Dalam diam Lara tenggelam oleh rasa sedihnya sedangkan Rajan membiarkan Lara menikmati waktunya sendiri, tetapi Rajan masih menemani gadis cantik itu walaupun ia paham keberadaan maupun rasa cintanya tidak dilihat Lara setidaknya apapun keadaan Lara ia akan tetap berada di sisinya dan menemaninya.
"Mungkin untuk saat ia lebih butuh menikmati waktunya sendiri dulu dan apapun yang terjadi aku akan tetap di sini dan selalu mencintainya walaupun dimatanya usahaku masih belum bisa ia lihat dengan baik setidaknya aku akan berusaha yang terbaik untuk dirinya dan tak akan meninggalkan Lara sendirian karena aku tau sendirian itu menyakitkan," batin Rajan tegar.
Sore hari yang terasa begitu menyejukkan membuat Lara meminta Rajan untuk menemaninya berkeliling taman rumah sakit sebentar sebab ia ingin menghirup angin segar di saat hati Lara terasa bercampur aduk oleh perasaan cinta yang masih berada dalam genggaman Giran.
"Ini masih sore kan ya, Rajan? Bagaimana kalau kamu menemani aku berkeliling taman rumah sakit sebentar saja? Soalnya aku ingin menghirup angin segar agar nanti ketika tidur aku bisa tidur dengan nyaman Rajan! Boleh ya? Lagipula aku juga agak sedikit bosan jika terus-terusan di kamar terus tuh Rajan," ujar Lara santai.
Tanpa berlama-lama lagi Rajan bergegas membawa Lara berkeliling menggunakan kursi roda karena ia tak ingin Lara kelelahan, suasana saat itu benar-benar menenangkan hati Rajan dan Lara, tetapi tetap saja Rajan tak bisa membohongi perasaannya jika sekilas ia melihat Lara seperti begitu sedih akan sesuatu hal.
"Tidak biasanya Lara meminta berkeliling dengan alasan seperti ini, mungkin ia berpikir jika aku tak bisa merasakan suasana hatinya? Hanya saja aku paham bahwa hatimu sedang tak baik-baik saja dan aku tak bisa membohongi hatiku bahwa kesedihanmu juga membuatku ikut sedih dan kalau boleh aku ingin sekali melihat dia bahagia bukan sedih begini," batin Rajan sendu.
Namun pemuda itu mengerti satu hal jika Lara tidak ingin ditanya atau membahas kesedihan yang ia rasakan jadi Rajan memilih diam agar gadis cantik itu bisa menikmati waktu tenang seperti ini sebab menurut pemuda itu yang terpenting adalah kebahagiaan Lara di banding rasa cinta yang Rajan miliki untuknya.
"Sayangnya aku mengerti satu hal jika saat ini Lara tidak ingin di tanya atau membahas hal yang membuatnya dirinya sedih jadi aku hanya bisa berdiam untuk memberikan Lara ruang agar ia bisa merasa lebih tenang sebab satu hal yang terpenting adalah kebahagiaan Lara dibanding rasa cinta yang aku miliki untuk Lara! Aku tidak ingin ia bersedih seperti ini," batin Rajan tegar.
Sayangnya Lara yang semakin berdiam seperti ini malah semakin merasa hatinya perih dan rasa serta ingatan yang tidak ingin gadis itu ingat malah hadir membuat air matanya terus menuruni kedua pipi Lara hingga berjatuhan di atas rok yang tidak sengaja mata Rajan melihat bahu Lara bergetar dan rok itu digenangi tetesan air mata Lara.
"Harusnya aku bahagiakan sekarang? Harusnya aku bisa melupakan orang yang menyakitiku hanya saja semakin aku melupakannya, menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja nyatanya hatiku tidak bisa aku bohongi bahwa hati ini masih terasa miliknya dan rasa sakit akan kenyataan bahwa ia memilih selingkuhannya juga masih belum bisa aku lupa," batin Lara sendu.
"Loh kenapa bahumu bergetar? Apakah karena udaranya terlalu dingin atau ada sesuatu Lara? Tunggu sebentar! Kenapa rokmu basah? Jangan bilang kamu menangis ya? Hey, apa yang kamu tangisi, Lara? Apakah ada bagian di tubuhmu yang sakit? Tolong katakan sesuatu padaku jika ada masalah atau sesuatu hal yang mengganggu hatimu, Lara?" ucap Rajan khawatir.
Bukan sahutan yang Rajan dengar melainkan tiba-tiba saja Lara memeluk pemuda itu erat dan suara tangisan Lara semakin membuat hati Rajan merasa pedih dan sekuat mungkin Rajan tak tinggal diam dan ia menenangkan Lara yang entah mengapa tiba-tiba menangis seperti ini.
"Menangislah jika kamu ingin menangis, Lara! Aku mungkin tidak memahami apa yang sedang kamu rasakan, tetapi kamu boleh meluapkan rasa sedihmu padaku! Tidak apa-apa jika kamu ingin mengeluarkan semua rasa sedihmu, aku akan tetap ada di sini untukmu! Aku percaya bahwa kamu gadis yang kuat dan semua rasa sedih ini akan berakhir kok," tutur Rajan lembut.
Lara yang mendengar nada tulus sekaligus sedih dari teman baiknya membuat gadis itu terdiam sejenak lalu ia bergumam-gumam akan kekhawatiran yang ia takutkan juga perasaannya yang masih belum bisa ia hilangkan dari hatinya padahal Lara ingin melupakan perasaannya.
"Mungkin kamu mudah mengatakan hal itu, tetapi aku tetap merasa takut bahwa hidupku akan berakhir dengan semua rasa sakit ini, Rajan! Sebenarnya aku sangat ingin melupakan perasaan ini dan membuka lembaran hidup baru sayangnya entah kenapa hatiku masih belum bisa menghapuskan dirinya dari ingatanku! Aku tidak ingin terus begini Rajan," gumam Lara sendu.
Kalau saja Rajan boleh mengungkapkan rasa sakit yang ia rasakan saat ini mungkin Rajan sudah meneriakinya rasa sakitnya, tetapi saat ini yang terpenting adalah kebahagiaan Lara dan rasa tenang yang harus menenangkan hati dari gadis yang ia cintai dan beruntunglah tak lama hati Lara sedikit membaik dan tangisnya berhenti.
"Tentu tidak akan terus seperti ini Lara! Melupakan perasaan terhadap seseorang memang tak semudah kamu mencintainya, kenangan itu tumbuh dan mengakar begitu kuat membuatmu menjadi dilema dan itu bukan salahmu! Melainkan kamu hanya mencintainya dengan tulus dan jangan khawatir akan perasaanmu yang sedih ini karena aku ada di sini kok," ucap Rajan lembut.
Pelukan erat dari Lara masih belum gadis itu lepas dan Rajan perlahan-lahan melepaskannya sebab ia tidak ingin perasaannya mengambil alih dirinya, terlebih saat ini Lara lebih butuh untuk menstabilkan perasaan dan keadaannya jadi Rajan memilih untuk mendahulukan cintanya di banding dirinya sendiri.
"Sudah merasa baikkan? Jangan sedih lagi ya? Wajar jika kamu masih merasa kesulitan untuk melupakannya setidaknya kamu telah berusaha dan apapun yang terjadi nantinya kamu tidak sendirian karena ada Luruh, keluargamu, aku dan Axton yang selalu mendukungmu kok! Sudah ya tidak perlu menyalahkan dirimu terus ya Lara," tutur Rajan lembut.
Lara yang tanpa sengaja bertatapan dengan mata indah milik Rajan membuat gadis itu tiba-tiba saja bertanya mengenai apa pendapat Rajan mengenai cinta yang katanya tak berbatas lalu mengapa setiap orang yang mencintai harus mencintai orang yang salah dan teruka seperti ini.
"Sedikit membaik, tapi Rajan pernah dengar tidak kalau cinta itu katanya tak berbatas ya? Kalau menurut Rajan apa pendapat kamu mengenai perkataan semacam itu? Hm? Apakah cinta itu memang seperti itu? Atau itu hanya kiasan semata? Kenapa setiap orang yang mencintai malah harus mencintai orang yang salah dan menjadi terluka seperti ini ya, Rajan?" tanya Lara sendu.
Pertanyaan Lara juga selalu menjadi pertanyaan dalam benak Rajan hanya saja sekarang dirinya sudah mengerti bahwa cinta itu tak berbatas sebab Rajan merasakan perasaan itu sendiri dan meskipun hatinya kembali terluka mendengar nada sedih Nara, tetapi sebisa mungkin Rajan menenangkan hati Lara.
"Syukurlah jika kamu merasa sudah membaik, aku juga dulu seringkali bertanya seperti itu dalam benakku, Lara! Hanya saja aku sekarang aku sudah pah bahwa memang cinta itu tak ada batasnya! Apapun yang terjadi, mau seberapa lamapun waktu di lalui jika cinta sudah menetap di hatimu maka perasaan itu tetap ada di sana dan soal orang yang salah itulah proses dari mencari yang terbaik pasti harus terluka dulu seperti belajar harus jatuh dulu," tutur Rajan santai.
Mendengar ucapan Rajan membuat Lara tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti lalu tak lama pemuda itu mengusap-usap kepala Lara lembut kemudian mendorong kursi roda Lara ke kamarnya sebab gadis itu tidak boleh terlalu kelelahan dan harus beristirahat dengan cukup.
Sementara di lain tempat Axton menatap istrinya bingung karena meskipun mereka katanya telah berbaikan, tetapi gadis itu masih saja tak mengajak bicara Axton dan kalaupun pemuda itu bertanya maka Luruh hanya menyahutinya dengan seperlunya seperti saat ini Axton bertanya dan Luruh memilih menjawab tanpa menoleh atau balik bertanya padanya.
"Ya ampun sayang? Kamu kenapa malah sibuk merapihkan piring bekas makan kita? Sini biar aku saja! Kamu nonton acara televisi aja sayang! Loh kenapa wajahmu terlihat muram seperti itu? Hm? Ada masalah apa, Luruh? Seingatku kita sudah berjanji untuk tidak saling diam jika ada hal yang terjadi ya? Kenapa sayang? Ada orang yang mengganggumu ya?" tanya Axton lembut.
"Terus kalau bukan aku yang merapihkan piring-piring ini siapa lagi? Hantu! Kalau memang kamu mau membantuku harusnya tanpa bicara ya kamu langsung lakukan saja! Udahlah gak usah sok baik sama aku! Aku sedang sibuk jadi urus saja urusanmu sendiri, Axton?! Kamu pikir dengan begini aku akan menjadi lebih tenang? Gak! Urus saja kerjaanmu itu," sahut Luruh datar.
Awalnya Axton masih bisa memaklumi karena pemuda itu berpikir kalau wajar Luruh marah, tapi semakin melihat gadis itu seperti membuat dirinya serba salah dan akhirnya ia berusaha untuk bertanya dan memahami apa yang sebenarnya Luruh inginkan dari dirinya sebab Axton tidak ingin kehilangannya.
"Aku paham kamu masih marah dengan salah paham beberapa waktu lalu, cuma kita gak bisa terus-terusan seperti ini! Kalau memang aku salah tolong kasih tau dan beritahu aku apa yang sebenarnya kamu inginkan dari aku? Aku akan memahamimu jika kamu mengatakan ada hal yang mungkin keterlaluan dari aku! Kenapa aku begini itu karena aku tak ingin kehilangan dirimu jadi tolong buat aku mengerti di mana letak kesalahanku?" tanya Axton lembut.
Luruh yang mendengar nada frustasi dan serius dari suaminya membuat gadis itu menolehkan pandangannya dan ia bergumam-gumam jika dirinya kesal karena Axton tidak menceritakan masa lalunya pada Luruh sedangkan Laninna yang hanya teman Axton saja tau soal masa lalu Axton jadi Luruh berpikir rasanya ini tidak adil.
"Bagaimana aku bisa berbicara denganmu jika aku masih teringat ucapan Laninna padaku, rasanya setiap kali melihat kamu aku kesal sekali karena kamu tidak bercerita padaku soal masa lalumu sedangkan Laninna yang hanya temanmu malah tau soal masa lalumu! Gak adil banget tau gak, Axton?! Jangan bilang kamu masih suka orang itu ya!!" gumam Luruh kesal.
Axton mungkin tak melihat ekspresi wajah kesal Luruh yang bergumam sambil menunduk, tapi pemuda itu paham jika istrinya sedang salah paham pada dirinya lalu dengan lembut Axton memeluk Luruh sambil menjelaskan alasan mengapa Axton tak menceritakan masa lalunya pada Luruh dan di mata Axton antara Luruh dan Laninna tidaklah bisa dibandingkan.
"Oh jadi karena itu, ya ampun sayang! Aku tidak menceritakan masa lalu aku padamu karena antara kamu dan Laninna itu tidak bisa di bandingkan! Kamu itu istriku dan sudah tanggung jawabku untuk melindungi hatimu, memang kamu mau jadi kepikiran dan terus-terusan berpikir tak baik padaku? Aku tak menyukai orang di masa laluku karena aku sudah bahagia dengan dirimu sayang," tutur Axton lembut.