Tap tap tap
Syaren berjalan ke arah pintu hendak keluar setelah Rafael mengiriminya pesan kalau sebentar lagi dia akan sampai. Syaren sedikit melirik saat merasa mendengar suara langkah kaki di belakangnya.
"Ya ampun!" gumam Syaren. "Ini pasti Papa!"
Tap tap tap
Syaren kembali berjalan lagi, ia mengambil kaca kecil di dalam tas kecil yang ia sampirkan di d**a, berpura-pura mengaca padahal matanya melirik ke arah belakang.
Dan ternyata benar saja, ia melihat sang ayah dan pamannya tengah berjalan di belakangnya.
"Kan ... bener!" gumam Syaren. Ia lalu berbalik dan melihat ke arah ayah dan pamannya yang terlihat kaget menghentikan langkah. "Apa sih? Kenapa ngikutin?" tanya Syaren.
"Siapa yang ngikutin? Papa gak ngikutin kamu, orang mau berjemur di teras." ucap Darren merapatkan kedua tangan di d**a terlipat.
"Uncle juga enggak ngikutin, orang mau joging, ini kan masih pagi," ucap Alfa juga.
"Syaren bukan bocil ya yang percaya gitu aja!" ucap Syaren. "Udah sana masuk! Biasanya juga jam segini pada nonton infotainment!"
"Ya terserah Papa lah, kenapa kamu yang ribet?" tanya Darren.
"Syaren tau ya! Papa sama Uncle pasti kepo kan?" tanya Syaren. "Bisa gak sehari aja kalian bebasin Syaren sama Rafael main bebas? Gak usah kepo! Anak di rumah ini bukan Syaren aja ya! Ada Daniel, Dazriel, Alfian, sama Aileen juga. Mereka masih bocil, harusnya Papa sama Uncle fokus ke mereka, bukan ke Syaren. Syaren di sini anak paling gede ya!"
"Mereka laki-laki dan kamu perempuan. Jelas beda!" ucap Darren dan Alfa bersamaan.
"Ya ampun ... sabar, sabar!" gumam Syaren seraya mengelus d*da.
"Kita memang kakak beradik yang kompak," ucap Darren pada Alfa.
"Untuk kali ini aku setuju denganmu dan kita tim," ucap Alfa merangkul sang kakak.
"Dihh ... Maaa? MAMAAAAA ...." teriak Syaren memanggil ibunya.
"Apaan sih teriak-teriak? Adek-adek kamu masih tidur!" ucap Darren.
"Bodo amat! Anak bujang jam segini masih tidur! Pantesan aja pada jomblo gak pada punya pacar! Jodoh mereka keburu di patok buaya darat lainnya!" jawab Syaren.
"Sembarangan!" ucap Darren.
"Kamu ngatain adek-adek kamu, emang kamu udah punya pacar?" tanya Alfa memancing, Darren sontak langsung melihat mimik wajah putri sulungnya.
"Dihh ... kepo!" jawab Syaren.
"Udah punya atau belum?" tanya Darren sang ayah.
Syaren melipatkan kedua tangannya di bawah d**a dan menatap kedua pria dewasa di hadapannya itu. "Menurut Papa sama Uncle, Syaren cantik gak?" tanya Syaren.
"Ya cantik lah! Siapa yang bilang kamu jelek? Minta di mutilasi itu orang," ucap Darren.
"Lebay!" ucap Syaren.
"Serius ya, Sya!" ucap Alfa.
"Ini juga serius, sekarang Syaren tanya lagi. Dengan wajah yang cantik ini, menurut Papa sama Uncle, laki-laki bakal ada yang suka atau enggak? Bakal ada yang jatuh dalam pesona kecantikan Syaren gak?" tanya Syaren lagi.
"Harusnya sih ada," jawab Alfa.
"Bukan harusnya! Tapi emang ada! Banyak malah!" ucap Syaren. "Jadi, dengan wajah yang oke ini gak mungkin kan Syaren jomblo? Ya wajahnya standar aja punya pacar. Masa Syaren yang primadona SMA NUSA gak punya pacar."
"Jadi punya?" tanya Darren. "Siapa? Anak mana?"
"Rafael?" tanya Alfa juga.
"What? Siapa? Rafael? Gak salah?" tanya Darren. "Syaren? Kamu sama dia gak pacaran kan? Jangan ngadi-ngadi ya kamu, Sya!"
Syaren sontak langsung menelan mudah. Sudah ia duga kalau ayahnya pasti akan shock dan tidak akan membiarkannya menjalin hubungan lebih dari sekedar persahabatan dengan Rafael.
"Sya? Jawab!" ucap Darren.
"Papa sama Uncle apaan sih? Udah ah! Syaren mau nunggu Rafael di depan!" ucap Syaren berbalik, baru saja mengangkat kaki dan melangkah menginjak lantai sang ayah sudah lebih dulu memanggilnya.
"Syaren? Papa belum selesai ya! Kalau orang tua ngomong bisa gak di denger dulu? Papa kan tadi nanya, minimal jawab dulu! Jangan main pergi, gak sopan itu namanya!" ucap Darren.
"Papa juga gak sopan!"
"Loh? Kok Papa?"
"Iyalah! Papa gak sopan nanyain masalah pribadi sama Syaren. Syaren kan punya privacy yang gak semua orang bisa tau!" ucap Syaren.
"Privacy apa? Kamu anak Papa ya!" ucap Darren.
"Privacy itu milik semua orang, Paa! Meskipun Papa itu ayahnya Syaren, tapi kalau dirasa hal penting itu gak boleh di ketahui dan Syaren ingin privacy Syaren gak di ketahui orang-orang ya harusnya ngerti dong! Termasuk Papa! Papa juga gak boleh kepo!" ucap Syaren.
"Dimana aturannya Papa gak boleh kepo hm?" tanya Darren lagi.
"Ya ampun, ribet banget ngomong sama singa jantan!" gumam Syaren.
"Kenapa diem?" tanya Darren.
"Nih, Syaren kasih contoh," ucap Syaren, ia menatap langit-langit berpikir mencari contoh untuk ia katakan pada ayahnya. "Kalau misalkan nih ya, Papa punya rahasia yang sifatnya privacy banget, hanya Papa yang boleh tau, contohnya Papa selingkuh deh dari Mama, terus Syaren kepo nih sama keprivacy-an Papa, Papa bakalan ngasih tau gak?" tanya Syaren dengan asal memberikan contoh.
"Ya enggak lah, kalau bocor ke Mama kamu kan bisa gawat," jawab Darren to the point.
"Kok kamu jawabnya rada gimana gitu ya?" tanya Alfa pada sang kakak. "Kamu gak beneran selingkuh kan?"
"Jan ngadi-ngadi ya kamu Alfa!" ucap Darren. "Mana berani aku selingkuhin Macan Betina!" jawab Darren, ia lalu menatap putri sulungnya. "Kamu juga! Ngasih contoh yang beneran dikit kenapa! Kalau Mama kamu denger, mulut four G-nya bisa kumat!" ucap Darren.
"Kan cuma contoh, kenapa Papa protes? Kalau gak ngerasa mah ya udah, kalem aja, Pa." ucap Syaren.
"Papa biasa aja tuh, kalem!"
"Kalem apaan? Kamu ngegas itu," ucap Alfa.
"Lahh ... ini kenapa jadi aku yang disudutkan?" tanya Darren menatap Alfa. "Kamu adek aku apa bukan sih? Bukannya tadi kita kompak dan satu tim? Kenapa sekarang kamu malah menyudutkan aku?"
"Apa? Aku gak nyudutin kamu perasaan," ucap Alfa.
"Hayoh ... berantem-berantem dah tuh kakak beradik," gumam Syaren hendak berbalik meninggalkan ayah dan pamannya.
"Loh? Syaren? Mama kira kamu udah berangkat dari tadi," ucap Nadisya tiba-tiba.
"Ya Allah Tuhanku, apa Engkau tidak merestui kencan pertamaku bersama Rafael? Baru saja aku mau melangkah, haelah ...." gumam Syaren.
"Ini kalian lagi apa disini?" tanya Nadisya pada sang suami dan adik iparnya.
"Mereka gangguin Syaren Ma!" adu Syaren.
"Ganggu?" tanya Nadisya.
"Ini Syaren udah mau berangkat, Maa ... Rafael tadi chat Syaren kalau bentar lagi dia udah mau sampe, tapi Papa sama Uncle gangguin Syaren terus, Maa ... kan jadi gak berangkat-berangkat ini, padahal semalem Syaren kan udah izin sama kalian dan kalian semua izinin, terus kok Uncle sama Papa gangguin Syaren terus sih? Kasian Rafael loh, bisa jadi dia udah sampe di depan rumah."
"Kenapa kamu gangguin anak aku? Kan semalem kita udah sepakat izinin dia main sama Rafael," ucap Nadisya.
"Ya aku cuma ... cuma ...."
"Cuma apa hm?" tanya Nadisya.
"Tau nih Papa," ucap Syaren. "Papa udah janji loh Pa kalau Papa gak akan gangguin dan julid lagi sama Rafael, belum ada seminggu masa udah kayak gitu lagi," ucap Syaren.
"Papa gak julid sama dia, Papa cuma penasaran aja, lagian kalau emang itu anak udah sampe depan, kenapa gak masuk aja sih? Kenapa harus di luar? Gak punya nyali, kalau berani masuk dong ke rumah, izin langsung sama Papa, kan enak kalau gitu," ucap Darren.
"Ckk! Rafael tuh bukan gak punya nyali dan bukan gak berani, tapi dia itu gak enak sama Papa, rada segan sama Papa, terus Papa judes! Kalau ngomong juga kadang pedesnya lebih dari cabe!"
"Enak aja. Enggak! Papa gak judes ya! Cuma,-"
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar, semua orang sontak langsung melihat ke arah pintu, seorang pria berusia 17 tahun tengah berdiri disana.
Bersambung