Selin langsung melangkah menuju lift dan Satria mengikuti. “Jadi, urusan apa sama Ben? Kamu nggak bilang apapun.” Selin langsung menyandarkan tubuhnya di dinding lift. Seolah ia tidak memiliki kekuatan untuk berdiri. Kakinya terasa lemas. “Ada apa?” tanya Satria. “Gue lemes banget.” Selin seketika terduduk. Satria pun ikut berlutut. “Hei, kenapa?” tanya Satria mulai khawatir. Ia memegang pundak Selin. Pintu lift terbuka. “Ayo masuk. Kita obrolin di dalem.” Selin masih merasa lemas. Satria pun langsung saja menggendong Selin yang masih terduduk. “Eh, ngapain?” tanya Selin bingung. “Katanya lemes. Ya aku gendong.” “Idih lebay banget. Turunin gue,” ucap Selin. Satria tetap bersikeras. Ia melangkah menuju pintu apartemen. Selin berdecak dan kemudian menekan password pintu sert

