“aya naon atuh, Neng? Dari tadi Bunda perhatikan teh ngelamun wae, nanti gosong loh itu gorengannya. Masih pikirin yang tadi?” “bukan perkaranya sih, Bund. Kalau itu mah sudah Inang pasrahkan pada yang buat kehidupan. Tapi yang sekarang Inang pikirkan itu teh Inang harus jujur tidak ya Bun sama lalaki Inang? Menurut Bunda bagaimana?” Kinang bingung mau jujur atau tidak pada Pras. “menurut Bunda teh tetap harus jujur, namanya rumah tangga mah harus saling jujur dan saling percaya atuh, Neng. Lagian teh kan masa lalu juga, orangnya pun sudah tiada, Bunda teh yakin Nak Pras akan baik baik saja.” “jadi inang harus jujur nih sama lalaki Inang?” Bunda mengangguk mantab, “ya sudah nanti Inang bicarakan deh.” kemudian Kinar kembali menggoreng ayam dan udang yang tadi dia beli di pasar. “teron

