Pegang Janjiku

1663 Kata
Setelah panggilan telepon berakhir tak lama Rajan memaksakan langkah kakinya menuju ruang ICU untuk menemani Lara walaupun sejujurnya hati Rajan semakin berdenyut perih saat dirinya harus melihat Lara terpasang banyak alat medis di tubuhnya dan Rajan benci melihat gadis yang ia sayangi tak berdaya seperti ini. "Kenapa kamu harus berakhir di ruangan ini lagi, Lara? Kenapa aku masih tak bisa memegang janjiku untuk selalu melindungnya? Aku hanya ingin melihatnya bahagia dan bisa hidup seperti yang dia inginkan! Bukan malah melihatnya terbaring tak berdaya begini! Kamu boleh menyuruh aku diam, mengomeliku karena memarahi Giran tak masalah! Asal jangan kamu yang menjadi seperti ini Lara! Aku tak sanggup melihatmu menderita begini," lirih Rajan sendu. Telepon di hari yang awalnya terasa begitu menenangkan malah terasa seperti petir di siang hari yang menyambar hati Luruh yang awalnya baik-baik saja, bahkan ketika panggilan telepon berakhir Luruh hanya bisa terdiam dan jatuh ke lantai seolah-olah kekuatannya untuk berdiri saja pergi entah ke mana. "Aku pikir hari libur ini akan berjalan baik-baik saja, nyatanya aku malah mendapat telepon soal keadaan kak Lara! Bagaimana bisa menjadi seperti ini? Kak Lara tidak mungkin masuk ruang ICU lagi bukan? Kenapa keadaan kakak malah semakin memburuk? Bukankah kak Lara berjanji akan cepat pulih padaku! Tidak, ini tidak mungkin kan ya? Kak Lara," gumam Luruh terkejut. Axton yang hendak mengambil air minum malah terkejut melihat Luruh terduduk dengan wajah yang dipenuhi air mata lalu dengan cepat Axton membantu Luruh berdiri dan menanyakan ada hal apa yang membuat Luruh sampai menangis seperti ini, bukannya menjawab pertanyaan dari Axton ia malah memeluk suaminya erat. "Ya Allah, Luruh! Kenapa kamu menangis seperti itu? Ada apa sayang? Apakah ada hal yang terjadi hingga membuatmu sampai jadi menangis begini? Kamu tidak mungkin baik-baik saja bukan? Kalau memang ada masalah sebaiknya bilang padaku sayang! Padahal baru aku tinggal ke kamar sebentar, tapi sepertinya ada yang menganggu dirimu ya? Hm?" tanya Axton khawatir. Dalam diam pemuda itu mengerti jika saat ini Luruh pasti masih terpukul jadi Axton berusaha untuk menenangkan Luruh sampai tak lama gadis itu bercerita jika kakaknya semakin dalam keadaan yang menurun hingga harus dipindahkan ke ruang ICU lalu Axton mengusap-usap punggung Luruh lembut agar menenangkan hati gadis itu. "Ini coba minum dulu segelas air agar perasaanmu menjadi lebih baik, sudah tidak apa-apa jika kamu tidak ingin cerita sekarang gak masalah asalkan kamu menenangkan dirimu dulu ya sayang! Mungkin ada kabar yang membuatmu sampai menangis seperti ini jadi akan lebih baik kalau aku memberikan waktu! Tenang saja aku akan tetap di sisimu sayang," tutur Axton lembut. "Aku hanya masih tak mempercayai kalau kak Lara di pindahkan ke ruang ICU karena keadaan kak Lara katanya semakin menurun, Axton! Kalau kakak ke ruangan menyeramkan itu lagi artinya kakak benar-benar harus melalui masa kritisnya lagi! Aku belum siap kehilangan kakakku secepat ini! Rasanya aku masih ingin bersamanya," ucap Luruh sendu. Tangisan dan pelukan Luruh entah mengapa membuat hati Axton terasa berdenyut perih dan ia berusaha menanyakan apakah Luruh mau menemui Lara yang seperti ini atau ia ingin di rumah saja karena tak sanggup melihat kakaknya menderita di ruangan yang selalu di takuti banyak orang. "Jadi seperti itu, kalau begitu apakah kamu mau menemui Lara yang terbaring tak berdaya di dalam ruangan menyeramkan itu atau mungkin kamu ingin di rumah saja? Kamu berhak untuk memilih apapun dan aku akan selalu mendukungmu jadi silahkan pikirkan dulu dan jangan terlalu memaksakan hatimu ya? Mau pergi tidak? Hm?" tanya Axton lembut. Air mata terus menuruni kedua pipi Vala, tetapi dengan yakin gadis itu menyahuti bahwa dirinya ingin menemani Lara sebab ia tak ingin menyesal jika suatu saat Allah mengambil kakaknya dari sisinya maka ia selalu menemaninya walaupun memang hatinya kesakitan melihat Lara yang selalu menderita ketika melawan rasa sakitnya. "Tentu aku akan tetap pergi menemui kak Lara karena aku akan menemaninya dalam keadaan apapun! Aku gak mau menyesal suatu hari nanti, Axton! Kematian bukanlah hal yang bisa aku tawar dan aku berharap semoga belum dalam waktu dekat ini sebab aku masih ingin melihat kak Lara ya walaupun aku ingin dia tak menderita, tapi aku cuma bisa ini saja!" tutur Vala yakin Axton yang melihat keyakinan sekaligus kesedihan di mata gadis yang ia cintai membuatnya berjanji bahwa ia akan selalu ada di sisi Luruh dan ia masih mencarikan rumah sakit yang lebih baik untuk Lara sebab beberapa rumah sakit masih belum bisa Axton percaya untuk merawat kakak iparnya. "Baiklah jika kamu mau seperti itu maka kita akan berangkat sekarang! Hanya saja kamu harus ingat satu hal bahwa aku akan berjanji padamu untuk selalu ada di sisi kamu, Sayang! Untuk proses pemindahan rumah sakit Lara masih dalam aku proses pencarian karena aku belum bisa percaya pada rumah sakit yang aku temukan jadi tolong bersabar dulu ya," ucap Axton lembut. Tak lama Axton dan Luruh bergegas ke rumah sakit karena Luruh tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ia punya walaupun hatinya masih merasa tak sanggup kehilangan Lara, tetapi Luruh ingin memiliki memori yang banyak bersama kakaknya untuk ia bisa mengenang rasa sayang yang mereka miliki "Entah apa yang terjadi pada kak Lara hanya saja aku masih ingin memiliki memori yang banyak bersamanya! Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang aku punya walaupun hatiku masih tak menginginkan kepergian kak Lara setidaknya aku ingin kak Lara dan diriku bisa mengenang rasa sayang yang kami miliki hingga akhir hayatnya nanti ya Allah," batin Luruh sendu. Perjalanan yang terasa begitu hening membuat Axton semakin mempercepat kendaraannya sebab ia merasa khawatir melihat wajah Luruh yang melamun dengan air mata yang masih tak juga berhenti menetes di kedua pipi indahnya, beruntung jalanan tidak begitu ramai jadi mereka tak memakan banyak waktu di perjalanan. Sesampainya di rumah sakit Luruh berlari ke ruang ICU dan di lorong itu Luruh melihat Rajan yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan seketika langkah kaki gadis itu menjadi pelan dan ia menanyakan bagaimana keadaan Lara saat ini, kenapa Lara bisa sampai masuk ruang ICU seperti ini. "Bukankah aku berjanji untuk membuatnya bahagia dan tidak menderita ya? Terus kenapa Lara malah jadi berakhir begini? Harusnya gue bisa lebih baik lagi menjaga dan melindunginya! Bukan malah seperti ini! Payah banget sih Rajan! Kalau rasa sakitnya bisa di pindahin ke gue ya gak masalah asal jangan dia yang terluka seperti ini bisa tidak sih," batin Rajan sedih. "Kak Rajan! Kenapa kak Lara bisa masuk ruang ICU seperti ini? Awal ceritanya gimana sih kak? Terus sekarang bagaimana keadaan Lara sekarang kak? Aku masih gak paham kenapa bisa jadi begini? Bukankah kemarin masih baik-baik saja ya? Tau begini tadi aku menemani kakak dari pagi supaya kakakku tidak sampai berakhir begini," ucap Luruh sendu. Rajan yang mendengar pertanyaan Luruh membuat pemuda itu meminta maaf karena ia merasa jika semua ini salahnya tak bisa melindungi Lara dengan baik dan ia memohon pada Axton untuk segera memindahkan Lara ke rumah sakit lain sebab ia ingin Lara pulih tanpa gangguan dari Giran lagi. "Jadi tadi tuh Giran datang dan masih aja berbicara omong kosong ke Lara terus sepertinya dari ucapan Giran tadi mungkin hal itu menyakiti diri Lara membuatnya menahan kesal terlebih apa yang di ucapkan pemuda itu tuh keterlaluan menurutku! Axton! Aku mohon padamu untuk segera memindahkan Lara ke rumah sakit lain agar ia tidak di ganggu lagi," tutur Rajan serius. Pemuda itu menenangkan Luruh dan Rajan bahwa ia akan mengabulkan ucapan Rajan ketika Lara sudah dalam kondisi yang membaik sebab saat ini ia membutuhkan perawatan dulu jadi paling tidak Axton akan memindahkan Lara jika ia sudah sadar sementara Luruh mengomel kesal karena Giran selalu membuat kakaknya berakhir di ruang ICU seperti ini. "Anggap saja ini musibah untuk kita jadi kita harus menghadapinya dengan tenang ya? Tentu aku akan mengabulkan permintaanmu ketika Lara sudah dalam kondisi yang membaik sebab untuk saat ini Lara membutuhkan perawatan dulu jadi paling tidak aku akan memindahkan Lara jika ia sudah sadar jadi kalian tenang dulu ya," ucap Axton lembut. "Ya ampun ternyata orang itu yang membuat kakak jadi begini!! Dia tuh punya masalah hidup apa sih?! Gak cukupkah dia membuat kakak masuk rumah sakit lalu sekarang ia masih saja terus mengganggu kak Lara seolah tak memiliki kesalahan begitu!! Apakah akalnya tidak ia pakai dengan baik!! Benar-benar manusia yang memuakkan sekali sih dia!!" omel Luruh kesal. Sebagai suami Axton berusaha menenangkan Luruh sebab ia juga merasakan hal yang sama dengan gadis itu hanya saja saat ini belum tepat untuk dirinya memberi pelajaran pada Giran karena kondisi Lara jauh lebih penting dibandingkan mengurusi Giran yang datang tanpa hal yang jelas seperti ini. "Tak apa jika kamu merasa marah sayang, tetapi aku juga ingat bahwa saat ini keadaan kak Lara yang lebih penting! Giran bisa aku dan Rajan urus nanti setidaknya kamu tetap harus tenang dan menghibur kak Lara dulu! Bagaimanapun juga kak Lara sangat mencintai pemuda itu jadi mau tidak mau kamu harus bersabar dulu demi kak Lara ya," tutur Axton lembut. Rajan setuju dengan ucapan Axton dan ia meminta Luruh untuk menemani Lara sebab pemuda itu berjanji akan membahagiakan Lara dan Luruh selama hidupnya jadi Rajan memohon pada Luruh untuk lebih mementingkan kakaknya sebab urusan Giran itu akan dirinya saja yang urus. "Apa yang dikatakan Axton memang ada benarnya juga! Tolong bantu aku temani Lara ya, Luruh? Di hati Lara hanya kamu satu-satunya orang yang ia butuhkan jadi aku mohon utamakan dia di banding pria tak berguna itu! Biar nanti Giran akan aku yang urus setidaknya aku berusaha untuk memegang janjiku pada Lara, aku bilang akan membahagiakannya dan kamu kebahagiaan Lara, Luruh! Bantu aku ya? Bantu aku memberi cahaya dalam hidupnya," ucap Rajan serius. Luruh terlihat menunduk dan tak lama Axton menenangkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja dan mereka akan melaluinya bersama-sama jadi Axton meminta Luruh untuk tenang dulu dan sebaiknya mereka menemani dan menjaga Lara sampai gadis itu sadar terlebih dulu "Aku mengerti jika kamu merasa kesal dan sedih karena tak bisa membalaskan amarahmu pada Giran ya? Tak apa, semua akan baik-baik saja dan kita akan melalui semua masalah ini bersama-sama jadi kamu tenang dulu dan temani kak Lara saja ya? Aku percaya kamu bisa memberikan kebahagiaan untuk kita semua kok sayang," ujar Axton lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN