Bab 18

2021 Kata
Nindya sekarang hanya terdiam membelalakkan matanya sungguh menahan sesak. Perkataan Yuda yang tajam tadi membuat dirinya semakin terpuruk lantas semakin merasa rendah pada dirinya sendiri. Tanpa sadar matanya semakin memerah berkaca-kaca menahan semua rasa sesak yang ada di dalam d**a dengan yang terjadi. Lukanya yang lumayan parah itu kini seakan kalah, perih dari luka di tubuhnya seakan tak dia rasakan lagi. Nindya lalu memandang ke semua lembaran merah yang di impikan semua orang itu. Lumayan banyak yang dia genggam. Dia terus memandang semu ke uang-uang yang di berikan Yuda tadi. "Kalau lo sampai nekat nyeritain pertemuan kita ini ke siapapun sampai media tau karena lo sengaja pengen viral mengatasnamakan gue karena bisa begitu dekat begini sama gue dan terluka karena gak sengaja gue serempet tadi..." Perkataan Yuda yang seakan mengancamnya itu sangat teringat dalam otaknya. "Gue gak akan segan-segan buat membawa lo ke pengadilan dan ngurung lo di penjara," Teringat perkataan dan lirikan Yuda yang tajam ke arahnya langsung membuat Nindya meremas kuat uang yang Yuda berikan. Nindya semakin merasa dendam padanya. Menurut Nindya, Yuda adalah orang yang benar-benar arogan, sombong, sungguh tak pantas untuk di sanjung karena seakan telah memperlakukannya dan menganggap dirinya tergila-gila pada sosoknya. "HIIH!!" geram Nindya menghentak-hentakkan kakinya nyaris menghempaskan semua lembaran uang itu ke tanah. "Sok banget sih jadi orang?! Emang dia kira gue fans gituh sama dia? Ewwh, huh sorry aja gak level gue buat ngeidolain Seleb abal-abalan kek dia. Sombong banget lagi?!" gerutu Nindya. "Geer banget ewh! Bisa-bisanya sepede itu berkata di depan gueh! Cih!" "Awh!" setelah terlalu keras menghentakkan kaki juga menggerutu kesal akhirnya dia tersadar dengan semua luka yang di alaminya. Sungguh malang memang nasib gadis itu. Nindya terlihat menahan sakitnya sembari terus memegangi sikunya dengan tangan kanannya. Akhirnya dia pasrah dan mulai melangkah tertatih menuju rumah sakit lumayan besar itu untuk mengobati dirinya sendiri sesuai yang Yuda bilang. **** Aya yang dari tadi sudah sampai di rumah langsung kebingungan. "Mana sih Nindya dari tadi belom pulang-pulang?!" tanyanya heran berdecak kesal. "Semoga aja dia baik-baik aja. Kalau kenapa-kenapa kan gue yang males. Di interogasi Bokap sama Nyokapnya. Huhh ngeselin banget emang kalau punya teman se kost kek gini. SUMPAHH! HUH!" gerutu Aya sembari berkacak pinggang mendengus lelah terus bolak-balik tak tenang di depan pintu menunggu Nindya. Saat Aya sudah sangat bosan dan capek sampai-sampai dia telah menguap beberapa kali menunggu kedatangan Nindya akhirnya dia pasrah dan mulai memasuki kamarnya. Namun, ketika baru mulai melangkah masuk. Tiba-tiba ada suara motor yang di bawa seorang pria entah siapa stop tepat di depan halaman mereka hingga Aya terkekeh kembali menengok ke luar. Aya lalu kembali melangkah mundur untuk menengok siapa yang datang. Ternyata sungguh tak di sangka Nindya lah yang datang bersama Ojek. Nindya lalu membayar Paman Ojek itu. "Terimakasih Neng," ucap Paman Ojek tersenyum sopan. "Iya Pak sama-sama," jawab Nindya juga ramah sembari menahan sakitnya. Terlihat sekarang lukanya juga sudah di balut rapi dengan kapas serta obat merah. Benar-benar sudah terobati meski Nindya mulai merasakan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuhnya akibat terhempas lumayan keras saat melompat ke belakang menghindari serempetan mobil Yuda yang terbilang cukup besar itu. Betapa terbelalaknya Aya ketika melihat teman sekostnya itu penuh dengan baluran kapas yang di rekatkan oleh selotip medis di beberapa bagian badannya. Aya langsung melangkah keluar menghampirinya. "YA ALLAAHH KENAPA PAS DATENG LU UDAH LUKA-LUKA BANYAK BEGINI NIN? LU KEMANA AJA SIIHH DARI TADI?!" kaget Aya sungguh tak percaya sampai berkacak pinggang menatapi Nindya sangat keheranan. Paman Ojek pun sudah berlalu. Nindya hanya diam menekuk wajahnya tak menjawab sepatah katapun kepada Aya. "YA AMPUN NINDYAAA. NINDYA LU KENAPA SIH ANEH BANGET DARI TADI. SEKARANG PAS PULANG LANGSUNG LUKA KEK GINI LU HABIS NGAPAIN SIH?!" kata Aya mendengus lelah menatap Nindya. Nindya tetap tak menggubris semua pertanyaannya. Dia hanya menekuk wajahnya sembari melepaskan sepatunya lalu memasuki rumah. "Gue nyaris di serempet mobil Ya tadi," jawab Nindya lesu seraya melepaskan tas ranselnya. Betapa terbelalaknya mata Aya ketika mendengarnya. "Hah?!" Aya langsung mendekatinya cepat. "Jadi, lo keserem mobil?" tanya Aya kaget mengerutkan alisnya. Nindya sempat terdiam melirik ke arahnya begitu polos lalu mengangguk lesu dengan wajah tak berekspresi tanda memang sudah begitu lelah. "Aduh aduhh untung gak apa-apa?! Kok bisa lo sampe di serempet mobil kek gini Nin?! Emang lo gak liat mobil itu lewat?!" heran Aya. "Uggh, Ya ntar aja ya gue ceritain. Gue mau rebahan dulu ke kamar," rintih Nindya memegangi tengkuknya yang merasa begitu pegal. "O, ya-udah lah ayo sini gue bantuin huhh," kata Aya. "Huhm, makasih ya. Keknya gue ntar izin dulu deh gak masuk kelas, lu tolong anterin surat gue ini ya nanti ke Pak Doni, gue minta tolong sama lu," lirih Nindya. Dia lalu menepuk lembut bahu Aya lalu melangkah pergi memasuki kamar. Aya hanya menggeleng seraya menghela nafasnya tanda maklum dan langsung mengikutinya mencoba membantunya agar tidak jatuh saat berjalan. **** Nindya sekarang memang benar-benar sakit akibat kecerobohannya sendiri kemarin. Dia terlihat terus terbaring ke kamar sampai Aya pulang dari kampus. Nindya lalu berbangun mencoba memakan cemilan yang ada di dalam kamarnya. Terlihat begitu tak nafsu dan merasa begitu tak enak saat melahap makanan itu karena sekarang sekujur tubuhnya baru merespon sakit yang luar biasa akibat terhempas kemarin. Nindya yang baru saja duduk langsung menggeliat menahan sakit pegal begitu menyiksa di seluruh belakangnya itu. Namun, ketika Nindya ingin kembali merebahkan tubuhnya ke spring bed empuknya. "Assalamualaikum!" Terdengar sayup-sayup suara Aya membuka pintunya. Aya sudah pulang dan langsung memasuki kamarnya. "Alhamdulillah Aya udah pulang," gumam Nindya dalam hati sedikit tenang. "Nin," Aya melangkah memasuki kamarnya. "Ah iya masuk aja Ya," Aya lalu duduk di sampingnya. "Nih bubur ntar makan ya gue beliin tadi di depan," ucap Aya seraya menaruh bubur itu malas ke meja lampu tidur Nindya. Melihat perhatian Aya padanya membuat Nindya tersenyum merasa bahagia. "Makasih ya Ya, iya ntar gue makan kok," jawab Nindya. Aya ikut tersenyum lalu menarik nafasnya. "Ya, jangan lupa ntar di makan. Gimana? Badan kamu lumayan kurang kan?" tanya Aya. Nindya tersenyum lalu mengangguk lemas tanda kondisinya mulai membaik meski badannya masih merasa baru saja di pukuli warga sekampung. "Haha iyaa alhamdulilah udha mendingan kok Ya," jawab Nindya. "Hm syukur deh kalau gitu. Tadi Pak Doni udah nerima surat sakit kamu kok dan kata beliau iya aja. Asal nanti nih kamu selesain juga tugas baru kita," beritahu Aya. Betapa lelahnya Nindya ketika mendengar tugas baru. "Haduh tugas lagi, yang kemaren aja belum kelar," lirihnya. Nindya langsung memegangi dahinya pusing hingga membuat Aya tertawa. "Hahahaa makanya itulah namanya kuliah Sister," sahut Aya menyeringai sembari mengindikkan bahu membuang pandangannya. "Oh iya Nin, lu kenapa sih kemaren malah langsung kabur kek gitu ninggalin gue. Ngeselin banget emang," tanya Aya. Nindya langsung membelalakkan mata sungguh malu akan hal itu. Dia juga teringat kepada Yuda. Dia langsung gugup keringat dingin takut Aya marah dan mengiri lagi padanya akibat dia kebetulan lagi bertemu dengan Yuda dan malah semalam seakan semakin dekat saja mereka. Nindya langsung terdiam berpikir jangan sampai Aya tau kalau yang menyerempetnya kemarin sebenarnya ada sang Idola tercintanya, Yuda. "Ee mm," Nindya melongo memikirkan alasan ketakutannya kemaren pada Yunita. "Yaa gue takut Ya," jawabnya. Aya mengerutkan alisnya mendengar perkataan Nindya itu. "Hah? Takut? Kenapa kenapa lo kemarin?" tanya Aya heran. "Ya takut kalau Kakak-Kakak kemarin itu sebenarnya adalah orang yang mau menjual kita?!" sahut Nindya. Betapa terbelalaknya Aya ketika mendengar pernyataan Nindya itu. Kini Aya ternganga lebar melihat ke arah Nindya seakan merasa kaget sekaligus terheran ketika mendengar pernyataan temannya itu. "What?" "Ya iyalah, lo masa malah percaya sih. Lo pikirin deh masa kita langsung di tawarin pekerjaan kek gitu. Gak masuk akal banget tau gak. Terus katanya Cafenya elit lagi, rumah Adiknya juga kaya. Itu semua kan pekerjaan yang pasti persyaratannya hebat. Lah kita? S1 aja belom lulus?!" jelas Nindya sangat kesal pada Aya yang sangat mudah percaya kepada orang yang belum di kenal seperti Yunita kemarin. Mendengar itu Aya terdiam menekuk wajahnya lesu memikirkan bahwa perkataan Nindya itu benar adanya. "Yaa... Tau sih gue. Tau Nin," jawab Aya. "Kan? Lo pikir aja baik-baik Ya. Masa kita udah di ajak ke restoran mewah yang harga hampir kek uang buat kita makan sebulan di kostan dengan mudahnya dia beri ke kita hanya untuk membalas budi baik kita saat menolongnya di Jambret waktu itu kan?" sambung Nindya menjelaskan. Aya terus memikirkan semua itu dan sekarang sedikit merasa sedih. "Gak akan mungkin Ya. Orang memperlakukan kita yang baru saja dia kenal sebaik itu. Nawarin kerjaan lagi yang sebenarnya pekerjaan yang dia tawarkan itu kerjaan untuk orang yang lebih berpengalaman dan memiliki Ijazah Sarjana mungkin. Aku yakin, semua yang dia lakukan kemarin itu ada modus terselebung yang ingin dia rencakan untuk kita?!" ucap Nindya merasa sangat yakin. Aya langsung termenung menatapnya melongo. "Gak mungkin orang yang baru mengenal kita langsung memberikan banyak kebaikan kek gitu langsung. Kita toh cuman membantu dia itu juga bersama warga kampung. Kan?" ucap Nindya meyakinkan Aya. "Yaa bener sih bener apa yang lu bilang, karena kita emang jangan mudah terpercaya sama orang yang baru kita kenal. Tapi Nin ketika lo pergi itu sampai pulang kan Kakaknya lagi sama gue?" "Gak ada tuh, dia kek berkata aneh-aneh juga mencegat gue buat pulang. Dia malah langsung nyuruh gue buat nyariin lo yang kabur setelah lo salaman sama dia. Sumpah gile lu gak mikirin gue sendirian di tinggalin kabur langsung kek gitu sama Kakaknya. Jahat emang," gerutu Aya merasa kesal. Mendengar Aya curhat seperti itu. Nindya pun langsung tertawa kecil membayangkannya. "Pfft!" Nindya menahan mulutnya untuk tidak tertawa. "Ngeselin emang lo. Harusnya kalau lo takut lo harus bilangin gue juga?! Kalau beneran kek gimana? Gue yang di bawa duluan dan lo malah kabur duluan ngebiarin gue di bawa aja gitu?!" kesal Aya. "Ya elunya aja kemarin udah gue kodein malah masih aja acuhin gue dan asik ngomong ama tu Kakak-kakak," tamoik Nindya ikut kesal. "Mana gue paham lu kagak jelas juga ngodeinnya," Mereka malah adu mulut berdebat. "Udah-udah deh. Malas gue berdebat ama lo sama badan sakit-sakit kek gini," kata Nindya langsung berbaring ke samping membelakangi Aya. "Ye elu harusnya jangan suudzon kek gitu sama Kakaknya?!" celoteh Aya. "Emang bener baik sih menurut gue Nin, buktinya alhamdulilah gue pamitan ama dia ramah tamah kok. Lu aja mah kabur cepat banget ninggalin gue, bego emang," ucap Aya. "Tuh kan, gara-gara mau kabur lu malah sampai keserempet mobil. Untung selamat?!" tegur Aya padanya. Nindya langsung berbalik lagi ke arahnya. "Huhh, Nin. Lo juga gak salah sih curiga ama tu orang. Tapi gue yakin kok, Kakak itu memang orang yang baik dan Allah emang pertemukan kita sama dia. Gak salahnya kita samperin nanti tempatnya buat lamar kerjaan kan?" bujuk Aya. "Lu masih tetap percaya?" tanya Nindya meyakinkan. "Iya, soalnya Barista Cafe Cook. Kerjaan itu enak. Ber AC gaul gak kotor-kotoran?! Lu mau kan ngalah ama gue dan bantuin gue buat ngelamar kerja di sana?! Plis ya lu tenang aja pas lo udah sembuh kok temenin gue?! Lu istirahat aja dulu, ya?" bujuk Aya yang terlihat sedikit egois menyuruh Nindya untuk memang tidak menerima tawaran itu dan menyerahkannya saja kepadanya. "Tapi Ya apa emang iya? Kalau beneran di bohongin kitanya gimana?!" tanya Nindya masih meragukan. "Gue yakin Nin, udaahh kalau lo emang masih ragu and gak percaya sama penawaran Kakaknya. Gapapa, buat gue aja kalau lo mau lo jadi ART di rumah Adeknya hehehe," ucap Aya dengan entengnya. Betapa melototnya Nindya mendengar temannya begitu semaunya mengaturnya. Ya, meski Aya memang menjadi sahabat yang baik sekarang untuk Nindya. Namun, sifat Tuman yang ada dalam dirinya masih menetap. "Enak aja lu, lu aja sono garap tuh 2 lowongan gue ogah," tampik Nindya langsung menarik selimutnya dan berbalik membelakanginya kembali. Kini Aya lah yang merasa kalah. "Iiih! Nindya?!" kesal Aya mencandainya langsung menarik selimutnya. "Udah udaah ah. Gue mau tidur aja. Ya udah deh, iya. Ntar gue temenin aja elu buat pergi ke tempat Kakak-Kakak itu," kata Nindya. Nindya memang orang yang tak tegaan. Akhirnya dia pasrah saat Aya benar-benar terlihat ingin bekerja menjadi seorang Barista Cafe. Betapa terbelalaknya mata Aya mendengar ucapan temannya itu. "AAAA!! BENERAN KAN NIN?" serunya sungguh bahagia tak percaya. "Iyaa aah! berisik?!" gerutu Nindya kesal sudah memejamkan matanya. "AA!! MAKASIH NINDYA CANTIK! EMUACH?!" "IHH!!" Aya langsung memeluknya erat dari belakang hingga Nindya menjerit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN