Terjebak Cinta Dalam Diam

1628 Kata
Di saat Luruh dan Lara sibuk bercerita satu sama lain di taman rumah sakit, di kamar rawat Lara dua pemuda hanya sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing karena baik Rajan dan Axton tak merasa mereka cukup akrab satu sama lain untuk bertukar cerita lalu tanpa sengaja mata Axton melihat secarik kertas yang kusut dan ada nama Lara di sana. "Sebenarnya apa yang sedang ingin Rajan katakan di kertas itu? Kenapa secarik kertas ini malah terlihat kusut dan ada nama Lara? Jangan bilang Rajan hendak menulis pesan pada Lara, tapi tidak jadi ya? Agak bingung juga sih kalau tiba-tiba gue nanya soal kertas ini padahal kita bukan orang yang cukup akrab satu sama lain loh ya," batin Axton bingung. Melihat nama Lara tertulis di sebuah kertas membuat Axton berpikir mungkin ada sesuatu yang ingin Rajan tulis jadi Axton berusaha mencairkan suasana dengan membahas kesibukan dan apa alasan Rajan terlihat begitu baik pada kakak iparnya karena bagaimanapun juga Axton ingin tau niat Rajan pada Lara. "Sepertinya lu orang yang pandai membaca suasana ya? Bagus sih ide lu jadi bisa menjernihkan pikiran Lara! Hanya saja kamu tidak bisa selamanya menghibur begitu! Ada kalanya kamu harus berada di pihaknya dan menguatkannya! Oh iya ngomong-ngomong kesibukanmu sekarang apa? Apa alasanmu baik pada Lara? Jangan bilang kamu punya niat lain ya?" tanya Axton serius. Sementara Rajan yang tidak menyangka akan ditanya seperti ini membuat pemuda itu sekilas terlihat tersenyum lalu ia menjawab pertanyaan Axton dengan santai karena menurutnya Axton bukanlah pria semacam Giran jadi keduanya mulai membicarakan banyak hal satu sama lain. "Aku tidak punya niat lain dan semua perbuatanku tulus padanya! Yah bisa di bilang aku ingin melihat dia bahagia meskipun bukan aku kebahagiaannya! Kesibukanku? Hanya mengurus usaha kecil-kecilan dan hobi lamaku saja! Bagaimana denganmu? Apa kesibukanmu? Aku dengar awalnya kamu dijodohkan dengan Lara ya?" sahut Rajan santai. "Syukurlah jika kamu tak seperti orang yang tak waras itu! Sepertinya kamu memiliki perasaan ya pada Lara? Usaha kecil katamu? Biasanya orang yang mengatakan ucapan semacam itu berarti kamu lebih dari mapan dan sudah punya rencana yang bagus untuk kerjaanmu ya? Kamu benar, tapi aku tak memiliki perasaan apapun pada Lara kok!" ucap Axton serius. "Maksudmu Giran ya hahaha! Tentu kami berbeda, perasaan apa maksudmu? Tolong jangan salah paham padaku! Tidak juga kok, aku memang hanya memiliki beberapa bisnis kecil-kecilan jadi ya masih perlu banyak belajar! Begitukah? Kenapa kamu tak memiliki perasaan pada Lara? Bukankah dia gadis yang cantik dan hebat? Apa yang kurang darinya?" ujar Rajan serius. "Masa kamu tidak tau perasaan itu apa, Rajan? Kamu terjebak cinta dalam diam pada Lara? Iya bukan? Kenapa kamu membiarkan hatimu seperti ini? Tidak bisakah kamu memikirkan hatimu dan masa depan kalian? Jangan bilang kamu terlalu takut untuk berusaha ya? Astagfirullah! Kamu ini laki-laki loh! Masa belum apa-apa sudah diam begini?" tanya Axton datar. Hingga tiba-tiba pertanyaan Axton membahas soal perasaan Rajan yang ia pikir jika pemuda itu sepertinya terjebak cinta dalam diam dan ia tak sanggup mengungkapkan secara langsung, tapi Rajan tidak tersinggung sama sekali lalu ia membenarkan ucapan Axton karena memang Rajan terlalu takut untuk menghancurkan hubungannya dengan Lara. "Bukan aku tidak tau, hanya saja perasaan itu terlalu luas jika kamu tidak membahas dengan lebih spesifik bukan? Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Ya baiklah, anggaplah aku memang begitu karena aku terlalu takut untuk menghancurkan hubungan dengan Lara! Menurutku rasa cinta tak harus terucap secara langsung dan aku sendiri yang ini seperti ini," ucap Rajan santai. Entah mengapa Axton malah tertawa setelah mendengar ucapan Rajan yang mengakui dirinya lalu tak lama sebagai pria membuat Axton memberikan saran bahwa berusahalah sebaik mungkin dan jangan mengkhawatirkan hasil atau hubungannya karena semua akan berjalan sesuai kehendak semesta. "Omong kosong macam apa itu, Rajan? Hahahaha! Cinta yang tak terucap mana mungkin bisa di pahami orang lain! Ya mungkin pikiranmu tak salah hanya saja keputusanmu yang seperti ini malah membuat orang lain salah paham! Berusahalah sebaik yang kamu bisa dan jangan terlalu mengkhawatirkan hasil dari usahamu atau hubungan kalian! Semua hal bisa terjadi di luar nalar kita dan semesta telah memiliki rencananya jadi berusaha dulu Rajan," tutur Axton santai. Nasihat dari Axton cukup bisa di terima oleh akal Rajan dan ia memohon pada Axton untuk tak perlu menceritakan ini pada Luruh dan Lara karena ia tidak ingin masalah ini malah jadi panjang lalu Axton menyahutinya dengan santai saja sedangkan orang yang dibicarakan sudah kembali dari jalan-jalannya. "Ucapanmu benar juga hanya saja mari kita akhiri percakapan tak jelas ini dan aku mohon sama kamu untuk jangan menceritakan hal ini pada Luruh dan Lara karena aku tidak ada masalah dan tidak ingin memperpanjang masalah yang bukan apa-apa ini! Tolong kerja samanya ya! Aku tak ingin menjadi canggung kalau kamu ceritakan hal ini pada mereka Axton," ujar Rajan serius. "Tenang saja! Aku tidak mungkin menceritakan masalah orang lain lagipula tidak ada untungnya juga dengan aku menceritakan masalahmu pada Lara tidak akan berarti apapun pada diriku kok! Iya santai saja padaku toh mulai sekarang kita akan menjadi teman jadi aku akan membantumu Rajan," sahut Axton santai. "Kalian bicara apa? Ada masalah apa? Loh perasaan samar-samar aku mendengar namaku seperti di sebut dan apa yang sejak tadi kalian bicarakan? Hm? Jangan bilang ada hal yang tidak aku boleh tau ya? Sejak tadi memang apa yang kalian bicarakan berdua?" tanya Lara bingung. Axton memilih menutup mulutnya sementara Rajan menyahutinya dengan santai seolah-olah apa yang mereka bicarakan bukan hal penting lalu pemuda itu menanyakan apakah Lara sudah merasa lebih baik setelah tadi mereka jalan-jalan di taman rumah sakit, kemudian gadis cantik itu hanya tersenyum sambil menyahutinya dengan bahagia. "Oh ternyata kalian baru saja kembali ya? Bukan apa-apa kok! Aku dan Axton hanya bertukar cerita dan mengakrabkan diri satu sama lain jadi obrolan kami bukanlah hal penting, Lara! Bagaimana jalan-jalan kalian? Apakah perasaanmu sudah membaik? Sepertinya sudah ya? Soalnya wajahmu yang sekarang terlihat senyum-senyum begitu," sahut Rajan santai. "Kenapa jawaban yang aku dengar malah begitu sih? Menyebalkan sekali! Dia pikir aku ini anak umur berapa sampai-sampai ia bisa dia alihkan dengan obrolan padahal aku sedang bertanya pada dirinya! Bisa gak sih kamu jangan membuat emosi orang begini Rajan," gumam Lara sebal. "Jangan emosi dong, Lara! Maaf deh, maaf ya! Eh ngomong-ngomong bagaimana jalan-jalanmu tadi, Lara? Angin segar bisa sedikit menjernihkan dirimu bukan? Aku senang melihatmu sudah bisa tersenyum begini? Tadi kalian jalan-jalan taman rumah saja iya kan?" tanya Rajan lembut. "Baiklah aku maafkan! Pertanyaan itu lagi? Tentu aku bahagia, Rajan! Angin, pemandangan dan keramaian tadi cukup menjernihkan pikiranku! Memang selain di taman rumah sakit aku bisa ke mana lagi, Rajan! Rasanya memiliki