Sebagian hati Luruh merasa jika ucapan Axton ini hanya untuk menenangkan hatinya agar tidak marah padanya sedangkan sebagian hatinya lagi merasa yakin jika Axton bersungguh-sungguh dalam setiap ucapannya, dalam diam Axton memandang istrinya lekat karena ia berusaha untuk memberi waktu agar Luruh bisa memahami ketulusannya.
"Melindungi hatiku katanya? Bukankah pada akhirnya malah aku jadi salah paham padanya ya? Kalau sejak awal iya memberitahuku mungkin aku tak akan terluka begini? Cuma entah kenapa rasanya ucapan Axton terdengar tulus dan serius hanya saja aku juga tidak tau harus bersikap bagaimana dengan ucapannya ini," batin Luruh bimbang.
"Tidak apa-apa jika Luruh masih bingung dengan ucapanku setidaknya mungkin dengan ini Luruh bisa mempertimbangkan ucapan gue karena gue emang bener-bener gak mau kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup gue! Semoga dengan ucapan ini Luruh bisa memahami ketulusan hati gue jadi lebih baik gue diam dulu aja untuk Luruh berpikir," batin Axton santai.
Sementara gadis cantik itu berusaha menenangkan hatinya yang di rasa masih kesal, tetapi jika ia terus berdebat yang ada masalah sepele seperti ini bisa jadi panjang jadi Luruh memilih untuk berjalan ke kamarnya dan beristirahat saja di banding nantinya ia dan Axton berdebat tanpa henti lagi.
"Apa yang gue harapkan dari ucapan ini? Daripada gue mencari masalah di saat jam yang tidak tepat lebih baik gue menutup masalahnya ini karena masalah ini sepele juga sih jadi lebih baik aku beristirahat saja lagipula masih ada hari besok jadi lebih baik gue gak perlu bahas ini untuk sekarang deh! Rasanya lelah banget kalau harus salah paham lagi tuh," batin Luruh lelah.
Dalam diam Axton hanya bisa menghela nafasnya lelah saat melihat istrinya masuk kamar mereka tanpa mengatakan apa-apa dan tak lama pemuda itu mengikuti langkah besar Luruh karena rasanya ia juga sudah cukup lelah jika harus mengajak ngobrol Luruh yang terlihat jika gadis itu masih marah padanya.
Keduanya sibuk ke alam mimpinya hingga perlahan-lahan matahari mulai menyinari kamar dan membuat Luruh bangun dari tempat tidurnya nyaman dan menyiapkan masakan untuk sarapan dirinya dan Axton, sebenarnya sejak tadi Axton sudah mengikuti langkah Luruh dan menatap istrinya lekat.
"Beruntungnya gue punya istri yang baik dan rajin kayak Luruh! Memilihnya adalah keputusan gue dan menjaga serta mensyukuri setiap kehadiran Luruh adalah hal yang harus gue lakuin! Kalau di pikir-pikir rasanya gue harus sungguh-sungguh mencintai dan membahagiakan dirinya, sekarang dia dunia gue dan gue harus mendahulukan kebahagiaan dia," batin Axton senang.
Hari ini adalah hari libur Axton jadi ia berencana ingin menanyakan gadis itu ingin di ajak pergi ke mana mumpung dirinya libur, sayangnya Luruh masih sebal dan memilih menyibukkan diri dengan menyusun beberapa camilan di lemari pendingin karena menurutnya camilan tersebut berantakan.
"Pagi, sayang! Bukankah ini terlalu pagi untuk kamu memasak sarapan? Itu kamu ngapain sih? Bukannya kita masih memiliki banyak stok bahan makanan ya? Lalu buat apa kamu duduk di sana? Tidakkah ruangan ini terlalu dingin untuk kamu duduk di lantai sayang? Kamu sibuk apaan sayang? Mau aku bantu tidak? Hm?" ucap Axton lembut.
"Iya pagi juga! Menurutmu sarapan itu pagi atau siang? Tentu saja aku harus memasak pagi-pagi, Axton! bukan masalah stok makanan kok! Ini gue lagi emang sengaja merapihkan camilan di kulkas soalnya agak berantakan! Suka-suka gue dong mau duduk di mana! Emang kenapa kalau gue duduk di sini? Nanya mulu lu, liat aja lu ngapain! Bawel tau lu," gumam Luruh datar.
"Hahahaha, kamu lagi datang bulan atau gimana sayang? Kenapa lu marah-marah? Ya gimana gue bawel karena gue perduli sama lu, sayang! Gue gak mau lu masuk angin Luruh! Lucu juga ya liat lu marah-marah begini? Lu masih ngambek sama gue ya? Lu mau gue beliin apaan sayang? Jangan ngambek lagi ya sayang hahaha," kekeh Axton senang.
Luruh yang merasa kesal dengan suara tawa suaminya membuat gadis itu mengomeli Axton yang selalu menyebalkan di saat Luruh sedang sibuk seperti ini dan Axton berusaha membujuk Luruh yang ia pikir masih marah padanya sementara Luruh bertanya mengenai apa alasannya memilih Luruh sedangkan ia memiliki memiliki teman secantik Laninna dan bisa saja Axton berjuang untuk cintanya.
"Malah ketawa gak jelas lagi lu!! Bisa gak sih lu gak menyebalkan di saat gue lagi sibuk begini! Bukannya bantuin atau apa malah menertawakan istrinya lagi lu!! Gak semua masalah selesai ketika lu memberikan sesuatu ya, Axton!! Masalah itu butuh penyelesaian bukan hadiah yang menurut mata lu bisa menyelesaikan semuanya! Gak bisa gitu!" omel Luruh kesal.
"Maaf, maaf! Gue ketawa bukan bermaksud menertawakan lu kok! Gue cuma lucu aja melihat ekspresi menggemaskan dari lu! Gue menanyakan lu mau beli apa bukan berarti menyelesaikan masalah kok! Ucapan itu untuk mengajak lu mencari hal yang bisa menghibur hati lu dan maaf kalau niat gue malah di salah artikan begini, jadi lu mau apa? Hm?" ucap Axton lembut.
"Lu nanya mau gue apa? Sekarang gini deh, gimana kalau gue mau lu jawab jujur, Axton! Apa alasan lu memilih gue, Axton? Padahalkan lu punya teman cantik kayak Laninna terus lu kenapa lu gak berjuang buat Rinja? Kalau lu cinta sama dia ya harusnya lu perjuangin sampe dapat gak sih!! Apa lu emang udah menyerah gitu aja emangnya, Axton?" tanya Luruh serius.
Mendengar pertanyaan Luruh membuat Axton mengusap-usap kepalanya lembut lalu dengan yakin Axton menyahuti pertanyaan tersebut bahwa ia telah memilih Luruh dan tidak ada alasan untuk dirinya memperjuangkan gadis yang mencintai kakaknya sendiri untuk itu ia ingin supaya dirinya bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.
"Kalau gue begini itu artinya lu tau bukan? Gue bukan menyerah gitu aja, lebih ke arah sekarang gue mulai berpikir kenapa gue harus memperjuangkan gadis yang mencintai kakak gue terlebih dia gak ada rasa apapun buat gue? Sejak mereka berbahagia maka gue juga menyadari kalau harusnya gue mencari kebahagiaan gue sendiri! Kenapa gue milih lu karena sikap lu, terus cara lu menanggapi gue itu berhasil menarik hati gue, Luruh! Hidup gue yang sekarang itu rasanya di penuhi kebahagiaan sama lu sayang," tutur Axton serius.
Dalam diam rasa bimbang dan berbagai perasaan yang sebelumnya di rasakan Luruh menguap entah pergi ke mana saat ia mendengar nada serius dari Axton sementara Axton yang paham jika pasti Luruh sulit menerima alasannya membuat pemuda itu menenangkan Luruh bahwa ia sudah mengikhlaskan masa lalunya.
"Apa yang aku katakan adalah kejujuran dan alasanku memilihmu adalah karena aku yakin jika hatiku menginginkanmu dan pilihanku tidak akan salah! Jangan berpikir terlalu banyak soal gue karena gue sudah mengikhlaskan masa lalu aku, sayang! Tenangkan dirimu dan cobalah lihat mataku karena aku bersungguh-sungguh mengatakan ini padamu," ucap Axton lembut.
Tak banyak kata yang diucapkan Luruh selain gadis itu memeluk Axton dan ia mengucapkan terima kasihnya karena ketika Axton memiliki banyak alasan untuk memilih yang lain, pemuda itu malah memilih dirinya jadi Luruh akan berusaha sebaik mungkin bahwa pilihan yang Axton berikan bukanlah sebuah kesalahan.
"Ternyata begitu ya? Terima kasih banyak karena kamu sudah memilih aku padahal kamu bisa mengabaikan hatiku dan karena kamu terlihat bersungguh-sungguh padaku jadi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menunjukkan padamu bahwa pilihan yang kamu lakukan bukanlah sebuah kesalahan! Tolong percaya padaku dan ke depannya mari kita lalui dengan hati yang saling terbuka dan jangan sampai menyakiti satu sama lain ya," gumam Luruh sendu.
Axton yang mendengar ucapan Luruh membuat pemuda itu tersenyum dan menenangkan Luruh bahwa apapun yang akan Luruh lakukan di masa depan Axton menerima bahkan ia memilih untuk selalu di sisi Luruh apapun yang terjadi, mendengar hal itu semakin membuat Luruh tidak menahan rasa sedihnya dan menangis dalam pelukan Axton.
"Tentu saja kita akan melalui semua hal denganmu, sayang! Sudah jangan sedih begini lagipula kalau kita saling menyakiti satu sama lain tanpa sadar maka akan lebih baik jika secepatnya kita saling mengingatkan dan jangan saling menyembunyikan apapun ya? Apapun yang terjadi sama kita nantinya gue akan tetap di sini dan kita lalui sama-sama," tutur Axton lembut.
Bukan hanya Luruh yang menangis hari itu melainkan Lara yang awalnya sedang tak ingin untuk menangis tiba-tiba saja melihat Rajan membawakan satu buah boneka dan coklat di tangannya, sejenak Lara bingung dan pemuda itu bilang semalam Lara menangis dalam tidurnya jadi hari ini Rajan ingin menghibur Lara dengan hadiah kecil darinya.
"Pagi, Lara! Nih gue bawain boneka sama coklat buat lu! Semalam gue melihat lu menangis sambil bergumam-gumam sedih gitu jadi mungkin hadiah kecil ini bisa sedikit menghibur lu? Semalam lu bermimpi apa? Gak biasanya lu menangis sampai seperti itu? Lu udah sarapan belum, Lara? Loh kenapa lu menangis, Lara? Hm?" ucap Rajan lembut.
Lara bukan menangis karena hadiah dari Rajan melainkan ia menangis karena semalam dirinya malah mengingat kenangan saat Lara melihat sendiri perselingkuhan antara Giran dan Narunna dan mungkin hal itu yang membuat Lara dalam tidurnya menangis sebab hatinya masih saja memilih sosok Giran.
"Semalam gue menangis? Oh jangan bilang semalem gue teringat soal kenangan mengenai rasa sakit saat melihat sendiri bahwa Giran berselingkuh dengan Narunna! Padahal harusnya gue udah bisa melupakan rasa sakit ini! Hanya saja Giran masih menjadi pemilik hati ini padahal dia sendiri yang menyakiti gue! Kenapa masih saja menyayangi dia sih," batin Lara sendu.
Rajan yang tak pernah sanggup melihat gadis yang ia cintai menangis sampai seperti ini tidak lama ia mengusap-usap punggung gadis itu lembut dan menenangkannya karena mungkin saat ini Lara sedang sedih karena luka di hatinya yang belum pulih dan Rajan tidak bisa melakukan apa-apa selain menghibur Lara.
"Masih sedih ya? Jangan terlalu di pikirkan jika kamu masih merasa sedih! Aku ada di sini untuk menemani kesedihanmu dan aku percaya bahwa suatu saat kamu akan berbahagia jadi lebih baik untuk saat ini alihkan pikiranmu! Tenangkan dirimu dan jangan ingat hal yang tidak ingin kamu ingat dan jalani saja hari ini Lara," ucap Rajan lembut.
Ketenangan yang diberikan Rajan mungkin berhasil menenangkan hatinya, tapi jauh dari semua ini ada sudut hati Lara yang masih berdenyut perih saat matanya tak sengaja melihat seseorang yang tidak pernah ingin ia temui lagi dalam hidupnya dan parahnya lagi Lara tidak berbuat apa-apa untuk menghindarinya.
"Ucapan Rajan mungkin benar hanya saja ada perasaan sakit dan sedih di sudut hatiku yang masih sulit aku lupakan, loh? Itu kan Giran? Kenapa dia datang lagi? Aku tidak pernah ingin melihatnya lalu kenapa dia harus datang lagi seperti ini sih? Rasanya sudah lelah banget harus memandang dia lagi itu memuakkan rasanya," batin Lara sendu.