Tanpa keraguan sedikitpun Axton memandang daddynya yakin lalu ia menjelaskan bahwa mulai detik ini dia akan memohon abang dan daddnya mengurus masalah Laninna dan selebihnya ia akan membahagiakan Luruh karena dari awal Axton melihat Luruh sampai saat ini ia selalu bahagia dan menyayangi gadis itu.
"Tentu aku sangat bahagia, daddy! Aku berencana mulai detik ini aku mohon sama daddy dan abang untuk mengurus masalah Laninna dan pantau terus apakah ia akan membahayakan Luruh atau bagaimana? Selebihnya aku akan membahagiakan Luruh karena dia satu-satunya kebahagiaanku sejak awal aku melihatnya," tutur Axton serius.
Albern yang melihat keyakinan dan nada serius dari putranya membuat pria paruh baya itu tak lama tersenyum dan mereka larut dalam obrolan hangat sementara Luruh dan Lara saling diam satu sama lain sebab semalam Lara bermimpi melihat Giran padahal pemuda itu adalah hal yang ingin Lara lupakan dari hidupnya.
"Setelah hari-hari tenangku selama ini, entah kenapa tadi malam aku malah bermimpi melihat Giran padahal dia adalah hal yang ingin aku lupakan dari hidupku! Sepertinya aku masih belum bisa mengikhlaskan dan melupakannya! Sementara dia datang hanya untuk melukaiku? Aku ini benar-benar orang yang menyedihkan sekali ya? Pantas Giran menolakku," gumam Lara sendu.
Luruh yang melihat kakaknya melamun dengan tatapan sedih membuat Luruh mengusap-usap punggung lembut sambil menanyakan apakah ada bagian yang mungkin sakit dari badan Lara karena dokter meminta Luruh lebih memperhatikan kakaknya jadi Luruh berpikir mungkin dia sedang kesakitan sekarang.
"Loh kakak? Kenapa keliatan sedih begitu kak? Ada masalah apa? Hm? Apakah ada bagian yang sakit di badan kakak? Tolong katakan sesuatu, kak Lara! Mau aku panggilkan dokter gak kak? Ya ampun wajah kakak kenapa terlihat pucat begitu kak? Ayok bilang sesuatu ke aku kalau memang ada yang sakit kak! Kak Lara, kakak dengar aku gak kak?" tanya Luruh panik.
Sayangnya Lara tidak menyahuti pertanyaan adiknya seolah-olah kakaknya sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri dan dengan lembut Luruh mengusap-usap wajah Lara lembut sambil gadis itu berada tepat di hadapan Lara dan berhasil Lara seperti tersadar dari lamunannya dan menanyakan apa yang terjadi sampai Luruh menatapnya seperti ini.
"Tumben sekali kak Lara gak menyahuti ucapanku ya? Apakah suaraku kurang di dengar sama kakak mungkin ya? Oh iya aku coba sekali lagi! Kak! Kak Lara? Bilang sama aku sekarang ada hal apa sampai kakak terlihat melamun begini, kak? Apapun yang sedang kakak pikirkan jangan kakak pendam sendiri ya? Aku ada di sini untuk kakak loh kak," tanya Luruh lembut.
"Hah? Apa? Ya ampun, dek! Kenapa kamu melihat kakak seperti ini? Ada apa? Apakah tadi kamu mengatakan sesuatu? Tunggu sebentar, apa yang terjadi sampai kamu berada di depan kakak dek? Jangan bilang ada hal yang terjadi terus kakak gak tau ya? Ih tadi aku kenapa ya? Masa aku tiba-tiba seperti hilang fokus dan tak sadar dengan lingkunganku?" tanya Lara bingung.
Dalam diam Luruh mengerutkan keningnya bingung, tidak biasanya Lara sampai seperti ini dan seketika hati gadis itu merasa khawatir jika keadaan kakaknya semakin parah lalu dengan lembut Luruh berusaha menjelaskan bahwa kakaknya tak menyahuti ucapan Luruh padahal ia bertanya dua kali pada Lara dan Luruh merasa ini kali pertamanya Lara seolah kehilangan fokus dan kesadaran akan lingkungan sekitarnya.
"Gak biasanya kak Lara jadi begini ya?! Apakah sekarang keadaan kakak yang sekarang malah menjadi semakin mengkhawatirkan? Jangan bilang keadaan kakak semakin serius? Biasanya dia gak sampai linglung loh! Melihatnya kakak jadi begini aku jadi khawatir dengan keadaannya? Sepertinya aku perlu memindahkan kak Lara ke rumah sakit lain deh ya," batin Luruh khawatir.
"Dek! Tadi kamu bilang apa sama kakak? Kok kakak tanya kamu malah diam saja? Coba tolong kamu jelaskan sama kakak apa yang terjadi? Kenapa kamu tadi sampai terlihat begitu serius saat berbicara tadi? Hm? Memang sudah berapa lama tadi kakak diam begitu? Rasanya sejak tadi tidak ada suara apapun? Eh, ada apa ya?" ucap Lara penasaran.
"Itu loh kak, aku tadi menanyakan kenapa kakak melamun? Awalnya aku pikir mungkin suaraku kurang di dengar kakak makanya aku nanya lagi terus pas aku tanya kakak eh ekspresi kakak malah bingung kayak orang yang linglung begini? Jujur baru pertama kali aku melihat kak Lara hilang fokus sampai seperti ini? Dulu kakak gak sampai gak sadar sama keadaan sekeliling kakak loh kak, kakak yakin baik-baik saja? Hm?" tutur Luruh lembut.
Mendengar ucapan adiknya membuat Lara terdiam sejenak kemudian tak lama ia tersenyum dan berusaha menenangkan Luruh sebab ia tidak ingin adiknya hidup dalam penyesalan dan rasa khawatir seperti ini sementara Luruh yang melihat kakaknya berusaha kuat di hadapannya membuat air matanya tak kuasa menuruni kedua pipi Luruh.
"Tentu aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir begini kok! Mungkin tadi aku sedang sibuk dengan duniaku makanya sampai linglung dan gak begitu dengar apa yang kamu bilang tadi! Oh iya kamu gak usah berpikir terlalu banyak toh mungkin kakak hanya kelelahan atau namanya juga usia kakak tak lagi muda bukan? Untuk itu kamu tenang saja ya dek," ucap Lara lembut.
"Kakak ini bicara apaan sih, kak? Kenapa kakak bilang soal umur? Jangan buat aku semakin takut seakan-akan kakak seperti mau pergi jauh dariku saja! Aku tidak bisa tenang saat melihat kakak seperti ini kak! Lain kali kakak tidak perlu berpura-pura tegar di hadapanku kak! Kalau ada hal yang membuat kakak sedih atau takut bilang ya biar kita melaluinya bersama-sama kak! Aku tak ingin kakak terlihat kuat sementara hati kakak sedih di dalam sana," gumam Luruh sendu.
"Bukan aku tak ingin melaluinya bersama-sama dek! Aku hanya tak ingin kamu hidup dalam rasa menyesal jika aku harus tiada suatu saat nanti, aku berharap kamu hidup dengan bahagia dan melupakan aku yang sudah semakin dekat menuju ajalku! Aku tidak apa-apa jika harus bertahan dalam rasa sakit ini setidaknya kamu harus selalu bahagia Luruh," batin Lara tegar.
Melihat adiknya sampai menangis seperti ini membuat Lara merasa tak tega dan menenangkan Luruh karena Lara memahami jika dirinya pada suatu saat nanti akan kalah dengan penyakitnya jadi Lara tidak ingin membuat adiknya bersedih dan berusaha memenuhi tugasnya sebagai kakak sebelum nantinya Lara akan pulang dengan tenang.
"Kakak jangan memasang wajah ekspresi seperti itu! Kalau kakak terus menahan semuanya aku merasa menjadi adik paling gak baik di dunia ini loh kak! Aku tau jika aku tak paham bagaimana rasa sakit yang kakak rasakan selama ini setidaknya aku ingin ada buat kakak! Tolong izinkan aku memikul rasa sakit yang kakak pendam selama ini ya kak," ujar Luruh sedih.
"Maaf jika ekspresi kakak mungkin membuat kamu merasa sedih begini dek, jangan nangis dong! Bukan kakak tidak mau kamu memikul rasa sakit kakak hanya saja ini adalah proses kakak jadi kamu tak perlu khawatir dengan kakak ya? Lagipula sebagai kakak sudah tugas aku untuk membahagiakanmu jadi jangan sedih-sedih begini dong! Senyum ya," tutur Lara lembut.
Luruh paham jika harusnya ia tak selemah ini di hadapan kakaknya terlebih jika ia menangis pasti hati kakaknya juga sedih dan keadaan Lara tidak seharusnya dibuat sedih karena Lara sedang dalam masa pemulihan kemudian Rajan datang sambil membawakan beberapa camilan kesukaan Luruh dan Lara.
"Benar juga, aku harus bahagia demi kakak kan ya? Kalau begitu mulai sekarang aku akan tetap tersenyum dan apapun yang terjadi kita harus saling bahagia ya! Tidak hanya aku yang bahagia, tapi kakak juga harus bahagia demi aku! Mungkin nasib kita tak seberuntung orang lain hanya saja aku yakin kita juga akan bisa bahagia seperti yang lain loh kak," ucap Luruh sendu.
"Assalamualaikum! Hai nona-nona! Aku datang bersama camilan kesukaan kalian nih! Ada berbagai coklat, wafer, kue dan keripik loh! Maaf kalau aku datangnya agak terlambat ya, Lara! Luruh! Pasti kalian rindu sekali sama aku ya kan? Loh ini ada apa? Kenapa kalian berdua malah saling diam seperti ini? Ada masalah ya?" ujar Rajan santai.
Sayangnya Luruh dan Lara tidak menyahuti ucapan Rajan karena entah mengapa rasanya ada hal yang terasa mengusik hati mereka dan tiba-tiba saja pemuda itu menanyakan apa yang dua gadis itu pikirkan sampai terlihat dua gadis itu sangat sedih dan hanya Lara yang menyahuti ucapan Rajan dengan lembut.
"Ini beneran kalian lagi ada masalah? Atau mogok ngomong sama gue? Ra, lu apain Luruh sampe yang biasanya bawel jadi kayak ayam kena virus aja? Ini kalian lagi mendiamkan satu sama lain atau gimana sih? Sebenarnya apa yang kalian pikirkan? Hm? Gak biasanya kalian kelihatan sedih begini? Lu ada masalah lagi sama Axton, Luruh? Ada apa?" tanya Rajan bingung.
"Gak ada masalah apa-apa kok, ya Allah! Daritadi tuh kita ngobrol aja woy! Kagak gue apa-apain! Sok tau deh lu! Dia bukan ada masalah sama Axton, dia cuma mau jadi lebih tenang aja mungkin lu mah suudzon aja! Oh iya terima kasih banyak untuk camilannya! Tau aja kalau kita suka banget jajan-jajan begini Rajan," sahut Lara lembut.
Dalam diam pemuda itu mengerti jika sepertinya saat ini baik Luruh maupun Lara sedang tidak ingin membahas pertanyaan Rajan kemudian pemuda itu lebih memilih untuk mengobrol santai seolah-olah mengikuti keinginan Luruh dan Lara hingga tanpa terasa waktu bergerak membuat Luruh harus kembali pulang padahal ada hal yang ingin gadis itu lupakan, tapi mungkin saat ini bukan waktu yang tepat.
"Kalau menghabiskan waktu sama kakak tuh rasanya waktu bergerak dengan cepat ya? Sampe gak kerasa aja udah waktunya pulang dan ketemu manusia menyebalkan itu! Padahal ada hal yang mau aku lupakan soal ucapan Laninna! Ih sampai sekarang masih kesal aja kalau ingat ucapan Laninna cuma yaudahlah aku harus tenang kan ya," batin Luruh kesal.
Sementara Lara masih memandang taman rumah sakit dengan tatapan sendu karena jika boleh jujur ia mulai lelah dengan semua perawatan ini, di tambah lagi ia tidak mungkin tinggal dengan Luruh sebab ia khawatir suatu saat Lara tau ia harus meninggalkan semua hal yang tidak ingin ia lupakan.
"Hidup itu apa ya? Lama-kelamaan rasanya aku mulai lelah dengan semua perawatan ini apalagi aku masih belum pulih seperti ucapan mereka! Kalau saja ada kesempatan untuk diriku bilang hal apa yang ingin aku lupakan adalah Giran dan penyakitku! Aku ingin hidup dengan bahagia walaupun aku tau bahwa pada akhirnya kata sembuh tak akan pernah datang untukku," batin Lara sendu.