Sebuah Pengikat

1578 Kata
Mata Gania mengedar ke setiap penjuru pasar tradisional yang terlihat begitu ramai. Semua orang tampak berlalu lalang dan melakukan kegiatan jual belinya yang hanya beralaskan tikar maupun meja seadanya. Terlihat masih kuno tidak seperti pasar modern yang ada di kotanya, pikir Gania. Lalu pandangan Gania terpaku ke arah sebuah bangunan kotak di sudut pasar yang terlihat sangat tertutup namun mencolok diantara lapak penjual lain. Gania melirik ke arah empat anak perempuan yang bersamanya, mereka tengah memilah milah gelang aksesoris yang terbuat dari rotan dan perkayuan lainnya. Terlihat sederhana namun sangat indah. "Ekhm, Luna, apa kamu tahu itu tempat apa? Apa itu semacam pos penjagaan di pasar?" tanya Gania yang ingin tahu tempat macam apa yang terletak paling ujung dan sepi itu. "Bukan, itu toko milik Oma Ramon. Dia yang menjual jasa pasang tato yang disebut Wendi tadi." jawab Luna menjelaskan, cukup membuat rasa penasaran Gania teratasi. "Dia juga satu satunya tukang ramal yang ada disini. Dan setiap ramalan yang diucapkan selalu menjadi kenyataan." bisik Wendi yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya dan ikut menyela perbincangannya bersama Luna. "Tahu dari mana kamu?" Luna menoyor kepala Wendi pelan saat mendengar perkataan penuh pengetahuan dari salah satu teman yang terdengar banyak bicara itu. "Hei, ayahku suka membicarakannya. Lihat saja, sawah ayahku selalu subur karena ramalannya yang menyuruh ayah menumbuk jengkol sebagai pupuk!" sungut Wendi seraya mengusap sedikit bagian kepala yang terkena tekanan tangan Luna. "Pantas saja mulut kamu bau, nasi kamu ternyata mempunyai rasa jengkol!" sahut Luna yang diiringi suara cekikikan dari teman yang lainnya. "Benar begitu Wen? Kalau begitu aku akan menyuruh ayahku supaya menumbuk buah cocoa sebagai pupuk agar nasiku bisa memiliki rasa cokelat." sahut Tera dengan wajah berbinarnya. Gania tertawa pelan mendengar perkataan itu, pun dengan Luna yang mengerti bahwa pembicaraan itu hanyalah omong kosong belaka. "Mana bisa nasi rasa cokelat hanya gara gara pupuk dari bubuk cocoa? Kue cokelat buatan Bibi Nina saja harus mengolah buah cokelat itu terlebih dahulu agar bisa mempunyai rasa yang khas, tidak mungkin bila nasi bisa langsung memiliki rasa khas cokelat hanya dari pupuknya saja" jelas Luna panjang lebar membuat Tera langsung mendorong Wendi karena sudah tertipu dengan perkataannya. "Hei, kenapa mendorongku?!" teriak Wendi yang langsung memelototi Tera begitu dirinya berbalik. "Sudah sudah, lebih baik kita mendatangi toko Oma Ramon, aku sebenarnya belum pernah melihat tato tato yang dibuatnya." ucap Luna sembari mencekal lengan Gania dan menariknya untuk mengikuti langkahnya memasuki bangunan kotak itu. Gania mengedarkan pandangannya di ruangan pengap serta gelap itu, tak ada jendela maupun ventilasi apapun yang digunakan untuk menerangi ruangan ini, hanya beberapa lilin kecil lah yang menerangi ruangan itu. "Bagaimana dia bisa mengukir sebuah tato jika ruangannya saja begitu gelap?" tanya Gania yang ditunjukkan kepada dirinya sendiri. Namun Wendi yang berdiri di samping dirinya dan mendengarkan langsung menjawab, "Oma Ramon memiliki penglihatan yang luar biasa, ia bisa mengukir tatonya meskipun ruangannya sangat gelap. Bahkan karnyanya saja tak pernah mengecewakan, gambarnya selalu sesuai dengan yang diinginkan." terang Wendi dengan antusias, lalu mengajak Gania dan teman temannya untuk duduk menghadap sebuah meja kecil yang berisikan beberapa gambar desain untuk tato. Dengan berdempetan dan rebutan, mereka berusaha untuk melihat lihat gambar tersebut. Hingga sebuah deheman dari balik tirai di hadapannya menghentikan keriuhan mereka. "Sungguh beruntungnya diriku, kalian pembeli pertamaku hari ini." sahut suara perempuan tua yang masih belum menampakkan diri. Hingga beberapa detik kemudian tirai berwarna gelap itu tersibak oleh sang pemiliknya, menampilkan sosok wanita tua dengan kacamata tuanya berjalan ke hadapan kelima anak perempuan itu. Oma Ramon duduk dan menatap anak gadis itu satu persatu, dimulai dari sudut kanan, hingga berakhir disidut Kiri tempat Gania duduk. "Jadi, kalian ada perlu apa kesini?" tanya Oma Ramon seraya mengetuk ngetukkan jemari dengan kuku panjangnya ke permukaan meja. "Dia mau memasang tato!" seru Wendi menunjuk Gania yang langsung terkaget karena dirinya menjadi sasaran tidak jelas dari Wendi. "Aku?" tanya Gania tanpa suara seraya menunjuk dirinya sendiri menatap ke arah empat anak perempuan yang sialnya sudah Gania anggap teman sendiri. 'Kenapa mereka terlihat senang sekali menyudutkanku?' Batin Gania bertanya ketus, hingga kemudian ia mulai angkat bicara untuk mengelak semua tuduhan yang diberika oleh Wendi. Gania kemudian menggeleng dan hendak berkata, namun dengan segera disela oleh Luna yang juga ternyata ingin dipasangi sebuah tato di bagian tubuhnya. "Bukan hanya Gania, oma. Luna pikir, Luna juga tertarik dengan tato buatan Oma." "Tera juga!" seru Tera seraya mengangkat tangan menginginkan hal yang sama. Namun ternyata hal itu langsung ditepis oleh Oma Roman dengan berkata, "Aish, kamu masih 15 tahun, tunggu saja saat kamu menginjak usia 16 tahun, kamu baru bisa kembali mengunjungi tempatku." "Dari mana oma tahu kalau aku masih 15 tahun?" tanya Tera yang kecewa dengan jawaban dari Oma Ramon. "Kau yang paling kecil dari semua anak gadis yang ada di ruangan ini, jadi aku akan melarangmu untuk menandai tubuhmu dengan sebuah tato." "Baiklah, 6 bulan lagi oma, 6 bulan lagi aku akan kembali kesini dan memasang tato disaat hari ulang tahunku." seru Tera yang kembali ceria. "Bagus, jadi kalian akan memilih gambar apa untuk kujadikan tato di tubuh kalian?" tanya Oma Ramon kembali menatap anak perempuan itu bergantian. Dimulai dari Nara, Luna, hingga Gania, semuanya tengah memilih, terkecuali dengan Wendi dan Tera. Wendi sendiri mengatakan bahwa ia tidak akan lagi memasang tato dan membuat ayahnya curiga ataupun murka jika mengetahuinya, sedangkan Tera? Ia masih dilarang oleh sang pembuat tato untuk melakukannya karena masih belum cukup umur. "Kalian sepertinya sudah sangat mengenal Oma Ramon?" tanya Gania sembari berbisik kepada Luna, tanpa mengetahui bahwa diam diam Oma Ramu tersenyum kecil mendengar perkataan Gania itu. "Tentu, meski kita jarang bertemu kami disini semua menganggap semua orang di desa ini adalah saudara. Jadi, kenapa harus kaku dan begitu formal dengan saudara sendiri?" jelas Luna sambil berbisik pula dengan tangan yang sibuk mengacak ngacak lembaran gambar tato itu. Gania mengangguk mengerti, kemudian menggerakkan tangannya untuk mengambil sebuah lembar yang bergambar beberapa model tato yang mungkin bahannya itu terbuat dari kulit hewan. Gania mengambil lembaran itu dari yang paling bawah dan terselip diantara lembaran lainnya. Dirinya meneliti sebuah gambar merpati putih yang sangat cantik tengah mengepakkan sayapnya sehingga sayap putihnya nampak terpampang cantik di hadapannya. Namun sedikit bulu di sayap kanan ada yang berwarna keabu-abuan membuat merpati tersebut tidak sepenuhnya memiliki bulu berwarna putih. Namun begitu, Gania tetap menyukainya, dan ia ingin menggambar burung merpati itu di lengan kanannya. "Gania mau gambar ini, oma?" pinta Gania yang pertama kali seraya menyerahkan lembaran gambar burung merpati itu ke tangan Oma Ramon. Oma Ramon tersenyum misterius melihat gambar itu, terlihat bahwa teman teman Gania penasaran dengan gambar pilihan Gania sehingga mereka ikut mencondongkan badan untuk melihatnya. "Hei, itu tidak memiliki gambar?" ujar Nara yang tengah kebingungan dengan pilihan Gania. Wendi, Luna, beserta Tera pun ikut mengangguk meng-iya kan perkataan Nara karena yang mereka lihat hanyalah guratan khas dari serat kulit hewan yang dijadikan alas untuk gambar tato. "Ternyata mataku lebih baik dari pada kalian." ucap Oma Ramon sembari tertawa membuat kelima gadis itu terdiam ke bingungan. Jelas juga Gania ikut kebingungan karena pernyataan dari empat teman di sampingnya itu, mereka sama sekali tidak dapat melihat gambar yang dimaksud Gania. Berbeda dengan Gania yang bahkan dengan sangat jelas dapat melihat gambar burung merpati cantik itu. "Ah tidak usah dipikirkan, jadi mana gambar pilihan kalian? Aku akan segera menggambarkannya untuk kalian." Oma Ramon kembali memecahkan keheningan di ruangan sempit itu. Luna beserta Nara segera kembali memilih gambar yang dibantu oleh Wendi dan Tera, sementara itu Oma Ramon kembali ke balik tirai untuk mengambil peralatan khusun mentatonya. Oma Ramon kembali muncul setelah Luna dan Nara berhasil menemukan gambar yang diinginkannya. Kemudian Oma Ramon mendekati Gania dan bersiap mengukir tato di lengan Gania terlebih dahulu karena Gania lah yang pertama menyerahkan pesanan kepadanya. "Tidak ada bius, tapi tidak akan terasa sakit." ucap Oma Ramon sembari membuka sebuah kotak kayu ukir yang berisi sebuah pensil yang ujungnya sangat tajam melebihi jarum biasanya. Gania sedikit bergidik saat menyadari benda tajam itulah yang akan menggores lengannya nanti. Pandangan Gania kemudian teralihkan ke arah beberapa botol kecil berwarna warni yang menunjukkan isi dari botol warna tersebut. Tanpa dicegah, Oma Ramon sudah memegang lengan kanan Gania, seolah sudah tahu dimana letak tato yang diinginkan Gania meski gadis itu belum mengatakannya. "Pilihan yang tepat nak." ucap Oma Ramon yang hanya ditanggapi senyuman tipis oleh Gania. Gania tetap diam dan melihat jarum itu perlahan mendekati permukaan kulit lengannya. Namun Gania sedikit menahannya dengan perkataan saat jarum itu diarahkan tepat di atas permukaan nadinya. "Oma, bisa lebih atas lagi?" pinta Gania yang merasa takut jika pembuatan tato itu akan mengenai urat nadinya. "Tato ini memang harus dibuat di tempat yang seharusnya." ucap Oma Ramon seraya mengarahkan jarum pensil itu lebih dekat hingga kemudian menyayat permukaan kulit Gania. Seketika Gania merasakan tubuhnya ringan, urat nadi lengan kanannya terasa sangat dingin sekaligus menyengat, pikirannya telah kosong dalam sekejap, hingga kemudian sebuah kelepak sayap abu abu yang begitu besar nampak di pupil matanya meskipun Gania sadar bahwa ia sedang menutupkan matanya. Setelahnya sayap itu menghilang dan pikirannya kembali ke alam nyata. Dibukanya kembali matanya dan melihat ke arah nadi tangan kanannya yang sudah tergambar sebuah tato merpati putih. "Sudah?" tanya Gania dengan mulut yang spontanitas bertanya. Oman Ramon mengangguk dan tersenyum. Lalu Oma Ramon beralih ke arah Luna dan bersiap untuk memasangkan tato, tentu dengan alat yang baru pula. Gania menatap lengan yang sudah terdapat merpati itu, ditatapnya dengan lekat gambar tersebut hingga bibirnya tersenyum. Perasaan senang dan bahagia terlihat dari raut wajahnya. Ia sangat menyukainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN