Bab 13

2013 Kata
"Saya gak mau tau. Pokoknya kalian selesain secepatnya," perintah Yunita. "Baik Bu," jawabnya membungkuk sopan sekaligus gugup. Dia lalu berbalik menjauh dan berkeliling mengecek semua sudut Cafe apakah terawat dengan baik dan juga semua para karyawannya bekerja sesuai yang dia inginkan. **** "Ilmu Ekonomi dibagi menjadi dua bagian besar; Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro. Ekonomi Mikro terpusat pada pasar individu beserta struktur dan para pemain kuncinya, sedangkan Ekonomi Makro membahas mengenai Ilmu Ekonomi baik dalam skala nasional maupun internasional," jelas Pak Dosen berkacamata sudah berambut sebagian putih itu serius menjelaskan kepada seluruh kelas sembari sesekali melirik ke arah mereka. Nindya terlihat begitu bosan dengan pelajaran ini. Tapi ini memang pilihan mereka berdua untuk memilih jurusan Ilmu Ekonomi. "Jadi, tugas kalian buat Analisa dan Evaluasi tentang sebuah bidang di salah satu perekonomian. Serta jangan lupa, membuatkan lengkap Grafik, laporan serta data statistiknya agar menjadi sebuah tugas yang sempurna," ucap Dosen itu santai. Betapa melototnya Nindya dengan yang lain mendengar tugas yang lumayan sulit itu. "Aduh mampus nih," lirih Aya berbisik pelan menahan kesalnya seraya menopang dahinya sambil menggoyangkan pulpen tanda pening. "Kesadaran Budayanya juga harus di perhatikan, baik itu di sektor sosial, politik, ataupun Ekonominya sendiri. Keahlian komunikasi juga harus kalian latih agar nanti saat presentasi lancar dan bagus. Juga jangan lupa yang paling penting... Bagian dari penyelesaian masalahnya kalian buat, saya perintahkan itu," sambungnya mengangkat kedua alis memiringkan kepalanya ke samping kanan menatap seluruh anak buahnya tanda meremehkan semuanya agar bisa mengerjakan perintahnya dengan baik. Mendengar perintah Dosen mereka Nindya sekarang semakin memijat dahinya begitu pening. "Baik siap Pak!" jawab mereka kompak terdengar seakan sangat menahan penderitaan. "Baik kalau begitu terimakasih pada semua waktunya. Saya berikan tugas itu pada kalian dan... Bisa di kerjakan dari sekarang. Oke saya tutup kelas pada hari ini, sekian saya pamit, Assalamualaikum," pamitnya sembari membetulkan semua buku maupun alat tulis dan laptop yang ia bawa lalu pergi meninggalkan kelas. "Waalaikumsalam," jawab mereka semua. Setelah Pak Dosen keluar mereka langsung merasa begitu lega bahkan salah satu yang berteriak girang hingga yang lain tertawa mendengarnya sekaligus takut kalau Pak Dosen masih mendengar. Mereka semua langsung berbondong-bondong keluar kelas sampai berdesakan apalagi bagian cowoknya yang memang terkenal jahil-jahil di kelas Nindya ini. Sekarang hanya tinggal beberapa siswi dan satu siswa yang masih merapikan meja belajarnya termasuk Nindya dan Aya di sini. "Haduhhh pusing banget deh ya kuliah ini ternyata, kalau tau begini lebih baik gue metik teh aja di kebun Bapanya Danish ah," keluh Nindya sangat merasa pening juga bosan sembari memasukkan buku, pulpen serta penggaris ke dalam tasnya siap untuk pulang keluar kelas. "Haha, bener banget sama pening banget kepala gue denger suara Pak Doni mulu," jawab Aya yang sudah menunggunya berdiri di samping siap untuk pulang. "Huh, ya udah ayo," ajak Nindya berdiri dari kursi. "Guys duluan ya?" pamit Nindya tersenyum ramah sembari melangkah keluar kelas. "Iya pamit guys," sambung Aya yang menggiring Nindya. "Iya Nin, Ya," jawab mereka mempersilahkan Mereka. * Aya bersama Nindya seperti biasa pulang bareng berboncengan naik motor. Setiap hari mereka bergantian memakai motor masing-masing agar adil. Hari ini motor Nindya yang kena jadwal. Terlihat begitu bahagia 2 gadis ini. Sungguh indah memang persahabatan mereka sejak satu kost tinggal bersama meski terkadang mereka sering juga adu mulut karena masalah sepele di kost. Mereka terlihat bercerita entah apa sembari tersenyum lebar. Aya begitu setia mendengarkan Nindya bercerita di belakangnya seraya tetap fokus menyetir. **** Yunita sekarang sudah keluar dari Cafenya. Dia merasa tenang karena semua karyawannya bisa bekerja dengan baik seperti biasanya. Tak ada masalah sama sekali di dalam Cafenya. Kini dia terlihat pergi lagi entah ke mana. Yunita terus menyetir mobilnya sembari terus berbicara di telpon dengan client kerjanya yang ada di kantor. Berdua bersaudara ini memang sungguh luar biasa. Meski Yunita adalah seorang perempuan, ternyata dia juga tak kalah hebat dari Yuda. Dia adalah wanita karir yang begitu hebat sangat menurun sifat Ayahnya. Maka dari itu dia sangat di segani oleh semua orang. "Oke bentar lagi sampe kok gue udah di jalan ni," ucap Yunita seraya terus menyetir. Namun, ketika melihat ada ATM di pinggir jalan, Yunita langsung terkekeh dan membanting setirnya ke kiri. "Eh tunggu dulu ya, gue ambil uang bentar. Lupa bawa uang cash," beritahu Yunita, dia langsung mematikan telponnya lalu memberhentikan mobilnya di sana untuk masuk ke dalam ATM. **** Sebelum sampai ke rumah ternyata Nindya juga Aya bersinggah di suatu minimarket yang ternyata di sebelah minimarket itu adalah ATM yang di tuju Yunita tadi. Sungguh kebetulan saat ini Nindya dan Aya berada di tempat yang sama dengan Kakak seorang Superstar itu meski mereka masih tak mengenali siapa Yunita. Di daerah itu terlihat lumayan sepi, jarang ada mobil ataupun motor yang melintasi. Memang ada tetapi tak seramai di jalan depan karena jalan itu adalah sebuah jalan yang berada di samping sungai irigasi di mana suatu jalan yang juga bisa di pakai untuk pergi menembus ke pemukiman-pemukiman warga. Yunita sepertinya memang sengaja melewati tempat itu lantaran ingin sekalian menjemput temannya yang beralamat di perumahan elite yang bisa di tuju lebih cepat melewati jalan itu. Nindya dan Aya lalu kembali menaiki motor mereka tetapi sebelum menggas motor kembali mereka masih duduk menghabiskan santai minuman kemasan yang mereka beli tadi dulu. "Bentar kita habisin dulu, jangan keburu jalan," tampik Nindya. "Iya gue juga lagi minum kok gimana nyetir," pungkas Aya sembari menikmati minuman teh dingin begitu segar itu. Mereka begitu menikmatinya sambil melihat pemandangan sekitar juga. "Di sini sungainya juga banyak orang jualan ya, banyak bangunan-bangunan ruko rame juga," kaya Aya. "Ya iyalah, pasti beda ama di kampung Ya. Kalau di kampung kita, sungai irigasi kek gini cuman bendungan doang ngeri malah sepi kek tempat buat bunuh diri aja," jawab Nindya. Aya tertawa mendengarnya. "Bener, di sini aja udah sepi liat, apalagi di kampung kita haha," ledek Aya. Nindya setuju karena memang benar yang ada. Yunita juga kini telah selesai dan keluar dari ATM seraya membetulkan tas selempang mewahnya agar terbawa sempurna. Nindya dan Aya juga sudah menghabiskan sebotol besar minuman dingin teh mereka. Aya langsung menyalakan starter tanda siap kembali pulang. Nindya langsung membetulkan posisi duduknya. Kini Aya mulai menggas motor mereka lagi masih dengan kecepatan santai. Yunita terus berjalan mendekati mobil mewahnya. Namun, tanpa di sangka-sangka ada seorang pria berpenampilan serampangan sangat tak terurus begitu lusuh tiba-tiba datang dari samping. Pria itu langsung merebut tas Yunita berusaha menjambret. "A! MAS MAU APA! JANGAN CURI TAS SAYA!! DI SINI ADA PAPAH!!!!" teriak Yunita refleks langsung mempertahankan tasnya begitu kaget setengah mati dan langsung panik. "BERIIN KE SAYA!" teriak Pria itu kasar langsung semakin brutal. Yunita terus berusaha mempertahankan tasnya. "TOLONG!! TOLOONG! ADA JAMBRET! TOLONG AARGH!!" teriak Yunita sangat lantang dan langsung di pukul Pria itu. Ia langsung mencoba melecehkan Yunita juga tetapi Yunita terus melindungi dirinya hingga sekarang dia terjatuh lumayan keras terhempas ke tanah. Pria itu semakin liar ingin menindihnya sungguh keji dan telah berhasil merebut tasnya. Namun, Yunita tak mau kalah, dia langsung menendang Pria mengerikan itu hingga berhasil menjauh dari tubuh seksinya. Aya dan Nindya yang kebetulan melewati itu langsung ternganga heran mengerutkan alisnya ketika melihat Yunita yang terlihat lunglai lemah di tanah mencoba bangun. Pria yang terlihat masih memegangi erat tas Yunita langsung berusaha bangun sekuat tenaga untuk membawa kabur tasnya. "YA! TUNGGU MBA ITU KENAPA YA?!" tanya Nindya panik menepuk-nepuk bahu Aya dari belakang. "GAK TAU GUE IH TAKUT!" "TOLOONGGG! TOLONG! TAS SAYA DI JAMBRET TOLONGG!" teriak Yunita menjerit begitu panik sekarang sampai dia menangis sekarang menahan sakit di kakinya. Pria itu langsung berlari dan Aya Nindya langsung melihatnya kabur membawa sebuah tas cantik itu pergi berlari. "WOY! ITU JAMBRETNYA YA!" teriak Nindya menunjuk ke arah Jambret itu. "MANA NIN?" "ITU!" "MANA!" "ITUU! UDAAH AYO KEJER LAMA! KEBURU KABUR!!!" teriak Nindya langsung refleks ingin mengejar. Aya yang gelagapan kini ikut panik dan langsung menggas motor mencoba mengejar Jambretnya. Setelah Nindya dan Aya menggas motor begitu cepat. Kini warga yang mendengar ringisan Yunita ikut berkumpul. "ADA APA BU?" tanya pria paruh baya yang salah seorang warga. "PAK! TOLONG PAK! TAS SAYA DI JAMBRET!" rintih Yunita sangat lemas menangis begitu syok. "ASTAGHFIRULLAH WOY KEJAR COPET ITU WOY CEPAT!!" "IYA IYA AYO KITA KEJAR WOY!!" Kini para warga langsung berbondong-bondong ikut membantu mengejar Pria yang terlihat masih berlari kencang mencoba membawa kabur tas Yunita. Yunita sangat mengkhawatirkannya tasnya lantaran bukan karena uang yang banyak, karena Yunita memang anak yang terlahir dari orangtua kaya raya juga terkenal. Jikalau hanya uang dia tidak akan begitu syok dan panik seperti itu jika tasnya di jambret, karena Yuda ataupun dia memiliki uang yang begitu melimpah tak ada habisnya. Namun, di dalam tasnya itu ternyata ada sebuah benda peninggalan dari Almarhum Ayahnya yang sangat dia sayangi sejak kecil. Ya, benda itu adalah sebuah miniatur beruang yang begitu indah juga foto terakhir bersama sang Ayah yang selalu dia bawa ke mana-mana. Namun, handphone yang memiliki kontak-kontak penting client kerjanya di perusahaan juga salah satu kepanikannya saat ini. Karena kalau hilang habislah dia tidak bisa mengurus semua kerjaan perusahaannya. Yunita kini begitu terpuruk dan langsung terduduk lemas meremas kepalanya sangat syok sungguh tak terduga dengan yang barusan terjadi pada dirinya. Kakinya seakan sudah tak kuat lagi berdiri. "PAPAAH," isaknya sangat tertekan. * Betapa hebohnya sekarang semua orang termasuk Nindya dan Aya yang memiliki posisi pertama begitu dekat sekarang bisa mengejar Pria itu. "WOY!! JANGAN LARI LO b*****t!!!" teriak Nindya ikut kesal dengan Jambret itu. Namun, Pria itu semakin berlari begitu kencang. "WOY!" Aya semakin menggas motornya lebih kencang mencoba menyerepet Jambret itu. Tetapi tak semudah yang di bayangkan. Ternyata Jambret itu sangat pintar ia malah melawan mencoba menendang mereka yang terus berusaha menyerempetnya di samping. Namun, karena Aya memang terkenal sangat lihai sejak dia masih di bangku SMA dalam hal membawa motor. Akhirnya dia berhasil menghindari semua serangan Pria itu. Pria itu terus melawan hingga terlihat mulai meraba kantong jaketnya yang membuat Aya dan Nindya semakin gelagapan takut. "JAMBREET!" "JAMBRET WOYY!!" Teriakan para warga juga kini sudah terdengar dari kejauhan sehingga membuat Nindya terkekeh. Nindya langsung merasa lebih berani untuk melawannya. "AYA! AYO KENCANGIN GASNYA!" perintah Nindya. "IYA NIN!" Nindya langsung memukul wajah Pria yang telah mengambil sebuah pisau untuk melukai mereka. Untunglah Nindya lebih cepat memukulnya hingga sekarang Pria itu terjatuh sangat brutal. Namun, karena Nindya juga sangat geram akhirnya mereka terikut oleng dan nyaris terjatuh dari motor parah. Tetapi karena Aya yang berhasil menjaga keseimbangan motor juga Nindya yang berhasil menahannya meski dengan jantung sudah berasa copot. Akhirnya kaki Nindya lah yang terhimpit sebuah papan kayu hingga Nindya menjerit kesakitan membuat Aya kaget. "AWH!" "ASTAGHFIRULLAH! NINDYA! LU GAKPAPA?!" panik Aya langsung menengok ke arahnya. Pria yang terlihat kesakitan itu sekarang langsung mencoba bangkit kembali menahan sakitnya seraya melirik ke arah Nindya dan Aya dendam. Saat ia mencoba bangun untuk kabur, para warga telah sampai dan Pria Jambret itu akhirnya tak sempat kabur. Semua warga langsung mengerubunginya dan menyelamatkan tas Yunita. Mereka langsung memukuli Jambret itu yang malah mencoba melawan mereka. Kini Nindya langsung ternganga seketika melupakan sakitnya melihat semua kegaduhan yang ada di depannya. Mereka ngos-ngosan mencoba mengatur nafas kembali dengan jantung yang berdebar-debar karena masih merasa kaget sekaligus syok. Terlihat para warga terus memberi ia pelajaran. "LO LAGI LO LAGI YA! SEKARANG LO JANGAN BIKIN KORBAN LAGI!!!" kecam salah seorang pria begitu geram padanya. "AMPUUN! AMPUN AARGGH!" "BUK!" "BAK!" "PLAK!!" Mereka terus memberinya pelajaran hingga babak belur. Salah seorang Lelaki sekitar 30 tahunan yang tersadar melihat Nindya bersama Aya yang terlihat masih syok langsung menghampiri mereka. "Kalian nggak papa?" tanyanya mengkhawatirkan. Nindya langsung terbuyar dari lamunannya. "Em iya, gakpapa kok Om," jawab Nindya. Namun, luka goresan terkelupas yang lumayan lebar berdarah di kaki Nindya membuat Lelaki itu terkekeh kaget. "Ya ampun, kaki kamu terluka! Ayo kalian harus di obati!" paniknya langsung mencoba membantu mereka juga. Nindya dan Aya sempat mengelak tetapi lelaki itu terus memaksa agar mereka tak menjadi korban lagi. Setelah puas mereka pukuli. Akhirnya Jambret itu di seret ke hadapan Yunita juga agar korban merasa lega. Pria paruh baya itupun mengembalikan tas Yunita ke tangan Yunita kembali. Betapa bahagianya Yunita ketika melihat semua warga itu menolongnya. "ALHAMDULILLAH, TERIMAKASIH YA ALLAH! HAA, AAA?!" seru Yunita sangat senang langsung memeluk tasnya. Pria itu tersenyum senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN