Zean menatap bayinya yang baru lahir. Kecil dan terlihat rapuh. Tetapi sempurna. Jari-jarinya mungil, kulit halus. Membelai kepala putrinya yang sedang berada di gendongan sang istri. Ia lalu mengecup kening wanita itu. Binar tersenyum. “Makasih, ya, Mas,” katanya lirih. Zean hampir tidak mendengar suara sang istri. Tetapi senyuman di wajah wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya bagai cahaya yang menghangatkan hati. Dia tidak pernah menyangka akan mencintai sedalam itu. Pada bayinya, pada Permata juga pada sang istri. "Sini, Mas pindahin dia ke sana," ujar Zean. Bayi kecilnya yang terbungkus kain itu sudah tertidur setelah minum ASI ibunya. "Mas udah kasih tahu mama?" tanya Binar sembari memberikan putrinya. "Belum sayang. Mas lupa." Zean perlahan membaringkan putrinya di tempat t

