Seketika Rajan mengambil tisu dan berusaha menahan agar mimisan Lara tidak lagi parah sampai seperti ini dan tidak lama Luruh juga ikut membantu Rajan sementara Axton memanggil dokter dan perawat untuk memeriksa keadaan Lara dan tidak lama Lara mendapat perawatan yang serius dan dokter semakin meminta Luruh untuk menjaga saudaranya dengan baik.
"Apakah Lara sudah meminum obatnya? Keadaan Lara harus di perhatikan baik-baik jadi tolong keluarganya menjaga nona Lara dengan lebih baik lagi ya! Saat ini keadaan Lara harus dalam pemeriksaan lebih lanjut jadi tolong nona Luruh laporkan selalu keadaan Lara ya! Kamu akan menangani perkembangan penyakit nona Lara," ucap dokter itu serius.
Luruh mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti lalu tak lama dokter dan perawat berjalan keluar dari kamar rawat Lara sedangkan gadis yang wajahnya masih pucat pasi hanya bisa mengulas senyumannya dan tak lama Luruh menenangkan kakaknya.
"Mungkin kakak hanya kelelahan saja kak jadi kakak tenang saja ya! Lagipula ya namanya hidup pasti ada sakit, ada sehatnya jadi jangan terlalu di pikirkan dan percayalah pada Allah bahwa kakak pasti akan pulih kok kak! Ini hanya masalah waktu dan Allah tak akan membiarkan kakak sedih terus kak! Semangat ya kak Lara," tutur Luruh lembut.
Dalam diam Rajan yang melihat ekspresi wajah Lara begitu muram membuat pemuda itu tiba-tiba mengusulkan bagaimana jika Luruh menemani Lara berjemur sambil berkeliling taman rumah sakit agar perasaan gadis yang Rajan cinta bisa sedikit membaik saat mencari angin segar yang mungkin menenangkannya.
"Bagaimana jika Luruh pergi menemani Lara berjalan-jalan? Sepertinya angin dan sinar matahari pagi bisa membantunya untuk berjemur dan gak ada salahnya juga kalau kalian berjalan-jalan di taman rumah sakit ini! Kamu pasti bosan jika di kamar terus kan, Lara? Cobalah cari udara segar agar perasaanmu lebih baik ya," ujar Rajan lembut.
Sebenarnya Luruh memang ingin mengajak kakaknya mencari udara segar karena tadi sekilas ia melihat Lara seperti tersedih, tapi tak lama Lara tersenyum dan dengan santainya ia menyetujui saran Rajan seolah-olah hatinya baik-baik saja padahal mereka bertiga paham Lara lebih dari sekedar hancur dan ia tak ingin menunjukkan pada siapapun.
"Ide kak Rajan sih ada benarnya juga, hanya saja aku khawatit jika kak Lara mungkin sedang ingin sendiri terlebih tadi sekilas aku melihat wajah kakakku seperti sedih lalu ia menutupi kesedihannya dengan tersenyum dan semakin dia bertahan seperti ini rasanya hatiku menjadi tidak tenang kak! Apakah dia akan baik-baik saja bila terus begini ya? " batin Luruh khawatir.
"Sepertinya ide dari Rajan bukanlah hal yang buruk dek! Ayok, Luruh! Lagipula aku mulai bosan terus-terusan di kamar rawat! Oh iya Rajan sama Axton tolong tunggu di ruangan ini sebentar ya! Aku dan Luruh akan segera kembali kok! Mungkin saat ini aku memang butuh angin segar agar pikiranku bisa menjadi lebih tenang sedikit ya," sahut Lara santai.
Rajan yang mendengar jika Lara setuju dengan sarannya membuat pemuda itu bergegas ke sudut ruangan mengambil kursi roda dan selimut hangat untuk Lara lalu perlahan-lahan Luruh dan Lara meninggalkan ruang perawatan dengan perasaan dan pikiran yang bercampur aduk.
Angin yang bertiup dengan begitu lembut tanpa sadar membuat Lara tersenyum bahagia sebab di balik kesedihan yang harus ia pendam di lain sisi masih ada banyak hal yang ia syukuri lalu tak lama Luruh berusaha menanyakan bagaimana perasaan kakaknya pergi berjalan-jalan di taman rumah sakit.
"Mungkin semesta ingin menguji diriku menjadi lebih kuat, tapi meskipun begitu aku merasa bahagia atas kebahagiaan kecil yang bisa aku miliki! Padahal aku hanya merasakan angin segar untuk menjernihkan pikiranku! Syukurlah aku masih punya waktu bersama Lara setidaknya ada hal yang bisa membuatku bahagia," batin Lara bahagia.
"Wah kakak sepertinya sedang bahagia ya? Eh kak! Bagaimana perasaan kakak sekarang, kak? Apakah sudah merasa lebih baik? Mau beristirahat ke bawah pohon gak? Kalau kakak butuh sesuatu atau ada yang ingin kakak katakan tolong bilang saja padaku kak," tanya Luruh lembut.
Lara hanya mendongakkan kepalanya ke atas sambil ia mengulas senyumannya lalu ketika tak lama mereka sampai di sebuah bawah pohon tak lama Luruh menceritakan kegelisahannya dan sebagai kakak Lara berusaha menasehati sambil menenangkan adiknya sebab dulu Lara juga merasakan perasaan tersebut.
"Kita istirahat sebentar ya kak, oh iya kak aku mau cerita sebentar nih! Sebenarnya cinta itu murni atau tidak? Apa sih definisi cinta itu sebenarnya? Kenapa aku seperti merasa di buat bingung, tapi juga di buat nyaman kak? Aku belum pernah merasakan hal yang tidak jelas begini kak! Sepertinya aku terlalu naif ya," gumam Luruh sedih.
"Bukan, kamu bukan naif melainkan kamu sedang berusaha memahami perasaan yang baru kali ini bisa kamu rasakan dek! Definisi cinta itu terlalu luas dan tergantung bagaimana diri kamu memandang cinta itu sendiri, Luruh! Jangan khawatir atas hal yang perlahan-lahan akan bisa kamu mengerti! Tetaplah yakin pada hati dan perasaanmu ya dek," tutur Lara lembut.
Entah mengapa rasanya ucapan Lara memang terdengar masuk akal menurut Luruh, tetapi ada hal yang masih ingin Luruh dengan penilaian kakaknya mengenai cinta Rajan untuk Lara dan dengan lembut Lara menjelaskan jika cinta itu murni dan Lara tak ingin meninggalkan kesedihan dan perasaan di tinggalkan untuk Rajan untuk itu ia memilih diam.
"Jadi begitu ya? Kalau dari pendapatku sepertinya kak Rajan punya perasaan pada kakak! Apa kakak tidak sadar ini? Bagaimana penilaian kakak mengenai rasa cinta Rajan kak? Tidakkah kak Lara mau memberi kesempatan kak Rajan untuk mencintai kakak sekuat hatinya? Jangan bilang kakak tidak percaya padanya ya? Ada apa sebenarnya di sini kak?" tanya Luruh bingung.
"Kakak tau kok, Luruh! Menurut kakak cinta itu murni jadi kakak tidak ingin meninggalkan rasa sedih dan perasaan yang di tinggalkan pada Rajan dek! Kakak ingin dia bahagia dan jangan ada kesedihan yang membuatnya menyesali hari-harinya! Jadi akan lebih baik kakak berdiam hanya untuk menjaga hatinya agar tidak kecewa Luruh," ucap Lara lembut.
Air mata perlahan-lahan menuruni pipi Luruh saat mendengar niat baik kakaknya yang sempat-sempatnya ia mengkhawatirkan orang lain padahal kakaknya berhak memikirkan dirinya juga lalu Luruh meminta Lara untuk membahagiakan dirinya sebab Luruh ingin sekali melihat Lara bahagia tanpa harus berpura-pura menahan rasa sakitnya seperti ini.
"Kakak ini kenapa harus memikirkan orang lain? Jadilah orang yang egois dan pikirkanlah dirimu sendiri kak! Sesulit apapun ke depannya setidaknya kakak sudah berusaha sebaik mungkin kak! Jangan terus-terusan berpura-pura menahan rasa sakit begini kak Lara! Sekali saja pikirkan diri kakak di bandingkan orang lain kak! Jangan begini terus kak," gumam Luruh sendu.
Lara juga tak bisa menahan air matanya saat ia harus melihat Luruh menangis sambil berlutut di dekat dirinya lalu dengan lembut Lara menghapus air matanya adiknya sambil memohon pada Luruh untuk hidup bahagia meskipun suatu saat nanti ia akan pergi setidaknya Lara ingin pergi dengan hati yang tenang.
"Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah membahagiakan dirimu, Luruh! Aku tidak apa-apa jika harus memendam perasaanku ini setidaknya kakak mohon padamu agar kamu harus tetap hidup dengan bahagia ya! Keadaan kakak seperti ini dan suatu saat kakak akan pergi jadi kakak ingin kepergian kakak harus dengan hati yang tenang Luruh," ucap Lara sedih.
Dalam diam bukan suasana seperti ini yang ingin Luruh berikan pada kakaknya lalu dengan cepat Luruh berusaha membahas jika Rajan mungkin tidak akan sedih karena pernah memiliki kenangan dengan Lara setidaknya ia memiliki alasan untuk tetap kuat meskipun suatu saat cintanya harus pergi dari hidupnya.
"Kebahagiaan itu diciptakan oleh diri kita sendiri kak jadi jangan mengorbankan diri kakak hanya karena aku! Mungkin saja kak Rajan tidak seperti yang di pikirkan kakak, lagipula perasaan sedih itu wajar karena manusia memang tidak bisa mengendalikan perasaan semacam itu! Jadi cobalah kakak kasih kesempatan untuk Rajan mencintai kakak semampunya," ujar Luruh serius.
Sejenak Lara termenung saat mendengar ucapan adiknya yang ada benarnya dan tidak lama ia tersenyum untuk menyahuti nasihat dari Luruh yang sedikit memberi pencerahan pada pikiran Lara yang sempat kalut, kemudian Luruh dan Lara kembali berkeliling taman rumah sakit hanya untuk membiarkan Lara mendapatkan ketenangan yang ia inginkan.
Setelah berjalan-jalan sebentar bersama Luruh membuat Lara merasa cukup terhibur dengan hembusan angin seperti ini dan tentu saja Lara merasa bahagia saat melihat adiknya yang tak pernah berubah meskipun ia sudah menikah lalu tak lama Luruh mengingatkan Lara untuk kembali ke kamarnya karena matahari mulai semakin tinggi dan menyilaukan.
"Wah matahari sudah mulai tinggi nih kak! Bagaimana jalan-jalan hari ini? Perasaan kakak sudah membaik belum, kak? Kalau sekiranya di sini udah mulai terasa agak panas ya sebaiknya kita balik ke kamar kak Lara saja? Kakak gak boleh kelelahan jadi sebaiknya kita kembali ke ruang rawat kakak aja ya," ucap Luruh lembut.
"Baiklah, saranmu boleh juga! Oh iya terima kasih karena Luruh masih tetap memperhatikan kakak ya dek! Mungkin kita sudah terpisahkan oleh jarak dan kita jarang bertemu, tapi kakak senang karena kamu tidak berubah walaupun sudah menikah! Tetaplah menjadi Luruh yang seperti ini ya Luruh," sahut Lara senang.
"Tentu saja aku tak akan melupakan kakak dong! Mau seberapa jauhnya jarak kita, aku akan tetap ada untuk kakak karena cinta dari kak Lara cukup besar artinya dalam hidupku loh! Kalau begitu sekarang ayok kita kembali ke kamar rawat agar kakak bisa beristirahat dengan nyaman ya kak Lara," tutur Luruh lembut.
Sebenarnya Lara masih ingin berlama-lama bersama Luruh, tetapi Lara juga menyadari jika saat ini keadaan tubuhnya semakin memburuk jadi hal yang bisa Lara lakukan hanyalah mengulas senyumannya dan Luruh yang melihat senyuman
kakaknya membuat Luruh ikut tersenyum lalu langkah mereka kembali ke kamar rawat dengan hati yang ringan.
Tidak hanya Luruh dan Lara saja yang saling mencurahkan perasaan mereka, di lain sisi Rajan dan Axton sebenarnya ingin memulai percakapan untuk mengakrabkan diri dan sayangnya dua pemuda itu tak berani mengatakan sepatah kata
apapun dan memilih menyibukkan diri dengan aktifitas mereka masing-masing.
"Biasanya gue santai aja kalau harus bergaul sama orang lain cuma entah kenapa sama Rajan kok kayak aneh begini ya? Canggung banget rasanya! Padahal gue gak ada masalah apapun sama dia? Mana ekspresi dia kayak sedih kan gue jadi bingung harus mulai darimana supaya mencairkan suasana ini ya? Agak bingung dan gak seru juga kalo gini dah," batin Axton bingung.