Nindya menghabiskan waktunya untuk beristirahat. Memulihkan badannya agar kembali fit. Meski Nindya sudah mendingan sekarang. Dia terus kepikiran pada Aya yang terus memohon untuk menemaninya melamar kerja di tempat Yunita.
Sebenarnya Nindya merasa sangat malu jika bertemu dengan Yunita lagi karena kemarin dia langsung kabur di hadapan Yunita begitu tak sopan.
Nindya mendengus kesal memonyongkan bibirnya seraya menggaruk dahi kebingungan dan sebal pada Aya yang egois.
"Huhh nyebelin banget emang tu anak. Liat aja tuh kalau gak di temenin nanti pasti ngambek. Gue males kalau dia ngadu ke Bibinya jadi khawatir juga deh entar Mama sama Ayah di sana dengernya. Haduhh gimana ya, malu banget gue njir. Masa iya setelah kabur dengan tololnya kemarin dari Kakak itu dan nanti malah datang lagi sengaja nemuin dia demi Aya? Sumpahh, itu benar-benar hal konyol, di mana gue naroh muka nanti," gerutu Nindya sangat kesal kepada Aya seraya terus memijit kepalanya pening.
Dia lalu kembali menarik selimutnya dan tidur.
****
Yuda kembali di sibukkan memberitahukan tentang film terbesarnya yang akan lebih menggemparkan karena bermain bersama para Aktor-aktor pemuka lainnya. Di film itu Yuda memainkan karakter yang mempunyai kekuatan supranatural. Film ini akan menjadi film pertama dengan visual efek yang sangat canggih nan begitu hebat di negeri ini. Butuh sekitar kurang lebih 4 tahun Yuda bersama lainnya syuting sampai film ini selesai dan akan tayang setelah setengah tahun akan datang. Maka dari itu, Yuda begitu bahagia dan sangat bangga dapat berpartisipasi juga menjadi tokoh utama dalam film tersebut.
Yuda sekarang terlihat tengah bersiap pergi ke sebuah acara televisi tetapi di cegah oleh Steffani yang sekarang tiba-tiba datang dari luar.
"Hay babyy hmm," sapa Steffani tersenyum bergaya sangat cantik seperti biasanya sembari memegangi tas selempangnya yang terlihat elegan juga mewah itu. Budi pun sampai tertegun melihat kecantikannya.
Betapa kagetnya Yuda saat Steffani tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Stef? Huhh ngagetin aku aja?! Ada apa?" kaget Yuda mendengus mengerutkan alisnya.
Steffani malah berdiri dengan badan yang tak bisa diam menahan rasa senang salah tingkahnya di hadapan Yuda layaknya anak kecil yang manja ingin meminta sesuatu seraya mencibir imut menahan senyumnya.
"Ehm gakpapa kok. Cuman kangen aja. Masa sih kamu gak kangen sama aku?" ucapnya malu-malu lalu mengerutkan alisnya mencoba mendapatkan balasan yang sama dari Yuda.
Budi yang mendengar perkataannya langsung tertawa menutup mulutnya hingga Steffani menyadarinya dan cemberut kepada Budi yang seakan meledeknya.
"Faniii, aku kira apaan," jawab Yuda menatapnya lesu.
Steffani tak memedulikan itu. Dia malah tersenyum ketika melihat Yuda menjawabnya.
"Iih, Yuda. Cuek banget sih. Sombong ya emang mentang-mentang film RedenMada mo rilis," celetuk Steffani manyun manja.
Yuda yang mendengar perkataannya itu langsung menyeringai.
"Bukaan, gak gitu kok maksud aku. Aku cuman mau buru-buru aja nih. Mo pergi syuting sekarang Stef," jawab Yuda tersenyum.
Melihat senyuman manis ramah dari lelaki tampan itu Steffani semakin luluh.
"Hmm pastii gituu," lirih Steffani manyun lesu.
"Kamu pasti gak jawab pertanyaan aku tadi," kata Steffani merajuk manja.
Yuda langsung terdiam dengan senyuman terkunci bengong.
"Yaa bukannya ini aku jawab?" tanya Yuda seraya mengendikkan bahu mengangkat kedua alisnya.
"Kamu gak kangen kan sama aku?" tanya Steffani mengerutkan alisnya kecewa menatap Yuda.
Melihat itu Budi semakin menahan tawanya hingga membuat Steffani semakin kesal.
"Haha kasian banget deh gak di kangen balik Mas Yuda," ledek Budi bernada pelan tetapi masih bisa di dengar Steffani.
Betapa melototnya mata Steffani saat mendengar perkataannya.
"HEH!"
Yuda langsung bergidik kaget refleks melihat ke arah Budi yang ikut juga bergidik sangat kaget.
"Lo jangan ledekin gue ya?! Emangnya lo siapa?! Berani banget jadi orang," celetuk Steffani kesal hingga membuat Budi kini terdiam seraya melirik ke arah Yuda tanda menahan sebal pada Steffani.
Steffani memang tipe cewek yang judes juga arogan, dia memang wanita yang sulit menghargai orang yang berada di bawah darinya, amarahnya sering meledak jika berhadapan dengan orang yang lebih rendah kasta dari dia. Maka dari itu juga Yuda kurang menyukainya dan tidak memiliki rasa sama sekali kepada Steffani.
Yuda hanya melotot mengerutkan alisnya ikut menahan takut kepada Budi.
"Steffanii. Udaah jangan emosian gitu dong. Kan Budi cuman bercanda," bujuk Yuda tersenyum langsung merayunya.
Steffani tetap terlihat cemberut kesal seraya melipat kedua tangannya di d**a melirik ke arah Budi.
"I-iya. Maaf Non," jawab Budi terbata sedikit membungkuk sembari melirik Steffani dengan tatapan takut meminta maaf.
"Eeeh ya iyalahh guee kangen juga sama lo..."
Steffani yang mendengar jawaban Yuda sangat bahagia dan langsung merasa berbunga-bunga. Budi yang awalnya takut kini kembali mencibir diam-diam kepada Steffani. Meski Budi menyetujui dan merasa Steffani memang wanita yang sangat serasi juga setara untuk Yuda. Budi tetap merasa kurang menyukai sikap Steffani yang judes tak ramah pada semua orang itu. Karena Steffani tak pernah bergaul dengan orang susah, teman-temannya pun juga setara dengannya jadi wajar jika dia masih memiliki sikap arogan pada orang yang tak memiliki hubungan dengannya termasuk Budi.
"Wajarlah kangen sam Saudara sendiri. Kamu kan Adek aku yang paling cantik sedunia, its my world, ya iyalah aku kangen masa enggak. Hmm," sambung Yuda tersenyum.
Seketika senyuman Steffani yang awalnya berbunga-bunga sangat indah kini langsung terkunci mendadak langsung lenyap seketika.
Budi yang mendengar penuturan Yuda juga sungguh tak menyangka. Steffani kini terdiam sembari menahan senyumnya. Yuda yang sebenarnya merasa akan perasaan Steffani sekarang terus berpura-pura tersenyum saja padanya. Yuda lalu langsung mengelus kepalanya lembut agar Steffani tak semakin perih karenanya.
"Ehmm, Stef. Aku pergi dulu ya. Kamu mau minta apa hm? Biar nanti sekalian aku bawa kan dan Budi yang akan nganter ke rumah kamu?" ucap Yuda sengaja ingin buru-buru pergi agar Steffani tak semakin berharap pada perasaannya.
"Yuda kamu..."
Yuda terdiam terus tersenyum mengangkat sebelah alisnya.
Steffani merasa kecewa dalam hatinya sekarang. Terlihat wanita itu sampai tak bisa mengeluarkan perkataan kesalnya sekarang dan hanya bisa mencengkram tali tas mewahnya. Namun, Steffani kini berusaha tetap tersenyum menahan air matanya.
"Oke, hati-hati di jalan. Gak ada kok Yud," jawabnya tersenyum sembari menarik menahan isak.
Yuda yang mendengar perkataan Steffani itu langsung tersenyum bahagia.
"Yakiiin?" canda Yuda seraya menengok mendekatinya. Yuda memang pandai membuat tawa dan rasa nyaman maka tak salah jika Steffani tergila-gila padanya.
Akhirnya Steffani kembali merasa tenang dan rasa kecewanya seakan sudah menipis. Steffani menjadi tersenyum melihat wajah rupawan yang terlihat tersenyum konyol mendekatinya itu.
"Iyaa," jawabnya menyeringai.
"Oke, kalau gitu aku pamit dulu ya. Eitss, jangan lupaa. Buat tonton trailer film terhebat aku itu nantinya, ya?" pinta Yuda seraya mengedipkan mata.
Steffani semakin mencibir menahan senyumnya.
"Ogah," jawabnya tersenyum meledek seraya tetap melipat kedua tangannya di d**a.
Yuda lalu tertawa, kini mereka saling tertawa satu sama lain. Budi yang melihat Yuda sangat pandai meluluhkan hati wanita yang panas bagaikan lava gunung merapi itu sungguh terkagum.
"Emang ya aduh aduuh. Non Steffani ini, kalau sama Mas Yuda. Eemm, lembutnya minta ampun kek kapas wajah aja. Tapi kalau sama orang lain... Apalagi saya, hm jangan harap ada lembut-lembutnya malahan judes banget," tampik Budi mencibir.
Yuda tertawa kecil mendengar perkataan Manajer yang sudah ia anggap Kakak kandungnya itu juga.
"Ya iyalah gue judes lo nya ledekin gue," sahut Steffani sembari menahan senyumnya.
Budi hanya nyengir seraya menggaruk kepalanya salah tingkah. Steffani akhirnya mau tersenyum sembari menggeleng. Ya, meski memiliki sikap yang mudah marah dan arogan pada orang lain, Steffani masih memiliki perasaan yang baik pada orang lain.
"Oke oke kalau kita ketawa terus kapan berangkatnya," celetuk Yuda.
"Hehe ya udah ayok Tuan," jawab Budi nyengir.
Mereka pun pamit buru-buru pergi agar menghindari Steffani yang selalu mengharapkan perasaannya.
"Eeh Yud?! Tunggu?!"
Namun, ketika Yuda dan Budi sudah mulai melangkah pergi Steffani malah kembali memanggilnya hingga membuat Yuda semakin bete.
"Apa lagi Stef?" tanya Yuda seraya berbalik.
Steffani sempat terdiam sejenak lalu melangkah mendekatinya.
"Nanti malam, kalau kamu selesai syuting. Aku mohon Yud, temuin aku di Cafe Resto Kakak Yunita ya," pinta Steffani.
Yuda terdiam.
"Baik aku akan datang jika sempat ya, bye Stef," jawab Yuda tersenyum lalu berbalik.
"Aku mohon sama kamu... Karena... Aku mau pergi ke Singapura untuk beberapa bulan ke depan," sambung Steffani berharap.
Mendengar itu Yuda langsung menoleh lagi ke arahnya.
"Ke Singapura?" tanya Yuda menyipitkan mata.
Steffani mengangguk.
"Iya, aku mau pemotretan di sana dan akan menyelesaikan pekerjaan aku Yud, jadi.. aku mau pamit dan bertemu kamu untuk perpisahan ini," harap Steffani.
Yuda merasa tak tega mendengar pernyataan Steffani meski ada rasa senang juga karena Steffani tak akan bisa lagi menemuinya dan Yuda berharap dia akan bertemu dengan seorang yang dia dambakan di Singapura sehingga Steffani tak mengharapkan perasaannya lagi. Akhirnya ia mau menurutinya. Betapa bahagianya Steffani.
Yuda pun beranjak pergi dan sudah memasuki mobil bersama Budi. Steffani hanya terus tersenyum lebar begitu bahagia berdiri di sana masih memandang Yuda yang telah pergi sudah menghilang dari pandangannya.
****
Waktu Aya ingin pergi melamar ke tempat Yunita pun telah tiba. Terlihat betapa gelisahnya Nindya. Dia benar-benar merasa sangat malu jika memang benar kembali bertemu Yunita.
"Aduhh lu aja deh sono sendirian gue malu banget masih bekas kabur kemaren," celetuk Nindya.
"Ya suruh siapa lo asal nyelonong kabur gitu aja. Makanya jangan suudzon dulu Nin sama orang," jawab Aya terus menarik tangannya.
"Ya karena gue mau melindungi diri gue sendiri. Wajarlah gue gitu. Kita itu kan emang kudu berrhati-hati sama orang yang belum kita kenal. Apalagi baru di kenal pertama kali ketemu gitu, mana baik banget lagi, curiga jadinya gue," celetuk Nindya menjelaskan.
Aya hanya melongo malas menatapnya lalu mendengus malas.
"Huuh ya udah serah lu, udah ayo dah ntar kesorean lagi," jawab Aya malah menarik tangannya lagi.
"Iih! Maksa gue mulu sih lo! Gue bilang gue maluu?!"
"Lu tenang ajaa. Kemaren malah Kakaknya yang bilang sama gue ajak aja temen kamu itu katanya dan dia cuman ngira lo buru-buru balik buat ngerjain tugas doang, udah tenaang," jelas Aya meyakinkannya.
"Ah boong lu ngarang..."
"Beneraan Ya Allah kalau gue boong potong aja nih telinga gue. Gakpapaa udaah ayoo percaya sama gue ntar gue yang jelasin ke Kakaknya tentang lo kabur kemaren," potong Aya terus memaksanya.
Akhirnya Nindya pasrah di tarik Aya dengan wajah mengerucut sangat tak ingin dengan yang terjadi ke depannya.
*
Setelah berkeliling mencari-cari alamat sesuai yang Yunita kirim di Sharelock. Akhirnya mereka sampai dan berhenti tepat di depan Cafe Yunita.
Aya melongo di halaman parkir yang luas itu.
"Yang bener lo, apa gak salah nih?!" tanya Nindya ragu seraya melihat sekelilingnya bengong.
"I-iyaa ini sesuai yang di kirim Kakaknya kok jalannya kita ikutin," jawab Aya seraya memapangkan layar handphonenya memberitahu Nindya bahwa mereka mengikuti Maps dengan benar.
Mereka lalu membuka helm dan turun dari motor dengan masih bengong melihat sekitarnya. Mereka pun mulai berjalan memasuki Cafe mewah itu.
Nindya dan Aya sempat bengong dan merasa ragu karena mereka tertegun melihat Cafe yang ber vibes mahal seperti itu sampai mereka kebingungan di mana pintu utama untuk masuk dan bagaimana cara bilangnya.
****
Ternyata di dalam telah ada lebih dulu Steffani, ya dia datang karena memberitahu Yunita kalau akan bertemu dengan Yuda malam ini di sini dan akan memberi Yuda dinner yang spesial untuk perpisahan mereka.
"Oohh jadi kamu mau pergi ke Singapore? Duuh Kakak beneran sedih deh dengernya," lirih Yunita.
"Iya Kak, Steffani mau fokus buat majuin karir Steffani di sana. Biar bisa jadi Istri yang hebat juga buat Yuda hehe," jawab Steffani malu-malu.
Yunita hanya tersenyum dengan bibir manyun menatapnya merasa senang Steffani mengatakan itu padanya. Yunita sebenarnya mengetahui perasaan Adiknya yang tak mencintai Steffani dari awal karena sifatnya. Namun, Yunita tetap menjaga perasaan Steffani dan menghargainya karena Steffani memang wanita yang baik juga padanya.
"Steffanii, aamiin Kakak doain semoga karir kamu semakin maju ya. Bukan buat jadi Istri Yuda ajaa karenaa jodoh itu gak ada yang tau dan Kakak berharap jodohnya Yuda itu memang kamu, tapii lebih penting itu buat diri kamu sendiri sayang," kata Yunita tersenyum mengerutkan alisnya merasa sedikit kasihan pada wanita berumur 23 tahun itu seraya membelai kedua bahunya lembut.
Steffani hanya menunduk lalu tersenyum malu-malu dan mendongak ke arah Yunita lantas mengangguk tanda mendengarkan calon Kakak Ipar yang dia dambakan.
"Udaah, kamu boleh pulang dulu kok, istirahat. Tenang aja biar Kakak nanti yang urus soal Yuda biar kalian bisa dinner spesial bersama di sini, hm?" ucap Yunita tersenyum lembut padanya.
Betapa bahagianya Steffani mendengarnya. Dia langsung mengangguk mantap begitu semangat dan tak sabar membayangkan malam tiba untuk bersama pujaan hatinya itu.