Pasukan Tersembunyi

1556 Kata
Semakin Gania melajukan sepeda ke dalam hutan, semakin besar pula ketakutan serta kegelisahan yang Gania rasakan. Suara bambu yang bergerak dan bergesekan karena hembusan angina menambah kekalutan dalam diri Gania mengetahui kenyataan bahwa ia tengah berada di tengah-tengah jalan setapak di hutan lebat bersama Raka. Laki-laki itu terlihat tenang dudk di belakang, menunggu Gania melajukan kembali sepedanya ke tempat yang ditujunya. “Sir, anda tidak salah jalan, bukan?” tanya Gania melihat sekeliling hutan yang gelap dengan suara binatang aneh yang sebelumnya belum pernah Gania dengar. “Tidak, cepat kayuh lagi sepedanya sebelum beruang hutan datang menghampiri kita.” jawab Raka sedikit menakut-nakuti Gania yang langsung bergidik ketakutan dan mengikuti perintah Raka dengan pikiran yang penuh pertanyaan dimana keberadaan tempatnya sekarang. “Sebenarnya kita mau kemana, sir? Bukankah kita harus pergi ke sekolah? Aku rasa ini bukan jalan menuju sekolah.” Gania bertanya dengan nada suara yang bergetar menandakan ketakutannya yang sangat besar. “Siapa yang mengatakan kita akan ke sekolah?” raka balik bertanya dengan nada mengejek. “Eh, tapi … bukannya kita harus ke sekolah- anda… sebenarnya anda mau melakukan apa kepada saya?!” Gania berteriak sembari berusaha turun dari sepeda hendak pergi meninggalkan Raka yang kemungkinan akan berbuat buruk terhadapnya di dalam hutan gelap itu. “Aku, aku akan pulang, kau saja pergi sendiri.” “Hei, kau harus mengantarku sampai disana. Kau tidak boleh pergi! Aku benar-benar akan menghukummu jika kamu kembali ke rumah.” sebelum Gania berhasil turun dari sepedanya, Raka terlebih dahulu mencegah Gania dengan memeluknya dari belakang dengan kuat. Gania terdiam dengan getaran di tubuhnya yang tidak bisa dihilangkan saat mendengar nada ancaman yang Raka ucapkan. “Tapi, anda tidak akan berbuat macam-macam, kan?” tanya Gania ragu tanpa menoleh kepada Raka yang masih memeluknya. “Aku seorang guru yang menjunjung tinggi martabatku, tidak mungkin aku melakukan tindakan pelecehan moral seenaknya.” Raka mendengus mendengar pertanyaan Gania yang dirasa mustahil olehnya dan terdengar sangat konyol. “K-kkalau begitu, lepas!” ucap Gania tergagap saat menyadari posisi Raka yang masih memeluknya dari belakang. Raka terdiam mencerna ucapan Gania, hingga saat Gania menepis kuat dan mencoba melepaskan tangan yang melingkar di tubuhnya, Raka langsung tersadar dan melepaskan tautan tangannya secepat mungkin hingga tubuh Gania sedikit tersentak ke depan. “Itu, itu bukan tindakan pelecehan, aku tidak sengaja melakukannya.” Raka terhenyak dan sedikit salah tingkah saat menjelaskan alasan ia melakukan tindakan memeluk muridnya tadi. “Aku tidak akan memelukmu jika kamu tidak berusaha kabur! Kau sendiri yang salah dan tak mau mendengarku!” Raka kembali bicara saat Gania tidak merespon ucapannya dan mulai menjalankan kembalui sepedanya ke tempat yang Gania entah ketahui akan kemana. Dirinya tak mau meminta maaf dan mengakui kesalahannya yang sudah menyentuh gadis di depannya begitu dekat dan erat. Egonya yang elambung tinggi dan rasa malu yang tak mau mengakui membuat Raka terlihat sangat bodoh dalam pandangan gadis kecil itu. Suara deburan ombak yang samar dapat terdengar oleh telinga Gania meskipun penglihatannya masih melihat dengan liar pohon-pohon tinggi nan besar di sekelilingnya. Gania kembali menghentikan sepedanya dan mengusap kedua betisnya sedikit meregangkan ototnya yang kaku karena mengayuh begitu kuat dengan jarak jangkau yang begitu jauh. “Apa itu pantai, sir?” tanya Gania seraya menoleh ke belakang untuk memastikan kebenaran pendengarannya. Raka yang tengah mengedarkan pandangan sejenak menatap Gania lalu mengangguk dan kembali menyuruh Gania untuk melanjutkan perjalanan kembali. “Cepat kayuh kembali, aku tidak mau sampai tepat matahari berada di atas kepala kita, ah tidak, tidak. Biarkan kali ini aku saja yang membwa sepedanya.” Raka berdiri dan berjalan ke sisi Gania untuk mengambil alih posisinya dalam mengayuh sepeda. Gania hanya mengangguk patuh seraya beralih mempersilahkan Raka untuk duduk di jok depan, lagi pula, kakinya sudah terlalu lelah dan dan lemas untuk mengayuh sepeda lagi, apalagi di belakangnya itu Raka terduduk menikmati penderitaannya sedari tadi. Suara deburan ombak itu semakin jelas terdengar seiring dengan gerakan Raka mengayuh sepeda ke arah timur, saat itu pula Gania melihat lautan biru dari atas tanah yang sedang ditempatinya kini. Gania benar-benar terkagum oleh pemandangan di hadapannya ini, lautan lepas dengan air yang biru begitu jernih dengan buih-buih dari deburan ombak di bibir pantai menambah keindahan pantai tersebut. Mengarahkan pandangan ke daratan pantai, Gania melihat banyak orang yang sedang berbaris rapi bersama sosok yang Gania sangat kenal tengah berdiri di hadapan mereka. Jika dilihat lebih teliti dan seksama, mereka terdiri dari laki-laki dewasa dan remaja dan terdapat juga perempuan, namun jumlahnya terlihat lebih sedikit. “Mereka sedang apa, sir? Dan, kenapa kakek juga berada disana?” tanya Gania tanpa mengalihkan tatapannya dari orang-orang di area pantai yang sedikit terhalangi oleh karang-karang yang besar dan tinggi, menengok dari balik bahu lebar gurunya. “Kamu akan tahu nanti.” ujar Raka seraya membawa sepedanya turun menghampiri kumpulan orang tersebut. Dengan hati-hati Raka menapaki kakinya di atas tanah tanpa menuruni sepeda. Setibanya di tempat, Raka dan Gania disambut oleh kakeknya yang berjalan menghampiri mereka. Gania turun dari sepeda dan menyambut kakeknya dengan senyuman serta pelukan. “Kau sangat terlambat datang kesini.” ujar Tuan Danu menepuk bahu Raka kuat membuat Raka meminta maaf dengan segudang alasan yang tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi. “Aku sedikit kesusahan membawa sepeda dan tumpangannya, dan juga berkali-kali berhenti karena kelelahan.” keluh Raka yang dihadiahi pelototan dari Gania yang mendengarkan, gadis itu menggelengkan kepala mendengar bualan yang menyudutkan dirinya membuat kakeknya mendelik kesal kepada Gania. “Seharusnya kamu membantu Raka yang kelelahan bukan hanya diam tanpa membantu.” Gania kembali menggelengkan kepala dengan mulut tergagap berusaha menjelaskan kepada kakeknya yang terlihat tak suka. Namun suaranya kali ini susah dikeluarkan seolah menggumpal dan tertahan di tenggorokannya. “Sebaiknya kamu istirahat disana.” titah Tuan Danu kepada cucunya seraya menunjuk sebuah pondok kecil yang terlihat teduh dan nyaman. “Dan kamu, ikut aku.” Tunjuk Tuan Danu kepada Raka sebelum ia berbalik kembali berjalan ke hadapan orang-orang yang masih berbaris rapi. Gania memperhatikan kakeknya dan juga Raka yang telah berdiri di hadapan barisan tersebut setelah ia duduk di depan pondok yang teduh. Dirinya terheran-heran saat kakeknya terlihat marah kepadanya akibat bualan Raka namun kakeknya menyuruh ia duduk dan istirahat disini, sedangkan Raka sendiri diperintah oleh kakeknya di depan sana untuk melakukan perintanhya. Gania sendiri terkekeh melihat Raka kewalahan akibat teriakan kakeknya dalam menghitung gerakan seperti push-up dengan sangat cepat, meskipun Gania bisa melihat gerakan laki-laki itu sangat tangkas seolah ia sudah terbiasa melakukan olahraga yang menurut Gania sebagai olahraga pembentukan otot lengan. “Sembilan tujuh … sembilan delapan … cepatlah! Kau bisa menyuruh cucuku untuk bergerak cepat, lalu kenapa kau tidak bisa sama sekali?!” hardik Tuan Danu di depan Raka yang langsung mendongak dari posisinya, ia terkejut karena perkataan Tuan Danu yang seolah mengetahui kejadian selama perjalanan kesini tadi. “M-maafkan aku.” ucap Raka terbata disela pergerakannya melakukan push up yang terakhir. “Selesai.” Raka langsung berdiri begitu mendengar kalimat yang menandakan hukumannya sudah selesai. “Jangan kalian mencoba untuk datang terlambat meskipun kau pemimpinnya suatu saat nanti!” teriak Tuan Danu kepada orang-orang di hadapannya yang serentak menjawab ‘siap’ yang menggema meskipun suara deburan ombak terdengar nyaring. Gania terhenyak mendengar perkataan kakeknya barusan, apa mungkin Raka telah menjalani hukuman karena terlambat? Pikir Gania dengan pandangan lurus ke depan menatap orang-orang disana. “Sekarang, berikan pelatihan dan bimbingan Pasukan Unit Utama di selatan pantai!” Tuan Danu memerintah Raka untuk membawa pasukan pilihannya untuk melakukan pelatihan terpisah. Dengan lantang Raka menyerukan kesiapannya sembari memberi hormat kepada Tuan Danu membuat Gania terkagum-kagum melihatnya. “Gania!” seru seseorang dari dalam pondok membuat Gania menoleh ke belakang dan melihat Wendi berjalan menghampirinya. Gania sontak berdiri dan tersenyum senang mendapati seseorang yang menjadi temannya disini. “Kamu kesini juga? Apa kamu juga diberi tugas oleh Tuan Desa?” tanya Wendi membuat Gania bingung mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti ucapan yang dimaksud Wendi. “Maksudnya?” “Oh, sepertinya tidak, ya? Tapi, kamu mau ikut denganku? Di dalam ada Luna dan Nara juga. Kami sedang belajar tentang ramuan kesehatan.” Ajak Wendi seraya meraih lengan kanan Gania agar ikut masuk bersamanya. “Kalian memang tidak pergi sekolah?” tanya Gania yang tengah berjalan mengikuti Wendi memasuki pondok yang terdengar sedikit ramai oleh suara beberapa orang. “Hari minggu ini libur, Gania.” Jawab Wendi tak menyembunyikan nada gemas saat Gania tidak ada akan akhir pecan yang selalu libur itu. “Lalu, kenapa kakek menyuruh kalian belajar membuat ramuan?” tanya Gania ingin tahu. “Desa kita mulai mengadakan pelatihan khusus untuk penjagaan dan pengamanan wilayah kita. Tuan Desa dan kasepuhan lainnya bersepakat membentuk pasukan keamanan dan penyelamat pertama jika sesuatu terjadi mengancam Desa Wania.” Papar Wendi sembari berjalan memasuki ruangan paling belakang. Gania mengangguk sembari terus mengikuti teman perempuan berambut pendek itu. “Dan kalian ditugaskan untuk menjadi tim kesehatan dan penyelamatan?” tebak Gania yang langsung diacungi jempol oleh Wendi. Setelah mereka berdua masuk ke dalam ruangan, mereka disambut riang oleh Luna dan Nara yang mengetahui keberadaan Gania di belakang Wendi. Merekapun mengajak Gania untuk menghampiri meja yang sudah terdapat bahan-bahan untuk membuat ramuan kesehatan. Dengan bimbingan seorang wanita dewasa mereka kembali melakukan praktek penelitiannya. Perhatian Gania terhadap ramuan obat-obatan dan penjelasan wanita di hadapannya terabaikan saat matanya melihat sebuah buku tebal yang masih tertutup itu tersimpan di sudut meja. Gania perlahan mendekati dan membuka lembaran buku tanpa judul tersebut. Buku using dengan sampul yang terbuat dari kulit hewan yang dikeringkan dengan tulisan tangan yang begitu tak dimengerti oleh Gania. “Itu buku milik Nyonya Desa disini,seharusnya beliau yang memimpin kegiatan minggu ini, namun beliau berhalangan izin sehingga memintaku untuk menggantikannya hari ini.” Selaan tidak suka dilayangkan wanita yang kini bergeser berdiri di hadapan Gania dengan tatapan ketusnya. Dengan canggung Gania kembali menutup buku itu dan tersenyum minta maaf karena sudah lancang bertindak. “Sebaiknya kita lanjutkan, bu.” ucap Luna menyela. “Ah, baiklah. Maaf seharusnya ibu focus terhadap kalian.” “Dia, Bu Anggun, salah satu pengajar di sekolah kita jika kamu belum mengenalnya. Dia sangat ramah, mungkin tadi ia sedikit terganggu saja.” bisik Wendi menenangkan Gania yang masih gugup karena tatapan dingin wanita yang kembali bergabung bersama dengan anak-anak lainnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN