"Yuda, Kakak mau ngasih saran aja ke kamu. Kalau sebaiknya, kamu cari Asisten rumah tangga lagi deh satu buat bantuin di rumah kamu sendiri, yang lebih muda dari Mbah Iyem sama Paman Sabri. Toh mereka kasian jagain sama rawat rumah kamu berduaan aja walau kamu jarang pulang," saran sang Kakak.
Yuda hanya menggaruk kepala seraya mendengus tanda bingung.
"Yaa, nanti Yuda pikirin dulu. Lagian, Yuda gak ada waktu buat lowongan kerja Kak. Takutnya banyak banget yang mau kerja di aku. Fans aku banyak barbar lagi," kata Yuda cemberut malas.
Betapa tertawanya sang Kakak bernama Yunita itu melihat kepopuleran sang Adik yang sungguh luar biasa.
"Haha iyaa iyaa. Ya udaah, kamu tenang aja soal itu. Kakak bantu aja biar orang-orang gak terlalu heboh soal ini, dan Kakak juga akan beri satu syarat khusus agar bisa lolos seleksi buat jadi pelayan kamu, hmm," jawab Kakaknya mempunyai ide.
Yuda langsung melongo kepada Kakaknya. Yunita hanya terus menatapnya tersenyum sembari mengangkat alisnya tanda menyuruh Yuda untuk setuju dengan idenya.
"Ahhahaha,"
Seketika tawa dari lelaki tampan itu akhirnya pecah tak bisa ia tahan. Kini mereka saling tersenyum satu sama lain.
"Huh terserah Kakak deh. Aku cuman nurutin apa yang Kakak bilang aja," ucap Yuda pasrah.
"Hee baguslah kalau kamu setuju Dek. Soalnya Kakak mau sekalian juga nyari pelayanan baru buat Cafe Kakak. Karena salah satu karyawan Kakak ada yang resign katanya mau nikah," beritahu Yunita jujur.
"Siapa Kak? Perempuan?" tanya Yuda.
Yunita mengangguk. Yuda lalu memonyongkan bibirnya sekalian mengangguk tanda paham.
"Ooalahh pantesan. Aku kira cowok, kan bisa aja sesudah nikah kerja gitu. Ya kalo cewek barulah terserah dia. Soalnya nanti bisa hamil kan," ucap Yuda.
"Naahh pinter Adek Kakak ternyata yaa," ledek Yunita melotot mengerutkan alisnya sangat tak percaya jika Adiknya bisa berkata seperti itu.
"Ya elah semua orang juga tau Kak kalau itu," jawab Yuda cemberut.
Yunita hanya menggeleng sembari tertawa kecil saja melihat tingkah cuek tapi manja di diri Yuda.
"Ya udah, kalau kamu mau istirahat lagi istirahat aja dulu sana. Kan sisa besok waktu kamu buat kembali syuting," kata Yunita.
Yuda lalu menyengir dan langsung menyalimi tangan Yunita semangat tanda sangat menyukai hal itu. Ia lalu beranjak kembali pergi ke kamar.
****
Nindya bersama Aya mulai sekarang mencari-cari sendiri di mana ada lowongan pekerjaan untuk mereka. Nindya terus melihat-lihat sosial media, Aya juga selalu mencari informasi di sekitar mereka agar pencarian mereka luas.
"Haduhh di mana ya Ya, keknya semuanya banyak syarat yang sama sekali kita gak punya," keluh Nindya sedikit merasa lelah.
"Yaa kita cari aja dulu Nin, kek kerjaan Admin kek, pelayan restoran kek atau Cafe yang cocok buat remaja yang sambil kuliah kek kita kayak gitu," sahut Aya.
Nindya langsung tersadar akan hal yang dikatakan Aya benar.
"Oh iya ya, ya udah kita cari itu," jawab Nindya kembali bersemangat mengscrool beranda sosial medianya agar mendapatkan lowongan yang mereka inginkan.
Nindya sungguh anak yang baik. Meski dia sudah mengetahui kalau Ayahnya tidak akan terima kalau dia ikut bekerja demi kepentingannya sendiri karena Ayahnya merasa Nindya adalah harta berharga ia satu-satunya sehingga ia berjanji akan selalu meratukan buah hatinya itu sampai Nindya mendapatkan jodohnya nanti. Namun, Nindya tetap bersikeras untuk hidup mandiri. Memang mulia hati gadis cantik ini.
Sejak saat itu setelah pulang dari kampus mereka menyiapkan segala macam untuk lamaran kerja. Mereka terus mencoba melamar di manapun ada lowongan pekerjaan yang profesinya cocok untuk mereka.
*
Hari ini 2 gadis itu mencoba untuk menghadiri acara interview di salah satu toko baju ternama di sana. Betapa bahagianya mereka berdua saat di beritahukan menerima panggilan.
Terlihat sekarang Nindya maupun Aya sudah sangat rapi dan siap menerima pertanyaan atau perintah apapun yang akan di uji untuknya.
Namun, mereka malah di panggil dulu untuk interview dengan HRD.
"Oke, selamat pagi salam sejahtera untuk kita semuanya," salam HRD yang terlihat berpenampilan rapi dan berwibawa hingga membuat Nindya dan Aya gugup.
"Ehe iya Pak selamat pagi kembali," jawab mereka tersenyum ragu sembari mengangguk.
"Uhh iyaa iyaa, eee," HRD itu lalu mengecek berkas-berkas lamaran yang mereka kirimkan kemarin.
"Kepada Mba Nindya? Alfara?,"
"Ya saya Pak,"
" Samaa Mba NurHaya ya?"
"Iya Pak saya sendiri,"
HRD lalu melirik ke arah mereka. Nindya dan Aya tersenyum menutupi kegugupan.
"Apakah Mba Nindya, dan Mba Aya yakin, untuk bisa bekerja di sini dan minta di bagian paruh waktu saja?" tanya HRD itu tersenyum tipis mulai serius menaruh kedua tangan ke meja menghadap ke arah mereka sopan.
"Yaa bersedia Pak," jawab Nindya gemetar. HRD sempat melongo terus melirik mereka seakan sengaja membuat kegugupan. Ia lalu menyeringai.
"Okee bagus sekali...." pujinya seraya bersender ke belakang kursi nyamannya.
"Kalau boleh tau, apa kelebihan yang ada di dalam diri Mba Nindya juga Mba Aya?" tanya HRDnya.
Kini Nindya dan Aya bingung. Mereka hanya tersenyum lalu saling melirik tanda berpikir ingin menjawab apa. HRD itu lalu kembali menatap mereka sembari tersenyum.
"Eem,"
Nindya melongo begitu juga Aya.
"Ehee apa ya," lirih Aya menggaruk kepalanya bingung. Memang polos sekali mereka berdua karena baru kali ini mereka melamar kerja. HRD hanya diam saja terus tersenyum mendongak seakan menganggap mereka lucu saja.
Nindya dan Aya kini berpikir keras.
"CANTIK DAN PANDAI BERJUALAN PAK!" seru Nindya tiba-tiba dengan polosnya.
Betapa terbelalaknya mata Aya ketika mendengar jawaban itu. HRD itu langsung ternganga. Nindya terlihat hanya menyengir polos merasa jawabannya benar saja.
Aya langsung menepuk pahanya sembari tersenyum ke arah HRD untuk menutupi rasa malunya.
"Ehehee. Heh! Lu apaan sih!" bisik Aya sangat kesal.
Nindya langsung meliriknya juga. "Ya kan di tanya kelebihan ya jawab kenyataannya lah, siapa tau nanti di tes beneran," jawabnya sangat pede. Aya semakin merasa malu sekarang. HRD yang mendengar mereka berbisik langsung tertawa kecil.
"Ooh iya sangat luar biasa Mba Nindya. Kalau Mba Aya?" sahut HRD itu terlihat semakin gagah saja hingga membuat Aya dan Nindya terpana dalam sekejap.
Kini Aya yang bingung berpikir keras. Nindya langsung mengerutkan alis seraya mengangguk ke atas mengode untuk Aya memberitahukan sejujurnya saja kelebihannya. Sungguh masih terlalu naif mereka untuk memasuki dunia kerja.
"Selalu mengetahui dan memakai outfit yang trendy dan paling bisa berfoto Pak," jawab Aya sembari nyengir. Nindya yang mendengar pernyataan begitu pede dari mulutnya langsung merasa ilfil dan mencibir.
HRD yang awalnya tersenyum kini melongo dengan wajah menahan heran juga. Betapa konyolnya memang mereka semua.
HRD lalu meneguk air liurnya masih mencoba tetap bermatabat. HRD langsung mengubah wajahnya menjadi serius hingga membuat Nindya dan Aya yang awalnya nyengir kini ikut gugup juga takut karenanya.
"Eee mmm, okeey," HRD itu kini ikut bingung sendiri.
Namun, tanpa di sangka karena mereka memang interview di sebuah ruangan yang khusus untuk menginterview calon-calon karyawan. Ruangan itu menjadi tidak terlalu di rawat juga di bersihkan seadanya saja.
Tiba-tiba dari belakang HRD itu ada seekor tikus yang lumayan besar terlihat berjalan cepat mengarah ke lelaki lumayan tampan berjabis tipis yang sangat rapi, berkulit putih berbaju sangat rapi begitu berwibawa itu.
Nindya dan Aya terlihat semakin gugup saja ketika HRD itu mengulang kembali memeriksa berkas-berkas lamaran kerja mereka.
Tetapi Nindya ternyata ikut tersadar dengan kehadiran tikus itu. Betapa melototnya Nindya yang juga sangat takut pada hewan pengerat berwajah imut itu. Nindya langsung meggoyang-goyang paha Aya agar melihat tikus yang semakin dekat ke arah HRD. Aya yang awalnya kesal meliriknya lalu langsung melotot ketika mengikuti ke arah Nindya lihat. Kini mereka hanya bisa panik di dalam hati tanpa bersuara karena takut pada HRDnya.
"Hmmm!!" jerit Nindya melotot lebar mngatup rapat bibinya sangat panik terus mencoba memendam suaranya. Aya terlihat begitu geli dan gemetar juga semakin mempererat genggaman tangan mereka.
"Oke baik saya akan..."
HRD itu akhirnya merasakan ada sesuatu yang bergerak di kakinya. Ia langsung menengok ke bawah hingga membuat Nindya dan Aya melotot lebar semakin lucu.
"AAAA!!!"
Teriakan HRD begitu gemulai persis seperti banci kaleng itu pecah dan lelaki itu langsung berdiri mengangkat kedua tangannya begitu slay hingga membuat Nindya dan Aya melongo heran mengerutkan alisnya dengan ekspresi konyol sangat kaget.
Lelaki itu malah semakin berteriak ketakutan dan langsung melompat layaknya perempuan begitu geli kaget pada seekor tikus.
Betapa melotot dan melongonya Nindya juga Aya melihat kejadian sangat konyol juga tak di duga itu.
Namun, bukannya menjauh tikus itu malah semakin merasa gelisah dan membuatnya berlari semakin cepat menghampiri kaki HRD gemulai itu hingga terlihat jati dirinya semakin ketahuan oleh Nindya juga Aya.
"AAA!!! PERGI! JANGAN KE SINI KAMU! KURANG AJAR! GELI! AA TOLONG!" teriak HRD itu sembari mengindikkan kakinya sangat panik dengan jemari tangan yang begitu lentik mencoba menjauhkan tikus itu dari kakinya.
Kepanikan itu membuat Nindya dan juga Aya ikut berdiri melangkah mundur sangat takut kalau-kalau tikusnya malah ke mereka setelahnya.
"Buset dikira ganteng ternyata bencong?!" kaget Aya begitu melotot mengerutkan alisnya hingga langsung di pukul Nindya bahunya.
"Heh! Diem! t***l lu ntar kita di marahin!" bisik Nindya kesal.
Karena tikus itu semakin merasa terancam juga akhirnya ia semakin berjalan ke sana kemari hingga membuat mereka semua berteriak semakin panik dan membuat orang-orang yang ada di luar terkekeh.
"MARI PAK SAYA BANTU!" teriak Nindya langsung mencoba memukul tikus itu memberanikan dirinya.
Sekarang mereka malah heboh untuk menyingkirkan tikus itu sampai orang-orang di luar ikut mencek mereka panik.
*
Gara-gara kejadian konyol itu kini Nindya dan Aya akhirnya gagal lantaran interview menjadi kacau. Nindya dan Aya masih sungguh tak percaya dengan lelaki yang sebenarnya berpenampilan sangat laki dan rupawan itu malah gemulai. Tapi karena tikus mereka bersyukur karena kalau tidak mereka malah semakin naksir kepada HRD tadi.
Kini Aya dan Nindya pulang dengan pasrah.
"Haduhh sumpah deh gak nyangka gue. Muka tampan, badan gagah, eh malah bencong. Terus paniknya lebih dari kita lagi," gerutu Aya merasa lelah sekali.
Nindya hanya menatapnya lelah sembari menahan kesalnya juga. Dia lalu membuang muka mencoba mengikhlaskan semua yang terjadi.
"Iya bener banget gue juga kaget njir," sahut Nindya sembari terus berjalan beriringan dengan Aya menuju motor mereka.
Aya malah tertawa ketika mengingatnya. Nindya langsung mengerutkan alisnya.
"Haha! Gila emang tu orang, ngakak gue haha gemulai banget jabis doang yang lebat?!" beber Aya sangat merasa lucu begitu konyol. Mendengar perkataan temannya Nindya langsung ikut tertawa.
"Hahaa! Hadeuhhh emang deh ya macem-macem aje ni dunia," sambung Aya menggeleng begitu tertawa.
"Hahahaha!" Nindya terbahak.
"Huuh, gak jadi dong kita kerja di toko itu. Padahal enak ruangan ber AC. Cuman jaga baju doang ya elah," kata Aya merasa sangat sedih dan menyayangkan hal itu. Kini ekspresinya kembali sedih.
"Yaa mau gimana lagi. Mungkin belum rezeki kita Ya," jawab Nindya sedih menatapnya.
Mereka sama-sama menatap lesu lalu pasrah dan pergi dari sana.
*
Kegagalan kemarin tak membuat semangat dan harapan mereka lenyap. Nindya dan Aya malah semakin rajin menyebarkan berkas lamaran ke semua lowongan.
Mereka banyak melewati interview-interview lagi hingga sampai menemukan perusahaan yang tidak jelas karena HRDnya tidak bencong lagi melainkan begitu genit kepada semua gadis hingga Aya dan Nindya langsung kabur terbirit-b***t kabur dari tempat itu.
Sungguh banyak ujian yang mereka hadapi untuk mendapatkan pekerjaan yang baik saja.
Nindya dan Aya ngos-ngosan sekarang sampai mereka tak kuat lagi untuk berlari dan terdampar di rerumputan hijau begitu indah yang ada di sana, mereka mengatur nafas lalu saling berpandangan.
Melihat wajah masing-masing membuat mereka malah tertawa konyol seakan tidak akan menyerah sampai mereka mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan.
Nindya dan Aya lalu bangkit kembali dan terus mencoba di manapun mereka lamar tanpa ada rasa pamrih.
****
Terlihat sebuah mobil putih mewah berhenti di depan sebuah Cafe yang begitu indah dan tenang tempatnya hingga terlihat Cafe itu selalu di penuhi anak-anak muda yang suka menongkrong menenangkan dirinya di sana.
Dari dalam mobil itu keluar seorang wanita berpenampilan sangat elegan berbaju bagaikan CEO perusahaan yang begitu terhormat sembari memakai kacamata hitam berkelas.
Wanita itu keluar dengan high heels yang sangat anggun. Sungguh paripurna memang tampilan sosialita itu.
Wanita itu lalu memasuki Cafe itu dengan langkah arogan.
Saat dia masuk terlihat seluruh karyawan langsung kaget seakan gugup. Ya, dia adalah Kakak Yuda yang bernama Yunita itu.
Dia langsung melepaskan kacamatanya saat sampai di depan kasir.
"Baik Bos. Ada yang bisa kami bantu?" tanya lelaki muda berpenampilan begitu rapi bercelemek Barista.
"Kalian udah buat lowongan kerja?" tanya Yunita.
"Eh he belum Bos karena pengeditan belum selesai. Tapi setelah ini katanya selesai kok dan kami akan umumkan," jawab lelaki itu gugup.
"Kalian ini gimana, harusnya cepat dong kan kita sangat kekuatan Karyawan kalian juga kan yang capek," tegur Yunita mencoba tegas.
Lelaki itu hanya menunduk tak menjawab dengan wajah sangat pasrah.