"Ayah!" Dari ruang tamu, Permata berlari dengan riang gembira, menyambut kepulangan ayah tercinta. Zean tersenyum lalu mengangkat tubuh mungil putrinya. "Ayah nggak bohong kan? Aya pulangnya cepat." Mengecup pipi tembem yang menggemaskan. "Iya. Ayah gak bohong lagi sama Ata," sahut Permata. Pria itu terkakeh. "Bunda mana?" "Ada. Bunda lagi masak," jawab Permata. "Ata di rumah gak nakal 'kan? Gak bikin bunda marah?" "Enggak, Ayah. Ata baik kok. Kalau ayah nggak percaya, tanya aja sama bunda." Pria yang hampir menginjak usia dua puluh delapan tahun itu lagi-lagi terkekeh. ''Iya, ayah percaya. Ata kan memang anak ayah yang baik." "Ayah! Ayah! Ayah tau gak? Tadi dedek bayi di perut bunda bergerak-gerak,'' cerita permata dengan antusias. "Iya?" "Iya, Ayah. Nanti Ata mau lihat lagi