waktu untuk menghibur diri itu seru juga," ucap Lara bahagia. Melihat Lara bahagia seperti ini membuat Rajan ikut tersenyum sementara Luruh berjalan ke arah Axton yang terlihat sibuk dengan ponselnya, sebenarnya Luruh tidak ingin ikut campur dengan urusan pemuda itu hanya saja Luruh penasaran dengan apa yang di lakukan Axton. "Bisa gak sih lu jangan sibuk main hp sendiri! Siapa sih orang yang lagi lu hubungin?! Bukannya ngobrol sama saudara-saudara malah begini lu! Ya emang sih terserah lu mau hubungin siapa cuma tuh harus banget sampe punya dunia sendiri apa gimana sih? Heran ya lagi adem-adem lu malah bikin orang kesal aja!" ujar Luruh sebal. Mendengar pertanyaan Luruh membuat Axton mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya lalu ia menjelaskan jika Axton sedang menghubungi para karyawan dan daddynya karena ada bisnis baru yang akan pemuda itu tanganin sebab Terang lebih memilih mengurus bisnisnya yang lain. "Duh istri gue cemburu ya? Gue lagi menghubungi karyawan gue karena gak ada hal penting yaang harus bikin gue ke kantor jadi gue cuma ngecek perkembangan atau ada masalah lain gak? Terus gue juga lagi ngobrol sama daddy dan bang Terang soalnya daddy bilang ada bisnis baru dan bang Terang lebih milih mengurus bisnis yang lainnya sayang," tutur Axton serius. Luruh yang melihat sendiri ponsel suaminya memang sedang mengobrol dengan ayahnya dan kakaknya, sejenak hati Luruh merasa lega sayangnya perasaan yang di rasakan Luruh tidak bertahan lama karena tiba-tiba saja ada nama Laninna menelpon Axton saat ponsel suaminya sedang di pegang Luruh. Sebenarnya Luruh bisa saja langsung menjawab panggilan telepon di ponsel suaminya, tetapi ia merasa hal tersebut bukanlah hal yang sopan jadi Luruh memberitahu Axton bahwa Laninna menghubungi suaminya lalu Axton mengizinkan Luruh untuk menjawab telpon dan menyalakan pengeras suara pada panggilan teleponnya. "Axton! Nih ada panggilan telepon dari Laninna, gue gak mau bertindak seenaknya dan gak sopan karena menjawab telpon yang bukan untuk gue jadi ini panggilan telepon mau di gimana in? Mau di jawab sama lu atau di tolak aja panggilannya? Tenang aja gue gak marah kalau lu ngomong sama dia kok," ucap Luruh santai. "Lah ngapain tuh bocah nelpon gue? Yaudah jawab aja, mungkin ada urusan penting atau apa entahlah! Nanti kalau udah tersambung, lu jangan lupa menyalakan pengeras suara biar nanti kita dengerin sama-sama dia mau ngomong apa dan tujuan nelpon gue juga biar tau langsung karena gue gak mau ada salah paham lagi antara kita," sahut Axton lembut. Entah mengapa mendengar ucapan Axton membuat Luruh merasa jika pemuda itu masih bisa menghargai status mereka bahkan ia tak segan-segan untuk terbuka dengan kedekatan antara dirinya dan Laninna, jujur melihat Axton begitu rasanya membuat Luruh tersenyum bahagia dan hatinya merasa menghangat akibat sikap pemuda itu. "Setelah kesalahan yang kemarin dia perbuat, ternyata dia cukup tau diri juga ya? Bagus deh kalau dia lebih terbuka sama gue karena dengan begini kemungkinan salah paham di antara kita bisa terjadi sedikit kemungkinan dan gue bersyukur sih dia masih menghargai perasaan gue dan sikap dia yang seperti bikin gue merasa bahagia karena artinya gue di anggap di mata dia kali ya," batin Luruh senang. Samar-samar Lara melihat jika adiknya tersenyum dengan bahagia dan sebagai seorang kakak, hati Lara merasa sedikit lega karena setidaknya Luruh sudah berada di tangan yang tepat dan setidaknya Luruh sudah aman dan hidupnya tak akan sendirian lagi jika nanti dirinya tiada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN