Bab 16

2034 Kata
"Memang bener-bener gila ternyata ni orang! Keknya tadi dia sengaja juga deh buat pancing Jambret supaya ada yang merhatiin dia dan dia berhasil dapetin kami!! Oh my good tolong hamba mu ini ya Allah, ni Aya malah makin percaya lagi d***o emang punya temen gue harus cepet-cepetan kabur aja nih dari sini sebelum dia semakin menghipnotis kami! Tapi gimana y caranya," panik Nindya sudah mengira bahwa kecurigaannya benar. Nindya langsung berpikir keras bagaimana cara agar bisa kabur dari Yunita sekarang juga. "Oohh he emm gituu ya Kak. Makasih ya infonya. Insyaallah nanti saya pikirkan dulu deh. Izin juga sama Mama dan Ayah," jawab Nindya tersenyum masih berpura-pura sopan dan ramah menutupi rasa kesalnya. Yunita langsung mengangguk mengedipkan matanya lembut tanda benar. Yunita sama sekali tak merasa kalau Nindya sekarang malah curiga padanya karena perlakuannya yang begitu baik malah langsung mempercayai mereka. "Hemm Ya?! Lo udah makannya," tanya Nindya mengangkat kedua alisnya melirik Aya kode mengajaknya untuk segera pergi saja. Yunita hanya mengerutkan alisnya. "Lu gak liat nih di piring," jawab Aya mendengus malas. Nindya hanya terdiam menahan rasa kesalnya karena benar juga apa yang di katakan Aya. Namun, Aya sama sekali tak mengerti basa-basinya yang memberikan kode agar cepat-cepat menyelesaikan makan saja lalu pulang. Aya malah sangat santai begitu lambat menghabiskan makannya dan ingin lebih dekat lagi dengan Yunita. Yunita yang melihat tingkah laku lucu mereka hanya menyeringai menahan tawa sembari menggeleng. "Udaah gakpapa, makan aja dulu kenyang-kenyang. Ya," sahut Yunita seraya memotong steak yang sudah hampir habis itu. "Iya Kak. Tau nih Nindya apaan si desak-desak gue makan. Jadi gak enak tau jadi gak ngenikmatin cita rasa steaknya gue gara-gara lo," gerutu Aya. Nindya hanya melotot seakan sangat terkejut dengan perkataan Aya. "Yaa gue cuman nanya doang kok kagak desak elo suudzon banget sih," rese Nindya. "Aduh, gimana nih. Aya kagak ada paham-pahamnya kenapa sih gue kodein. Hm gue harus cari cara supaya kami bisa kabur dari dia," pikir Nindya sangat keras dalam hati sesekali melirik ke arah Yunita yang begitu santai melahap steaknya dengan lirikan menyelidik. "Eehmm, minumnya lama amat ya kok belom dateng-dateng," kata Nindya dengan tubuh tak tenang berpura-pura mendongak memeriksa pelayan. Yunita tersadar juga kalau minuman mereka sungguh lama datangnya dan ikut menoleh ke belakangnya. Namun, baru saja Yunita ingin mencari waitersnya. Waiters itu datang seakan merasa terpanggil hingga membuat Nindya kaget. "Lah langsung datang?" tanya Nindya tak percaya. Yunita langsung menutup mulutnya nyaris tersedak karena menahan tawa melihat wajah Nindya yang konyol. Nindya tersadar akan hal itu dan kini dia merasa sedikit malu menyengir tipis pada Yunita. "Permisii ini minumannya maaf agak lambat Bu soalnya tadi lagi nunggu buahnya di ambil ganti yang baru biar lebih fresh," ucap Waiters laki-laki itu sopan seraya menaruh 4 gelas berisi minuman yang terlihat begitu indah dan pastinya sangat menyegarkan di hiasi dengan hiasan irisan lemon juga daun mint. "Iya gakpapa makasih ya," jawab Yunita. Waiters itu langsung membungkuk sopan lalu pergi. Nindya yang sebenarnya ingin beralasan cabut dari sana untuk menghampiri Waiters kini gagal. Betapa kesalnya dia pada dirinya sendiri. Dia mendengus kesal seakan ingin menangis saja. Namun, ketika melihat minuman yang terlihat mewah juga sangat menggugah tenggorokan. Nindya meneguk air liurnya sedih menatap gelas itu. Akhirnya dia pasrah dan menikmati makan dan minumannya. * Mereka pun selesai menghabiskan makan. Betapa girangnya hati Nindya berhasil melewati itu. "Alhamdulillah mungkin ini emang rezeki buat gue sama Aya. Sekarang gue harus cepat-cepat pergi dari sini, sebelum ni Kakak-kakak berhasil membawa kami dari kota ini dan menjual kami. Ih! Amit-amit jangan sampai itu terjadi! Heh lo pikir gue adalah Mahasiswi yang gampang percaya?" gumam Nindya dalam hati mencibir seraya membuang pandangannya dari Yunita merasa menang. Dia bergegas berdiri untuk langsung kabut saja hingga membuat Aya dan Yunita mendongak ke arahnya terheran. "E eeh, mau ke mana lo kek buru-buru gitu?" tanya Aya heran. "Eem aduh Ya gue lupa, m-maaf Kak. Keknya saya harus pulang sekarang soalnya ada tugas yang harus saya kerjakan," izin Nindya sopan. Yunita yang mendengar itu langsung berkedip melongo. "Loh gitu ya? Udah beneran kenyang?" tanya Yunita sekali lagi seraya ikut berdiri membuat Nindya semakin takut berpikir Yunita memang benar-benar ingin menahannya agar tidak kabur tanpa Aya sadari sedikitpun yang Nindya kira itu. Nindya hanya melotot mulai gemetar menatap Yunita. "Itu Dessertnya belom di makan, yakin udah kenyang?" tanya Yunita sekali lagi meyakinkan. Nindya yang merasa ketakutan kini mencoba tersadar pada dirinya sendiri. Dia langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan serius seakan siap menantang Yunita. Aya hanya ternganga duduk melongo di antara Yunita, Nindya melihat mereka yang tepat berdiri berhadapan. Nindya mengerutkan alisnya mencoba mengeluarkan perkataan yang seakan tertahan di dalam tenggorokannya. "S-saya beneran udah kenyang Kak. Terimakasih banyak Kak atas semua balasan Kakak ini, bagi saya ini adalah hal yang sangat berharga bagi saya karena baru kali ini saya bisa makan ke restoran mewah seperti ini karena Kakak," jawab Nindya mencoba dewasa. "Nin kok langsung gini sih? Gak sopan bentar dulu kek kita temenin Kakaknya di sini," kesal Aya langsung ikut berdiri. Nindya langsung menoleh ke arah Aya. "Terserah, kalau lo mau tinggal dulu gakpapa. Gue mau pulang, kerjain tugas dari Pak Dony secepatnya," jawab Nindya bernada serius menatap tajam ke arah Aya hingga membuat Aya sedikit merinding melotot konyol ketakutan. "Waaw, Kakak gak percaya. Ternyata kamu bukan hanya cantik aja, tapi rajin juga selalu mau selesain tugas agar cepat selesai," puji Yunita. "Ehhehe Kakak bisa aja. Gak juga saya cuman takut gak selesai kayak temen saya ini Kak. Ya udah Kak terimakasih banyak ya Kak, Assalamualaikum," jawab Nindya nyengir malu-malu membungkuk sopan tetapi setelahnya malah langsung berjalan cepat dan berlari saat telah berhasil beberapa melangkah menjauh di dekat Yunita. "Eh? Lah kok? Hey!" teriak Yunita dengan nada sedikit gagap karena merasa kaget sekaligus begitu heran dengan sikap aneh Nindya yang langsung kabur di hadapannya. Betapa melongonya mereka saat memandangi Nindya terus berlari terbirit-b***t, dia telah sampai di pintu depan dan terlihat langsung membukanya gelagapan begitu takut hingga terlihat dia nyaris tersungkur saat keluar pintu. "EH LO MAU KE MANA NIN! WOY!!?" teriak Aya juga merasa begitu kaget dan refleks langsung ingin mengejar Nindya tetapi sayang Nindya sudah menghilang pergi. "KENAPA SIH TU ANAK?!" kesal Aya merasa begitu heran sampai-sampai dia menggaruk samping dahinya bertanya-tanya. Yunita yang sekarang merasa sangat tak nyaman kepada Nindya kini menjadi bertanya-tanya juga. Kini Yunita semakin merasa malu dan merasa bersalah entah apa yang dia perbuat hingga Nindya langsung kabur terbirit-b***t seperti itu seakan dia ingin berniat saja padanya. "Aduhh, sorry banget ya Kak... Sumpah... Aku juga gak tau kalau dia malah langsung kabur ga sopan kek gitu di hadapan Kakak, sumpah Kak aku juga bingung kenapa dia," kata Aya sangat tak enak sekaligus malu mempunyai teman seperti Nindya. Yunita yang mendengar penjelasan Aya langsung sedikit merasa lega. "Hehe, iyaa gakpapa kok Dek. Mungkin dia emang beneran pengen cepat-cepat ngerjain tugasnya," jawab Yunita tersenyum mencoba memaklumi. Aya sekarang sedikit merasa lega dengan respon Yunita yang memaklumi. "Iya Kak, mungkin. Tapi, tetap ajalah ga sopan. Emang aneh tu anak," lirih Aya malu sendiri jadinya. "Udaah gakpapa kok, kalau kamu udah memang beneran kenyang dan mau pulang juga pulang aja sekarang gakpapa. Biar tugas kamu cepat selesai juga kan? Kalian kan sekelas?" ucap Yunita. Aya langsung terdiam menatapnya. Aya lalu tersenyum menyeringai. "Iyaa Kak, makasih banyak ya. Nanti kayaknya aku bakal beneran ngelamar kerjaan di Cafe Kakak. Beneran kan Kak?" harap Aya. Mendengar itu Yunita semakin bahagia. "Iyaa beneran kok. Kamu yakin? Ya udah nanti kalau besok atau lusa kamu gak sibuk. Kabarin aja Kakak. Nih Kakak kasih nomor handphone Kakak ya," jawab Yunita langsung mengambil handphone mewahnya di tas. Aya langsung tersenyum lima jari baru teringat ingin menyimpan nomor Kakak cantik ini. Akhirnya mereka bertukar nomor w******p dan berteman. "Udah aku tes itu Kak namaku Haya. Ujung no nya 963," beritahu Aya. Yunita langsung membuka WhatsAppnya dan memeriksa chat Aya yang masuk. "Ohh iya ini kan? Oke Aya, nama Kakak Yunita," "Nahh bener Kak, ooh. Okedeh salam kenal ya Kak Yunita," sahut Aya semangat. "Haha iya Aya, salam kenal juga ya," sahut Yunita tersenyum manis. Kini mereka pun sudah saling berteman di w******p. "Oke udah aku save juga Kak nomor Kakak. Aduh sumpah makasih banyak banyak banyaak loh ya Kak. Aku bener-bener bingung ngebalasnya nanti gimana. Tapi aku yakin Allah pasti balas Kakak lebih baik lagi di bandingkan semua yang Kakak beriin buat kami," haru Aya sungguh tersentuh. "Hm aamiin makasih juga ya Ya. Kalian juga. Oh iya nanti kalau kamu mau bawa berkas lamaran kerja ajak aja temen kamu tadi gakpapa kok," kata Yunita. Aya langsung terdiam bengong sejenak lantaran masih tak enak pada Yunita karena tingkah Nindya tadi lalu mengangguk tanda menyetujui. Akhirnya mereka berpamitan. **** Nindya terus berlari sembari sesekali menengok ke belakang. Melihat di belakang sudah sama sekali tak terlihat batang hidungnya Yunita. Dia langsung tersenyum lima jari merasa sangat lega dan begitu bahagia. "Hahahaha! Akhirnya gue bisa kabur dari tu penipu!" serunya merasa sangat menang terus berlari kencang tetapi malah masih menengok ke arah belakang tanpa memperhatikan jalan lagi dan sekarang dia tak menyadari jika dia sudah mulai berlari ke tengah jalan beraspal yang luas untuk lalu lalang motor maupun mobil. **** Yuda terlihat berpakaian santai saja. Ternyata dia hanya ingin pergi menuju ke sebuah Apartemen untuk menemui seorang Perancang Busana yang akan membuatkan pakaian khusus untuk acara bergengsi yang akan di adakan di salah satu channel televisi. "Oke baik Mas ini saya udah otw ke sana," ucap Yuda pada orang yang ia telpon sembari terus menyetir. "EH! WOYY!!" "SRRTTT!" Namun, di saat-saat ngebutnya ia tiba-tiba ada seseorang yang muncul langsung berlari cepat ke tengah jalan raya yang langsung membuat Yuda terkejut setengah mati refleks langsung mengrem kuat mobil mewahnya dan nyaris terbanting ke kiri juga terbalik ke depan. Nindya yang kini baru tersadar ada sebuah mobil yang nyaris menabraknya keras langsung berteriak keras sangat takut melindungi kuat seluruh wajahnya dengan kedua tangannya pasrah sembari cepat melompat ke arah belakang hingga dia terjatuh keras ke tanah. "AAAA!!" "SRRT!" Nindya sempat terkena pantulan dari depan mobil Yuda karena memang Yuda sudah tak bisa mengrem lagi. "HUH HUH HUH, ASTAGHFIRULLAHAL'AZIM!" Detak jantung Yuda kini sudah tak terkendali seakan ingin copot saja sangat kuat berdebar hingga ia sekarang ngos-ngosan dengan d**a naik turun begitu syok apa yang terjadi di hadapannya. Nindya terlihat juga sempat terdiam lantaran menahan sakit yang lumayan hebat di sekujur tubuhnya. Gadis itu kini tersungkur tak berdaya. "Aaagh, aawww. Ugh sakitt," jerit Nindya langsung mencoba bangun dengan kulit di tangannya yang bergores-gores merah banyak mengeluarkan darah dari garis-garis kecil goresan itu hingga seakan membuat lukisan abstrak. "ASTAGHFIRULLAH! APA JANGAN-JANGAN GUE UDAH NABRAK SESEORANG?!" panik Yuda yang sekarang melihat seorang gadis yang tersungkur di pinggir jalan yang ia lihat tadi mengira sempat terpental. "Adduuhh, huuu. Aww toloong," jerit Nindya terus berusaha bangun semakin menegakkan tangannya untuk menopang tubuhnya. Ternyata bukan hanya tangannya yang terluka. Tetapi pipi kirinya juga tak kalah abstrak. Sekarang pipinya juga banyak tergores kecil-kecil yang setiap goresannya mengeluarkan sebercak darah di mana itu membuat rasa perih yang hebat. Akhirnya gadis itu kembali tersungkur lemas tak berdaya dan langsung membaringkan tubuhnya sangat lemah mencoba menahan semua rasa sakit dan perih luar biasa pada tangan, pipi, serta lututnya akibat melompat tadi. Yuda yang melihat Nindya seakan menggeliat langsung melepaskan sabuk pengamannya sembari melihat-lihat sekelilingnya yang ternyata sama sekali tak ada orang lewat, Yuda begitu girang melihatnya dan langsung keluar dari mobil untuk menghampiri Nindya agar semua yang terjadi ini tidak sempat ketahuan orang yang lewat dan terjadi kehebohan untuk menggosipkan hal buruk dirinya. Yuda keluar dan langsung menutup pintu mobilnya keras lalu menoleh khawatir ke arah Nindya. Terlihat Nindya sekarang mulai kembali untuk bangun walau masih kesakitan. "MBA! MBA!! MBA TUNGGU MBA GAKPAPA! TUNGGU DI SITU AJA MBA!" teriak Yuda kalang kabut sendiri sedikit takut ragu gelisah melihat ke arah Nindya. Namun, karena ia takut orang akan melihat kejadian tak disengaja yang menimpanya itu akhirnya Yuda langsung berlari menghampiri Nindya yang terlihat lemah. "MBA! MBA! YA AMPUN! MBA GAKPAPA!" panik Yuda langsung berjongkok mencoba membantu Nindya. Nindya yang awalnya hanya santai pelan-pelan mencoba mengusap lukanya agar pasir-pasir dan batu kecil yang menempel bersih langsung terkekeh ketika mendengar seorang laki-laki langsung membantunya. Dia langsung menoleh ke samping di mana Yuda berjongkok bersiap seakan ingin memeluk dirinya dari belakang karena panik ingin membantu bangkit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN