Bab 17

2046 Kata
Betapa terbelalaknya mata Yuda saat melihat ternyata orang yang ia tabrak adalah seorang yang sudah 2x tak sengaja bertemu dengannya. Nindya yang juga melihat orang yang nyaris menyerempetnya juga melotot, matanya seakan ingin copot saja saking kagetnya dengan mulut yang terbungkam rapat tanda sangat terkejut. Meski dengan tampilan santai yang kasual. Pancaran dari aura kharismatik Yuda seakan tetap tak luntur. Ia terlihat malah makin tampan berpenampilan simpel seperti itu. Nindya yang langsung mundur menghindarinya. "Astaga?! L-lo lagi?" lirih Yuda mengerutkan alisnya melotot sungguh merasa aneh. Nindya hanya melotot melihat Yuda dari ujung rambut hingga ujung kaki Yuda yang membuat Yuda semakin merasa aneh padanya. "Lo, kenapa sih gue ketemu sama lo mulu..." tanya Yuda heran sembari menunjukinya. Yuda menyeringai sembari membuang mukanya ke belakang merasa sangat lucu sekaligus kesal. "Gue juga bingung kenapa ketemu sama lo mulu," jawab Nindya kesal. Yuda langsung menatapnya. Namun, Yuda seketika terkekeh melihat luka yang lumayan parah di lutut serta pipi Nindya. "Astaga?! Lo luka?!" tanya Yuda panik. "Ya udah sekarang lo ikut gue aja! Tapi jangan bilang siapa-siapa ya tentang ini plis? Ayo," ajak Yuda langsung menarik tangannya. "AW! SAKIT TAU!" jerit Nindya kesal langsung menepis tangannya yang terluka di tarik Yuda. Yuda langsung terkejut karena sungguh tak tau jika tangannya juga ikut terlibat. "So-sorry sumpah gak sengaja," panik Yuda. Nindya hanya mendengus kesal sembari menahan sakitnya. Dia malah mau menuruti Yuda mencoba berdiri. Melihatnya yang masih kesusahan untuk bangun Yuda refleks membantunya hingga Nindya terdiam seketika saat Yuda begitu dekat dengannya. Nindya terlihat langsung membatu seakan tak bisa bergerak sama sekali. Sungguh wangi memang tubuh Superstar tampan ini. Wanginya memang memiliki wangi yang begitu khas hingga membuat Nindya mematung seketika. Akhirnya Nindya bisa berdiri dengan sempurna berkat bantuan Yuda. Yuda yang tersadar dengan yang terjadi langsung terheran menoleh ke arah Nindya yang di peluknya. Kini Nindya sungguh wanita paling beruntung di dunia jika para fans Yuda yang memimpi-mimpikan bisa sedekat itu dengan Yuda tau jika Nindya mendapatkannya saat ini. Namun, sekarang Nindya dengan gampangnya bisa begitu dekat mendekatinya hingga membuat Nindya sendiri juga terheran. Mereka malah saling terdiam sejenak, seakan terpana dengan tatapan dari mata indah mereka masing-masing. Entah mengapa Yuda juga sekarang menjadi kaku dan terus menggenggam erat jemari panjang lentik Nindya. Nindya juga masih membeku tak bergerak sama sekali terus memandang bola mata coklat terang lelaki itu sudah tak menyadari rasa sakit yang ada di semua lukanya. Nindya seakan tiba-tiba membeku dalam lautan dingin di dalam dekapan Yuda. Namun, Yuda langsung terbuyar dari semua pikirannya karena teringat sekarang ia berada di tempat umum. Betapa paniknya Yuda, ia langsung menoleh sekitar panik kalau-kalau ada salah satu wartawan yang tau keberadaannya. Tanpa pikir panjang Yuda langsung menarik Nindya agar lekas pergi dari sana dan masuk ke mobil mengikutinya untuk pergi ke rumah sakit. Nindya yang di tarik Yuda langsung panik dan kesal. "Mas Mas mau bawa saya ke mana Mas?!" panik Nindya kesal sekaligus takut. "Udah jangan banyak ngomong ayo masuk!" tampik Yuda langsung membuka pintu mobilnya seraya terus memeriksa sekitarnya. Nindya langsung ia dorong kasar ke dalam mobil hingga Nindya berteriak kaget. Yuda langsung berlari dan bergegas memasuki mobilnya agar tidak ada yang menyadari keberadaannya. Nindya yang tersungkur dengan kaki masih berada di kursi depan berbelit-belit akibat di dorong Yuda saja langsung merengek kesakitan kembali dengan posisi tengkurap yang konyol. Betapa melototnya Nindya ketika tersadar Yuda mulai menjalankan mobil pribadi mewahnya yang jarang terekspos media karena memang sengaja ia tak beritahukan, mobil itu khusus agar saat ia memakai itu para wartawan tak tau dan mengikutinya saat ia pergi sendiri. Nindya langsung mendongak kaget melotot dan menoleh ke arah Yuda yang menyetir di depan dengan rambut yang sudah acak-acakan menutupi wajahnya hingga nyaris tak terlihat sama sekali. "Ugh! Huuh!" rintih Nindya begitu kesal lantaran di dorong kasar oleh Seleb itu. Dia langsung merasa sangat tak terima di perlakukan kasar juga tak sopan seperti ini. Nindya langsung membetulkan posisinya mencoba bangkit menarik kakinya agar bisa bangun meski tersangkut hingga membuatnya merengek kesakitan. Setelah berhasil bangkit dan duduk sempurna di belakang Nindya langsung menyergah rambutnya agar tidak menutupi wajahnya. Terlihat sekarang kecantikannya kembali terlihat meski sudah serampangan dengan wajah luka-luka di pipi kirinya. "MAS! MAS JANGAN SEMBARANGAN YA MEMPERLAKUKAN SAYA SEPERTI INI! JANGAN SEMENTANG MAS ITU ARTIS, SELEB, ORANG TERKENAL MAS BISA BAWA SAYA BEGINI SESUKA HATI MAS YA! JANGAN REMEHIN SAYA!! ASAL KAMU TAU SAYA INI BUKAN FANS MAS SAMA SEKALI!!! ENGGAK!!" kecam Nindya lantang sangat marah padanya. Yuda yang mendengar celotehannya hanya menatap ke depan sangat malas menahan sebal lalu meliriknya tajam dan hanya mendengus kesal tanda mengacuhkan saja dan terus memyetir. Melihat respon Yuda yang malah sama sekali tak meresponnya, Nindya semakin merasa kesal padanya. "Hiiihh!! Tuli ya jadi orang! Ngeselin banget sih!" gerutu Nindya begitu gregetan sampai dia memukul sandaran kursi Yuda hingga Yuda bergidik kaget langsung menoleh ke belakangnya. "LO BISA DIAM GAK SIH!" gertak Yuda. Mendengar gertakan Yuda yang kasar membuat Nindya terdiam seketika hingga jantungnya berdebar kencang seketika. Dia langsung merasa sedikit takut karenanya. Melihat Nindya yang terlihat gemetar dengan wajah menahan takut namun masih kesal padanya membuat Yuda merasa sedikit menyesal saat menggertaknya kasar. Sempat terdiam sejenak tak membuat rasa kesal Nindya meredam. Dia malah semakin dendam pada Yuda yang terus membawanya entah kemana hingga membuat Nindya semakin cemas. "YA TAPI MASNYA YANG BIKIN SAYA BINGUNG?! MAS JUJUR MAU MAS APAKAN SAYA HAH? Saya mau di bawa ke mana?!" tanya Nindya dengan nada tinggi sedikit gemetar. Terlihat sekarang sampai matanya berkaca-kaca memerah menahan amarah. Yuda hanya mendengus pelan menahan rasa kesal dalam dadanya dan mencoba memaklumi semua hal yang di lakukan Nindya karena ia juga merasa bersalah telah melukai gadis itu. "MAS JAWAB DONG?!" kesal Nindya. **** Aya sudah berpamitan dengan Yunita. Sekarang dia masih bingung di parkiran melihat-lihat sekelilingnya heran. "Haduh beneran hilang tu anak ke mana ya?" tanya Aya bengong menggaruk kepalanya. "Gue telpon kagak di angkat, chat juga, jangankan di bales, di bacanya aja kagak, duuh Nindya ngeselin banget sih tu anak ke mana sih dia ah?!" gerutu Aya berkacak pinggang sudah lelah sembari memeriksa handphonenya apakah ada notifikasi dari Nindya. Namun, ternyata tidak ada sama sekali. Aya mendengus kesal membuang pandangannya dari handphone ke samping melihat sekitar. "Mungkin udah di rumah kali ya, bisa aja langsung ngorok tu si t***l," kata Aya. Dia lalu menaiki motor dan memasang helm untuk pulang saja. Dia pun menyalakan starter lalu pergi dari sana mencoba menyusul Nindya yang dia kira telah sampai di kost mereka. **** "Udah lo diem gak usah khawatir?! Gue bukan Artis yang suka bawa cewek kagak jelas kayak lo?!" kesal Yuda yang terus-menerus di marahi Nindya. "Dih! Sok banget ya ngatain gue. Awas lo ya kalo macem-macem, gue akan laporin lo dan bikin nama lo tercoreng dari dunia hiburan! Gue gak akan takut!" ancam Nindya serius. "Berisik tau gak celotehan lo itu, gak usah keegeran deh," tampik Yuda mengerutkan alisnya malas semakin menggas mobilnya agar lekas sampai ke rumah sakit hingga membuat Nindya terkaget takut langsung memegangi belakang kursinya agar tak jatuh. "YA KARENA MAS LANGSUNG NARIK SAYA DAN BAWA SAYA BEGINI AJA?!" "ITU KARENA LO GAK LIAT-LIAT SAAT JALAN?!" geram Yuda hingga membuat Nindya kalah dan hanya melototinya begitu kesal. Mereka terus saja berantem sampai saling membuang muka cemberut. Nindya langsung melipat kedua tangannya ke d**a sangat sebal dan langsung merebahkan belakangnya kasar ke kursi yang dia tempati menjauh dari Yuda saja sekarang hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah sakit. Tersadar dengan tempat yang di singgahi Yuda membuat Nindya terkekeh sekarang. Betapa terbelalak matanya sekarang karena Yuda memang berniat menolongnya dan benar-benar membawanya untuk berobat. Nindya kini sungguh merasa malu atas perbuatannya yang dia lakukan tadi dan telah menuduh Yuda yang tidak-tidak. "Ternyata dia emang mau mengobati luka gue. Gak nyulik gue," gumam Nindya dalam hati sungguh melotot menahan malu. Yuda menarik nafas merasa begitu lega dengan wajah masih menahan kesal. "KELUAR," ucap Yuda melirik ke arahnya tajam. Nindya sekarang hanya terbungkam tak bisa menjawab. Dia masih begitu malu dan hanya melotot mengerutkan alisnya menatap Yuda. Yuda yang melihatnya tetap diam di sana ikut melongo. Yuda langsung mendengus kesal dan melepas sabuk pengamannya lalu keluar. Nindya semakin gugup karenanya hanya gelisah. Ternyata Yuda membukakan pintu untuknya dari luar. Betapa baiknya memang perlakuan lelaki tampan ini. Meski ia sadar ia adalah seorang Superstar. Ia tetap memenuhi tanggung jawabnya. Nindya yang melihat pintu mobilnya terbuka langsung melongo membelalakkan matanya. Dia melihat ke arah Yuda. Yuda terlihat seakan tak sudi melihat wajahnya tetapi tetap saja mau menahan pintu itu sampai Nindya keluar. Nindya yang melihat perlakuan Yuda yang seakan begitu tulus itu kini terdiam. Nindya kini menatapnya termenung. Terlihat begitu indah wajah rupawannya meski menekuk menahan kesal. Nindya langsung terdiam seribu bahasa malah melamun seakan terpana melihat ketampanan juga ketulusannya. Yuda yang tersadar dengan tatapan Nindya langsung menoleh melotot ke arahnya. "KELUAR?!" ucap Yuda langsung menyadarkan Nindya. Nindya langsung tersadar membelalakkan matanya dan menggeleng cepat mencoba membuyarkan semua lamunannya. "Iya iya sabar, tanpa kamu suruh saya juga turun," sahut Nindya langsung membetulkan tasnya untuk keluar dari mobil itu. Kini Nindya sudah keluar dan mencoba menunduk menghindari tangan Yuda yang masih menahan pintu mobilnya. "Awh?!" Nindya sedikit oleng hingga sekarang dia malah tak sengaja terdekap di dalam d**a bidang lelaki itu. Yuda tetap menahannya tak melepaskan tangannya dari pintu mobil hingga Nindya tertahan memegang erat bahunya. Nindya langsung melotot saat tersadar wajahnya nyaris menempel semua ke bahu lebar Yuda yang begitu indah. Yuda mengerutkan alisnya menahan sebal. Nindya kembali mendongak menatap wajah tampannya. Gadis itu kini seakan sudah terjatuh dalam jurang keterpanaan. Nindya hanya melongo polos memandangnya sekarang dan terus memegangi bahu Yuda lembut dengan kedua tangannya. Yuda langsung menutup pintu mobilnya kembali hingga Nindya langsung tersadar. Saat menutup pintu mobil tangan Yuda seakan semakin memeluk tubuh mungil gadis itu hingga membuat Nindya semakin gugup dan jantungnya berdebar kencang membelalakkan matanya. Sekarang Yuda merenggangkan tubuhnya menjauh dari Nindya hingga Nindya pasrah saja merasakannya sampai Nindya memejamkan mata dan langsung melotot mencoba menepis rasa gugupnya itu. "Huhh," dengus Nindya pelan membuang nafasnya. "Ni," Yuda langsung menyodorkan beberapa lembar uang ratusan pada Nindya hingga membuat Nindya terkecoh. Nindya langsung mengerutkan alisnya ketika melihat uang ratusan itu di sodorkan Yuda padanya. "Lo ambil, pakai duitnya buat berobat juga buat apa yang lo mau. Gue minta maaf dan gue kasih ini buat tanggung jawab sama lo," ucap Yuda. Nindya kini hanya terdiam mengerutkan alisnya lalu menoleh ke arah Yuda bingung. "DAN GUE MINTA SATU HAL. INI SANGAT PENTING DAN GUE PINTA MOJON SAMA LO. LO JANGAN SEBARIN ATAU CERITAIN SEMUA INI PADA SIAPAPUN, CUKUP KITA AJA YANG TAU. KARENA GUE GAK MAU, LO JADI BAHAN PEMBAHASAN KARENA GUE DAN NAMA GUE AKAN JADI BAHAN GOSIP DI BERBAGAI BERITA DI MEDIA SOSIAL GARA-GARA LO," ucap Yuda serius menatapnya. Betapa perih hati Nindya ketika mendengar hal itu. Nindya yang awalnya sudah mulai merasa tenang melihat kebaikannya kini mulai merasa dendam lagi. Nindya langsung menarik nafasnya mencoba menahan sesak. Dia seakan tak sudi menerima uang dari Yuda. Sekarang dia menganggap Yuda adalah Aktor yang sombong merendahkannya karena Nindya pikir padahal dia memang sama sekali tak menginginkan dirinya viral hanya gara-gara tak sengaja bisa bersama dia. "Ambil?!" Yuda kembali membuat lamunannya terbuyar. Nindya langsung menoleh ke arahnya menahan air mata kesal. Dengan terpaksa akhirnya Nindya menerima uang itu lantas di paksa Yuda langsung di taruhnya ke tangan Nindya. "Lo harus ingat kata-kata gue tadi," ucap Yuda. Nindya hanya diam menatapnya seakan menahan dendam. "Kalau lo sampai nekat nyeritain pertemuan kita ini ke siapapun sampai media tau karena lo sengaja pengen viral mengatasnamakan gue karena bisa begitu dekat begini sama gue dan terluka karena gak sengaja gue serempet tadi..." Yuda melangkah santai begitu mendekati wajahnya hingga Nindya mendongak ke arahnya sedikit melangkah mundur. "Gue gak akan segan-segan buat membawa lo ke pengadilan dan ngurung lo di penjara," ancam Yuda terlihat sangat serius sungguh benar-benar memperlihatkan semuanya pada Nindya bahwa tak main-main. Nindya langsung membelalakkan matanya mendengar ancaman Yuda padanya. Yuda terus menatapnya dengan tatapan serius menantang. Lelaki itu lalu langsung beranjak pergi melewatinya meninggalkan Nindya yang masih berdiri tegak menatapnya. Yuda memasuki mobilnya kembali dan menutup pintu mobil mewahnya lumayan keras hingga membuat Nindya terkekeh sedikit bergidik. Terlihat sekarang mobil itu menyala dan mulai berputar untuk berjalan. Setelah berhasil belok, Yuda langsung menggas mobilnya cepat meninggalkan Nindya yang masih berdiri di sana sudah melihat ke arahnya yang begitu cepat menjauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN