Sore hari, langit terlihat masih cerah, namun derasnya air hujan tak mampu dibendung untuk segera menjatuhkannya ke permukaan bumi. Deburan ombak terdengar semakin bergemuruh dan menepi akibat dari volume air laut yang bertambah membuat barisan-barisan rapi itu perlahan memburai mencari tempat peneduh.
Gania menatap lautan yang nampaktak tenang itu dengan tatapan gelisah, cuaca yang hujan lebat disertai angina pantai yang kencang menahbah kegelisahan Gania yang diharuskan menunggu Raka di teras pondok tadi sendirian, sementara laki-laki itu sendiri tengah memasuki pondok entah sedang melakukan apa.
Suasana di sekitar cukup sepi orang meskipun di sebelah selatan terdapat beberapa orang yang tengah berjaga. Sebuah suara ledakan yang berasal dari tengah laut membuat Gania semakin ketakutan hingga ia berlari ke dalam pondok. Namun sebelum itu terjadi Gania terlebih dahulu menabrak d**a bidang di ambang pintu membuat Gania terpental beberapa langkah ke belakang.
Gania meringis seraya mengusap hidungnya yang memerah karena terbentur dengan d**a yang terasa keras itu. “Ada apa?" tanya Raka didepan Gania tanpa mempedulikan Gania yang masih merasakan denyutan sakit di hidung mancungnya.
“Anda tidak mendengar, sir? Baru saja aku mendengar suara ledakan dari arah laut.”
“Hm, itu dari selatan.” Raka menjawab dengan begitu santainya seolah suara ledakan besar itu bukanlah apa-apa.
“Maksud anda? Apakan terjadi sesuatu dengan negaraku?” tanya Gania penuh khawatir, dirinya sangat mengkhawatirkan kondisi negara saat ini, apalagi disana terdapat kedua orang tuanya yang Gania sendiri tidak menahu bagaimana kabarnya.
“Aku tidak tahu, yang terpenting desaku aman dari segala serangan!.” Tekan Raka seraya berjalan melewati Gania menuju sepedanya yang disimpan di samping pondok.
“Aku sangat khawatir dengan keadaan ayah dan ibuku. Seharusnya aku tetap bersama mereka dan menolak untuk tinggal disini.” Lirih Gania yang tengah menundukkan kepala menahan air mata kerinduannya.
“Ya, seharusnya kamu melakukan keputusan itu! Keadaan yang semula aman kini kembali memanas gara-gara kemunculan dirimu, apalagi sekarang mereka melibatkan kami yang sudah lama hidup aman!”
“Anda tidak mengerti perasaanku, andai mereka tidak memaksa-”
“Ya, aku mengerti! Aku sangat mengerti! Semua orang saat ini sangat mengerti dan merasakannya, dan aku tidak peduli!” Raka membentak dengan emosi yang memuncak, perkataan gadis di sampingnya benar-benar membuat dirinya kembali mengingat seseorang yang dianggapnya sangat berharga namun dengan tega menelantarkan dirinya.
“Aku tidak menyangka anda bisa seegois ini, sir?”
“Kau tidak bisa menilaiku seperti itu, ada banyak orang yang lebih egois dari seseorang yang kau anggap saat ini! Semua orang akan menjadi orang yang paling egois saat mereka mendapatkan kesenangan dunianya!”
“Dan asal kau tahu, aku tidak pernah mendapatkan kesenangan itu,”
Gania menunduk dalam saat mendengar kalimat penuh penekanan bernada sinis itu. Sungguh Gania hanya merasa sedih dan bingung dengan keadaannya sekarang. Dan kini Raka berhasil membuat dirinya bertambah sedih dan juga tanda tanya terhadap apa yang barusan laki-laki itu katakan.
“Sudahlah, cepat naik, kita harus segera pergi sebelum hujan kembali lebat.” Sela Raka yang membuyarkan lamunan Gania yang terjadi baru saja. Gania mengangguk mulai mengangkat sebelah kakinya untuk menaiki sepeda Raka di belakangnya.
“Duduk di depan!” sela Raka dingin membuat Gania terdiam beberapa saat. Gadis itu melongokan kepalanya melihat ke depan dimana Raka tak mau berpindah duduk sementara bagian di depan taka da lagi tempat melainkan hanya besi panjang dari sepeda yang tak mungkin Gania duduki. Membayangkannya saja membuat Gania bergidik ngeri, ia tak mau pantatnya merasa ngilu karena lonjakan laju sepeda saat menduduki besi itu.
“Aku di belakang saja, sir.” Gania segera mendudukkan dirinya tanpa menunggu perkataan dari Raka yang terlihat akan menolak.
Gania menunggu dalam diam hingga Raka melajukan sepedanya, namun laki-laki itu tak juga menjalankannya, hingga kemudian Raka terlihat mengibaskan sesuatu hingga mengembang. Benda itu kemudian diangkat untuk dipakai menutupi seluruh badan hingga Gania sedikit terganggu karena benda plastic itu mengenai matanya.
“Anda menyakitiku, sir.” ucap Gania seraya mengusap matanya yang perih dan sedikit mengeluarkan air mata.
“Itu karena kamu tidak mendengarkan perintahku, aku harus memakai baju pellindung ini agar tidak kehujanan.”
“A-apa aku harus duduk di depan?” tanya Gania ragu.
“Ya, jika kamu tidak mau pulang dengan basah kuyup. Bagian belakang baju hujan ini tidak terlalu panjang untuk menutupi tubuh kamu.”
“Aku tidak bisa melihat jalanan jika begini.” Keluh Gania seraya memegang bagian ujung jas hujan dengan tatapan enggan, Gania paling tidak bisa jika menaiki kendaraan tapi tidak bisa melihat jalanan karena jas hujan yang bentuknya seperti kelelawar ini.
Rka menghela nafas gusar karena Gania tak segera mengindahkan perintahnya untuk di depan, entah apa yang kini dilakukannya di belakang punggung sana. “Ada satu lubang untuk kepala kamu, baju hujan ini dirancang untuk dua orang.”
“Kalau begitu anda bisa memakai lubang paling depan, dan aku bagian belakangnya-“ Gania bersua menyerukan gagasannya, namun segera ditepis degan kasar oleh Raka karena gadis itu terlalu lama berpikir.
“Apa kamu tidak mengerti?! Baju hujan ini dibuat dengan ukuran untuk orang dewasa dan anak-anak, tidak mungkin lubang bagian dapat masuk di kepalaku karena itu untuk anak kecil, sudahlah, cepat turuti perkataanku. Aku sudah sangat lelah berdebat.”
“Kita tidak sedang berdebat, sir.” sela Gania dengan wajah datar.
“Cepat!!” saking kesalnya, bahkan Raka kini mengabaikan perkataan barusan dan kali ini ia tak ingin mendapatkan kembali penolakan. Dengan terpaksa Gania turun kembali dan menaiki sepeda di depan Raka dengan tubuh terlebih dahulu menyelinapkan kepalanya masuk ke dalam jas hujan. Gania mendongak menatap Raka yang masih saja diam setelah dirinya mencoba menyamankan diri duduk di besi sepeda.
“Hhh, kau memang terlihat seperti anak kecil, dan … kekanakan.” Ucap Raka dengan nada mengejek seraya mengayuh sepedanya menjauhi pondok diiringi dengan tetesan air hujan yang masih setia turun di sepanjang jalanan.
“Kau harus bertanggung jawab jika bokongku kesakitan gara-gara menduduki besi ini.” Gania mendelik tak suka setelah mengatakan kalimat kekesalannya itu.
“Apa aku harus mengelusnya?” tanya Raka serius, setitik nada candaan dalam pembicaraannya.
Gania kembali mendongak ke belakang, ditatapnya Raka dengan tatapan tak percaya sekaligus gugupnya. Gania percaya tidak percaya jika Raka berani menyela perkataannya dengan kalimat yang menurutnya sangat tak sopan. “K-kkau!! Jangan berpikiran dan bertindak senonoh terhadapku!!”
“Kau yang memancingku untuk bicara seperti itu, bagaimana aku mengobatinya jika bokongmu sakit, huh? Mungkin sedikit elusan, dan ingat, aku sama sekali tidak pernah berpikiran senonoh kepadamu, tidak menarik sama sekali.” Cibir Raka yang meremehkan tubuh gadi di dekatnya seraya memandang tak minat sama sekali.
Gania dibuat kesal oleh Raka hingga ia berani memukul lengan Raka yang sedang memegang stir sepeda. “Hei, kenapa memukul lenganku? Kamu mau aku bertindak senonoh, hah?” bentak Raka yang sudah kesal dengan tindakan berlebihsan dari gadis itu. Emosinya menjadi naik dan kata-kata kasarnya pun semakin tak terendali.
“Jaga ucapanmu, sir!” ketus Gania seraya melirik Raka dengan sinis. Entah enapa kini rasa takutnya telah menghilang meskipun Raka sudah mengeratkan kepalan tangannya di atas stir sepeda. Gania memejamkan mata menunggu laki-laki itu menyemprotkan kalimat-kalimat kasar lainnya, namun setelah beberapa detik menunggu Gania tak kunjung mendengarnya hingga ia memutuskan untuk embali membuka mata dan mendongak menatapnya.
Terlihat bahwa Raka tengah focus dengan jalanan di depannya dengan raut wajah yang menahan emosi, dengusan nafas kasar menerpa sisi wajah Gania menandakan bahwa laki-laki itu tengah menyembunyikan amarahnya. Dengan kaku Gania kembali memalingkan wajah ke depan dalam diam berusaha untuk tidak memancing amarah laki-laki itu.
“Huft, kenapa laki-laki ini begitu temperamental!”
Lama mereka menyusuri jalanan, gania merasa sangat mengantuk sehingga ia menguatkan pegangannya agar tidak terjatuh dari sepeda. Gania menyadari bahwa jalan yang kini mereka lalui berbeda dari jalanan saat mereka menuju pondok tadi. Gania tak khawatir karena laki-laki itu sudah berjanji kepada kakeknya untuk membawa dirinya pulang ke rumah dengan aman dan selamat.
Jalanan yang gelap membuat Gania memilih memejamkan mata karena suasana hutan yang mencekam. Hingga sebuah cahaya biru menembus kelopak matanya yang terpejam membuat Gania perlahan membuka mata. Gania melongo menatap pemandangan di depannya, tempat yang menjadi favoritnya sejak kecil kembali ia lihat dengan nyata.
Langit malam yang gelap membuat pesona bukit Abeba yang biru semakin memancarkan cahayanya. Bunga Bluena yang biru itu menyelimuti seluruh perukaan bukit yang tak terlalu tinggi itu, bahkan terdapat beberapa bunga tumbuh di sekitar jalan setapak yang tengah dilewati sepeda Raka saat ini.
Dengan raut wajah bahagianya Gania mendongak dan meminta Raka agar menghentikan laju sepedanya. “Sir, bisa hentikan sebentar sepedanya? Aku mau memetik bunga itu.” ucap Gania seraya menunjuk salah satu bunga yang tumbuh paling dekat dengannya saat ini.
“Tidak boleh, jika kamu memetiknya akan merusak ekosistem dan keindahan bukit itu.”
“Hanya satu, sir. Itu tidak akan merusak ekosistem. Boleh, ya? Bunga ini bisa digunakan sebagai penerang jalanan nanti.” Bujuk Gania seraya memperlihatkan bunga yang sudah diam-diam ia petik itu ke hadapan wajah Raka.
“Hei, kapan kamu memetiknya?!” tanya Raka yang merasa kecolongan karena Gania memetik bunga itu tanpa sepengetahuannya.
“Kau terlalu banyak melamun, ingat bahwa kita sedang di hutan, aku tidak mau terjadi sesuatu gara-gara konsentrasi kamu hilang enggak tahu kemana.” Raka mendengus kesal, baru saja dirinya diperingatkan oleh gadis kecil yang sangat menyebalkan itu. Lagi-lagi ia bersikap bodoh di hadapan gadis itu, entah kemana kini martabat yang ia junjung tinggi jika berhadapan dengan gadis ini.
“Hhh, petik satu lagi.” Gumam Raka menyadarkan Gania yang sedang memperhatikan dengan lekat bunga yang ada di dalam genggamannya. Setengah tak percaya Gania membulatkan mata menatap Raka yang memalingkan wajah darinya.
“Bolehkah?” tanya Gania untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Nada pengharapan yang sangat besar Gania layangkan agar Raka memberikan anggukkan persetujuannya.
Raka tidak memberikan anggukannya, namun perkataan selanjutnya membuat Gania tersenyum lebar dan segera ia memetik satu tangkai bunga berwarna biru terang itu, “Cepat petik.”
Setelah mendapatkan dua tangkai bunga Bluena, Raka kembali melajukan sepedanya bersama Gania yang kini memegang dua tangkai bunga di sebelah tangan kanannya. Cahaya biru yang memancar membuat jalanan yang dilalui tak begitu gelap serta mengusir hewan-hewan liar yang mencoba mengganggu perjalanan mereka.
Gania menatap bunga yang bergoyang mengikuti gerakan laju sepeda, dirinya tak menyangka akan memegang bunga yang unik serta langka itu. Baru pertama kalinya ia menatap secara lekat keindahan cahaya bunga Bluena setelah belasan tahun ia hanya melihatnya di balik jendela rumah kakeknya.