Bab 20

2012 Kata
"Iyah, kalau gitu aku pamit dulu ya Kak. Makasih banyak, Assalamualaikum," jawab Steffani langsung berdiri tersenyum girang menggenggam ceria dan menyalami tangan Yunita. "Iyaaa waalaikumsalam, hati-hati ya sayang... Huuh," sahut Yunita tersenyum dan ketika Steffani sudah menjauh dia hanya bisa menghela nafasnya menahan sedih dan bingung. "Aku heran sama Yuda. Kenapa ya dia sama sekali gak ada perasaan sama Steffani. Padahal Steffani selalu tulus dan baik banget sama aku dan dia. Tapi semua yang di lakukan Steffani sama sekali gak buat dia nerima Steffani. Huuhhh," heran Yunita juga bingung sampai dia memijat dahinya sendiri. "Permisi Bu," Tiba-tiba ada seorang Karyawannya datang menghampiri. "Iya ada apa?" "Bu, apa pencarian karyawan baru akan di lanjutkan atau di tunda Bu? Kalau masih di tundaa, biar saya beritahukan sama Adi biar dia gak nyebar dulu ke sosial media tentang lowongan pekerjaan di tempat kita," tanya Karyawan lelaki itu sopan. Yunita baru saja teringat jika hari ini Aya mengabari kalau gadis itu ingin bertemu dengannya. "Ah, iya ya. Eeee ditunda aja deh dulu Yo, soalnya saya udah dapet calon Karyawan ceweknya, katanya ini sekarang lagi di jalan dia mau ketemu sama saya. Dia saya kasih tau lowongan kemaren karena tak sengaha telah menolong saya saat kejambretan. Jadi, saya mau liat dia dulu, apakah bener-bener bisa kerja serius di sini dan bisa bekerja dengan baik di tempat kita," jawab Yunita. "Ooh baik Bu siap terimakasih Bu, berarti kalau gitu. Saya bilang ke Adi kalau jangan di sebar dulu ya Bu lowongannya," "Iya Yo, tunda aja," sahut Yunita. "Siap Bu, saya permisi," pamit Karyawan lelaki yang berpenampilan sangat rapi juga lumayan tampan memakai celemek khusus yang Yunita beri padanya. Ia membungkukkan badan sopan lalu pergi meninggalkan Yunita. Yunita lalu mendengus seraya memikirkan yang telah dia lalui selama ini. Dia berjalan ke arah lobi dan duduk di bangku lobi untuk menunggu Aya datang. **** Nindya dan Aya akhirnya sampai di pintu masuk. Mereka lalu memasuki Cafe mewah itu dengan melongo takjub begitu tertegun. Namun, dia teringat kembali saat dia tiba-tiba kabur sangat tak sopan di hadapan Yunita. Kakinya seakan langsung letoy tidak mampu berdiri begitu malu. "Aduuh g****k banget sih gue, malah mau di bujuk Aya ngikutin dia ke sini," gumam Nindya dalam hati sudah gemetar. Mereka terus mencari keberadaan Yunita dan akhirnya Aya melihat Yunita sudah stay di lobi terlihat memang sedang menunggu seseorang. Betapa girangnya Aya ketika melihat Yunita ada di sana. "Itu Kak Nitanya?!" seru Aya langsung menarik Nindya kuat berlari kecil menghampiri Yunita. "Assalamualaikum Kak Yunita!" sapa Aya sembari nyengir hingga langsung membuat Yunita sedikit kaget menoleh ke arah mereka. Nindya langsung lemas tak berdaya dengan mata melotot pasrah saat Yunita sudah melihat dirinya. Kini Nindya merasa wajahnya seakan lepas saja. Namun, tanpa di sangka ternyata Yunita malah tersenyum pada mereka berdua tidak sama sekali terlihat sinis maupun mencibit saat melihat Nindya juga ikut. Yunita malah langsung berdiri dan menyalami mereka berdua. Nindya kini merasa sedikit lega dan langsung melongo sejenak seperti orang linglung saat Yunita menyalaminya. "Eehh waalaikumsalaam, Aya?! Eh? Aah ternyata kalian beneran dataang, duuh saya senang sekali," ucap Yunita tersenyum manis pada mereka hingga Nindya sempat tertegun melihat wajah cantiknya. "Temen kamu Ya? Siapa namanya?" Nindya semakin gugup dan sekarang dia tertunduk pelan seakan tak sanggup memandang wajah Yunita yang sangat dia tak mengira ternyata Yunita memang orang yang baik. "Nindya Kak," jawab Aya tersenyum seraya melirik ke arah Nindya memberitahu Yunita. "Naah iya iyaa Nindyaa. Kakak lupa nama kamu, aduhh kemarin kamu buru-buru banget ya mau nyelesain tugas? Maaf ya Kakak kira kalian kemarin gak sibuk kalau tau begitu makanannya di bungkus aja buat di bawa pulang kalian," kata Yunita malah merasa bersalah. Mendengarnya Nindya langsung membelalakkan matanya segar mendongak ke arahnya. Kini Nindya semakin merasa malu juga konyol dengan yang terjadi. Nindya begitu bersyukur Yunita ternyata tak marah padanya. Yunita malah merasa tak enak pada mereka. Tanpa dia sadari sendiri dia di bibirnya terukir senyuman tipis merasa bahagia pada dirinya sendiri juga kepada Yunita yang baik memperlakukannya. "Eehehee iyaa Kak. Maaf banget ya, ke-kemarin, saya langsung kabur gitu aja ninggalin Kakak," jawab Nindya terbata lantaran masih gugup. Aya hanya menahan tawanya ketika melihat Nindya mati kutu dan merasa begitu malu sampai terlihat wajahnya merah dari biasanya. "Hmm iyaa gakpapa kok harusnya saya yang minta maaf karena ngajak kalian lama-lama ngobrol saat makan tanpa tanya dulu kalian ada tugas apa enggak," sahut Yunita seraya mengusap bahunya lembut hingga sekarang membuat Nindya semakin merasa nyaman dengannya. Kini Nindya tak merasa malu dan bersalah lagi. Dia malah merasa senang bisa berkenalan dengan Yunita. Nindya hanya mengangguk sembari tersenyum kikuk salah tingkah. "Ehh ya ampuun dasar Kakak ini malah biarin kalian berdiri doang kek gini. Ayo duduk Ya, Nin. Mari silahkan," ajak Yunita menepuk dahinya hingga membuat Aya dan Nindya tertawa karenanya. Akhirnya mereka duduk dan berbincang membahas apa yang akan di lakukan. "Jadi, Aya ya yang beneran mau jadi sebagai Karyawan di sini?" tanya Yunita. Nindya yang baru saja membuka mulut ingin juga langsung terdiam saat Aya sangat bersemangat menjawab Yunita begitu cepat. "Iya Kak iya! Saya! Saya!" seru Aya. Nindya langsung terdiam karenanya dan merasa sedikit kecewa, Aya memang tidak sama sekali memikirkan perasaannya. Aya malah kegirangan saat hanya dia saja yang akan menjadi Karyawan di Cafe Yunita. Nindya pikir setelah dia mau menemani Aya ke sini, Aya akan membantunya untuk meminta kepada Yunita agar bisa 2 orang masuk dan mereka akan bekerja sama-sama di sana. Kini Nindya hanya tertunduk lesu dan merasa pasrah jika hanya Aya yang mendapatkan pekerjaan sedangkan Aya terlihat duduk tegak mendekati Aya dengan ekspresi wajah yang sangat girang. Yunita yang melihat semangat Aya tertawa senang. Namun, dia terkekeh ketika melihat sekarang Nindya seakan menjadi murung. Yunita merasa tak enak padanya. "Huhh apa jangan-jangan dia sedih karena aku cuman butuh 1 orang buat nambah Karyawan di sini? Ya ampun sepertinya dia memang gak mau aku jadiin Asistennya Yuda. Tapi emang wajar sih kalau dia sedih. Karena temennya akan mendapatkan kerja yang sesuai dengan gaya juga umur mereka. Kalau ku jadikan dia sebagai Asisten Yuda, pasti dia berpikir jika pekerjaan Asisten itu memang gak cocok untuk kalangan anak muda seperti dia. Hmm gimana ya, mana aku udah terlanjur lagi, kalau aku tolak temennya ini, kasian juga karena dia juga udah aku janjiin," pikir Yunita dalam hati merasa ikut sedih saat melihat Nindya yang terlihat termenung menutupi rasa sedihnya. Yunita sempat terdiam berpikir keras dengan keputusannya itu. Dia lalu mendengus kuat seraya membetulkan posisi duduk. Sepertinya dia sudah berpikir keras dan yakin tentang keputusannya itu. "Okee, ekhmm. Emm, Ayaa. Hehee Nindyaa, kamu gakpapa kan?" tanya Yunita berpura-pura bertanya. Nindya terkekeh langsung menoleh padanya dengan wajah yang terlihat masih murung namun dengan mata melotot melihat ke arah Yunita karena dia benar-benar berusaha menutupi sedihnya. "Ah? I-iya Kak. Eng... Gak papa kok. Hee," jawabnya tergagu berpura-pura tersenyum memperlihatkan memang tak terjadi apa-apa mencoba menutupi semua yang dia rasakan. "Saya kan udah bilang, kalau saya hanya memerlukan satu orang saja untuk bekerja di Cafe saya. Tapi, saya juga membutuhkan seorang ART untuk merawat dan menjaga rumah Adik saya. Maka dari itu, saya menawarkan pekerjaan-pekerjaan itu untuk kalian. Saya benar-benar minta maaf, jika membuat kalian terpisah. Tapi kalau emang... Nantinya bikin di antara kalian sedih, gakpapa, saya gak akan maksa kok buat kalian terima," kata Yunita merasa sangat tak enak kepada Nindya. "Enggak kok Kak. Kakak tenang aja, aku yang emang mau masuk di Cafe Kakak. Aku juga udah pernah kok di ajarin milk technique waktu SMA sama temen cowok aku, yaa walaupun masih belum menguasai Kak," jelas Aya meyakinkan. Nindya hanya diam meliriknya semakin merasa tak enak dan membiarkan Aya saja agar memang bisa masuk kerja ke tempat Yunita. "Aya emang benar-benar serius pengen jadi Karyawan di Cafenya Kakak Yunita, mana dia udah tau lagi salah satu teknik penting buat buat kopi, huhh mungkin ini emang udah rezekinya Aya Nin. Jadi lo harus terima dan jangan iri," gumam Nindya sedih dalam hati. "Woww masa sih Ya?" tanya Yunita terkaget saat mendengar Aya sudah tau salah satu teknik yang ada di perbaristaan. Aya lalu mengangguk tersenyum polos tanda memang benar. Yunita semakin memujinya. "Wah wah waah, sungguh luar biasa ya ternyata kalian. Haha, padahal baru tamat SMA kan? Hehh, Aya Kakak benar-benar gak nyangka kalau kamu udah tau salah satu teknik penting buat kerja di sini. Sepertinya... Kamu emang cocok buat saya jadikan Karyawan Cafe saya ini," puji Yunita tersenyum padanya seraya menopang dagu di atas pahanya. Aya semakin malu dan merasa tinggi hati ketika di puji. Nindya yang mendengar semuanya hanya bisa diam menahan rasa iri juga sedihnya. "Nindya," "I-iya Kak?" kekeh Nindya ketika Yunita menyebut namanya. "Nindya gakpapa kan? Kalau Aya yang jadi Karyawan Kakak di sini?" tanya Yunita sengaja. Nindya terdiam, Aya meliriknya tanpa menyadari perasaannya dan hanya tersenyum miring siap mendengarkan Nindya. "Em..." Nindya terlihat semakin menahan sesaknya melihat ke wajah Yunita. Yunita hanya mengangkat sebelah alisnya siap mendengarkan. "Iya Kak, pasti. Karena.... Aya akan mendapatkan, pekerjaan yang bagus dari Kakak, dan.. saya senang," jawab Nindya sebenarnya sangat berat mengatakannya. Dia malah mencoba tetap tersenyum di akhir kata. Yunita semakin kasihan padanya. Namun, Yunita tetap berpura-pura biasa saja agar Aya juga tak tersinggung agar mereka tetap menjadi teman. "Emm Nindya, kamu memang sahabat yang sangat baik, Kakak salut padamu sayang," puji Yunita. Aya hanya menyeringai seraya melirik ke arah Nindya. Nindya kembali tersenyum pada mereka. Yunita lalu kembali diam-diam memperhatikan Nindya. Terlihat jelas sekarang bahwa Nindya memang benar-benar menahan rasa sedihnya karena hanya Aya yang akan menjadi salah satu Karyawan keren di Cafe mewah Yunita. "Kasian banget dia, dia memang teman yang sangat baik juga tulus. Dia rela memendam rasa sedihnya demi kebahagiaan temannya. Hmmm, Nindya, aku semakin nekat saja ingin menjadikanmu sebagai Asisten Yuda saja. Biar kamu gak merasa sedih lagi melihat Aya nantinya bekerja di Cafe ini," gumam Yunita dalam hati. "Iyaa, makasih ya Nindyaaa," ucap Aya tersenyum padanya. Nindya yang mendengarnya kini bisa tersenyum beneran. "Okeyy, huhh baikk. Kalau gitu... Deal, Aya. Kamu bisa langsung masuk Minggu depan dari jam 6 sore sampai jam 10 malam tapi kamu juga aku beri shift, jadi jam kerja kamu ada 2, yaitu dari jam 2 sore sesudah kamu pulang dari kampus sampai jam 6 sore. Saya cuman minta Ijazah SMA kamu yang asli juga berkas-berkas penting dari data diri kamu, tak perlu tulis surat lamaran ya," pinta Yunita. Betapa bahagianya Aya mendengar pernyataan itu, dia langsung berdiri dari kursi bersorak gembira. "Aaaa! Oh my god! Ya ampun?!... Makasih banyak ya Kak! Ya ampun beneran?!" seru Aya begitu terharu tak percaya sampai dia menutup mulutnya dan menghentakkan kaki kegirangan. Nindya kini merasa begitu dilema, dia bingung entah merasa ikut bahagia atau sedih. Di lain sisi, dia bahagia karena akhirnya Aya salah satu teman yang dia sayangi itu kini telah mendapatkan pekerjaan. Namun, di satu sisi dia merasa begitu sedih karena apa yang Aya dapatkan sekarang adalah hal yang juga dia sangat impikan tetapi tak bisa dia dapatkan. Nindya kembali tertunduk murung ketika sudah mencoba ingin tersenyum mendengarnya. Yunita lalu mengangguk sembari tersenyum pada Aya. Aya langsung duduk mendekatinya dan menggenggam tangan Yunita haru. Saat Aya kegirangan mendekatinya. Yunita diam-diam kembali melirik ke arah Nindya. Nindya tersadar akan hal itu. Namun, dia hanya mengangguk sekali sembari tersenyum pada Yunita dan kembali termenung murung. Yunita semakin kasihan padanya. Setelahnya Yunita pun menyeringai. "Gadis ini memang anak yang baik. Dia masih tulus dan bisa memendam rasa irinya tanpa mengeluh, marah ataupun merajuk pada temannya ini sedikitpun. Nindya, kamu jangan bersedih dulu dengan keberhasilan temanmu ini dari aku. Aku gak akan memperlakukan kalian secara tidak adil. Aku akan jadikan dia Asisten Yuda. Hm, aku yakin dia pasti akan lebih bahagia jika tau, kalau sebenarnya Adik aku itu adalah Bintang terkenal yang malah di dambakan semua orang di negeri ini, mungkin termasuk temannya sendiri ini," gumam Yunita dalam hati terus tersenyum miring, entah mengapa Yunita seakan merasa yakin jika nanti Nindya memang mau menjadi Asisten Rumah Tangga Adik tersayangnya. **** Saat Yuda beristirahat di lokasi syuting. Tiba-tiba ada seorang anak kecil perempuan berkisar sekitar 4 tahun menghampirinya yang sangat imut berponi memakai bandoo berambut panjang hitam yang sangat tebal. "Hihihi!!" tawanya seraya berlari mendekati Superstar tampan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN