Wleeee
Syaren menjulurkan lidah pada Sang Ayah saat sudah berada di bibir pintu. Terlihat mata Sang Ayah yang menyipit dan mendelik, menatapnya dengan tatapan tajam.
Pffttt
Syaren tertawa pelan.
"Gak baik ngeledek orang tua kayak begitu," ucap Rafael.
"Biarin aja, abis Papa aku nyebelin," jawab Syaren.
"Udah ayo, mumpung masih pagi, nanti keburu macet," ucap Rafael.
"Iya ayok," jawab Syaren.
Klak
Syaren menutup pintu rumahnya dan berjalan di samping Rafael.
"Rafa?" panggil Syaren seraya mengarahkan telapak tangannya pada Rafael
"Hm?" Rafael yang mengerti saat Syaren memperlihatkan telapak tangannya sontak langsung melihat ke arah pintu rumah Syaren. "Nanti papa kamu ngamuk gimana?" tanya Rafael.
"Enggak! Aku jamin aman, kan ada mama sama uncle yang belain kita, aku jamin seratus persen mereka berada di pihak kita, cuma papa doang ini kok yang heboh sendiri, dia emang lebay," ucap Syaren.
"Ckk! Dasar! Gitu-gitu dia papa kamu ya! Gak baik ngatain orang tua kayak begitu," ucap Rafael.
"Aku gak ngatain, tapi emang nyatanya papa aku emang begitu," ucap Syaren. "Udah ... cepetan! Genggam tangan aku!" pinta Syaren lagi.
Rafael tersenyum dan menyatukan telapak tangannya dengan telapak tangan Syaren.
"Ayok." ucap Syaren yang di balas anggukan oleh kekasihnya, ia dan Rafael kembali berjalan lagi ke arah pintu pagar, menuju mobil taksi online.
Tap tap tap
Rafael membuka pintu mobil dan mempersilahkan Syaren untuk masuk terlebih dahulu lalu setelahnya ia yang masuk.
Klak.
Rafael menutup pintu mobil. "Ayok, Pak. Jalan," ucap Rafael.
Supir taksi itu melihat Rafael dari kaca spion depan mobil yang mengarah ke belakang dan mengangguk pelan pada Rafael lalu mulai menyalakan mesin dan melajukan mobil dengan kecepatan normal.
Rafael merogoh saku celananya mengambil handphone dan membuka akun i********:. Sedang Syaren, ia mengerucutkan bibir kesal saat melihat Rafael yang malah asik dengan handphonenya di banding mengajaknya mengobrol.
Syaren lalu menekan-nekan paha Rafael dengan jari telunjuknya.
Rafael sontak langsung menoleh menatap Syaren. "Apa Sayang?" tanya Rafael.
Syaren melihat ke arah telapak tangannya yang ia taruh di atas paha Rafael, memberi isyarat lagi pada Rafael untuk menggenggamnya.
Rafael tersenyum dan langsung menggenggam telapak tangan Syaren. "Gemeesshh ...." Rafael memegang gemas pipi Syaren dengan tangan kirinya seperti ia memegang squishy.
Syaren tersenyum saat Rafael menggenggam tangannya, entah mengapa hatinya jauh lebih tenang saat Rafael menggenggam tangannya. Ia merasa pria di sampingnya itu telah menjadi miliknya saat ia berhasil menggenggam tangan itu, tergenggam bukan atas nama persahabatan tapi lebih dari sekedar itu.
"Hari ini aku duniamu, jadi jangan sibuk dengan handphone! Fokus padaku!" ucap Syaren, ia mengambil handphone Rafael. "Aku sita handphone kamu hari ini, nanti pas pulang aku balikin lagi," ucap Syaren.
"Hm?" Rafael mengerutkan alis.
"Kenapa? Mau protes? Mau bilang aku posesif?" tanya Syaren.
"Enggak, aku seneng kamu kaya gini, itu artinya memperlihatkan kalau rasa aku sama aku gak bertepuk sebelah tangan," ucap Rafael.
Cup
Rafael mengecup punggung tangan Syaren yang ia genggam.
"Ihh!"
"Apa?" tanya Rafael.
Syaren melirik ke arah supir taksi.
"Biarin aja kenapa!"
"Malu!" ucap Syaren.
"Bodo amat! Kita kan gak bisa kaya gini tiap hari! Apa salahnya?" Rafael menaruh kepalanya di bahu Syaren dan bersandar nyaman.
***
Rafael turun dari mobil dan memberikan ongkos pada supir taksi. Ia memberikan telapak tangannya pada Syaren agar Syaren menggenggamnya dan turun dari mobil. "Ayok ... turun," ucap Rafael.
Syaren meraih telapak tangan Rafael dan turun dari mobil.
Klak
Rafael menutup pintu mobil setelah Syaren turun dari mobil.
"Kok turun di sini? Dufannya kan masih lumayan jauh dari sini," ucap Syaren.
"Kita jalan-jalan dulu sebentar, cari sarapan," ucap Rafael.
"Kamu belum sarapan?" tanya Syaren.
Rafael langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Gak sempet sarapan, aku pikir bakalan macet, tapi ternyata gak terlalu macet jalanannya," ucap Rafael.
"Ckk! Gak macet karena kita berangkatnya kepagian," ucap Syaren. "Harusnya tadi kamu bilang kalau belum sarapan, kan bisa sarapan dulu di rumah akum"
"Sarapan? Di rumah kamu? Emang yakin bakalan di bolehin sama papa kamu?" tanya Rafael.
"Kan ada mama, papa aku takut tau sama mama," ucap Syaren. "Papa aku sama Uncle Al, pada takut sama istri! Nih ya, kalau mereka berantem beradu beragumen, terus Anty Sherly atau Mama langsung natap mereka, Papa sama Uncle langsung diem, mereka gak ngomong lagi, langsung kalah," ucap Syaren. "Aku juga gak paham kenapa, the power of emak-emak kali ya?"
"Nanti kalau aku jadi suami kamu, aku bakalan kaya mereka juga enggak ya?"
Syaren sontak langsung menoleh menatap Rafael.
"Kenapa?" tanya Rafael saat Syaren menatapnya.
"Pemikiran kamu terlalu jauh!" ucap Syaren.
"Masa depan itu harus di pikirkan dari jauh-jauh hari, jadi aku mulai mikirin nih dari sekarang bagaimana dengan masa depan kita nanti," ucap Rafael.
"Dihh ...."
"Kenapa? Kamu gak mau jadi istri aku?" tanya Rafael.
"Ya mau, tapi masih jauh! Kita baru mau ujian! SMA aja belum lulus, belum kuliah, masa udah berpikir kesana," ucap Syaren.
"Kan aku bilang masa depan itu harus kita pikirkan dari jauh-jauh hari," ucap Rafael. "udah ah! Malah ngajak debat, ayo!" ucap Rafael melangkah kaki.
Syaren mengerutkan alis saat Rafael yang malah meninggalkannya. "Rafaaaaaa ...." teriak Syaren memanggil.
Rafael sontak langsung menoleh menatap Syaren yang masih berdiri tegak bukan menghampirinya.
"Ayok, ngapain disitu?" tanya Rafael.
"Gandeeeeeng," ucap Syaren mengarahkan tangan kanannya meminta Rafael untuk menggenggamnya.
Pfftt
Rafael tertawa pelan. "Dasar!" ucap Rafael kembali berjalan mendekati Syaren, ia menggenggam tangan kanan Syaren dan berjalan menyusuri jalan, mereka berjalan di atas trotoar yang di samping kanannya terdapat beberapa toko.
Rafael melihat ke arah kanan, melihat beberapa toko baju, aksesoris dan beberapa toko lainnya. Matanya lalu tertuju ke satu toko aksesoris di sampingnya. Ia berpikir untuk membelikan Syaren sesuatu yang akan dapat mereka kenang nanti.
"Mau sarapan apa?" tanya Syaren.
"Hm?"
"Mau sarapan apa?" tanya Syaren lagi.
"Enggak deh, nanti aja. Kita masuk dulu ke sini, oke?" Rafael melirik ke arah toko di sebelahnya.
"Ngapain?" tanya Syaren.
"Liat-liat aja dulu, siapa tau ada yang cocok kan?" Rafael menarik pelan tangan Syaren dan masuk ke dalam toko aksesoris.
Tap tap tap
"Ngapain sih? Katanya laper, kalau laper cari makanan, Raf. Bukan masuk ke toko aksesoris," ucap Syaren pada Rafael yang tengah asyik melihat jepitan di atas meja.
"Ya nanti kita cari makan Sayang, lapar di perut aku bisa aku tahan, sekarang aku mau nyenengin hati pacar aku dulu," ucap Rafael seraya mengambil jepitan pita dari kain fanel berwarna biru, ia memasangkan di rambut Syaren.
Degh!
Syaren memejamkan mata saat Rafael memasangkan jepit pita di rambutnya. jantungnya mulai berdetak tak menentu saat jaraknya dengan jarak Rafael hanya beberapa senti.
"Hmmm ... kyeopta," ucap Rafael saat setelah memasangkan jepit itu di rambut Syaren. (Lucu)
Syaren membuka mata dan memegang jepit rambut di kepalanya. "Kayak anak SD!" ucap Syaren.
"Lucu Sayang, kamu makin cantik dan keliatan imut tau pakek itu," ucap Rafael. "Hm ... atau mau pake model lain?" tanya Rafael kembali melihat ke arah beberapa model jepit di atas meja. "Mau apa? Lebah?" tanya Rafael. "Hmm ... enggak deh, jelek! Apa ya? Atau ini? Kupu-kupu?" tanya Rafael memberikan jepit dengan model kupu-kupu pada Syaren.
"Enggak ah, jelek! Yang ini aja, pilihan pertama kamu," ucap Syaren tersenyum seraya memegang jepit di kepalanya.
"Oke," jawab Rafael tersenyum, "Sekarang kita cari apa ya? Yang buat couple-an." ucap Rafael kembali menarik tangan Syaren.
Mereka berjalan seraya melihat ke arah kanan dan kiri.
"Aku mau pake bando," ucap Syaren saat melihat beberapa model bando di samping kanannya.
"Mau yang mana?" tanya Rafael.
Syaren mengambil bando karakter dengan model kucing yang terdapat telinga kucing di atasnya, ia lalu memasangkannya di atas kepala Rafael. "Uwuu ... kyeopta," ucap Syaren.
"Masa aku yang pake," ucap Rafael.
"Kan biar couple-an Raf," ucap Syaren.
"Tapi aku kan laki-laki," jawab Rafael.
"Ya emang kalau laki-laki terus kenapa?" tanya Syaren. "lagian apa susahnya sih nyenengin aku. cuma sehari doang Raf. Gak sehari malah, paling cuma beberapa jam," ucap Syaren dengan bibir yang mengerucut dan wajah yang di buat-buat sedih hingga membuat Rafael yang melihatnya iba.
"Ya udah oke, aku pake!" ucap Rafael.
"Nah gitu dong," ucap Syaren tersenyum. "Kamu kucing, aku kelinci, biar nanti kalau bosen kita bisa tukeran," ucap Syaren.
"Iya, yang penting kamu seneng," ucap Rafael.
"Hmm ... gemesshh," ucap Syaren seraya mencubit pipi Rafael.
"Terus? Mau apa lagi?" tanya Rafael.
"Udah deh cukup," ucap Syaren.
"Ya udah, kamu bawa barang yang mau beli ke kasir, aku kesana sebentar, ada yang mau aku ambil dan beli." ucap Rafael melirik ke arah kanan, "gak lama kok, tunggu aja sebentar, nanti aku yang bayar."
"Ya udah, aku tunggu di kasir ya?"
Rafael tersenyum dan mengangguk. "Iya, tunggu aja, gak akan lama kok, ambil barang doang," ucap Rafael, ia mengelus pelan kepala Syaren.
"Ya udah," ucap Syaren berbalik dan berjalan ke arah kasir seraya membawa beberapa barang yang sudah ia pilih untuk di bayar sedang Rafael berjalan ke arah kanan hendak mengambil barang yang sejak tadi ingin sekali ia beli.
Bersambung