Hari yang terlihat mendung itu semakin terlihat menyebalkan di mata Lara karena di saat gadis itu ingin menikmati pemandangan tetesan hujan dari luar jendelanya malah harus mendengar janji manis dari penyebab luka di hatinya, kalau saja Lara boleh bersikap tak baik pada orang yang sudah menyakitinya ia ingin sekali membuat pemuda itu merasakan rasa sakitnya.
"Untuk apa sih dia datang lagi ke sini? Mau dia sebenarnya itu apa sih? Apakah dengan terus-terusan datang ke sini membuatnya senang? Hatiku sudah sangat tersiksa karenanya! Belum cukupkah rasa sakit yang ia ia berikan padaku! Rasanya ingin sekali aku bersikap tak baik padanya hanya saja aku merasa tak sanggup untuk menyakitinya," batin Lara sendu.
Tidak cukup hanya mendatangi Lara saja melainkan Giran masih berusaha menarik rasa cinta Lara dan gadis itu meminta Giran menghentikan omong kosong ini karena Lara sudah kesulitan untuk mempercayai Giran di saat pemuda itu yang mematahkan kepercayaan yang ada di hati Lara.
"Tampaknya kamu sedang memikirkan aku kan ya? Memang seharusnya kamu itu kemarin tak usah banyak menolak dan kembali saja padaku sebab hanya aku yang bisa membahagiakanmu bukan pemuda yang kamu gandeng itu loh, Lara! Sejak awal kepercayaan dan cintamu itu bukan untuk dia! Kenapa kamu masih saja tak mau menerimaku? Hm?" ucap Giran serius.
"Kedatanganmu ke sini hanya ingin mengatakan hal itu? Kalau begitu sebaiknya berhentilah berbicara omong kosong begini karena sejak kamu berkhianat padaku maka sejak hari itu aku sulit mempercayai dirimu kembali sebab kamu telah mematahkan kepercayaan dan cintaku selama ini, Giran! Hiduplah sesuka dan jangan ganggu aku lagi bisa kan," ujar Lara lelah.
Sayangnya Giran tidak berusaha memahami rasa sakit yang dirasakan oleh Lara dan pemuda itu malah sibuk mendapatkan hati Lara seolah-olah hal lain tidak penting selain keinginan Giran sendiri yang menurutnya jauh lebih penting daripada air mata Lara yang sudah membanjiri wajah Lara yang terlihat sendu.
"Berjuang seperti ini kamu anggap mengganggu? Harusnya kamu bersyukur karena masih ada cowok yang mau memperjuangkan cewek seperti kamu ini! Toh kamu tak akan rugi jika kembali denganku? Yailah, Lara! Semua orang punya masa lalu cuma gak berarti gue gak bisa berubah bukan? Terima dan liat sendiri deh perubahan gue," ujar Giran santai.
"Bersyukur? Kurang bersyukur apalagi aku menjalani hubungan dengan kepura-puraanmu, Giran! Di depan teman-temanmu kau bilang aku satu-satunya gadis yang ingin kau bahagiakan lalu di depan Narunna kau bilang dia satu-satunya cintamu?! Terus aku ini apa! Kamu sibuk balikan sama aku sampai kamu gak tau seberapa menderitanya aku karena ulahmu," gumam Lara sedih.
Bukan Rajan tidak ingin mengusir Giran dari kamar rawatnya, tetapi Lara yang melihat Giran langsung menggenggam tangan Rajan berusaha menenangkan pemuda itu jadi dalam diam satu-satunya hal yang bisa di lakukan Rajan hanya diam sambil melindungi Lara jika Giran sudah mulai keterlaluan.
"Kalau saja tak ingat tangan Lara menahanku untuk tidak marah sudah aku lempar pria tak jelas itu keluar jendela sekarang juga!! Kok bisa ada cowok yang mementingkan dirinya di banding perasaan pacarnya! Sabar, Rajan! Sabar! Mari kita lihat pemuda itu dan kalau sudah sangat keterlaluan sebaiknya aku balas pemuda itu?!" batin Rajan geram.
Rajan tidak sanggup melihat wajah Lara menangis seperti ini, tetapi gadis itu semakin erat menahan tangannya jadi mau tidak mau Rajan berusaha tenang meskipun hatinya terasa kesal melihat Giran terus-terusan menekan Lara dan tidak memperdulikan gadis itu yang masih saja menangisi rasa sakitnya.
"Kamu memintaku untuk tenang dan tak terpancing emosi dengannya kan, Lara? Kalau begitu tolong kamu jangan menangis karena aku tidak sanggup melihatmu bersedih begini! Jangan lukai dirimu hanya untuk menahan ketidakadilan yang Giran berikan padamu! Marahi ia agar pemuda itu tau bahwa kepercayaan dan cinta terlalu mahal untuknya!" gumam Rajan serius.
"Lihat kamu masih tak berubah dan cengeng seperti ini! Pria di luaran sana banyak kok yang selingkuh lebih parah dari aku! Apa yang aku lakukan ya wajar karena aku pria normal yang bisa jatuh cinta dengan siapapun dan harusnya kamu senang karena berkatku kamu punya mantan yang hebat dan masih menginginkan dirimu meski kamu tak berharga Lara," ujar Giran bangga.
Mendengar ucapan Giran semakin membuat Rajan tak bisa lagi menahan amarahnya dan lalu tidak lama Rajan mendorong Giran dan memperingatkan pemuda itu untuk berhenti mengusik Lara sebab mulai sekarang kalau Giran masih seperti ini maka pemuda itu harus berurusan dengan dirinya.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu hah?! Berhenti mengusik Lara dan jangan pernah lagi kamu datang di hadapannya karena mulai sekarang aku adalah orang yang akan berurusan denganmu jika kedatangan kamu ke sini hanya untuk menyakitinya!! Bukan Lara yang tak berharga, tapi kamu adalah pria paling tak tau diri yang berbangga hati atas kesalahanmu sendiri! Benar-benar memalukan," tutur Rajan serius.
Lara berusaha menenangkan Rajan dengan ia mengusap-usap lengan pemuda itu lembut dan Rajan masih menatap Giran tajam sebab rasanya ia tidak ingin membiarkan Giran terus-terusan datang seperti ini di saat keadaan Lara masih harus berada dalam masa pemulihan yang cukup serius.
"Tenanglah, Rajan! Aku di sini baik-baik saja jadi kamu tidak perlu marah begini Rajan, lagipula dia memang orang yang seperti itu jadi tolong jangan salah paham padanya ya? Apapun yang ia katakan padaku sudah tak lagi menyakiti hatiku kok! Aku bahagia jauh darinya sekarang jadi kamu juga harus bahagia untukku Rajan? Iya kan?" ucap Lara lembut.
"Kali ini aku tidak bisa diam saja! Kamu mungkin bisa bilang tidak apa-apa dan sudah terbiasa dengan luka yang ia berikan, tapi aku tidak ingin membiarkan Giran terus mengusik bahkan ia sampai mengungkit-ungkit masa lalu yang terjadi karena dirinya! Coba deh sekali aja Giran! Pikirin gimana sulitnya jadi Lara! Dia lagi dalam masa pemulihan harusnya lu jangan menambah beban dia dong," ujar Rajan datar.
Tak ada sahutan apapun dari Giran dan sekilas Rajan melihat Giran seperti memandang Lara dengan tatapan seperti ia merendahkan gadis itu dan tanpa basa-basi Rajan mencengkram kerah kemeja Giran dan menyuruh pemuda itu pergi sambil memperingatkannya untuk jangan pernah hadir di hadapan Lara atau dirinya lagi.
"Jangan berani-berani lu menatap Lara dengan tatapan itu! Dia gak seharusnya lu tatap rendah karena nyatanya lu sendiri jauh lebih rendah di banding Lara tau gak!! Pergi lu dari sini sekarang dan jangan pernah hadir di hadapan Lara atau gue sekalipun! Dia tidak butuh manusia yang merasa paling benar model lu Giran! Pergi sekarang juga?!" ucap Rajan serius.
Giran tersenyum sekilas dan ia berjanji akan mendapatkan Lara atau ia akan membuat tak ada seorangpun yang boleh mendapatkan gadis itu kemudian pintu kamar rawat tertutup dan Lara jatuh ke dalam pelukan Rajan dengan tetesan berwarna merah pekat terus menetes dari hidung Lara membuat Rajan bergegas menekan tombol memanggil perawat.
"Teruslah berbicara omong kosong sesuka hati lu, Rajan! Suatu saat gue berjanji akan berhasil untuk mendapatkan hati Lara kembali atau gue akan membuat gak ada satu orangpun yang boleh berhasil untuk mendapatkan hati Lara?! Jadi lu tunggu aja sampai saat itu tiba gue akan menunjukkan sama lu kalau cuma gue yang bisa bersanding sama Lara!" ujar Giran serius.
