Tidak lama Axton memindahkan Luruh ke kamar mereka agar istrinya bisa tidur dengan lebih nyaman dibanding di sofa seperti ini lalu setelah memindahkan Luruh tak lama ponsel Axton berdering membuat Axton menyahutinya dengan santai karena ternyata yang menelponnya adalah Laninna Veenintya Ayu yang ia anggap sebagai temannya.
"Halo? Ada apa Laninna? Tidak biasanya lu nelpon gue di jam segini? Jangan bilang ada hal serius yang terjadi? Kalau memang sekiranya ada hal yang mau di omongin mending langsung bilang aja intinya soalnya gue juga lagi lumayan sibuk ini gak bisa mengurusi obrolan lu terlalu lama Laninna," ujar Axton santai.
Nada dan ucapan santai dari Axton selalu berhasil menenangkan hati Laninna dan tanpa sadar gadis itu tersenyum sambil ia berusaha mengobrol santai dengan mantan kekasih yang kini menjadi teman baiknya itu sementara Axton sendiri enggan berbasi-basi dengan Laninna jadi ia meminta temannya untuk langsung berbicara mengenai alasannya menelpon.
"Ya emang lu doang yang berhasil menenangkan hati gue, Axton! Keren ya lu bisa tau hal yang mau gue omongin! Iya nih ada masalah soal yang gue ceritain kemarin eh iya lu sibuk ngapain emang? Masih di cafe apa di kantor lu? Mau gue beliin makanan gak? Atau gue cerita secara langsung aja kali ya? Bosen aja cuma bisa nelpon doang," sahut Laninna manja.
"Biasa aja kok! Masalah apalagi? Gimana kalau lu langsung bicara intinya saja gak usah banyak basa-basi begini!! Gue sibuk nemenin Luruh, dia lagi sedih jadi gue perlu bahagiain istri guelah! Sekiranya gak ada hal yang penting lu gak perlu nemuin gue kok! Gue beristri jadi gue harus tau batasan kalau harusnya gue menjaga hati orang yang penting di hidup gue," ucap Axton serius.
Sejenak pemuda itu bisa mendengar nada kesal dari Laninna, tetapi ia tidak perduli dengan hal yang membuat gadis itu kesal toh mereka hanya teman lalu ketika Axton mendengarkan keluhan Laninna samar-samar Luruh bergumam-gumam memanggil nama suaminya bahkan air mata Luruh mengalir dalam tidurnya.
"Sejak kapan buaya model lu jadi bertingkah setia begini dah, Axton?! Kenapa pertanyaan lu soal masalah gue terkesan lu gak suka gue telpon hah!! Axton yang gue kenal itu gak pernah perduli dengan perasaan orang lain terus kenapa sekarang lu malah sok-sok an menjaga batasan dari gue padahal sebelum-sebelumnya lu gak pernah begini dah!!" omel Laninna kesal.
"Jangan pergi, Axton! Kamu mau pergi kemana? Di sini gelap dan kak Lara entah pergi ke mana, Axton!! Tolong jangan tinggalkan aku sendirian! Rasanya ini bukan tempat yang aku kenal dan aku takut sekali di sini, Axton! Aku mohon selamatkan aku! Bawa aku pergi dari sini karena di sini benar-benar mengerikan jadi tolong aku Axton," gumam Luruh sedih.
Axton yang melihat istri tersayangnya sedang sedih membuat pemuda itu menutup panggilan telepon dari Laninna secara sepihak karena di pikiran Axton saat ini Luruh lebih membutuhkan dirinya di banding temannya yang selalu di keliling orang-orang yang ia inginkan lalu tidak lama Luruh kembali terlelap dalam pelukan suaminya.
"Kalau tidak ada yang ingin lu omongin, mending bahasnya nanti aja, Laninna! Tenanglah aku di sini, sayangkuh Luruh! Aku tidak akan meninggalkan dirimu jadi kamu tidak perlu takut karena aku akan selalu tetap di sampingmu, Luruh!
Percayakan semuanya padaku nanti kita akan melalui semuanya bersama-sama sayang," ucap Axton lembut.
Mungkin dahulu ia sadar dirinya adalah pemuda patah hati yang bisa mendapatkan banyak gadis sesukanya, tetapi sekarang satu-satunya hal yang ingin Axton wujudkan adalah bahagia untuk Luruh karena ia sudah berjanji pada gadis itu bahkan hatinya selalu berdebar di dekat istri yang kini merubah dirinya menjadi lebih baik.
"Kesalahanku dimasa lalu membuatku mengerti jika hidupku bukan lagi hanya soal kebahagiaan untuk diri sendiri saja melainkan sekarang aku perlu memikirkan cara agar membahagiakan Luruh! Bahagiamu akan selalu aku prioritaskan sebab berkat karena hadirmu aku bisa kembali merasakan cinta dan berubah menjadi lebih baik lagi sayang," gumam Axton serius.
Bulan yang malam itu menemani Axton dan Luruh dalam kebahagiaan di lain tempat Rajan merasa khawatir karena pekerjaannya ada masalah jadi Lara hanya ditemani orang tuanya padahal Rajan ingin menemani gadis itu hingga keluar rumah sakit, sayangnya fokusnya kini harus terbagi membuat hatinya menjadi gelisah.
"Bisa-bisa di saat penting begini gue malah harus mengurusi pekerjaan dan meninggalkan Lara di rumah sakit! Gara-gara masalah yang terjadi di kerjaan gue malah membuat perasaan gue jadi gelisah dan fokus gue terbagi begini padahal Lara harusnya gue temenin ya! Astagfirullah gue jadi gak tenang begini," ujar Rajan gelisah.
Tak hanya Rajan saja yang gelisah, tetapi Lara yang tertidur juga bergumam-gumam membuat mommynya khawatir dan menenangkan putri kesayangannya yang terlihat menangis dalam tidurnya padahal mata gadis itu tertutup rapat sayangnya mulutnya terus bergumam-gumam membuat hati Barbara dan Daizen khawatir.
"Aku tidak suka bau rumah sakit ini, mom! Dad! Aku mau pulang saja dari sini, Rajan tolong bilang pada orang tuaku bahwa aku tidak mau di sini! Semua rasa sakitku tak pernah hilang selama di sini! Aku ingin pulang bersama Luruh! Tubuhku rasanya sakit sekali, mom! Dad! Kenapa aku harus di sini sebenarnya sih? Sakit sekali," gumam Lara gelisah.
"Sayang, tenanglah! Maafkan kami yang membuatmu harus bertahan di rumah sakit karena kami hanya ingin kamu sembuh Lara! Andai kami bisa membawamu pergi dari sini sudah pasti mommy akan melakukannya nak! Kami pikir dengan di sini kamu akan bahagia ternyata kamu tidak nyaman ya sayang? Ya ampun Daizen bagaimana ini? Kasihan Lara," tutur Barbara lembut.
"Tentu saja kasihan sayang, masalahnya jika memaksakan Lara menjalani perawatan di rumah gadis itu akan seperti waktu ia kecil? Keadaannya memburuk dan harus mendapat perawatan yang cukup lama di sini? Jujur bukan hanya kamu yang khawatir dan sedih saja sayang! Aku juga ingin anak-anak kita bisa lebih bahagia dan sehat selalu Barbara," sahut Daizen sedih.
Rasanya malam ini terasa begitu panjang untuk di lalui hingga perlahan-lahan matahari mulai menunjukkan sinarnya membuat setiap manusia beranjak dari tidurnya dan beraktivitas begitu juga Axton dan Luruh yang bersiap-siap ke rumah sakit, bahkan Rajan juga sudah di perjalanan untuk melihat seseorang yang ia cintai.
Beruntungnya jalanan pagi ini tidak begitu ramai jadi Rajan bisa cepat sampai di rumah sakit lalu tak lama mommy dan daddy Lara menyapa pemuda yang terlihat kelelahan, tetapi masih saja ia memikirkan Lara padahal seharusnya Rajan pergi istirahat saja di bandingkan harus ke rumah sakit.
"Wah, nak Rajan! Pagi-pagi sekali kamu ke sini? Apakah urusan pekerjaanmu sudah selesai? Harusnya setelah selesai kamu istirahat di rumah saja di banding ke rumah sakit loh nak! Tuh lihat wajahmu sudah terlihat kelelahan Rajan! Lagipula Luruh akan ditemani Lara jadi kami bisa pulang dan kamu bisa mengistirahatkan tubuhmu nak," ucap Barbara lembut.
"Benar nak! Kamu tidak perlu repot-repot ke sini di saat pekerjaanmu sedang ada masalah, Lara juga mengerti kenapa kamu belum bisa menemaninya dan selama kami tidak sibuk pasti kami akan menemani Lara! Kami hanya minta kamu menjaga kesehatanmu di banding kamu sibuk ke sana-sini dan kelelahan begini! Apakah kamu baik-baik saja, Rajan?" ujar Daizen khawatir.
Kekhawatiran yang ditunjukkan Barbara dan Daizen tentu dirasakan oleh Rajan, tetapi pemuda itu lebih ingin memprioritaskan Lara dibanding dirinya lalu tanpa berlama-lama lagi di lorong ini Rajan langsung pamit untuk menemani Lara yang mungkin sendirian di ruangan perawatannya.
"Bukan apa-apa kok tante, om! Aku hanya ingin melihat Lara karena selama aku sibuk dengan pekerjaanku rasanya tidak tenang saja! Terima kasih untuk kebaikan kalian, tapi namanya hidup wajar jika kelelahan setidaknya Lara bahagia dibandingkan rasa lelahku yang bisa hilang nantinya om, tante! Kalau begitu aku pamit untuk menemani Lara dulu ya," tutur Rajan sopan.
Langkah pemuda itu terlihat gagah dan cepat lalu sesampainya Rajan di kamar rawat Lara tidak lama Rajan lansung di sambut oleh senyuman manis dari Lara selalu tersenyum seperti ini bahkan ketika wajahnya memucat pasi sekalipun senyuman itu tidak pernah pergi dari dirinya sedikitpun.
"Selamat pagi, bestie! Bagaimana tidurmu semalam Lara? Apakah kamu baik-baik saja tanpa ada aku hahaha! Oh iya maaf aku meninggalkanmu dan terpaksa menelpon orang tuamu yang menemani kamu dulu soalnya ada masalah dan maaf juga aku langsung pergi begitu saja ketika kamu tidur! Syukurlah kerjaanku aman dan kamu terlihat bahagia ya," ucap Rajan lembut.
Mendengar nada lembut dari teman baiknya membuat Lara selalu mensyukuri setiap pagi yang masih di izinkan Allah untuk dirinya lalu tak lama pemuda itu dengan sigap menyiapkan segala rutinitas pagi Lara di mana gadis itu harus sarapan dan meminum obatnya lalu setelah semua selesai gadis itu akan mencuci mulutnya dengan memakan buah sambil membaca salah satu novel yang dibawakan Rajan.
Pagi ini terasa cukup menenangkan untuk Lara walaupun beberapa kali ia masih mimisan dan Rajan berulang-ulang kali menanyakan keadaannya, sayangnya Lara tak pernah sanggup untuk mengeluh kepada orang-orang yang sudah baik padanya jadi ia hanya menenangkan Rajan toh keadaan tubuhnya memang semakin menurun.
"Astagfirullah, Lara! Tidak biasanya kamu mimisan begini? Ada yang sakit tidak? Apakah kepala kamu pusing? Bagaimana keadaanmu? Tolong katakan sesuatu padaku jangan kamu pendam sendiri, Lara! Kamu yakin kamu baik-baik saja? Hm? Mana yang sakit? Padahal sebelumnya kamu tidak begini? Mau aku panggilkan dokter?" tanya Rajan khawatir.
"Oh ini bukan apa-apa kok, Rajan! Sepertinya semalam aku tidur dengan tidak nyaman jadi kepala aku agak sedikit pusing, tenang saja! Aku baik-baik saja kok! Lagipula hal seperti ini sudah terbiasa terjadi padaku dan aku paham jika keadaanku semakin menurun setiap harinya jadi kamu jangan panik begini ya? Aku tidak apa-apa," sahut Lara santai.
Di saat suasana ruang perawatan terlihat begitu sendu tak lama pintu terbuka dan terlihatlah Axton bersama Luruh yang tersenyum melihat keakraban antara Lara dan Rajan walaupun baik Luruh dan Axton mengerti jika wajah Lara masih terlihat sangat pucat pasi bahkan kini Lara kembali mimisan dan gadis itu tetap membalas senyuman adiknya.
"Selamat pagi, kakakku tersayang! Bagaimana keadaanmu hari ini? Apakah kamu bisa tidur dengan nyenyak semalam? Kenapa wajahmu masih terlihat pucat begini kak? Ya Allah kakak! Kenapa kakak bisa mimisan lagi pagi-pagi begini? Mau aku panggilkan dokter sama perawat tidak kak?! Aduh perasaanku jadi tidak tenang," ucap Luruh khawatir.
"Sepertinya Lara perlu dibawa ke rumah sakit lain? Kenapa keadaan memburuk begini seperti di biarkan begini? Mau aku carikan rumah sakit terbaik? Bukannya terakhir kali aku bertemu dengan Lara, keadaan dia membaik kenapa sekarang mimisannya semakin banyak begini? Mau aku ambilkan tisu lain Rajan? Katakan saja jika butuh sesuatu ya," ujar Axton serius.