jadi kamu gak sempet deketin cewek lain? Jadi kamu nyesel nemenin aku main? Iya?" tanya Syaren.
"Ya ... ya enggak gitu juga, Sayang." ucap Rafael hendak memegang telapak tangan Syaren namun dengan sekejap Syaren langsung melepasnya.
"Jangan pegang-pegang, bukan muhrim!" ucap Syaren. "Nanti pulang sekolah kita masing-masing aja! Aku mau ajak Rizky jalan!"
"Loh kok gitu?"
"Ya biar kamu bisa leluasa bikin nyaman perempuan lain! Tadi katanya apa? Kamu terlalu sibuk main sama aku kan? Makanya kamu gak ada waktu buat bikin nyaman perempuan lain!" ucap Syaren.
"Ya kan itu dulu, sekarang kan udah sama aku, kita udah gini," ucap Rafael seraya mengaitkan jari telunjuk kanannya dengan jari telunjuk kirinya. "Sehati!"
"Dih?"
"Kok dih sih? Kan kita udah pacaran, ya masa aku deketin perempuan lain, aku menghargai perasaan kamu sebagai belahan jiwa aku."
"Gelay!"
Bersambung