"Astagfirullah, Lara! Ra, bangun Lara?! Dokter! Suster! Ya ampun gue harus memindahkan Lara ke kasurnya dan menekan tombol yang di gunakan untuk memanggil perawat nih! Ya ampun mimisannya masih belum juga berhenti? Ra, lu seharusnya gak perlu menahan rasa sakit lu sampai begini!! Siapa saja tolong cepat datang dong!! Tolong sadar, Ra!" gumam Rajan khawatir.
Suara langkah kaki terdengar begitu cepat dan petugas medis langsung memeriksa Lara dan Rajan masih berusaha menahan agar tetesan berwarna merah pekat itu berhenti sebab Rajan khawatir jika Lara semakin berada di kondisi yang buruk dan tak lama dokter memerintahkan perawat untuk membawa Lara ke ruang ICU karena keadaannya semakin serius.
"Kenapa malah jadi begini sih? Tolong sembuhkan Lara dan jangan biarkan keadaanya semakin memburuk ya Allah! Aku tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang aku sayang lagi ya Allah! Tolong bangun dan bilang sama aku kalau kamu akan baik-baik saja, Lara! Jangan pergi terlalu cepat ya," batin Rajan khawatir.
"Keadaan nona Lara semakin memburuk jadi ia harus segera dipindahkan ke ICU! Suster ayok cepat persiapkan ruangan ICU dan panggilkan dokter khusus yang merawat Lara untuk ia lebih memeriksa dan mengawasi keadaan Lara selama di ruang ICU! Ayok cepat bergegas karena keadaan nona Lara semakin tak stabil!" ujar dokter tegas.
Perintah dari dokter membuat pemuda itu terdiam bahkan tubuhnya ambruk dengan air mata yang entah mengapa rasanya ia takut jika Allah mengambil Lara dari sisinya, ia masih belum siap kehilangan seseorang yang ia cintai walaupun Rajan tau gadis itu sudah sangat kesakitan selama ini hanya saja Rajan ingin mengukir kenangan yang baik untuk gadis itu.
"Semua ini hanya mimpi saja iya bukan? Lara tidak mungkin dipindahkan ruangan menyeramkan itu kan ya? Aku tidak tau pasti mengenai rencana Allah hanya saja aku takut jika Lara di ambil dari sisiku seperti orang-orang yang aku sayangi! Aku masih belum siap kehilangan seseorang yang aku cintai! Tolong izinkan aku memiliki memori yang baik bersamanya," lirih Rajan sendu.
Sore itu petugas medis membawa Lara ke ruang ICU dengan cepat meninggalkan Rajan yang tak bisa melangkahkan kakinya untuk menyusul Lara, dulu gadis itu pernah berada di kondisi kritis seperti ini saat Luruh membelanya dari hinaan teman baik Lara yaitu Narunna.
Lalu sekarang Lara kembali ke saat-saat yang di takutkan Rajan, pemuda itu takut Lara tak akan bangun lagi dan dokter membuat pernyataan yang tidak pernah ingin ia dengar selama hidupnya ia benci ruangan ICU yang selalu merenggut orang-orang yang sangat Rajan sayangi selama ini.
"Apakah takdir senang mempermainkan diriku? Dulu mamah dan papah di renggut dari sisiku di ruangan itu lalu sekarang orang yang aku cintai harus masuk ke ruangan ICU lagi? Aku tidak ingin kehilangan dirinya ya Allah! Tolong jangan ambil orang yang aku sayang lagi! Tolong bantu aku untuk selalh membahagiakan dia sampai nanti kami harus terpisah," gumam Rajan sedih.
Samar-samar Rajan teringat jika Lara sangat menyayangi Luruh dan ia menghubungi Luruh untuk memberitahu kondisi Lara walaupun sebenarnya Rajan tak sanggup mengatakannya, tapi pemuda itu mengerti jika saat ini Luruhlah orang yang dibutuhkan oleh Lara.
"Oh iya Luruh juga harus tau keadaan Lara! Saat ini Lara membutuhkan Luruh jadi aku harus memberitahunya! Halo, assalamualaikum Luruh! Ini kak Rajan dek! Ada hal yang mau kakak sampein, Luruh! Lara pingsan dan keadaannya memburuk jadi sekarang dia ada di ruang ICU, Luruh! Kalau kamu mau ke sini hati-hati di jalan ya? Assalamualaikum," ucap Rajan sendu.