"Ckk! Rafael tuh bukan gak punya nyali dan bukan gak berani, tapi dia itu gak enak sama Papa, rada segan sama Papa, terus Papa juga judes! Kalau ngomong juga kadang pedesnya lebih dari cabe!"
"Enak aja. Enggak! Papa gak judes ya! Cuma,-"
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar, semua orang sontak langsung melihat ke arah pintu, seorang pria berusia 17 tahun tengah berdiri disana.
"Pagi Uncle," salam Rafael masih berada di bibir pintu, tersenyum dengan sangat manis ke arah Syaren dan keluarganya. "Rafa izin masuk boleh?" tanya Rafael.
"Masuk Raf, sini," ucap Nadisya balas tersenyum.
Rafael melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah mendekati Syaren dan keluarganya di ruang tengah.
"Tuh ... dia gentle! Dateng langsung ke rumah dan masuk!" gumam Syaren dengan mata yang mendelik sinis pada ayahnya.
"Cihh!" Darren memalingkan wajah ke arah lain dan tersenyum sinis.
"Udah, kamu kalah telak! Dia berani ternyata" bisik Alfa tepat di telinga sang kakak.
Darren langsung memicingkan mata dan mendelik sinis menatap adiknya. "Bisakah kamu diam?" tanya Darren dengan gigi yang menggertak.
Alfa sontak langsung mengatupkan bibir dan tak lagi berbicara.
"Uncle Ren, Uncel Al, Ateu Disya, Rafa mau izin sama kalian kalau hari ini Rafa mau ajak main Syaren, boleh?" tanya Rafael pada ketiga orang dewasa di depannya itu.
Syaren menatap sang ayah dan tersenyum menang saat Rafael meminta izin. "Dia gentle!" ucap Syaren tanpa suara hanya menggerakkan bibir pada ayahnya. Darren yang melihat hanya diam dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Boleh," ucap Nadisya. "Semalem Syaren udah minta izin kok sama kita dan kita izinin, asal jangan pulang terlalu malem ya. Syaren kan anak perempuan. Gak enak di liat tetangga, masa anak perempuan main dari pagi sampe malem sama laki-laki, walau Ateu percaya kamu gak akan aneh-aneh, tapi apa kata tetangga kan beda lagi," ucap Nadisya.
"Beres, gak akan sampe malem kok, Rafa usahain sebelum maghrib Syaren udah pulang ke rumah," ucap Rafael.
"Oke," ucap Nadisya tersenyum.
"Tunggu dulu," ucap Darren. "Kalian pergi pake apa? Motor?" tanya Darren.
"Hmm?" Rafael menatap ayah dari kekasih sekaligus sahabatnya itu.
"Papa apaan sih?" tanya Syaren.
"Papa kan cuma nanya, Apa yang salah? Perasaan normal-normal aja kalau Papa nanya begitu," ucap Darren.
"Uncle tenang aja, Rafa ke sana pake taksi online kok, Rafa kan gak bisa bawa motor," ucap Rafael seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal dan tersenyum canggung.
"Oh iya ya, aku lupa kalau kamu gak bisa bawa motor," ucap Syaren memegang pundak Rafael dan menatap sang ayah. "Pake mobil, Paaaa ... M-O-mo B-i-bil, MOBIL!" tekan Syaren hingga membuat ayahnya mendelik sinis.
"Cih!" Darren kembali mendecih dan memalingkan wajah ke arah lain kesal.
"Udah kan? Gak akan nanya lagi?" tanya Nadisya.
"Enggak!" jawab Darren dengan nada sinis.
"Ya udah kalian berangkat, nanti keburu macet, apalagi ini weekend, udah pasti bakalan macet," ucap Nadisya.
"Ya udah, Rafa izin bawa Syaren ya," ucap Rafael lagi.
"Iya hati-hati," ucap Nadisya.
"Iya." Rafael meraih telapak tangan Nadisya dan mengecup punggung tangan Nadisya, ia lalu mengulurkan tangannya pada Darren.
"Pa?" Syaren memperingati Ayahnya.
Darren mengulurkan tangan kanannya pada Rafael. "Jagain! Kalau Syaren sampe kenapa-kenapa, abis kamu!" ucap Darren.
"Rafa jamin aman Uncle," ucap Rafael mengecup punggung tangan ayah kekasihnya itu. Rafael lalu melangkah mendekati Alfa dan mengulurkan tangan juga.
"Hati hati ya, kalau ada apa-apa kamu telfon Uncle aja," ucap Alfa seraya menepuk pelan pucuk kepala Rafael saat Rafael mengecup punggung tangannya.
"Iya Uncle, kita berangkat, Assalamualaikum," salam Rafael.
"Waalaikumsalam," jawab Nadisya, Darren dan Alfa.
Syaren berbalik dan berjalan bersamaan dengan Rafael berjalan ke arah pintu, ia menoleh ke arah sang ayah saat sudah di bibir pintu hendak keluar, ia menjulurkan lidahnya pada sang ayah meledek. "Bye bye, wleeee ...."
"Tuh ... kamu liat tuh anak kamu, gak sopan!" ucap Darren pada Nadisya seraya menunjuk ke arah Syaren di bibir pintu.
"Wajar dia begitu. Orang bapaknya juga nyebelin," ucap Nadisya berbalik, melangkah meninggalkan suami dan adik iparnya.
Alfa juga menatap Darren hendak mengucapkan kata-kata. "Kamu,-"
"Apa? Mau ngomong apa hah?" tanya Darren.
"Hmm? Enggak! Aku mau ke kamar! Bye-bye!" ucap Alfa berbalik dan meninggalkan sang kakak.
"Haishh ... kenapa manusia yang ada di rumah ini tidak ada satu pun yang satu kepala denganku!" ucap Darren, ia lalu berjalan ke arah jendela di samping pintu dan membuka gorden mengintip.
Terlihat Syaren dan Rafael yang berjalan seraya bergandengan tangan. "Ya ampun, beraninya dia menyentuh tangan putriku! Dasar buaya empang!" umpat Darren.
Sekarang ia melihat Rafael yang tengah membukakan pintu mobil mempersilahkan Syaren untuk masuk ke dalam mobil.
"YAANG!" teriak Nadisya.
Darren yang tadi membungkuk mengintip itu sontak langsung berdiri tegak dan menoleh. Terlihat sang istri tengah berdiri dengan kedua tangan yang terlipat merapat di bawah d**a.
"A-apa?" tanya Darren.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Nadisya.
"Hm? Enggak, aku lagi gak ngapa-ngapain," jawab Darren.
"Dia udah gede ya, Ren! Biarin dia nikmatin masa remajanya! Kamu gak usah kepo!" ucap Nadisya.
"Gede apa? Dia masih tujuh belas tahun ya!" jawab Darren.
"Iya itu artinya dia udah gede! Dia udah mulai menginjak masa remajanya, jadi biarin dia nikmatin masa remajanya! Selagi dia tidak melakukan hal yang di batas wajar ya udah biarin aja!" ucap Nadisya lagi.
"Aku kan cuma jagain anak aku! Salahnya dimana?"
"Emang gak salah, tapi jangan terlalu berlebihan juga! Syaren sama Rafael itu dari kecil udah sama-sama! Kita juga tau sendiri Rafael dari kecil itu kayak gimana. Dan sejauh ini si Rafael itu juga bawa Syaren ke hal yang positif, jadi jangan berlebihan sama dia! Dia anak baik!" ucap Nadisya.
"Tapi kan bapaknya dia,-"
"Jangan di samain!" sela Nadisya memotong ucapan suaminya. "Aku yakin seratus persen kalau Rafael gak punya sifat yang berani nyakitin hati perempuan! Aku percaya sama didikan Diandra! Lagian Si Rafli udah tobat ya! Dia udah gak pernah macem-macem lagi!"
"Tapi kan, Yaang, aku sebagai ayah cuma,-"
"Stop ya, Ren! Jangan buat aku darah tinggi." sela Nadisya lagi. "Dari pada kamu ngajak aku debat kaya begini, mending bantuin aku beres-beres kamar. Aku mau ubah posisi lemari! Ayok! Bantuin aku geser lemari!" ucap Nadisya berbalik dan berjalan ke arah tangga.
"Ran Ren Ran Ren! Aku suamimu Nadisya! Tak bisakah lebih lembut sedikit saja padaku hmm? Dasar macan!" gumam Darren.
"Gak usah bergumam! Kuping aku masih sehat ya!" ucap Nadisya setengah berteriak dari tangga.
"Ya ampun ...." Darren melangkahkan kaki berjalan ke arah tangga mengikuti langkah istrinya yang berjalan ke arah kamar.
Bersambung