Bab 11

2049 Kata
"Ehm Stef, aku baring ke samping dulu ya uugh ngantuk," ucap Yuda beralasan agr Steffani segera pulang. Yuda langsung berbaring ke samping membelakangi wanita itu. Sepertinya Yuda memang benar-benar malas bertemu dengannya. Melihat itu Steffani bukannya marah atau merasa kesal. Dia sempat terdiam sejenak merasakan sedikit perih dalam hatinya karena sikap Yuda yang sebenarnya dia sadari saja. Namun, dia seakan tak memedulikan semua. Dia memang tipikal wanita yang pantang menyerah dan terus yakin, bahwa suatu saat dia akan mendapatkan hati Yuda meski harapan yang dia bayangkan tak tau kapan terjadi. Steffani lalu tersenyum tabah sangat tulus memandangi Yuda yang terlihat sudah membelakanginya mulai memejamkan mata. "Hmm, oke Yud. Kamu istirahat ya. Nanti aku datang lagi ke sini buat jenguk kamu. See you. Get Well Soon by," ucap Steffani lembut merasa sedih. "Iyaa makasih," jawab Yuda sumbang karena sudah mulai mengantuk. Budi juga sebenarnya merasakan hal yang sama. Tetapi karena ia hanya mempunyai jabatan seorang Manajer Aktor, ia hanya diam tak ingin ikut campur urusan percintaan mereka karena Steffani adalah seorang Model cantik kaya raya juga meski ia sudah tau bahwa Yuda memang sama sekali tak mempunyai rasa kepada Steffani. Budi juga sebenarnya sangat merasa kasihan pada Steffani. Namun, apa boleh buat. Steffani akhirnya pasrah lalu pamit pulang. **** "Nin, lu sumpah? Sampe sekarang kagak ada rasa suka-sukanye gitu sama Yuda? Padahal kan lu udah pernah bisa sedeket ituu ketemu dia a*u," kelit Aya merasa begitu heran pada Nindya. Namun, mendengar pertanyaannya Nindya lebih heran. "Lu napa sih, nanya gitu mulu bosen gue udah dengernya tau gak," jawab Nindya lirih begitu malas. "Ya masa iya kagak adaaa sedikit-sedikitnya hati lu itu merasakan kebaperan sama orang yang seganteng dan sekaya itu. Mana terkenal lagi?! Ih! Kalau gue jadi elu ya. Gua manfaatin tu kesempatan biar bisa kembali deketin dia begitu Nin!" gerutu Aya sembari mengikuti Nindya duduk di kursi ruang tamu mereka. "Huhh gue itu sama sekali gak fans sama dia. Jadi ya wajarlah gue biasa aja, udah kalau lo mau kejadian kayak gue rasain kemaren. Ntar gue bantu buat ketemu ma dia, oke?" sahut Nindya. Betapa melototnya Aya mendengar jawabannya santainya itu. Nindya lalu mencoba tetap selow. Dia malah langsung mengambil mengutak-atik handphonenya tanpa dosa. Aya hanya mendengus lelah sembari menyandarkan tubuhnya ke belakang memijit dahinya termenung sejenak. Ketika mereka sudah saling asyik mengutak-atik handphone membuka sosial media. Tiba-tiba dering telpon Nindya berbunyi hingga membuat Aya yang ada di sampingnya ikut terkekeh. "Dari siapa Nin?" tanya Aya mengerutkan alisnya. "E anu... Dari... Emak gue? Ya halo Maa," jawab Nindya sempat melongo dan langsung mengangkat telponnya. Aya hanya mengangguk lalu kembali bersandar santai di kursi itu. "Alhamdulillah Ma lancar-lancar aja kok. Kami juga selalu bisa selesain tugas kami, di sini Mama tenang aja sama Bibi Miyah. Kita juga dapat temen-temen yang baik banget kok di sini yang selalu ada buat bantu kita. Pokoknya sekarang Nindya benar-benar merasa nyaman kok sama Aya," beritahu Nindya sangat bahagia bercerita pada Mamanya. Aya yang mendengarnya juga merasa senang. Dia menyeringai dan kembali menatap layar ponselnya sembari menahan senyum. "Aha iyaa Ma, walau kita sedang asyik berteman tapi kita gak bakal lupa kok sama tugas. Kita akan selalu selesain tugas dari Pak Dosen dengan benar Ma gak akan sampe lupa itu dan kuliah bener-bener sesuai yang Mama, Ayah, dan Bibi Miyah harepin," ucap Nindya meyakinkan. Mendengar perkataan anaknya yang terlihat jujur terdengar sayup-sayup suara tertawa senang dari dalam telpon Nindya. "OH IYA TAN! ADA SATU BERITA! KEMAREN NINDYA KETEMU SAMA YUDA PEMAIN SINETRON CINTA TERBAIK ITU LO TAN!!!" teriak Aya sangat nyaring yang tiba-tiba langsung melompat ke arah telpon sangat semangat Nindya hingga Nindya kaget bergidik. Betapa melototnya Nindya ketika mendengar perkataan temannya itu. Nindya langsung melototinya dan menutup mulutnya. "Hah? Apa Ya?" suara Mamanya terdengar sayup-sayup dari telpon yang telah mendengar teriakan Aya. Aya semakin mencoba mendekati telponnya dan ingin berbicara lagi tapi Nindya langsung menggeluti menutup mulutnya kuat sembari mendorongnya agar tidak bisa mendekati telponnya. "A HAA, ENGGAAK AYA LAGI BICARA SAMA TEMENNYA KOK NIH MA," nyengir Nindya sembari terus menahan Aya begitu konyol. Dia langsung melototi Aya sangat kesal. "Lo jangan ceritain kampret!" bisik Nindya melotot sangat gregetan sembari mengenggam erat handphonenya yang dia lepaskan dari telinganya. "Emm!!" geram Aya sembari menunjuk-nunjuk ke arah telpon tanda agar Nindya membiarkannya saja untuk berbicara, terlihat juga dia sangat kesal dengan mata melotot dan mulut yang di tutup rapat oleh Nindya dengan konyolnya. Nindya mengalih handphone ke telinga kanannya sembari terus mendorong Aya kuat dengan tangan kirinya agar Aya tidak bisa ikut bicara lagi. "Hahaa iyaa Ma iya. Teruuusss gimana. Mama sama Ayah di sana baik-baik aja kan?" tanya Nindya sengaja mengalihkan pembicaraan sembari berdiri cepat menghindari Aya. Sekarang Aya sesak nafas dengan wajah melotot begitu konyol ngos-ngosan. Betapa kesalnya dia pada Nindya saat itu. "Hooh, hooohh," dengusnya sangat sesak memonyongkan bibir dengan mata melotot lebar seakan ingin copot. Dia melirik ke arah Nindya yang terlihat sekarang berdiri jauh di seberangnya sembari terus telponan dengan Mamanya. "Nindyaa!" teriak Aya langsung bangun berdiri berlari kecil menghampirinya. Aya langsung mencandainya langsung menyergap tengkuk belakangnya berpura-pura seperti monster yang siap menyantap Nindya. Karena itu Nindya akhirnya berteriak kaget lalu tertawa menahan geli. "ADUH! ADUH! AW! WOY! KAMPRET SAKIT TAU! Haha!" beber Nindya langsung memukul kepalanya. "HAH?! APA MA? A, AYAH SAKIT?" kaget Nindya tiba-tiba hingga sekarang Aya ikut terdiam. "Huu terus-terus gimana dong Ma, Ayah udah lumayan?" tanya Nindya khawatir sangat sedih. "Ada apa Nin?' tanya Aya heran yang ikut sedikit panik. "Huuh, syukurlah Ma kalau sekarang Ayah mendingan. Ya udaah, bilangin aja sekarang istirahat aja dulu jangan di bawa pergi ke kebun sama kerjaa iih, Nindya gak mau Ayah makin sakit nantinya kalau di paksa. Ya?" khawatir Nindya meminta pada Mamanya. "Kenapa Nin?" bisik Aya mengerutkan alis. Nindya baru terkekeh. Dia sempat terdiam melamun menatap Aya dengan raut wajah sedih. "Ehm Ayah gue katanya langsung jatoh sambil megang d**a saat di kebun cabeku Ya. Tapi katanya sekarang Ayah udah mendingan karena langsung di bawa ke Puskesmas," jawab Nindya begitu sedih. "Astaghfirullahal'azimm... Terus? Udah balik ke rumah atau... Masih di Puskesmas?" kaget Aya juga. Nindya hanya mengangguk sembari menahan sedihnya. "Iya udah pulang kok Ya," jawab Nindya. Aya ikut lega mendengarnya. Dia lalu kembali menempelkan handphone ke telinganya mencoba mendengarkan apa yang Mamanya bicarakan. Setelah mengobrol lumayan lama dengan Mamanya. Kini telpon mereka sudah berakhir. Sekarang Nindya termenung sedih sendiri. Aya juga kembali duluan ke kamar untuk tidur siang. Gadis itu sungguh merasa sangat tak tenang sekarang akibat berita yang Mamanya beritahu tadi. "Ya Allaah. Aku jadi kepikiran Ayah sekarang, mch.. Semoga Ayah cepat pulih kembali dan penyakitnya gak kumat lagi. Huuhh," cemas Nindya berdecak masih berdiri di sana. Dia lalu kembali memandangi layar handphonenya sedih. "Ayah pasti kecapean karena cariin duit lebih keras buat aku di sini. Huhh kalau kayak gini terus bisa-bisa Ayah jatuh sakit lagi di kampung, apalagi ntar bayaran buat salah satu acara yang wajib di ikuti. Aku harus bantu Ayah sekarang sedikit-sedikit. Toh buat biaya kuliahku juga," pikir Nindya sangat bingung. Gadis ini memang berhati baik dan begitu menyayangi kedua orangtuanya. Akhirnya dia mantap memutuskan untuk mencari peke mulai sekarang apapun itu asal bisa membantu meringankan beban Ayahnya meski Ayahnya sebenarnya melarangnya untuk bekerja. * Mereka masuk kuliah seperti biasa. "Jadi lu beneran mau sambil kerja?" tanya Aya sembari memasang sepatu cantiknya. Ya, mereka sudah bersiap ingin berangkat ke kampus. "Iya, mau gimana lagi. Gue takut kalau Ayah gue sakit lagi karena terlalu berat bekerja untuk biayain gue yang ada di sini, yaa walau sebenarnya Ayah gue udah ngelarang sih kemaren, katanya Ayah sanggup aja kok dan gak mau bikin gue repot, tapi gue pikir-pikir kalau kek gitu gue gak akan mempunyai kemajuan dalam diri gue sendiri. Gue berpikir, setidaknya gue harus mengubah pola pikir gue dari sekarang. Mencoba belajar mandiri kek dulu gitu Ya," jelas Nindya sembari membojorkan kakinya yang sudah terpasang sepatu sangat rapi. Aya yang mendengarnya langsung mengangguk sembari mencibir. Mereka lalu sama-sama berdiri siap untuk pergi. "Oohh, hm bagus-bagus sih. Keknya gue mau ikut sama lo, lumayan ada tambahan uang buat shopping hihihi, eh tapi kita cari kerjanya di mana ya?" tanya Aya polos sekali. Nindya yang awalnya tersenyum kini ikut bingung. Terlihat senyumannya tertahan dengan konyolnya memikirkan hal itu. "Iya ya, di mana ya?" tanya Nindya. Aya yang melihat ketololan mereka sendiri lantas tertawa terbahak sembari memukul bahu Nindya. "Haha! Udah kita pergi ke kampus aja dulu bego! Ntar terlambat lagi. Ntar aja mikirin itu, sok banget sih," ledek Aya sangat tertawa. Nindya kini merasa begitu malu menyengir tipus sembari menggaruk tengkuknya lantaran yang di katakan Aya ada benarnya. Akhirnya mereka pergi ke kampus. **** Sayudha sekarang sudah kembali pulih membaik dan bisa pulang. Ya, pengobatan serta perawatan yang intensif yang juga mengeluarkan biaya tidak sedikit itulah yang selalu membuat Yuda sehat kembali. Budi membantu membawakan kopernya untuk pulang. Setelah semuanya selesai mereka pun pulang pergi ke rumah Yuda. Yuda sepertinya terpaksa menunda jadwal agar kesehatannya tidak drop lagi meski itu adalah jadwal yang sangat penting. * Mereka lalu telah tiba di depan rumah Yuda yang terlihat begitu besar juga mewah, memang tak main-main Aktor ini saat membuat rumah impiannya. Mobil mewah itu lalu memasuki pagar yang telah sigap di bukakan seorang Satpam begitu tinggi juga indah. Halamannya begitu luas saat ingin mendekati rumah bertingkat 3 itu. Sungguh hal luar biasa jika di lihat oleh orang-orang biasa. Terlihat sudah ada banyak orang yang menunggu mereka. Supir memakirkan mobil, Yuda pun turun dengan wajah yang terlihat masih lesu. "Tuan bisa istirahat sekarang, kita di beri waktu 4 hari agar membuat kesehatan Tuan pulih seutuhnya. Setelah itu, syuting menanti kita kembali," ucap Budi terlihat berat. Yuda hanya diam sama sekali tak melirik Budi karena ia memang sudah tahu semua itu. Yuda terlihat memendam kesalnya. Setelah itu Yuda keluar berjalan cepat agar lekas sampai di rumah yang sangat jarang dia tempati karena memang selalu sibuk syuting. Budi langsung mengikuti dengan cepat dan membiarkan Supir mengeluarkan semua barang. "Selamat datang Mas Yuda?!" "Selamat datang Bos Yuda!" "Selamat datang Mas Yuda!" Sapa semua karyawan yang mempunyai profesi masing-masing untuk merawat rumah mewah Yuda. Yuda yang mendengar sapaan mereka terkekeh dan tersenyum menoleh kepada mereka sembari terus berjalan cepat untuk masuk. "Ya terimakasih semuanya," jawab Yuda tersenyum. Mendengar respon Yuda yang ramah mereka langsung ikut tersenyum bahagia meski Yuda langsung saja memasuki rumah. Mereka lalu bubar dan kembali menyelesaikan kerjaan masing-masing. Yuda langsung menuju kamar lalu kembali tidur sekarang, karena memang kesempatan untuk beristirahat. Lelaki ini terlihat begitu tenang dan memeluk erat guling seakan sangat merindukan kasur. Ia memejamkan matanya tenang. * Kini Yuda sudah puas beristirahat. Terlihat sekarang ia sedang berkumpul dengan keluarganya. "Yud, kamu sekarang udah merasa baikan kan?" tanya seorang perempuan yang juga cantik terlihat lebih tua darinya sedikit. Yuda mengangguk tanda benar. "Yaa, udah baik banget kok Kak," jawab Yuda sembari mengusap tekuknya. "Yuda, Kakak sama Saudara-saudara mu yang lain khawatir sama kamu. Om Kevin juga, karena sekarang kan Mamahmu sama Papah udah gak ada, dan kamu sendirian. Ya walau Kakak tau kamu juga jarang di rumah dan selalu sibuk syuting. Tapi kan kamu tetap sendirian. Kakak itu khawatir banget sama kamu Yuda, udah. Kamu di sini aja ya sekarang sementara," ucap perempuan itu yang ternyata adalah Kakak tiri namun se Ayah berbeda Ibu saja darinya. Ya, karena Ayahnya adalah seorang pengusaha kaya raya tak salah jika pria itu mempunyai istri lebih dari 1. Namun, perempuan itu tak memiliki dendam sama sekali kepada Yuda meski Mamah Yuda dulu tlah merebut Ayahnya dari Ibunya. Perempuan itu malah terlihat begitu menyayangi Adik lelakinya itu. Ya, kedua orangtuanya Yuda baru saja mengalami kecelakaan pesawat saat ingin kembali ke Indonesia. Mereka berlibur bersama sekalian mengerjakan kerjaan mereka di luar negeri. Namun, takdir telah memanggil mereka hingga kemarin Yuda sempat drop karena saking syok yang ia alami. Sekarang, rumah kedua orangtuanya itu kini tlah di jaga dan di diami oleh Saudaranya juga keluarga dari Ibunya karena Yuda sudah memiliki rumah yang tak kalah mewah dari orangtuanya itu. Sungguh memilukan memang ternyata sisi lain yang tidak semua orang tau dari seorang Superstar yang mempunyai begitu banyak di cintai semua orang, harta melimpah tetapi ternyata Yuda menyimpan pengalaman yang pahit oleh kedua orang yang sangat ia cintai di dunia. Bahkan ketika kedua orangtuanya kecelakaan sempat viral berita duka itu di semua Televisi dan media sosial. Yuda termenung seketika saat mengingat hal pahit itu. Kakaknya kini ikut merasa sedih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN