Bab 15

2038 Kata
Nindya dan Aya terlihat melongo seperti orang d***o saat duduk. Mereka terlihat memang benar-benar tidak menyangka bertemu dengan orang sangat baik juga cantik. Padahal Nindya hanya niat menolong dan ikut merasa kesal kepada lelaki yang menjambretnya. Maka dari itu dia ikut mengejarnya. Nindya yang masih melongo melihat sekeliling langsung di senggol Aya agar tidak terlalu kamseupay. "Lu biasa aja bisa gak sih," bisik Aya berpura-pura biasa saja. Yunita yang terlihat sedang melihat layar handphone mewahnya hingga membuat Nindya dan Aya terkekeh semakin melotot. Mereka sepertinya baru tersadar, jika Yunita memang bukan sembarang wanita. Semua yang dia pakai bermerk mewah juga mahal. Bahkan, handphonenya saja adalah handphone kalangan para Selebriti ataupun pengusaha. "Busett, pantesan dia bales kami kek gini. Orang duitnya banyak pasti bagi dia mentraktir kami ni secuil kukunya doang ngeluarin duit," gumam Nindya dalam hati dengan wajah yang melongo polos terus melamun menatap ke arah Yunita. Namun, dering telpon Yunita membuat lamunan Nindya terbuyar. "Oh iya halo Mba, eehm yaa sorry saya minta maaf banget tadi mendadak gak bisa ikut meeting. Soalnya saya kecopetan Mba tiba-tiba di jalan," ucap Yunita terus bicara pada temannya di telpon. Nindya dan Aya hanya mendengarkannya sembari menunggu makanan datang dengan polos. "Iyaa Mba, ya namanya musibah gak ada yang tau kaan, tapi alhamdulilahnya ada orang-orang baik yang menolong saya Mba. Jadi sekarang saya lagi bersama mereka nih, mau balas kebaikan mereka sama saya, jadi saya izin ya gak jadi ke sana selesai ini mau langsung pulang aja. Besok aja bisa kan?" ucap Yunita tersenyum sembari melirik ke arah Nindya juga Aya. Betapa malunya mereka saat mendengar Yunita menceritakannya ke teman yang menelponnya. "Iyaa oke-oke makasih yaa. Oke baik siap. Terimakasih," Yunita lalu mematikan telponnya. "Tunggu makanannya datang ya, sabaar," canda Yunita hingga membuat Nindya dan Aya semakin salah tingkah. "Ee hehe iyaa gakpapa Kak," jawab Nindya kikuk. Yunita hanya tersenyum lalu bersantai sembari mengutak-atik handphonenya. Setelah lumayan lama diam-diaman. Makanan pun datang. Terlihat begitu elegan saat pelayan mengantarkan semua yang di pesan Yunita dengan meja dorong. Melihat hal yang tidak pernah mereka lihat membuat Nindya juga Aya melongo karena hanya terbiasa makan di warteg. Sungguh lucu memang mereka. "Terimakasih," Yunita tersenyum tipis pada pelayan yang tengah hati-hati menaruh semua makanan ke meja mereka. "Iyaa sama-sama," jawabnya merasa senang. Nindya dan Aya hanya bisa melotot dengan mulut terbungkam rapat. Setelah semua makanan telah di alihkan ke meja makan mereka hingga penuh. Pelayan itupun pamit sangat sopan. Nindya dan Aya tak berani mengambil sendok maupun garpu duluan sebelum Yunita yang memulainya karena semua yang Yunita berikan sangat berlebihan sekaligus begitu berkesan bagi mereka sampai membuat mereka segan. Yunita pun mengambil sendoknya sembari melirik ke arah mereka. Terlihat Nindya dan Aya hanya melongo terdiam. Yunita yang melihat keluguan mereka hanya tertawa kecil. "Ayo di makan," ucap Yunita. Mereka berdua saling berpandangan sembari meremas jari sangat tak enak. Barulah Nindya dan Aya mengambil sendok garpu dengan malu-malu. Yunita tersenyum lebar melihatnya mengambil barang itu. Menu utama mereka adalah steak daging yang terlihat begitu enak, juga dessert telah Yunita sediakan untuk mereka. Sungguh rezeki di luar nalar pikir Nindya. Aya hanya merasa sangat girang karena kesempatannya untuk makan-makanan enak seperti ini. Tidak lupa Aya malah memoto juga memvideo momen itu sampai Nindya melotot kaget melihat tingkahnya yang sangat t***l di hadapan Yunita tanpa perduli. Nindya pun mencoba berpura-pura bodo amat saja kepada Aya yang terlihat terus saja memoto makanan juga selfie dan membuat video kepada mereka hingga membuat Nindya sangat malu 7 turunan pada Yunita. Namun, bukannya Yunita ilfil ternyata dia malah semakin ramah saja ikut melambai dan tersenyum di video Aya hingga Aya semakin senang. Mereka sekarang mulai memakannya bersama. Sungguh merasa sangat canggung masih Nindya. Sekarang Aya terlihat mulai tak malu-malu lagi pada Yunita. Dia makan sepuasnya menikmati apa yang ada di meja. "Kak. Walau kita baru aja kenal dan ketemu sama Kakak. Kakak itu kok bisa baik dan percaya banget begini sama kita. Padahal kan kami cuman bantu ngehalangin Jambret itu doang," kata Aya mengerutkan alis sembari terus melahap udang Mozarella itu yang krispi itu. "Justru itu... Mungkin Allah memang sengaja mempertemukan kita di kejadian itu. Dan Allah udah titipin rezeki ini untuk kalian melewati saya. Begitu juga saya yang di selamatkannya," jawab Yunita. Nindya dan Aya semakin mengaguminya karena kerendahan hatinya. Mereka tersenyum tiga hari mendengar perkataannya. Aya mengangguk-anggukkan kepalanya juga tersenyum. Sambil melahap makanan, mereka terus bercerita dan akhirnya sudah mengenal lebih dekat satu sama lain. Mereka terus bercerita apa yang ada sangkut pautnya dengan mereka. Ternyata Yunita memiliki hobi yang sama seperti mereka ya, menonton film hingga sekarang mereka malah ingin merencakan kembali untuk berkumpul menonton bioskop sama-sama. Namun, Yunita masih belum ingin memberitahukan bahwa dia adalah Kakak dari Yuda. Yunita sengaja mencoba terus mendengar cerita mereka dan mereka juga tak mengingat sama sekali pada Yuda karena Aya juga hanya mengagumi Yuda saja Karena terikut teman-teman kampusnya, tidak menjadi fans sejatinya. Karena melihat mereka tak membahas tentang Aktor atau Aktris sama sekali. Yunita pun tak mau membahasnya, maka dari itu dia juga tak ingin menyombongkan diri di depan mereka dan kalau mereka tau juga, dia takut mereka syok mendengarnya. Hingga Yunita memutuskan untuk membuat mereka tau sendiri nantinya. "Oohh jadi kalian di sini nge kost sama-sama?" tanya Yunita sembari terus memotong steak daging itu. "Iyaa Kak, maka dari itu kata Nindya. Kami mau cari kerja aja sekarang. Biar kalau orangtua di kampung ada kesibukan apa gak bisa transfer. Kita gak takut kehabisan uang," jawab Aya. Mendengar niat ingin mandiri mereka membuat Yunita iba. "Ooh gituu..." "Iyaa Kak," jawab Nindya kikuk. Seketika Yunita teringat dengan Cafe juga Yuda. Sangat pas sekali seakan Tuhan memang menemukan Yunita kepada calon-calon karyawan mereka. Yunita langsung memperhatikan mereka kaget. Terlihat Aya yang lebih pandai bergaul akan cocok jika menjadi Barista atau pelayan Cafenya yang melayani para orang-orang. Sedangkan Nindya, yang terlihat lebih malu-malu tetapi agak pecicilan. Namun terlihat pandai mengatur tempat juga bekas-bekas makan mereka di meja tanpa menunggu pelayan cocok untuk Asisten Rumah Tangga Yuda. Yunita yang membayangkan semuanya langsung tersenyum miring sembari melotot ke arahnya sungguh membayangkan semua itu cocok tanpa harus repot-repot dia mencari orang lagi untuk dia maupun Adiknya. "Kalian mau gak, kerja di tempat saya mau?" ajak Yunita langsung tho the poin. Betapa terkejutnya Nindya dan Aya. Mereka langsung melongo memandang satu sama lain. Mereka merasa sedikit aneh. "Duhh gara-gara elu sih sok-sokan bilang mau cari kerja," bisik Nindya kesal. "Apaan sih orang lo juga tadi yang bilang," balas Aya berbisik geregetan. Mereka malah saling berbisik kesal satu sama lain sampai Yunita bengong apa yang mereka lakukan. "Saya beneran, saya mau menawarkan kalian sebuah pekerjaan. Ya, mungkin ini memang kebetulan untuk kita. Gimana?" tanya Yunita mulai menyeriusi pembicaraan. "B-boleh Kak, pekerjaan apa emang Kak?" Aya yang mendengarnya malah langsung merespon bahagia hingga membuat Nindya melotot kaget. Yunita yang mendengar respon Aya semakin bahagia dan mempunyai harapan besar jika mereka mau menerima tawarannya. Nindya menatap Yunita sembari mengerutkan alisnya. Nindya sekarang malah merasa curiga kepada Yunita. Karena baru pertama kenal dan bertemu, Yunita sudah melakukan hal-hal yang seakan sudah begitu mempercayai mereka. Nindya memang orang yang mempunyai sikap yang tidak mudah percaya dengan orang yang belum dia kenal ataupun orang yang baru saja dia kenal, karena kedua orangtuanya yang selalu mengajarkan agar jangan mudah percaya kepada orang yang baru di kenal karena kita tidak tahu bagaimana orang itu sebenarnya. Apakah dia memang berniat baik atau malah ingin mencelakai diri sendiri saja seperti banyaknya kasus di luar sana. Apalagi sekarang Nindya telah merantau sendiri, maka dari itu kemarin sebelum dia memutuskan kuliah, Mama dan Ayahnya selalu mengingatkan itu. Ya, apabila ada orang yang baru dia kenal di sini atau siapapun itu. Nindya harus benar-benar mengetahui dulu siapa sebenarnya dia, dari mana asalnya dan seluk-beluk pekerjaannya. Nindya sekarang malah mulai mencurigai Yunita karena sikap Yunita yang langsung mengajak mereka bekerja. "Hmm, siapa ya sebenarnya Kakak ini? Kenapa dia langsung begitu baik kek gini sama kami? Masa iya cuman nolongin hal kebetulan seperti itu, bisa-bisanya dia balas kami dengan makan di restoran mahal seperti ini. Setelah itu, malah langsung ngajak kerja di tempat dia lagi, hmm gue curiga dia ada maksud lain," pikir Nindya dalam hati mulai sinis menatap Yunita. "Saya mempunyai sebuah Cafe bernama Koridor Cafe, Cafe ini bukan hanya menyediakan berbagai menu Kopi saja, tetapi ada Chocolate milk dan berbagai macam minuman s**u rasa lainnya, di Cafe saya ini juga bukan hanya sebuah Cafe tempat nongkrong. Saya juga menyediakan berbagai macam cemilan makanan berat hingga ringan untuk menemani waktu nongkrong kalian semua. Dengan fasilitas tempat yang keren kece bisa buat foto-fotoan bareng temen, sahabat, pacar dan keluarga. Nahh kebetulan banget sekarang saya lagi butuh satu karyawan yang bisa cepat untuk masuk bekerja. Karena salah satu karyawan saya itu udah resign, katanya dia mau nikah dan udah gak di bolehin suaminya lagi buat kerja," jelas Yunita pada mereka. "Yaa kalau Nindya atau Aya berminat. Bisa langsung masuk aja saya suruh karyawan yang lain buat ngajarin kalian buat racik menunya. Tapi kerjaannya gak fokus ke Baristanya kok, kalian juga bisa bantu jadi kasir, atau sesekali jadi waitersnya gakpapa kalau bosen ngelakuin satu hal dari salah satu tadi," sambung Yunita sembari tersenyum. "Waah waah, beneran Kak? Itu? Bukannya banyak yang minat, emang Kakak beneran percaya sama kita?" tanya Aya sungguh tak percaya tertegun. Nindya semakin sinis menatapnya tanpa Yunita sadari. Nindya memang tak mudah percaya dengan orang lain sebelum dia benar-benar mengetahui dan melihat bukti itu terjadi meski kadang dia sering ceroboh dan cengengesan. Tidak seperti Aya yang memang terkenal lebih angkuh serta suka pamer di banding Nindya hingga dia mudah percaya kepada semua yang akan membuat dirinya nyaman dan bergaya tanpa mengetahui dulu apakah hal itu benar atau tidak sehingga Aya adalah tipe orang yang mudah untuk di jerumuskan. "Hmm iyaa Kakak percaya kok. Kalau kalian mau coba dulu, gakpapa. Besok kalau gak ada halangan kalian langsung bisa samperin Kakak. Nanti Kakak sharelock kok alamatnya," jawab Yunita. Betapa bahagianya Aya sekarang. Dia sungguh merasa beruntung. "ALHAMDULILLAH NIN! SEKARANG KITA GAK USAH CAPEK-CAPEK LAGI LAMAR SANA LAMAR SINI! LIHAT, KAKAK INI AKAN MEMBERI KITA PEKERJAAN YA AMPUUN!!! HU, MAKASIH BANYAK YA KAKK," teriak Aya sangat kegirangan sampai menggoyang-goyangkan tubuh Nindya hingga Nindya tergoncang lucu. Yunita hanya tersenyum lebar menahan kelucuan mereka sembari mengangguk tanda tak membohongi mereka. Nindya semakin kesal melihat tingkah Aya yang sangat mudah percaya saja. Namun, Nindya merasa tak enak. Akhirnya dia berpura-pura tersenyum juga kepada Yunita agar Yunita tak tersinggung. "Ooh hmm gitu Kak," sahut Nindya berpura-pura ikut menghargai. "Iyaa. Sama satu. Tapii satunya gak kerja di Cafe sih," kata Yunita. Nindya mengerutkan alisnya semakin curiga padanya. "Satunya apa Kak?" tanya Nindya. "Satunya akan jadi Asisten Rumah Tangga di rumah Adik saya," ucap Yunita. "NAH KALAU ITU NINDYA YANG COCOK KAK!" tampik Aya nyengir langsung menunjuk Nindya sengaja. Betapa melototnya Nindya kepada Aya sangat kesal karena Aya sengaja merendahkannya. "Enak aja! Jangan ngeledekin gue lu!" gerutu Nindya menepis telunjuknya kesal. Aya hanya tertawa melihatnya. Yunita juga ikut tertawa melihat tingkah mereka yang berantem bagaikan Tom and Jerry. "Hmmm jadi makin yakin nih gue, ada tujuan terselubung yang di rencanakan ni Kakak-Kakak. Buat apa coba Asisten Rumah Tangga? Buat Adeknya lagi, apa jangan-jangan buat di jual sama Adeknya aja! Atau Adeknya cewek juga dan akan kerjasama sama dia buat ngejual kami! Kami kan udah dia lihat emang benar-benar masih polos. Iih gak akan amit-amit jangan sampe gue percaya dulu kayak Aya! Gue gak akan percaya!" gumam Nindya dalam hati berpikir keras semakin merasa tak percaya kepada Yunita. "Oohh di rumah Adek Kakak ya? Emang, Adek Kakak Cewek atau Cowok hehe maaf tanya dulu," tanya Nindya nyengir berpura-pura lugu. Mendengar pertanyaan Nindya. Yunita malah menyeringai dan langsung tertunduk. Wajah Nindya semakin mengerucut heran. "Huhh, dia Cowokk. Tapii dia jarang banget pulang. Ya, saya cariin ART cuman buat bantu ngurus rumahnya. Karena takutnya malah terbengkalai. Di sana juga udah ada ART senior kok, beliau bernama Mbah Iyem berusia sudah 67 tahun bersama suami beliau yang juga udah 70 tahun. Suami beliau jadi tukang kebun jadi kerjanya cuman di halaman, jadi Kakak mau cari satu ART yang lebih muda, buat bantuin Mbah Iyem bersihin seisi rumah aja. Kalau masak, Mbah Iyem masih oke kok," kata Yunita menjelaskan. Betapa melototnya Nindya mendengar pernyataan itu. Dia semakin ilfil pada Yunita dan menganggap Yunita masih berniat jahat padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN