"Di cek dulu Mba," ujar Pria itu.
Yunita langsung mengangguk dan memeriksanya. Melihat Yunita sangat bahagia memeriksa isi dompetnya yang masih utuh tak hilang sedikitpun sembari terus menahan Jambret yang telah babak belur parah tak berdaya itu. Para warga termasuk pria paruh baya itu punl izin pamit.
"Eee Mba kalau gitu, kami semua pamit dulu ya," izin Pria itu.
Mereka lalu mulai bubar. Namun, Yunita langsung berteriak memanggil mereka semua.
"EH! EH! TUNGGU DULU!' teriaknya hingga membuat mereka semua berbalik lagi merasa bingung.
Yunita ternyata memang wanita yang dermawan, tanpa pikir panjang dia langsung membagikan uang ratusan yang ada di dalam dompet itu ke setiap orang-orang yang telah membantu menolongnya. Betapa gembiranya para warga saat menerima selembar uang ratusan itu ke tangan mereka. Orang yang menahan Jambret itu juga langsung melotot nyengir sembari menggertak Jambretnya agar tidak mencoba melawan.
"Waduh makasih ya Mba,"
"Makasih Bu,"
"Terimakasih atuuh Mba,"
Ucap mereka semua begitu senang dan sebagian dari mereka langsung menyeret Jambret itu membawanya ke Polsek terdekat untuk di tindak lanjuti agar tidak memakan korban lagi di sekitar sana. Yunita langsung tersenyum sembari mengangguk.
Namun, ketika Yunita baru ingin membuka mulutnya terlihat Aya dan Nindya juga datang menggas motor mereka sangat pelan di iringi oleh Lelaki yang membantu mereka tadi hingga mereka semua terkecoh langsung menoleh ke arah mereka bertiga.
Yunita ternganga ketika melihat ada 2 orang gadis yang terlihat berwajah kebingungan begitu polos.
"Naah iya, mereka ini Mba. Mereka berdua ini tadi yang awalnya berhasil menjatuhkan Jambret itu hingga kami semua berhasil menangkapnya!" seru Pria paruh baya itu tertawa seraya menunjuk ke arah mereka memberitahu Yunita.
Nindya dan Aya semakin merasa malu seakan langsung merasa minder ketika melihat Yunita yang terlihat begitu berkelas tak sebanding dengan mereka yang hanya seorang anak kost. Betapa melototnya mereka langsung saling melirik berpura-pura bertingkah sopan hanya menengok ke bawah kikuk saat tahu bahwa tas yang di Jambret oleh seorang Pria serampangan tadi adalah Yunita.
Semua warga yang tertinggal langsung mengangguk sembari tersenyum tanda yang di katakan Pria paruh baya itu benar.
Setelah mendengar pernyataan itu Yunita langsung menghela nafasnya seraya terus melongo menatap ke arah Nindya juga Aya.
Betapa terbelalaknya mata Aya saat tersadar Yunita sekarang telah melihat ke arah mereka. Aya langsung memukul-mukul pinggang Nindya agar tersadar dengan hal ini.
Nindya langsung mengerutkan alisnya dan melihat ke arah Yunita melotot kaget. Mereka lalu langsung berpura-pura tersenyum ramah sembari lantas mengangguk tanda sopan menutupi rasa malu sekaligus gugup mereka. Terlihat konyol serta polos sekali memang kelakuan 2 remaja kampus ini.
"Oohhh jadi kalian yang membantu para warga buat ngejar Jambret tadi?" tanya Yunita tersenyum menunjuk mereka seakan tak percaya.
Pria paruh baya itu langsung mengangguk sembari menoleh ke arah mereka tersenyum seakan tanda ikut berterimakasih pada mereka.
"Eeh hee, i-iya Kak," jawab Nindya nyengir sangat menahan malunya kikuk sampai-sampai bahu kirinya menghalangi Aya hingga Aya menyingkirkannya merasa tak nyaman begitu konyol.
"Oh iya Bu, kalau gitu terimakasih banyak Bu. Kami semua pulang dulu ya, lain kali hati-hati ya Bu kalau sendirian," nasehat Pria paruh baya itu mengingatkan.
"Oh baik Pak terimakasih banyak kembali. Iya makasih ya semuanya terimakasih banyaak huhuuu kalian benar-benar di takdirkan Allah buat nyelamatin saya," balas Yunita sangat terharu sampai berkaca-kaca. Mereka hanya tertawa kecil lalu pamit dan bubar membiarkan Nindya dan Aya bersama Yunita.
Lelaki yang membawa Nindya dan Aya ke sini tadi juga sekalian pamit. Yunita langsung membayarnya juga sampai Lelaki itu tersenyum sungguh tak menyangka dan berterimakasih kepada Wanita cantik sangat dermawan itu.
Kini tinggalah mereka berdua saja. Betapa malunya Nindya serta Aya saat Yunita tersenyum kembali kepada mereka.
"Ya ampun sumpah kalian berani banget loh ngejar Jambret tadi. Kalian gakpapa?" tanya Yunita khawatir.
"Eh hm gaak. Gakpapa kok Kak. Hehe syukurlah kalau tas Kakak udah selamat dan kembali ke Kakak lagi," jawab Nindya.
Yunita tersenyum haru memiringkan kepalanya menatap mereka.
"Alhamdulillah kalo gak kenapa-kenapa. Terimakasih banget ya Dek, kalian udah berani banget buat cegat tu Jambret yang bahkan juga ingin membahayakan diri kalian," kata Yunita merasa sangat tak tega.
"Gakpapaa. Santai aja kok Kak, tugas kita kan memang begitu, harus membantu orang lain saat memerlukan bantuan apalagi parah kek tadi, kami juga merasa sangat bangga sama diri kami sendiri karena bisa bantuin Kakak," jawab Aya tersenyum.
Mendengar perkataan mereka Yunita semakin merasa bahwa mereka memang orang baik.
"Huhh kalian memang orang yang baik ya. Beruntung sekali aku hari ini bisa bertemu sama kalian," ucap Yunita.
"Eh hmm iyaa kami juga," sahut Nindya tersenyum sopan lantas mengangguk.
Namun, ketika Nindya membetulkan posisi kakinya Yunita langsung terkekeh melihat luka yang memerah di kakinya yang ada di daerah bawah lututnya itu.
"Ya ampun, kaki kamu kenapa?" tanya Yunita kaget.
Nindya yang awalnya masih tersenyum langsung melongo saat Yunita tersadar dengan lukanya. Aya mengerutkan keningnya menoleh Nindya hanya pasrah.
"Eeee gaak. Gakpapa kok Kak tadi cuman jatoh aja pas di kampus..."
"Bohong itu pasti gara-gara kalian mencoba ngelawan Jambret tadi kan?" pungkas Yunita.
Nindya kini hanya membelalakkan mata merasa sedikit takut karena ternyata Yunita tak bisa di bohongi.
"Ya sudah, ayo ikut Kakak. Biar Kakak obatin ya, kamu? Kamu terluka juga kayak teman kamu? Di mana?" tanya Yunita juga khawatir pada Aya.
"Emm gaak kok Kak enggak. Cuman Nindya aja," tukas Aya tersenyum langsung menggeleng juga gugup.
"Haduh udaah cepet ikutin Kakak!" perintah Yunita membuat Nindya dan Aya takut.
Saat Yunita sudah membuka pintu mobilnya agar mengajak Nindya serta Aya ikut dengannya seketika dia terkekeh saat tersadar bahwa mereka berdua membawa motor sendiri.
"Gak Kak gak usaah, kami pamit aja. Kakak hati-hati ya jangan sampe kecopetan lagi," tolak Nindya sopan agar tidak semakin merepotkan.
"Kami pamit aja Kak, Assalamualaikum," sambungnya merasa sungguh tak enak sembari menaiki motornya kembali menepuk bahu Aya pelan memberitahu untuk Aya segera menjalan motor agar Yunita tak repot untuk berterimakasih pada mereka.
"Eh! Eh! Tungguu, loh kok langsung kabur gitu aja. Harus saya balas dong kebaikan kalian?!" gerutu Yunita seraya menghalangi mereka untuk menggas motornya dengan raut wajah seakan marah.
Melihat wajah Yunita yang memang terlihat sedikit judes membuat mereka semakin tak enak untuk menolak. Kini Nindya dan Aya hanya terdiam saling memandang bengong.
Akhirnya mereka pasrah dan mencoba mengikuti Yunita saja. Entah kenapa mereka seakan bisa langsung dekat saja karena kejadian tadi.
"Beneran gakpapa nih Kak?" tanya Aya ragu.
"Iya, gakpapa kok Kak. Kami beneran ikhlas kok bantu Kakak. Toh kami cuman alihin perhatian Jambret tadi, yang bantuin Kakak sebenarnya tadi kan warga kampung sini," jelas Nindya merasa tak enak.
"Udaaah jangan banyak nolak," Yunita langsung mengambil sesuatu ke dalam mobilnya hingga membuat Nindya dan Aya semakin bingung. Dia lalu keluar membawa obat merah untuk mengobati luka Nindya.
"Nih, kamu pakai ya. Obatin luka kamu, nih kamu juga, setelah itu ayo ikutin saya aja ya dari belakang," perintah Yunita lembut mengkhawatirkan mereka.
Perhatian Yunita yang begitu baik itu semakin membuat Nindya dan Aya malu sekaligus salah tingkah.
"Makasih Kak," sahut Nindya sembari mengambil obat merah itu malu-malu.
Dia lalu mengobati lukanya sendiri dengan pelan. Melihatnya Yunita tersenyum karena mau menuruti perintahnya.
"Saya yakin, kalian pasti akan nolak jika saya kasih uang sekarang. Jadi, kalian harus ikuti saya dulu, oke?" perintah Yunita.
Nindya dan Aya langsung melotot menatap satu sama lain.
"Haduhh gimana nih Nin?" bisik Aya.
"Gak tauu," bisik Nindya menyipitkan matanya bengong juga.
"Yokk," ajak Yunita tersenyum langsung menaiki mobilnya.
"Huuh ya udah deh ikutin aja," bisik Nindya.
Sekarang Nindya yang menggonceng karena Aya merasa malu pada Yunita.
Akhirnya mereka pasrah dengan polosnya mau mengikuti mobil Yunita yang mewah itu. Ternyata mereka berdua memang masih tak mengetahui sosok Yunita sebenarnya bahkan Aya yang mengidolakan menaksir pada Yuda.
****
Yuda sekarang kembali memberitahukan seluruh fansnya bahwa ia telah mengeluarkan kembali sebuah trailer film drama hitam terbarunya setelah tayangnya film Mafia besar yang menghebohkan jagat raya kemarin.
Yuda memang seorang Aktor berbakat penuh talenta. Bukti itu terlihat dari ia yang dalam waktu yang singkat telah meriliskan banyak film dalam kurun waktu yang tidak lama. Ia memang pandai membagi waktu tanpa menggangu masa syutingnya.
Namun, film komedi itu tak seheboh film Mafia yang ia perankan kemarin. Meski begitu, terlihat banyak juga yang sangat menunggu-nunggu tanggal perilisannya. Banyak sekali like dan komentar yang berpartisipasi dari postingannya berisi trailer lucu film itu. Di sini Yuda berperan lebih konyol yang akan membuat tertawa semua orang.
Yuda baru saja selesai interview mengenai tanggal perilisan film tersebut.
Ia turun dari bus besar khusus dari para krunya yang membawanya.
"Huuhh," dengus Yuda merasa begitu lega.
Ia terus berjalan cepat dan duduk di sebuah kursi berpayung teduh di sebelah bus yang ia naiki tadi.
"Tuan Yuda! Ayo bersiap para Wartawan pasti akan mengerubungi mu sebentar lagi!!" panik Budi langsung menghampirinya saat melihat ia malah duduk kegerahan di kursi itu.
"Apaan sih bentar doang ah panas inii gak tahan gue dalam bus AC nya kurang kenceng!" jawab Yuda seraya terus mengibaskan bajunya agar mendapatkan angin.
Budi yang sudah terbiasa menghadapi sikap Yuda hanya menepuk jidatnya.
****
Nindya terus mengikuti mobil Yunita yang berada di depannya. Mereka bingung entah ke mana Yunita akan membawa mereka.
Tetapi setelah lumayan lama di jalan Yunita membelokkan mobilnya ke suatu restoran cafe yang terlihat mewah. Betapa terbelalaknya mata Nindya merasa seakan tak percaya.
"Eh Nin buset, di sini kan restoran elit?! Masa iya kita mau di bawa Kakak-kakak itu ke sini?" tanya Aya juga kaget.
"Yaa gak tau gue kalau dia belok ke sini berarti iya dong?!" jawab Nindya seraya terus menyetir mengikuti Yunita.
"Waduh untung bener dong kita Nin, hahah," bisik Aya nyengir seraya celingak-celinguk melihat luar restoran itu. Nindya ikut nyengir membayangkan semuanya.
Akhirnya mereka memarkir di tempat bagian motor yang lumayan jauh jaraknya dari Yunita karena memang berbeda. Yunita memarkirkan mobilnya khusus di parkiran mobil.
Setelah mereka memarkirkan motor dengan baik. Mereka langsung menghampiri Yunita. Yunita pun turun dari mobilnya.
"Waduh Kak, Kakak gak salah nih ehhe, beneran bawa kami ke sini? tanya Nindya kikuk seraya memegangi tekuknya sangat tak enak.
Yunita mencoba membalas mereka lebih dari yang dia berikan pada semua warga tadi di karenakan hanya Aya dan Nindya lah seorang perempuan yang berani ikut mengejar Jambret tadi. Maka dari itu dia membawa Nindya juga Aya untuk makan bersama dulu dengannya sebelum berpisah. Sungguh baik tidak sombong ternyata Kakak dari seorang Aktor terkenal ini tanpa di sangka-sangka.
"Ehmm enggak salah kok, ayo," jawab Yunita tersenyum ramah. Dia langsung melangkah untuk memasuki tempat itu hingga membuat Nindya dan Aya langsung melongo saling pandang sangat tak percaya.
Akhirnya mereka pasrah mengikuti Yunita dari belakang dengan lugunya. Yunita terus berjalan seraya sesekali melirik ke belakang. Sekarang dia baru teringat, terbesit dalam hatinya bertanya apakah 2 orang gadis yang di belakangnya ini tak mengetahui tentang dirinya sama sekali? Atau mereka memang bukan fans dari Adik tercinta dan kesayangannya bernama Sayudha Hartigan yang begitu tampan rupawan itu.
Padahal Yuda lebih banyak di gemari di kalangan remaja yang seumuran dengan mereka karena Yuda sangatlah tampan berkulit putih bersih, mata besar, alis lumayan tebal, bibir tipis, berhidung mancung, juga tubuh yang sangat bagus dan bahu yang lebar, mirip seperti Aktor-Aktor Bule.
"Mereka benar-benar gak tau ya sama aku? Atau mereka memang bukan fans dari Yuda? Heh, Yunita, di dunia ini bukan Adik kau saja yang menjadi Artis. Mungkin mereka memang benar bukan fans dia. Heh syukurlah kalau begitu," gumam Yunita dalam hati.
"Tapi, bukannya Yuda saat ini sangatlah di gandrungi semua remaja di negara ini bahkan sampai kwe negara tetangga?"
Pertanyaan dalam hatinya itu terus mengganggu pikiran Yunita sampai-sampai dia mengernyitkan kening lantas menggeleng menahan tawa merasa konyol juga lucu lalu langsung menepisnya mencoba membuyarkan lamunannya itu dan lebih cepat melangkah memasuki restorannya.
Nindya dan Aya tak sadar semuanya lantaran mereka masih tak memperhatikan jelas wajah Yunita yang banyak orang bilang bahwa wajah Yunita memang sangatlah mirip dengan Yuda karena mereka memang saudara kandung yang gennya kuat lantaran sama Ayah hanya berbeda Ibu saja.
Aya yang sebenarnya begitu terkagum pada wajah rupawan Yuda, dia masih tetap tak menyadari bahwa wajah cantik Yunita adalah wajah sang Superstar jikalau ia adalah seorang wanita. Haha.
Yunita lalu mencari tempat duduk yang dia rasa cocok untuk mengobrol seraya bercerita sekaligus untuk lebih berkenalan dengan mereka.
Rezeki memang tidak ada tahu, Nindya dan Aya masih tak mengetahui yang mereka dapatkan hari ini. Mereka terlihat masih kikuk sekaligus sangat tak enak pada Yunita. Yunita yang melihat mereka malah berdiri bengong langsung menyuruhnya untuk duduk duluan di sana.