"Oma, berapa uang yang harus aku bayar?" tanya Gania kepada Oma Ramon yang sudah selesai memasang tato di masing masing bagian tubuh Luna dan Nara. Gania pun membuka tasnya dan bermaksud untuk mengeluarkan beberapa lembar uang untuk diberikan kepada Oma Ramon.
Oma Ramon tertawa, begitupun dengan keempat temannya. Gania berpikir bahwa pertanyaannya itu tidak mengandung unsur lelucon, tapi kenapa mereka malah tertawa?
"Nak, di sini uang tidak berlaku. Kami melakukan barter dengan barang lain ataupun dengan jasa." jelas Oma Ramon membuat Gania mengangguk dengan kepala tertunduk malu.
"Jadi, apa yang harus saya bayar oma?" tanya Gania setelahnya. Terlihat Oma Ramon sedang berpikir sebentar memikirkan bayaran apa yang pantas didapatkan anak anak perempuan yang sudah menginginkan tatonya.
"Baiklah, tolong kamu berikan ini kepada Tuan Guru Raka." perintah Oma Ramon kepada Gania setelah ia mengambil sebuah buku tua bersampul dari kulit hewan yang berwarna cokelat tua dari bawah meja.
Gania tertegun sejenak, lalu sedikit ragu mengangguk dan menerima buku yang terasa kasar di tangannya itu.
'Kenapa aku harus di hadapkan lagi dengan laki-laki mengerikan itu?' tanya Gania dalam hatinya dengan gusar. Ia hendak membuka sampul buku itu, namun dengan segera Oma Ramon melarangnya dan menyuruh Gania untuk menyimpan buku itu di dalam tas kecil yang dibawanya.
Gania pun memilih menuruti dan melihat ke arah Luna dan Nara yang juga sedang dipintai pertolongan setelah jasanya membuatkan tato selesai.
"Oma, aku punya gula gula, mau?" tawar Nara seakan sedang menyuap Oma Ramon agar tidak memerintahnya.
"Baiklah baiklah, kemarikan." pinta Oma Ramon yang langsung disambut pekikan senang Nara. Tangan lentiknya itu langsung merogoh saku bajunya guna mengeluarkan gula gula berbungkus plastik bening yang terlihat begitu banyak dan warna warni.
"Sudah sudah, jangan terlalu banyak. Aku tidak ingin gigiku semakin keropos, aku masih ingin menikmati jagung bakar tanpa kesulitan untuk mengunyahnya." ucap Oma Ramon seraya tertawa membuat semua anak anak perempuan itu ikut tertawa.
"Oma, apa pekerjaan yang akan diberikan Oma Ramon kepada Luna sebagai imbalan membuat tato?" tanya Luna setelah Gania dan Nara sudah menyelesaikan transaksi barternya.
"Ah, kamu bisa serahkan pupuk ini kepada Tuan Tanah Arka." perintah Oma Ramon itu langsung membuat Luna tersenyum malu dan menyembunyikan wajahnya yang sudah merona membuat Gania bertanya tanya kenapa Luna seperti itu.
Gania tahu siapa Arka, dia yang tadi pagi berkunjung ke rumah kakeknya bersama Tuan Roey dan juga Raka.
Dua hal yang baru Gania tahu. Yang pertama adalah bahwa Arkan adalah tuan tanah di sini,tentu dengan perkataan Oma Ramon barusan saja Gania sudah mengerti ditambah lagi tadi pagi saat laki laki itu berkata bahwa ia pamit pergi ke kebun pertanda bahwa ia akan pergi berkebun.
Yang kedua, Gania baru tahu bahwa Raka, manusia yang sangat menakutkan baginya itu merupakan seorang guru, ia baru menyadari barusan saat mengingat tadi pagi kakeknya beserta Tuan Roey berbincang mengenai persoalan sekolah barunya itu mengikut campurkan Raka di dalamnya.
'Apa nanti ia juga akan menjadi guru bagiku? Astaga, bagaimana bisa?' Batin Gania berteriak tak terima jika kemungkinan Raka akan menjadi gurunya nanti di sekolah barunya.
Gania tersadar dari keterdiamannya saat Luna menepuk bahunya dan mengajaknya untuk meninggalkan toko Oma Ramon.
Gania pun bangkit dan mengikuti teman temannya setelah ia mengucapkan kata terima kasih dan akan memenuhi permintaan Oma Ramon itu.
*****
Siang ini Raka pergi ke gedung sekolah untuk memeriksa bagian dari beberapa catatan siswa yang belum ia periksa sepenuhnya dan juga untuk mengurus kepindahan seorang siswi baru yang berasal dari luar wilayah Desa Wania, siapa lagi jika bukan Gania Ayu Giyanti.
Meskipun sedikit enggan, Raka harus mengerjakannya dengan sendirian karena itu sudah menjadi tugasnya sebagai seorang pengajar.
Raka mendesah pelan lalu mulai fokus memeriksa lembaran lembaran kertas secara manual, karena tentu sekolah di desa ini tidak memiliki fasilitas berbagai barang elektronik seperti di sekolah lainnya yang lebih modern.
Mereka semua masih menjalani kehidupan sederhana tanpa memasukkan unsur modern di dalamnya. Untuk itulah bagi orang yang tidak tahan hidup di Desa Wania dan berkhianat, mereka dengan sendirinya akan mengurus kepindahannya ke kota yang tentu jauh lebih modern ketimbang hidup di Desa Wania.
Raka mengamati sebuah lembar berisi biodata seorang gadis, Gania Ayu Gyanti. Tidak ada foto yang tertera di sana, tapi Raka cukup mengingat bagaimana wajah yang selalu disembunyikan pemiliknya dari jangkauan pandangannya. Entah apa maksud dari gadis itu, apa dirinya benar benar takut untuk sekedar menatap kepadanya? Benar benar konyol.
Rangga menggeleng kepala, kenapa dirinya kembali memikirkan gadis itu? Sudah cukup telinganya terganggu akibat suara gaduh yang akhir akhir ini hinggap di telinganya, apalagi saat dirinya sedang berjalan menuju sekolah. Dan kini, jangan sampai pikirannya juga terjerat dalam bayangan anak gadis itu.
Raka mencoba fokus, namun dengungan di telinganya kini mengganggu. Suara teriakan yang sangat keras begitu menyakitkan pendengaran Raka hingga ia tiba tiba merasakan pusing di kepala. Padahal Raka tahu bahwa di ruangannya kini berada sangat sepi dan tidak ada seorangpun selain dirinya.
"s****n gadis itu." gumam Raka seraya menutup ke dua lubang telinganya berharap suara suara itu hilang dari pendengarnnya. Ia cukup mengenali suara serta teriakan yang sangat menyakiti gendang telinganya itu.
Namun suara itu tidak juga hilang, suara itu masih ada meskipun frekuensinya tidak tetap. Kadang berteriak keras, kadang tertawa, kadang memekik pelan, dan lain sebagainya sehingga Raka tidak terlalu bisa mengartikan keadaan itu.
Namun yang bisa Raka pastikan bahwa gadis itu sedang berada di pasar karena Gania berkali kali mengatakan nama seorang tukang mainan yang cukup ia kenal.
Dengan terhuyung Raka mulai bangkit dan berniat menghampiri Gania yang mungkin sedang asik bermain itu. Sekedar mengingatkan dan mengancam agar ia tak terlalu berisik dan mengganggu dirinya.
*****
"Aku tidak menyangka jika disini ada wahana bermain seperti ini." ucap Gania takjub dengan pemandangan di depannya. Berbagai wahana permainan yang ada seperti di kotanya benar benar ada di desa kecil seperti ini. Namun tentunya lebih sederhana dan manual dari yang Gania pikirkan.
Terdapat bianglala mini, ontang anting, permainan bola, dan masih ada beberapa lagi membuat Gania merasakan rindu kepada kotanya meskipun baru beberapa jam ia tinggalkan. Namun satu kenyataan bahwa ia tak akan kembali ke kotanya untuk beberapa waktu yang lama membuat Gania merasa sedih dan ingin ikut lagi bersama orang tuanya untuk pulang ke rumah.
"Biasanya kalau malam lebih ramai, bianglala juga dihidupkannya saat malam hari, jadi kurang seru kalau kita mainnya di siang hari." ujar Wendi seraya melihat lihat suasana area permainan.
“Kita juga bisa melihat lampu lampu dari gedung tinggi yang ada di negeri seberang.” pekik Tera seraya menunjuk ke arah bianglala yang belum dihidupkan.
"Benarkah? Kalau begitu kita main permainan yang biasa saja dulu, nanti malam kita bisa kesini lagi untuk naik bianglala." ungkap Gania dengan sama antusiasnya dan langsung disetujui oleh semua teman temannya itu. Mereka pun sedikit berpencar namun tak terlalu jauh untuk mendatangi beberapa stand permainan.
Gania bersama Nera pergi ke arena permainan melempar kaleng dan berlanjut ke arena permainan yang lain, silih berganti memaikan permainan dengan teman temannya. Tampak Gania sangat menikmati bersama teman barunya hingga tak sadar mereka berlima telah membuat keriuhan di sekitar pasar dan juga ketersiksaan yang dirasakan oleh Raka yang diakibatkan oleh Gania sendiri.
*****
Mata Raka mengedar ke setiap penjuru pasar dan menemukan sosok Gania di tempat penjualan gula gula bersama teman teman perempuannya.
Raka langsung saja menghampiri Gania dan menyeret lengan mungil itu tanpa bicara sedikitpun membuat Gania dan teman temannya tiba tiba memekik kaget.
"Tolo .. ng," Gania hampir saja berteriak meminta tolong sebelum Raka menampilkan dirinya di hadapan Gania dengan wajah garangnya.
Gania terdiam seketika, apalagi saat menyadari keadaannya yang kini sedang terhimpit antara dinding pagar pembatas dengan tubuh Raka.
Gania sedikit khawatir dengan apa yang akan dilakukan Raka setelah membawanya ke tempat sepi dan sedikit gelap itu. Pikiran berkecamuk pun sempat menghampiri Gania, namun segera dienyahkannya karena hal itu akan semakin menambah ketakutannya.
Gania melirik diam diam ke arah wajah Raka karena untuk beberapa saat Gania tidak mendengar suara apapun melainkan dari suara nafas Raka yang memburu.
"Aa-ada apa?" tanya Gania benar benar gugup.
Kedua tangannya tanpa sadar sudah ia remas dengan gelisah saat kedua tangan Raka dilentangkan memanjang untuk mengunci Gania di kedua samping tubuhnya.
"Kamu, apa kamu bisa untuk tidak berteriak terlalu keras?" tanya Raka yang masih terengah karena dirinya begitu emosi dan kesal dengan keadaan dirinya sekarang.
Gania mengernyit heran, kenapa laki laki itu tiba tiba saja bertanya seperti itu?
"Aaku rasa aku tidak mengganggumu." kilah Gania seraya melepaskan kedua tangan Raka dari sisi sisi tubuhnya. Namun dengan tenaga Raka yang kuat, tangan itu tak bergerak sedikitpun dari sisi Gania.
"Jelas kamu menggangguku! Kamu tahu, telingaku terasa sakit saat mendengar kamu berteriak terus menerus sedari tadi! Kamu membuatku tidak menyelesaikan pekerjaannku!" Raka tidak menyadari pula bahwa ia juga berteriak kepada Gania.
Gania memandang Raka takut, laki laki di didekatnya ini lebih menyeramkan melebihi saat pagi hari tadi. "Mmemangnya kamu sedang dimana?"
"Kamu jangan terlalu banyak tanya! Yang terpenting saat ini kamu jangan terlalu banyak mengeluarkan suara keras. Lebih baik lagi jika kamu tidak bersuara sedikitpun."
"Kenapa bisa begitu?! Aku berbicara karena aku mampu dan mempunyai hak!" sergah Gania yang tidak bisa diperlakukan seenaknya oleh Raka. Apalagi laki laki itu melarang dirinya untuk tidak bersuara, yang benar saja.
"s**l, jangan berteriak bodoh! Telingaku berdengung sakit sekali." gertak Raka dengan sebelah tangan mulai terangkat menutup sebelah telinganya.
"Sebaiknya kamu perikasakan telinga kamu ke dokter." titah Gania seraya melepaskan sebelah tangan Raka yang kembali bertumpu di dinding.
"Tidak, ini bukan penyakit yang bisa dokter sembuhkan." Raka memberikan jarak kelonggaran bagi Gania, ia tak lagi mengukung Gania di dinding sempit itu.
Gania bersedekap, takut jika Raka melakukan sesuatu yang tak diduganya. "Kalau begitu kamu bisa tuli selamanya."
"Maka dari itu kamu jangan banyak bicara! Itu sangat menggangguku."
"Perilakumu juga sangat menggangguku!" ucapan Gania benar benar terdengar sedang menantang, menantang kemarahan dari seorang Raka Ankara!
"Baiklah, aku sedikit mengalah. Tolong, jangan terlalu keras dalam bicara, telingaku sangat sensitif mendengar suara seperti itu." Perkataan Raka sedikit melembut dan tidak sekasar tadi. Ia mencoba mengalah dan bersikap begitu lembut kepada Gadis keras kepala di hadapannya.
"Itu sangat tidak masuk akal. Lagi pula tadi kita berjauhan. Tidak mungkin kamu mendengar suara ataupun teriakanku. Kamu sedang mengada-ngada, kan?" Gania menuduh, tidak benar bukan jika ia langsung saja percaya dengan apa yang dikatakan laki laki itu padanya?
"Tidak!" Raka membantah dengan suara geraman yang sangat tidak bagus Gania dengar.
"Tapi kenapa bisa kamu mendengar suaraku jika jaraknya saja lebih dari satu kilo meter?!" tanya Gania menginginkan sebuah bukti akan perkataan laki laki itu.
"Kamu tidak merasakannya." geram Raka yang sudah kehabisan rasa sabar.
"Karena kamu hanya mengada ngada!" teriak Gania saat Raka mulai membalikkan badan, merasa pembicaraan itu tak akan berujung jika keduanya saling membantah tak mau mengalah.
Raka terhuyung kembali, frekuensi suaranya lebih cepat dan keras dari yang pernah Raka rasakan. Kedua tangannya sibuk menutup telinga serta kepalanya yang tiba tiba saja pusing.
Gania bingung, kenapa laki laki itu bertingkah seperti kesakitan? Apa perkataan laki laki itu benar adanya? Jika iya, Gania benar benar tidak tahu harus bagaimana. Apakah ia harus membungkam mulut dan menjadi orang bisu saja? Tidak tidak, itu ide yang sangat buruk.
Dengan sedikit ragu Gania menghampiri Raka yang berdiri membelakanginya. Gania lalu menyentuh pundak Raka agar ia bisa melihat keadaan Raka saat ini.
Raka tidak merespon sentuhannya, Gania pun bergerak menghadap Raka yang masih menunjukan kesakitannya.
"Kamu, baik baik saja bukan?" tanya Gania hati hati.
Rangga menggelengkan kepala meskipun matanya masib terpejam dan sesekali mengernyit saat denyutan kembali menjalar dari telinga ke kepalanya.
Gania menarik lengan laki laki itu ke belakanh dan menyuruhnya duduk menyandar di dinding pagar. Gania ikut duduk, terdiam tak tahu harus bagaimana. Mungkin Gania orang terbodoh dengan membiarkan orang yang sedang kesakitan di sampingnya tanpa melakukan apa apa.
Hingga beberapa menit kemudian laki laki itu bangkit, karena rasa sakit yang sepertinya sudah menghilang. Gania terperanjat dan ikut berdiri seketika sehingga tubuhnya sedikit melimbung.
Setelahnya laki laki itu berjalan pergi meninggalkan Gania tanpa mengucapkan sepatah kata-pun membuat Gania melongo dan teringat sesuatu.
Dicegahnya laki laki itu dengan kembali menarik lengannya. Dengan tatapan tajamnya Raka menatap Gania yang langsung melepaskan cekalan tangannya.
Tanpa menunggu lama lagi Gania segera mengambil tas kecilnya dan mengeluarkan sesuatu yang harus diberikan kepada laki laki itu.
Sebuah buku diberikannya kepada Raka sesuai dengan amanah dari Oma Ramon sudah tersampaikan dengan begitu tepat.
Raka menatap buku itu dengan lekat tanpa mau menerimanya. Gania pun menjelaskan dengan tergagap, "Ooma Ramon yang menyuruhku untuk memberikannya kepadamu. B-bukankah sebutan nama kamu Ttuan Guru Raka?"
Tanpa menjawab apapun Raka langsung mengambil buku di tangan Gania dan kembali bersiap pergi meninggalkan gadis itu.
Namun dengan segera pula Gania kembali mencegahnya membuat Raka menggeram tertahan dan sedikit membentak, "Apa mau kamu?!"
Gania lagi lagi terperanjat, ia semakin takut untuk melihat wajah yang sudah mengetat dengan amarah.
Gania kembali mengaduk isi tas kecilnya, mencari sesuatu yang dirasa berguna bagi dirinya dan laki laki itu.
"Iini, m-mmungkin ini berguna dan dapat menghalau suara suara aneh yang sekiranya mengganggu kamu." ujar Gania dengan tangan yang menunjukkan sebuah benda yang begitu kecil melengkung.
Raka menatapnya sedikit penasaran, baru kali ini ia melihat barang modern yang lebih kecil. 'Mereka ternyata sudah lebih canggih dari pada yang kupikirkan.'
"Kamu bisa memakainya dan menghalau suara yang mengganggumu." Gania menyerahkan sebuah earphone ke hadapan Raka lebih dekat. Namun Raka tetap diam tak bergeming menatap benda itu.
Beranggapan bahwa Raka tidak mengerti, lalu Gania berjinjit dan memasangkan benda itu di telinga kanan Raka. Cukup susah bagi Gania karena postur tubuh yang lebih pendek dari tubuh jangkung Raka. Namun benda itu kini sudah terpasang di telinga kanan laki laki itu.
"Kamu bisa mendengarkan musik jika kamu menekan tombol di sana." tunjuk Gania ke arah telinga yang sudah terpasang earphone itu.
Raka meraba dengan pelan benda yang sudah menempel di telinganya. Kemudian ia menemukan sebuah tombol samar dan ia pun menekannya.
Bibir Raka samar samar sedikit terangkat ke atas dengan tatapan tajam ke arah Gania. "Kenapa harus musik yang terdengar menggelikan ini?" tanya Raka setelah kembali mematikan musik tersebut.
"Iitu musik pengantar tidurku, dan memang hanya musik itu yang terdapat di dalam benda itu." jelas Gania takut.
Terlihat Raka menghela nafas lalu mengangkat buku pemberian Oma Ramon, "Terima kasih." Setelahnya Raka berlalu begitu saja bersamaan dengan benda yang dianggapnya sudah Gania berikan kepadanya.
"Kamu tidak juga berterima kasih soal benda itu?" tanya Gania sedikit takut, tapi segera ditepisnya karena ia merasa tidak adil dengan respon Raka dengan benda pemberiannya.
"Aku anggap ini sebagai balasan atas terganggunya telingaku karena suara bising kamu."
Raka pergi dengan gaya angkuhnya membuat Gania mencebik dan mengeluarkan sumpah serapahnya. "Menyebalkan!"
"Aku masih mendengarnya." teriak Raka tanpa menghentikan langkahnya ataupun menoleh ke belakang saat dirinya mulai mendekati keramaian pasar.
Gania menghela nafas lelah, sepertinya ia benar benar harus mengunci mulutnya agar semua perkataannya tidak didengar oleh laki laki menyebalkan itu.
“Kenapa Tuan Guru membawamu? Apa kalian saling mengenal?” tanya Luna dengan tatapan menyelidik, dan juga diiringi dengan tatapan teman teman lainnya.
Gania yang baru saja mendekati teman temannya di depan kedai minuman langsung diberikan beberapa pertanyaan dan tatapan yang menginginkan sebuah penjelasan, membuatnya sedikit tak nyaman dan gugup seketika.
“Aku yang hidup belasan tahun satu desa dengannya ditambah sebagai muridnya bertahun tahun malah tidak pernah disapa olehnya, apalagi berbincang dengan akrab. Tapi kamu tadi kelihatannya sedang berbicara denga dia.” seloroh Nara yang tengah duduk di kursi dengan wajah ditekuk. Ketiga anak perempuan di sebelahnya ikut mengangguk, membenarkan perkataan Nara mengenai interaksinya bersama salah satu guru di sekolah.
Gania menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal, dirinya meringis sembari menjelaskan kejadian tadi dengan sedikit kebohongan, “dia tetanggaku, dan aku kan dititipkan buku oleh Oma Ramon untuk diberikan kepada Raka.”
“Hei, tidak sopan sekali kamu memanggil beliau hanya dengan nama saja!” teriak Wendi membuat orang orang di sekitar melirik ke arah sekumpulan anak perempuan itu.
Gania berdiri dengan gelagapan karena melakukan sebuah kesalahan, ia pun segera meminta maaf, “Aku tidak tahu, maafkan aku. Ya begitulah, Ttuan Guru hanya meminta buku dari Oma Ramon.”
Mekera semua mengangguk, namun Luna segera sadar dengan perkataan Gania tadi. “Tunggu, kamu dan Tuan guru bertetangga? Memangnya dimana rumah kamu?”
“Aku sekarang tinggal di rumah kakekku, Kakek Danu.” jelas Gania sembari mengenalkan nama kakkeknya.
“Tuan Desa maksud kamu? Kamu anaknya Tuan Desa?” tanya Wendi dengan semangat. Gania hendak menjawab, namun segera disela oleh Tera yang berdiri dan merangkul Gania dengan kaki berjinjit, “Mana mungkin anaknya masih terlihat kecil seperti kita, dia ini pasti cicitnya bukan?” ucap dan tanya Tera dengan penuh keyakinan.
Gania tertawa pelan, membuat teman temannya itu diam dan menunggu jawabannya dengan serius. “Bukan, aku cucunya dan beliau masih belum punya cicit.” ucap Gania setelah tawanya mereda.
Keempat teman perempuannya itu mengangguk dengan kenyataan sedikit ketidak percayaannya karena sosok di hadapan mereka adalah salah satu dari keluarga Tuan Desa yang mereka segani.
“Hei, bagaimana kalau kita berkelilingi lagi?” ajak Gania sedikit canggung setelah beberapa saat mereka terdiam.
Mereka semua mengangguk dan satu persatu berdiri di hadapan Gania, Gania pun menarik lengan Luna dan mengajak mereka untuk berjalan bersisian. Namun nampaknya mereka melambatkan gerakannya sehingga Gania berjalan di depan dengan Luna yang tengah diseretnya dan ketiga lainnya mengikuti di belakang.
Gania menoleh tersenyum dan kembali mengajak mereka agar bercanda ria seperti tadi, namun sepertinya mereka telah berubah banyak, dari yang cerewet dan berisik, kini menjadi banyak diam membisu dan menjaga sikap terhadap Gania.
“Kenapa dengan kalian semua? Ayo kita berkeliling bersama.” ajak Gania dengan bersemangat, mengabaikan wajah teman temannya yang saling memperhatikan satu sama lain.
******
Raka mengamati benda kecil di tangannya. Sebuah benda pemberian gadis yang baru menjadi warga masyarakaat Desa, meskipun dari dulu ia adalah anggota keluarga dari pemimpin desanya. Namun nyatanya Gania baru beberapa jam ia dianggap telah menjadi bagian dari Desa Wania.
Suara serangga malam yang bersahutan membuat malam di tempatnya tak begitu sunyi, hembusan angin masih terasa dari balik jendela yang terbuka. Penerangan lilin lilin kecil tentu tak mengurangi kapasitas penglihatan matanya untuk memperhatikan benda mungil itu, apalagi cahaya bulan purnama masih memperlihatkan bulatan cahayanya yang bersinar.
Raka menghela nafas lega, setidaknya dengan alat ini ia tak terlalu mendengar suara suara yang ditimbulkan gadis itu. Ya meskipun suara musiknya bukan salah satu music yang ia sukai.
Raka memasangkan kembali benda itu ke telinga kanannya dan menekan tombol pemutar suara, terdengar suara lantunan seorang wanita yang sangat merdu membuat Raka mau tak mau mengaku bahwa ia sedikit lebih tenang saat mendengar suara itu.
I know, you belong to somebody new
But tonight you belong to me
Although, we’re apart you’re part of my heart
And tonight you belong to me
Raka terus saja meresapi tiap bait lagu hingga ia mengingat perkataan gadis itu tentang lagu tersebut. Alunan musik itu adalah sebuah lagu yang sering didengarkan gadis itu sebagai lagu penghantar tidur.
“Jadi, jika benda ini ada padaku apa dirinya masih bisa memejamkan mata?” tanya Raka kepada dirinya sendiri. Raka bangkit dari tidurannya dan menatap rumah di seberangnya yang keadaannya sama seperti di rumahnya yang menggunakan sedikit penerangan.
Raka menatap jendela kamar gadis itu dengan lekat, hingga sebuah pemikiran tiba tiba melintas di pikirannya. “Bagaimana jika aku menambahkan music lagi ke dalam benda ini?”
Raka pun segera berdiri dan berjalan mendekati meja kerjanya hingga kemudian ia kembali duduk di tepi ranjang dengan tangan yang membawa sebuah obeng kecil. Raka membawa earphone Gania dan bersiap merombak alat itu, berharap ia dapat menemukan sebuah celah untuk membukanya.
Hingga saat dirinya akan mencongkel perekatnya, sebuah suara langsung menahan pergerakan tangannya.
“Jangan, jangan lakukan itu!”
******
Gania berulang kali memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan di atas ranjang kasurnya. Dirinya masih belum bisa memejamkan mata karena beberapa kejadian membuatya lebih lama berpikir dan mencerna. Dimulai dari kejadian bersama Tuan Guru angkuh itu, ditambah dengan sikap teman teman barunya yang terbilang sangat aneh saat terakhir kali mereka bermain sebelum mereka pulang ke rumah masing masing.
Gania mengacak rambut panjangnya, lalu ia memutar ke arah kiri. Dan secara mengejutkan, matanya kini bias menembus memandang sesuatu di depannya. Dimana dalam keremangan kamarnya ia bisa melihat dengan jelas keadaan sebuah kamar di rumah seberang.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Gania mendapati laki laki yang baru saja dipikirkannya tengah mengotak atik barang pemberiannya. Gania berpikir bahwa laki laki itu ingin merusak barangnya, hingga saat tangan Raka yang sudah memegang obeng kecil itu Gania langsung memekik melarang laki laki itu melakukannya.
“Jangan, jangan lakukan itu!”
Terlihat tangan Raka langsung terhenti gerakannya, laki laki itu langsung mendongak menatap jendela kamar milik Gania yang tertutup. Ia mengernyit bingung, apakah gadis itu belum tidur?
Raka memilih bangkit dan menyibakkan gorden dan langsung berdiri di atas balkon. Raka menunggu beberapa saat hinga gorden di seberangnya ikut tersibak dan menamplkan wajah Gania yang sudah kusut dan acak acakan.
“Kenapa kamu merusaknya?” tanya Gania mendesis karena baru saja Raka hampir merusak benda kesayangannya. Gania ingat bahwa Raka bisa mendegarkan suaranya meski kecil sekalipun, jadi sekarang Gania menganggap bahwa laki laki itu kini sudah mendengarkan kekesalannya.
Gania melirik sosok di seberangnya, terlihat kini Raka sedang melipat kedua tangannya di d**a dengan tatapan lurus menatap dirinya. Gania sempat salah tingkah beberapa detik, hingga ia kembali memasang raut tak sukanya kepada Raka sebelum ia berkata dan berbalik menuju kamarnya.
“Temui aku di depan dan bawa benda itu. Dan jangan bawa obeng s****n kamu itu.”
******
“Cih, jadi dia sudah bisa menyuruhku?” tanya Raka tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar barusan.
Raka ikut berbalik dan menutup pintu serta gorden kamarnya. Kemudian membawa benda milik Gania dan turun ke bawah menuruti perkataan gadis itu.
Di pintu depan, Raka berpapasan dengan Arkan yang juga akan berjalan ke depan karena mendengar suara ketukan pintu. Karena Raka lebih tua darinya, Arkan mempersilahkan Raka untuk berjalan di depannya dan membuka pintu.
Alis kanan Raka terangkat begitu melihat siapa orang yang malam malam mengetuk pintu rumahnya, sebenarnya ia sudah sempat berpikiran bahwa Gania lah yang mengetuk pintunya, namun dugaannya salah. Yang kini berdiri di hadapannya dan Arkan adalah Luna, salah satu murid di sekolahnya.
“Ada perlu apa?” tanya Arkan begitu ramah, membuat Raka sedikit menyenggol lengan Arkan dan berlalu melewati Luna yang sedikit menyingkir memberikan jalan.
“Eh, ini …. Aku lupa memberikan pupuk pemberian Oma Ramon kepada Tuan, maafkan aku.” ujar Luna kepada Arkan dengan nada yang begitu lembut. Raka mendengus, lalu pergi meninggalkan mereka berdua dan berjalan mendekat ke arah rumah Tuan Danu.
Raka berhenti di pagar pembatas antara rumahnya dengan rumah Tuan Danu. Ia melihat Gania sudah berdiri di halaman depan rumah dengan jaket tebalnya, sesekali tangan mungil miliknya digosok cepat guna menghantarkan rasa hangat ke seluruh permukaan kulitnya yang dingin.
“Kenapa tidak menunggu di teras saja?” tanya Raka begitu ia sampai di hadapan Gania.
Gania sedikit tersentak dan menegang sekejap saat suara baritone itu menggema di telinganya, ia mendongak ke aras dan melihat Raka sudah berdiri begitu dekat dengannya. ‘Kenapa dirinya tidak sadar dengan kedatangan laki laki itu?’
Gania otomatis menggelengkan kepala, kemudian Raka menarik tangan Gania dan mendudukkan diri di kursi panjang yang ada di teras rumah Tuan Danu. Gania ikut duduk di sampingnya, kemudian memperhatikan Raka yang mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kemejanya.
Raka mengambil earphone Gania dari sakunya dan menyimpan benda tersebut di atas meja. Kemudian ia menatap Gania yang ternyata sedang menatapnya juga. “Jadi, apa yang harus kulakukan dengan benda itu? Tak mungkin juga aku hanya mendengar musik itu saja.”
Raka mengamati Gania yang kini tangannya tengah merogoh sesuatu di saku di jaket yang dikenakannya. Kemudian tangan mungil itu meraih sebuah benda persegi berbentuk pipih yang terlihat sangat mengkilap. Raka kembali heran, benda canggih apa lagi yang dimiliki perempuan itu?
“Aku bisa memindahkan lagu yang kau mau dari hanphone ini ke earphone itu. Dan tak perlu memakai obeng ataupun alat tajam lainnya, itu malah merusak benda tersebut.” Tunjuk Gania ke arah benda kecil di atas meja itu.
Raka mengedikkan bahunya tak menanggapi perkataan Gania dan menyerahkan earphone ke tangan perempuan itu setengah melempar.
Kemudian Gania mulai mengotak atik isi handphonenya sambil sesekali bertanya kepada Raka mengenai lagu apa yang ingin Raka simpan di benda kecil tersebut.
“Kamu mau dengar lagu apa saja?” tanya Gania dengan tangan dan mata yang masih focus dengan benda pipih digenggamannya.
“Mungkin lagu lagu milik John Waite, Benjamin Orr, Glenn Frey, Joe Jack-“
“Tunggu, siapa mereka? Aku tidak pernah mendengar nama mereka sebelumnya.” Sela Gania yang tidak tahu siapa yang disebutkan oleh Raka.
“Mereka penyanyi, dulu sewaktu ada radio aku selalu mendengarkan music mereka.” papar Raka panjang lebar dengan sedikit binary bahagia dan kerinduan yang terpancar. Gania melongo tak percaya bahwa laki laki menyeramkan seperti Raka membunyai sisi sensitifitasnya mengenai sebuah karya.
“Aku tidak tahu semua lagu lagu mereka, kamu hanya bisa mendengarkan music yang ada disini saja.” ujar Gania seraya menyodorkan ponselnya agar Raka bisa memilih lagu lagu yang dimilikinya sebelum ia pindahkan ke dalam earphone mungilnya.
Raka menerima benda pipih itu dengan ragu, kemudian ia mulai menggeser geserkan jarinya di atas layar dengan sesekali bertanya kepada Gania. Raka begitu asik mendengarkan dan mencoba berbagai fitur yang terdapat di dalam ponsel Gania hingga mereka melewatkan larut malam yang sunyi hanya berdiam di teras rumah Tuan Danu